Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Dunia Jawa Sang Penggali Sumur

Kebudayaan Jawa menempatkan manusia dan alam secara selaras. Tidak boleh satu sama lain melebihi atau mendominasi yang lain. Tradisi ini berbeda sekali dengan kebudayaan modern yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan antoprosentrik dan rasional a la Barat.

Kebudayaan antroposentrik dan rasional meletakan manusia dan pemikirannya sebagai pusat. Ajaran ini secara langsung dan tidak langsung merestui dan mendorong manusia untuk bertindak, berpikir dan berwacana ekspolitatif terhadap alam, liyan. Demi pembangunan dan kesejahteraan manusia, alam boleh dipaksa semaksimalnya untuk keinginan manusia. Sialnya, sekolah, agama, institusi pengetahuan, dsb telah lama merestui dan bahkan menganjurkan cara berpikir seperti ini. Dus, perubahan iklim ekstrim, kebanjiran, kekeringan, pencemaran dsb menjadi bagian keseharian dari manusia abad XXI.

Sebaliknya dalam kebudayaan Jawa, air dan tanah, sebagai unsur utama alam, diperlakukan sebagai sesuatu yang kudus. Manusia tidak bisa sembarangan berbuat terhadap kedua hal tersebut. Misalnya, pada proses penggalian sumur, pencarian mata air untuk bor, pembuatan fondasi rumah dan bangunan. Upacara slametan, wilujengan atau kenduren buka bumi harus menjadi ritual pembuka. Bahkan para pemimpin upacara ini harus melakukan puasa terlebih dahulu sebelum memulai menggali sumur. Upacara dan puasa ini tentu melambangkan kesatuan sosial dan mistis yang ikut serta didalamnya. Upacara dilakukan dalam rangka mempekecil ketidakpastian, ketegangan dan konflik yang diakibatkan dari perjumpaan manusia dan alam. Pengkudusan ini tentu merupakan bentuk utama ajaran menempatkan manusia dan alam secara selaras dalam budaya Jawa.

***

Adalah Sopawiro, laki-laki kelahiran Sleman, Jogjakarta tahun 1927, yang dalam kesehariannya tidak pernah lepas dengan air dan tanah. Profesinya bagi sebagian orang dianggap remeh temeh. Bahkan, dianggap mampu dilakukan oleh setiap orang, tidak dibutuhkan keahlian tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Begitu remeh, citranya. Jadi pantas dibayar murah. Akibatnya profesi itu tidak berimbas bagi kesejahteraan dan kemakmuran pelakunya, seperti Sopawiro.  Pofesi itu adalah profesi penggali sumur.

Profesi penggali sumur telah dijalani oleh Sopawiro sedari muda. Namanya saja populer sebagai penggali sumur, namun sejatinya dia juga menjadi semacam pawang air, yaitu menemukan sumber air yang bagus untuk sebuah rumah atau bangunan. Ia juga menjadi sosok yang memimpin upacara, ngujubno, memohon keselamatan kepada Tuhan yang Mahakuasa dan danyang setempat. Doa-doa Islam dengan bahasa Jawa dan Arab biasanya Sopawiro memimpin.

Baca juga:  Sendang Kapit Tambang

Lebih dari 60 tahun yang lalu, Sopawiro menjajakan jasa menggali sumur. Biasanya orang-orang kampung-kampung Sopawira yang menjadi pengguna. ya. Tidak jarang, pula dulu, harus meninggalkan rumah, untuk melakukan pekerjaan ini. Kadang-kadang, Sopawiro dipanggil untuk menggali sumur sampai ke Sleman, kota Jogjakarta, Bantul hingga Magelang. Semua itu karena ajakan kerabat atau kawannya, yang sudah tahu, hasil kerja baik, Sopawiro. Ia bangga dan bersyukur atas kepercayaan itu.

Seperti kebanyakan orang yang lahir sejamannya, Sopawiro memperhatikan nilai-nilai Jawa. Dia tidak bisa menggali secara sembarangan untuk menemukan mata air. Pun tidak boleh menutup sumur secara sembarangan. Karena sumur sebagai mataair adalah lambang sumber kehidupan dan rejeki. Karena itu, sumur diperlakukan istimewa. Bagi orang Jawa yang sedang mempunyai hajat pesta misalnya, sesajen sesalu diletakan di sekitar sumur untuk keselamatan dan kelancaran acara. Biasanya, Sopawiro berpuasa, nirakati, terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan. Namun kadangkala dirasa cukup dengan selamatan jenang abang, atau bubur merah gula jawa. Selamatan yang disebut buka bumi, untuk menggali sumur, mencari mata air dan membangun fondasi rumah atau bangunan, merupakan hal inti dalam tradisi Jawa. Sebagai orang Jawa yang baik, tidak boleh melupakan ritual itu.

Pada masa lalu sesajen berupa dupam bunga dan makanan disajikan sangat lengkap, dan setiap unsurnya memiliki makna simbolis. Namun seiring dengan berjalannya waktu, upacara diselenggarakan dengan sangat sederhana, dengan jenang abang. Jaman telah berubah, tidak ada yang protes mengenai itu. Konon menyediakan jenang abang itu lebih baik, daripada tidak sama sekali. Kata pepatah: kacang lupa kulitnya, orang Jawa lupa tradisinya.

Sebagai manusia Jawa, Sopawiro harus toleran dan sering mengalah jika berhadapan dengan orang berpandangan berbeda. Dan dirinya juga menghormati mereka yang berkeyakinan dan bermazhab agama berbeda. Orang modern dan orang yang beraliran agama Islam murni atau wahabi, misalnya, tidak akan melakukan serangkaian buka bumi. Bagi mereka, selain boros uang dan waktu, upacara itu tidak masuk akal dan syirik. Mereka percaya, cukup doa atau membor dengan baik saja secara teknik semua akan baik-baik saja.

Baca juga:  Mana yang Lebih Baik, Oat atau Thiwul ?

Menghadapi kenyataan para pengguna jasa yang sangat beragam latar ekonomi, keyakinan dan pandangan hidup itu, Sopawiro memilih untuk mengalah. Ia menjalankan kepercayaan dan pekerjaannya untuk selamat dan berkah.  Mereka menjalankan keyakinan dan pemikirannya demi iman dan efisiensi. Jalan tengahnya, Sopawiro menjalankan upacara jenang sengkala di rumah, selain merapalkan doa secara rutin.  Sopawiro tidak ingat persis, sejak kapan banyak orang ogah menggelar buka bumi.

Untuk merampungkan sebuah galian, tidak ada target khusus harus dicapai. Sopawiro mengerjakannya dengan upah borongan. Ia melihat pekerjaannya adalah ibadah. Karena dari air orang bisa wudhu, bersuci untuk berdoa dan sholat menghadap Tuhan. Dan dengan air pula, kehidupan ini berjalan. Bagi Sopawiro. ada kebahagiaan tersendiri ketika berhasil memecahkan “kesulitan” persoalan air yang dihadapi para pengguna jasanya. Sopawiro percaya, dengan menghormati dan memuliakan bumi (baca:  air, tanah, alam), maka Tuhan akan memudahkan usaha kita, memperbaik rejeki kita. Sungguh, masuk akal!

***

Jika tidak ada panggilan untuk menggali sumur, Sopawiro mewajibkan dirinya untuk pergi ke sawah. Ya, sawah, bekerja sebagai petani. Pekerjaan bertani ini, telah dilakoni, laki-laki bernama kecil Ngadiyo, sedari muda. Berbekal sawah dan tegalan tidak seberapa besar di pinggiran kampung, Sopawiro serius bertani. Tidak ada harapan muluk-muluk terhadap sawahnya. Ia hanya berpikir bisa mencukupi kebutuhan besar, jagung, sayur mayur, cabai, terong, kacang-kacangan, ubi dsb dari sawahnya sendiri. Jagung dan beras, ditanam secara bergantian. Sedangkan tanaman lain ditanam disela-sela lahan yang ada, tumpangsari.

Dan yang tidak boleh luput ditanam di sawahnya adalah terong. Ia suka sekali dengan sayur ini. Menurutnya sayur ini lezat, selezat daging yang baginya merupakan makanan pantangan. Tidak heran, di dalam piringnya selalu tersaji terong dengan berbagai variasi memasaknya. Dari balado, terong penyet, terong sayur hingga terong mentah. Semua sajian berjenis terong ini disantap dengan lahapnya.

Soal makanan, Sopawiro termasuk seorang penyuka sayuran. Tidak menolak telor ayam dan ikan laut. Ia hanya menolak daging binatang berkaki empat. Pantangan ini terkait dengan kepercayaannya sebagai orang Jawa. Ia hanya memegang pesan dari orangtuanya. Untuk menjadi wong mulya lan sembodo, katanya, harus pantang makan daging.

Baca juga:  Story of Z

Setelah solat subuh, setiap harinya, Sopawiro telah bersiap-siap ke sawah. Namun sebelumnya, seperti kebiasaan sebelum menikah, ia akan menghabiskan satu dua batang rokok dan secangkir kopi. Kira-kira pukul 05.45, matahari sudah mulai tinggi, Sopawiro akan beranjak menuju sawah. Dan pulang lagi pada pukul 10.00.  Setelah istirahat dan menunaikan shola dhuhur, Sopawiro berangkat kembali ke sawah dan baru kembali pada pukul 16.00 sambil membawa rumput dan rencek, kayu bakar. Begitu Ia setiap hari bila ke sawah.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Bekal Sopawiro ke sawah,  sederharna saja. Air putih, ubi, kopi, cengkeh dan tembakau. Bekal-bekal yang tiada seberapa ini, biasa bertahan satu hari. Kecuali kopi, cengkeh dan tembakau, yang dijadikan bahan rokok, ketika pulang istirahat, ia akan menambah jumlahnya. Maklum, sejak muda, meski sekarang tergolong manusia usia lanjut paripurna, Sopawiro adalah penggemar rokok dan kopi berat.

***

Di mata keluarganya, Sopawiro adalah bapak dan kakek yang menyenangkan. Dirinya tidak menuntut macam-macam. Bagi mereka Sopawiro adalah panutan yang baik. Yaitu seorang yang saleh, tidak pernah bolong sholat wajib dan puasa wajin. Bahkan dalam setiap harinya, ketika malam, tidak pernah kosong untuk melantunkan sholawat kepada Baginda Rasul Muhammad SAW. Sopawira memohon kepada Allah, mencurahkan kemulian bagi sang rasul dan umat manusia yang ada.

Kini, di usianya yang terbilang sangat lanjut ini, Sopawiro memilih untuk tidak berpikir macam-macam, neko-neko. Dirinya cenderung membebaskan pikirannya. Hal ini terbukti telah menjadikan diri Sopawiro, tenang, adem dan tentrem. Mustahil Sopawiro mencapai panjang umur sampai saat ini dengan pikiran neko-neko.

Menjadi orang yang tidak rakus, bersyukur dan menghormati bumi, itu penting dan menunjang keselarasan manusia dengan alamnya. Begitu Sopawira, kira-kira, percaya! []sopawiro 1 - Air Kebahagiaan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi