Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah refleksi

Sebagai pecinta sebuah klub sepak bola, saya hidup dengan klub kesayangan saya. Saat masih kecil, ketika ayah mengajak saya menonton sebuah pertandingan sepak bola di televisi, saya langsung jatuh cinta dengan tim yang saat itu memenangkan laga. Saya berikrar dalam hati bahwa inilah klub sepak bola yang saya cintai dan saya akan habiskan hidup sebagai pendukungnya. Klub sepak bola itu adalah objek cinta dan dukungan saya. Klub sepak bola menyajikan kemasyukan luar biasa hebat dengan pesona dan sifat-sifatnya. Saya percaya ia adalah entitas sejati sumber identitas saya, batin sekaligus zahir saya.

Mendukung sebuah klub sepak bola berarti mendukung mereka yang menjadi bagian tubuh klub tersebut, mulai dari presiden, direktur umum klub, hingga para pemain. Presiden klub adalah puncak jabatan yang selalu saya hormati keputusan-keputusannya – kadang saya mengkritik presiden tapi itu wujud penghormatan terhadapnya. Direktur umum adalah pelaksana keputusan presiden khususnya dalam hal kebijakan transfer pemain. Dialah yang mengusulkan kepada presiden siapa pemain yang direkrut untuk bermain bersama klub, sehingga sepak-terjangnya selalu diikuti. Terkadang saya ikut mengusulkan pemain mana yang harus diboyong lewat tulisan atau kicauan di media sosial, tapi tentu saja usulan saya yang jauh di sini, baik secara geografis maupun struktural, tak berpengaruh apapun terhadap pilihan keduanya.

Siapapun pemain yang membela klub merekalah yang menjadi idola-idola saya, karena mereka adalah pahlawan-pahlawan yang beraksi di atas lapangan hijau membawa panji kebesaran klub. Saya bernafas dengan nafas mereka, saya bertingkah laku dengan perilaku mereka, kepahlawanan mereka menjadi inspirasi dalam kehidupan saya. Saya meniru gaya mereka, mulai dari cara berpakaian, berbicara, sampai gaya mereka saat beraksi dalam pertandingan. Saya ikut merayakan kemenangan mereka dan turut bersedih saat mereka menderita kekalahan, tapi saya juga mendoakan mereka agar bangkit dan bermain bagus untuk meraih gelar juara. Poster-poster para pemain terpampang di dinding-dinding kamar, beserta dengan ornamen-ornamen kecil berwajah mereka terpajang di meja lampu tidur. Kisah kehidupan pribadi pemain beserta istri dan anak-anak mereka juga menjadi buah bibir saya dengan kawan-kawan pecinta klub yang sama. Pemain idola adalah cermin bagi eksistensi diri.

Sebagai wujud cinta pada klub saya selalu melakukan ritual yang saya usahakan tak terlewatkan, yaitu menonton pertandingan lewat televisi. Jika ternyata saya melewatkan satu pertandingan saya akan menghadapi hari-hari selanjutnya dengan penuh rasa penyesalan dan berjanji pada diri sendiri untuk waspada agar pertandingan berikutnya tak terlewatkan, begitu seterusnya.

Karena klub yang dicintai ini adalah klub Eropa maka terkadang perbedaan waktu menjadi tantangan tersendiri. Agar tetap dapat menonton pertandingan yang disiarkan langsung pada tengah malam atau dini hari di Indonesia saya rela berpuasa tidur. Biasanya saya tidur lebih awal agar bisa bangun tengah malam atau dini hari. Bila pertandingan sudah selesai saya pun membayar waktu istirahat saya.

Semangat pengorbanan bagi klub kesayangan sampai ke masalah keuangan dan gaya hidup. Saya rela membeli aksesoris klub sepak bola yang saya cintai. Seragam klub adalah koleksi paling utama yang jika dikenakan serasa menjadi pemain klub, ada pula syal bertuliskan nama klub yang dibentangkan sebagai wujud kecintaan, stiker-stiker logo klub yang ditempelkan di badan kendaraan, bendera klub yang dilambai-lambaikan, baju-baju kaos, jaket, kaos kaki, hingga topi  bernuansa klub kesayangan. Saya mengoleksi segala benda yang ada hubungannya dengan klub. Beberapa teman saya yang punya pacar membeli sepasang seragam klub untuknya dan kekasihnya dan dikenakan saat mereka jalan-jalan. Ada pula yang melangsungkan acara pernikahan dengan pelaminan, undangan, dan hiasan tempat acara dengan nuansa klub. Pasangan menikah yang baru dikaruniai anak pun memakaikan pakaian bayi lengkap dengan kereta dorong bernuansa klub kesayangan.

Baca juga:  Devi Dja dari Dardanella

Rasa cinta terhadap klub mempengaruhi kehidupan intelektual saya. Klub sepak bola asal Italia membuat saya mulai mempelajari bahasa Italia meski tidak terlalu serius. Dalam beberapa kesempatan bibir saya mengeluarkan kata-kata dan istilah-istilah bahasa Italia, khususnya ketika berbicara tentang sepak bola. Saya juga mempelajari sejarah klub dan menimba semangat kehidupan di masa lalu, mengikuti rekam jejak kehidupan dan karir presiden klub, manajemen dan para pemain dari generasi ke generasi beserta prestasi-prestasi yang sudah digapai klub. Terkadang muncul romantisisme dalam pikiran, ingin merasakan hidup di masa ketika klub meraih kejayaan terbesarnya, seperti dulu. Saya juga berusaha memahami segala hal tentang sepak bola, peraturan-peraturannya, hukum-hukum, organisasi-organisasi, perkembangan transfer pemain, dan segala hal-ihwal lainnya.

Beberapa rekan pencinta klub sepak bola yang saya kenal agak lebih serius menekuni bidang ini. Mereka berbicara, menulis dan melukis berbagai pendapat mereka tentang sepak terjang klub. Boleh saya katakan aktivitas mereka itu sudah mencapai tingkat profesional (bahkan sampai menulis buku). Mereka yang memiliki sumber daya yang cukup membangun dan mengembangkan media yang berisi berbagai rubrik dan artikel seputar klub. Di sana mereka saling berdiskusi, berteori dan menciptakan karya-karya seni tentang klub dan sepak bola pada umumnya. Hasilnya tak sia-sia, beberapa karya mereka diberikan penghargaan oleh klub dan derajat mereka pun tinggi baik di mata manajemen klub dan fans-fans lain.

Kecintaan pada klub juga mempengaruhi kehidupan sosial saya. Tentu saja saya bukan satu-satunya pencinta klub, banyak orang yang menyenangi klub yang saya gemari ini. Kesamaan rasa dan visi membuat kami bersatu dan kebersatuan itu diwujudkan dengan membentuk sebuah institusi, yaitu komunitas fans club, klub penggemar klub sepak bola. Komunitas ini terdiri dari orang-orang yang mencintai klub sepak bola yang sama. Di dalamnya kami saling menjalin kekerabatan dan saling bertukar fikiran dan informasi tentang klub yang sama-sama kami cintai. Komunitas mengikat individu-individu sehingga tak jarang kami menghadiri acara resepsi pernikahan kawan sesama anggota komunitas, melayat keluarga rekan sekomunitas yang meninggal dunia, bahkan tak jarang pula terjalin relasi-relasi bisnis baru antar sesama anggota komunitas.

Di dalam fans club pula kami melaksanakan “ritual wajib” secara berjamaah yakni nonton bareng (nobar). Sangat menyenangkan jika menonton pertandingan secara berjama’ah, ada rasa kepuasan tersendiri menyelimuti batin. Acara nobar diciptakan meniru suasana pertandingan di stadion. Sebelum kick-off kami bersama-sama menyanyikan “lagu kebangsaan” klub sembari membuat semacam koreografi seakan sedang menonton di stadion. Selama pertandingan berlangsung kami tak henti-henti meneriakkan chant atau yel-yel pemberi semangat buat para pemain yang bertanding, meski kami tahu mereka tak akan mendengarkan seruan kami. Acara nobar diadakan di sebuah tempat khusus yang kami anggap sebagai tempat suci yang harus dijaga. Bentuknya bisa cafe, warung, atau tempat yang memang dibangun sendiri oleh komunitas yang biasa disebut basecamp.

Selain nobar, kami juga melaksanakan acara seremonial tertentu yang berhubungan dengan klub dan komunitas itu sendiri, seperti perayaan ulang tahun klub, perayaan ulang tahun komunitas, peringatan suatu tragedi yang pernah menimpa klub dan lain-lain. Tentu saja perayaan terbesar adalah saat klub menjuarai suatu kompetisi, konvoi dan pesta kemenangan tentulah menjadi agenda yang lumrah. Ada pula kegiatan-kegiatan rutin fans club yang bersifat sunnat, seperti bermain futsal dan sepak bola bareng, kompetisi playstation, berwisata ke tempat wisata, memancing bersama, dan lain-lain, yang kesemuanya itu bertujuan untuk merekatkan kami yang berbeda latarbelakang bersatu dalam sebuah persaudaraan karena mencintai klub sepak bola yang sama.

Baca juga:  Hikayat Sepak Bola Indonesia yang Terabai

Kegiatan komunitas fans club paling menarik saya adalah kegiatan yang bersifat amal. Secara berkala, anggota-anggota komunitas mengumpulkan pakaian-pakaian, buku-buku dan barang-barang bekas lainnya untuk disumbangkan kepada panti asuhan atau lembaga-lembaga sosial lainnya. Jika terjadi musibah di suatu tempat atau ada orang sakit keras yang membutuhkan bantuan kami beramai-ramai menyumbangkan uang yang kami punya serta mengumpulkan dana-dana masyarakat melalui permintaan sumbangan di jalanan atau ke rumah-rumah warga. Inilah kegiatan nyata luhur yang didorong oleh keinginan untuk mengharumkan nama klub dan mengangkat derajat klub sepak bola yang kami cintai.

Meskipun banyak keseruan dan hal-hal menyenangkan dalam ber-fans club, suasana akan menjadi menegangkan ketika komunitas pencinta klub bertemu dengan pencinta klub lain. Sebagaimana klub sepak bola yang dicintai memiliki rivalitas dengan klub lain di atas lapangan hijau, komunitas pun ikut hanyut dalam rivalitas itu. Pertarungan 90 menit para pemain pun terefleksikan dalam persaingan antar komunitas pencinta klub sepak bola. Cinta yang hidup di tengah rivalitas melahirkan dua hal: klaim kebenaran terhadap kelompok sendiri dan kebencian terhadap kelompok lain. Bagaimanapun, klub kecintaan dan komunitas sendiri adalah yang terbaik dan selalu benar, apapun fakta yang hadir di depan mata. Sebaliknya klub dan komunitas lain adalah kesalahan dalam dunia sepak bola. Kecintaan semacam itu menutup mata bahwa keberadaan klub yang dicintai tak akan bisa mengklaim posisinya tanpa kehadiran klub lain karena ini adalah permainan olahraga. Akan tetapi, hubungan tak sehat antar komunitas fans sepak bola bisa jadi bukan hanya karena persoalan rivalitas klubnya, melainkan juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi tergantung suasana hubungan antar komunitas di suatu tempat yang berbeda dengan tempat lain, namun dalam dunia sepak bola rivalitas klub jelas menjadi faktor utama.

Rivalitas melahirkan kebencian dan kebencian tentu saja mempengaruhi hubungan antar komunitas. Tak jarang terjadi komunikasi tak sehat ketika dua komunitas fans klub sepak bola bertemu dan tak jarang pula pertemuan itu berujung bentrok fisik. Kata-kata kasar dan caci maki adalah “standar minimal” pergesekan antar komunitas, baik di depan maupun di belakang komunitas rival. Gelar-gelar buruk dan sumpah serapah seperti “merda” (Italia), “mierda” (Spanyol), merde (Perancis), Scheiße (Jerman) sering diucapkan para fans ketika berbicara tentang fans klub lain (penggunaan sumpah-serapah berbahasa asal klub menjadi keunikan tersendiri), seperti ungkapan “kafir”, “sesat” atau “musyrik” di kalangan orang beragama. Debat-debat kusir sarkastik terhadap klub lain dan fans-fansnya menghiasi laman-laman media sosial beserta dengan imej dan meme bernada ejekan. Jika bertemu dengan seseorang yang memakai pakaian klub lain atau komunitas klub sepak bola lain, sedapatnya ia dijauhi atau setidaknya jangan sampai saling tatap. Sesuatu yang keliru dari klub lain atau komunitas fansnya akan menjadi berita besar yang menghebohkan, sebaliknya sesuatu yang baik dari mereka akan dicari kekurangannya. Jarang sekali rasa apresiatif muncul bagi klub dan komunitas lain dan jika memang ada hanya menyangkut hal-hal partikular saja tanpa memandang kebaikan klub dan komunitas itu melalui gambaran besarnya. Apabila hubungan tak sehat ini sudah mencapai puncak tanpa dibarengi dengan kontrol diri yang cukup, satu persoalan kecil yang melibatkan dua komunitas pencinta klub sepak bola berbeda bisa memantik konflik besar berupa bentrok fisik.

Baca juga:  Soccer War

Sebagaimana orang yang bercinta, bertemu dengan yang dicintai tentu saja menjadi harapan tertinggi. Klub yang meraih gelar juara adalah harapan tertinggi fans terhadap klubnya tetapi itu bukan yang tertinggi dari yang tertinggi. Puncak rasa cinta saya adalah bisa berangkat menuju markas klub, menyambangi stadion yang menjadi kandang klub dan bertemu dengan langsung dengan para pemain, manajemen, bahkan presiden klub. Stadion milik klub kesayangan adalah kota suci yang dengan mengunjunginya akan membuat saya merasa suci. Secara berkala saya menabung agar jika uang sudah cukup saya bisa berangkat ke markas klub. Sepulangnya dari sana saya membayangkan diri sebagai seorang yang tersucikan dan akan merasakan suatu kepuasan tiada tara.

pemisah 300x21 - Agama Sepak Bola

Apa yang saya gambarkan dengan cukup panjang di atas adalah pengalaman pribadi saya sebagai seorang fans klub sepak bola. Pengalaman ke-fans-an (fandom) itu mungkin masih kalah dibanding rekan-rekan sesama fans klub sepak bola lain. Saya menyajikannya untuk menyampaikan bahwa perilaku fans klub sepak bola memiliki aspek-aspek yang serupa dengan orang beragama, mulai dari aspek keyakinan atau spiritualitas, aspek ritual, aspek intelektual, hingga aspek sosialnya. Aspek sosial juga terdiri dari aspek turunan yang bersifat politik, ekonomi dan hubungan antar identitas. Maka dari itu, aman bagi saya untuk mengatakan bahwa dunia sepak bola adalah miniatur kehidupan beragama, bahkan terdapat ungkapan yang cukup masyhur di dalam masyarakat Eropa bahwa sepak bola itu sendiri adalah agama.

Lalu apa perbedaan fans klub sepak bola dengan agama? Menurut saya, orang beragama memiliki kesadaran esensial sebagai manusia bagian dari alam semesta ciptaan Tuhan. Kesadaran ini menempatkan orang yang beragama sebagai mikrokosmos, sehingga kehidupannya adalah proses harmonis perjalanan menuju hakikat ketuhanan. Ini berbeda tentunya dengan fans klub sepak bola yang berada di pusaran rivalitas, sehingga kehidupannya adalah persaingan-persaingan, pertandingan-pertandingan dengan tujuan-tujuan semu. Orang beragama, karena itu, harus menumbuhkan kesadaran sejatinya agar keberagamaannya tidak sekedar nge-fans.[]

cover agama bola - Agama Sepak Bola

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi