Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Pada sebuah senja yang basah di musim hujan bertahun lalu. Gerimis yang tiada kunjung reda menghantarkan seorang lelaki tua di depan gerbang rumahku. Tiga kali bunyi bel rumah, akhirnya membunuh rasa malasku, dan  segera beranjak sadar dari tidur ayam di sore yang muram.

Pintu gerbang kubuka. Seorang lelaki tua berperawakan gagah namun layu menahan tongkat penyangga di tangan dan ketiak sebelah kanan. Seorang suster berbaju biru muda mencangklong kotak obat dan tas pakaian. Dan seorang sopir, yang membawakan payung, juga sekardus mangga, sigap melindungi lelaki tua itu dari gerimis.

“Mohon maaf, benar ini rumah Insinyur Abdulrahman Basuki?”

Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam hati aku bertanya-tanya. Dahiku mengernyit. Gerak tubuhku, secara tidak sadar, gesit mempersilakan mereka bertiga masuk ke halaman rumah.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Aku kira  lelaki tua berpeyangga tongkat kayu berlapis baja ini adalah rekan sejawat ayah, atau kerabat jauh yang tinggal di luar kota. Terkaanku, lelaki berpenampilan priyayi Islam Jawa ini, datang munjung menjelang slametan 40 hari ayah, sesuatu hal yang lazim di lakukan di kotaku.

“Nak, ayahmu dimana. Katakan, aku harus mati tahun – tahun ini. Aku sudah tidak kuat lagi.”

Dugaanku salah. Lelaki ini tidak tahu ayah telah meninggal 35 hari yang lalu. Aku tidak tega menyela atau menjawab apa adanya setiap kalimat yang keluar dari mulut yang tidak simetris itu. Aku teringat almarhum ayah. Bapak ini juga kena stroke, batinku.

Ayah pergi, jawabku menyamarkan keadaan.

“Kemana? Sudah lama? Kapan kembali? Aku akan menunggu, kalau boleh kami menginap di sini sampai ayahmu datang. Kau tahu, aku harus mati tahun – tahun ini. Dan ayahmu lah salah seorang yang bisa memudahkan kematianku.”

Langit gelap. Gerimis berubah menjadi hujan. Adzan Maghrib lamat – lamat terdengar menyelinap di tengah derai suara hujan juga isak lirih tangisku.

Aku diam. Tiga orang tamu yang belum kuketahui nama dan asalnya ini pun senyap, sampai Jumini datang membawakan teh panas dan dua piring pisang goreng.

Aku mulai menguasai diri. Kuperkenalkan diriku, May sebagai anak bungsu keluarga Abdulrahman Basuki, penunggu satu-satunya rumah ini, setelah Ibu meninggal 10 tahun lalu.

“Mohon maaf, kalau boleh tahu bapak siapa, dimana kenal bapak saya, apa yang bisa saya bantu.”

Sayup-sayup suara pujian seusai kumandang adzan maghrib mulai menghilang dari toa masjid. Laki-laki berambut perak itu menahan sakit dan sesekali mengambil napas, hendak mengusai diri dan bercerita. Intonasi kata-kata yang keluar dari bibir yang agak mencong itu kurang jelas dan layu. Ada aura kematian dalam setiap gerak tubuhnya.

“Nak kurasa waktuku sudah dekat, aku harus bertemu dengan ayahmu. Aku harus mati tahun – tahun ini.”

Berulangkali laki-laki tua itu  mengucapkan itu. Aku deg. Aku ingin menangis sejadinya. Demi lelaki tua yang malang itu, aku harus mengusai diri. Nampaknya mati adalah satu – satunya keinginan lelaki tua itu di hari-hari ini. Persis keinginan ayahku, dalam 5 tahun terakhir hidupnya.

Baca juga:  Kuli Kontrak

Aku diam. Mendengar keluhnya dengan sungguh. Laki – laki itu kemudian menyusun potongan kisahnya:

Namaku Kasan. Rachmat Abdul Kasan. “Kasan,” pakai ‘K’ bukan ‘H’. Aku adalah teman sekolah, sepermainan, dan satu kampung di kota J, di ujung timur Jawa.

Ayahku dan kakekmu adalah pendatang dari kota P di ujung barat Jawa Timur. Mereka merantau jauh ke ujung timur Jawa   untuk nyantri di salah satu pondok pesantren terkenal di selatan kota J.

Ketika peristiwa 1965 itu terjadi, ayahku dan kakekmu telah menetap  selama 30 tahun di pinggiran ibukota J. Bahkan ayahku, telah menikah dengan gadis dari Ranu Grati, dan telah memiliki 3 orang anak. Aku adalah anak tertua, pasangan Jawa dan keturunan Madura tersebut.

Sebagai anak keluarga santri, aku dan ayahmu tidak hanya menjadi santri kalong di sebuah pondok pesantren terkenal, tetapi juga aktif dalam organisasi Islam di daerah tersebut. Aku dan ayahmu  tidak menjabat apa-apa, hanya menjadi anak buah atau anggota biasa. Namun dari situlah hidup kami sejak saat itu berubah total hingga sekarang.

Aku ingat,  waktu itu di bulan November aku sedang mengaji di langgar dusun yang diasuh ayahku.  Teman-teman sebaya di organisasi mendatangi di malam bulan purnama itu.

Ayo kon ga melok isen tah nang Kyai BT?,” seru Bapakmu waktu itu. Mendengar itu ayahku  bertanya, “Ada apa?”

Niku pak, wau kulo diaturi mbah Kaji supados nderek rencang-rencang ngisen awak ten Tambakoso. Niku kagem jagi-jagi nek wonten ontran-ontran saking tiyang PKI.”

Mendengar penjelasan itu ayahku diam. Beliau mungkin sudah bisa membayangkan para pemuda di dusun itu hendak diberi ilmu kebal senjata dan dilatih untuk beladiri atau semi militer.

Dari wajah ayah, aku melihat kesan kwatir.  Mungkin karena aku anak laki-laki satu-satunya dan berpeluang mewarisi ilmu sang bapak. Posisi ayahku sebagai kyai langgar dan tokoh masyarakat panutan menjadikan dirinya dilematis. Aku pun direlakan bersama ayahmu dan para pemuda dusun untuk pergi malam itu.

Sebelum berangkat, aku diajak pulang oleh ayah, untuk sungkem kepada Ibu dan diberi amalan wirid, sekaligus diwarisi ijazah yang didapat dari kyai di P, kampung ayahku dan kakekmu. Harapan bapak, dengan amalan wirid dan ijazah kyai tersebut, tidak ada malapetaka yang menimpaku dan aku kemudahan dalam segala urusan oleh Gusti Pangeran, Allah SWT.

Di dekat langgar dusun, telah datang truk penjemput dengan puluhan pemuda dari dusun lain. Dari dusun kami, selain aku dan bapakmu, sudah ada 11 pemuda, yang siap berangkat.

Waktu itu, kira-kira pukul 23.00, truk yang membawa rombongan sampai di lokasi untuk isen awak. Tempat itu telah ramai.  Sekitar 150-an pemuda datang dari segala penjuru kota J. Di depan kami nampak beberapa orang berseragam tentara dan 7 orang kyai dan Wong Dugdeng terkenal sakti di kota J.

Baca juga:  Hujan Melahirkan Anjing

Dalam kerumunan yang disinari bulan purnama itu, nampak pula mbah Pujo, pedagang daging sekaligus jagal sapi, kerbau dan kambing yang aku kenal. Maklum Ibu ku adalah pedagang daging di pasar desa, dan aku sering diminta belanja daging di tempat mbah Pujo.

Aku bangga telah mengenal mbah Pujo, orang biasa yang ternyata tanpa kusadari adalah sosok terkenal. Terbukti, pada malam penting itu mbah Pujo duduk di depan acara itu bersama pejabat kecamatan, kabupaten, para kyai, Wong Dugdeng dan tentara.

“Hoiiii, tontonen rek iku mbah Pujo sing sering ndulin nang omahku,” pamerku pada ayahmu dan kawan-kawan lain yang ada disitu.

“Nek ngerti ono mbah Pujo nang kene, paling bapakmu ogak bakal kwatir koyok mau yo. Onok sing iso dititipi ngawati kowe,” kata ayahmu.

Kira-kira tepat pukul satu, ritual ‘ngiseni awak’ dengan segala doa, mantra dan sebagainya dimulai. Itu adalah dua jam terlama dalam hidupku. Aku sangat takut dan deg-deg-an. Setelah ritual itu selesai dan ceramah soal pantangan yang harus dihindari serta wejangan lain di ucapkan berulang pada kami. Setelah itu muncul mbah Pujo dengan seekor kambing dan golok yang biasa aku temui di rumah jagal.

Semua orang diperintahkan oleh laki-laki berjubah hijau dan berpeci haji tersebut untuk memerhatikan dengan baik.

“Dengarkan dan perhatikan baik-baik segala sesuatu yang dilakukan oleh pak Pujo. Jangan ngantuk, jangan lengah, perhatikan cara menyembelih yang baik dan cepat.”

Tak berselang, kambing itu telah tertatagkan di batang pohon pisang yang telah dipotong. Mbah Pujo dengan suara berat dan keras memberi kuliah kepada kami tentang segala teknik menyembelih leher kambing yang benar dan cepat mematikan sang kambing. Komat-kamit mulut mbah Pujo. Kreeessss. Darah mengalir deras dari leher kambing.

Seminggu berlalu setelah penggemblengan dan isen awak itu, aku dan ayahmu tidak tahu apa maksud kami diberi kuliah itu. Aku  hanya paham dan berprasangka, kami diajari untuk menjadi jagal kambing, profesi yang selama ini di jalani mbah Pujo. Kami begitu anak ingusan yang bodoh. Hingga pada hari Kamis malam Jumat itu, rombongan truk yang kemarin menjemput kami di langgar, datang ke rumahku. “Ayo San berangkat operasi,” demikian seru sang kawan, yang jauh lebih tua, dari atas truk.

Di atas truk ada sekitar 25 orang sebaya dan bahkan 20-an tahun lebih tua dari aku dan ayahmu. Truk milik Koh Ping An itu melaju jauh keluar kota J sampai kami tiba di sebuah desa di pinggir hutan. Aku  melihat banyak kawan yang berseragam, berkumpul di desa itu.

Tidak jauh dari kawan-kawan berseragam itu, terdapat 30-an orang yang tangan, kakinya telah terikat tambang dan beberapa matanya masih ditutup kain. Aku dan ayahmu saat itu baru tahu, beladiri yang kami pelajari, kemampuan menggunakan golok, menyembelih dan untuk tubuh yang kebal senjata, bukan untuk mempertahankan diri dari ancaman serangan PKI, seperti diperingatkan dan tanamkan oleh para tokoh malam pengemblengan itu.

Aku sadar, sebentar lagi aku akan menjadi jagal. Menjadi algojo. Ditangan kami, beberapa leher orang yang terikat dan tertutup mata didepan itu akan kami penggal.

Baca juga:  Setio dan Petuah Ki Banar

Kenangan menjagal kepala orang-orang yang dituduh PKI pada malam itu dan malam-malam selanjutnya kini menjadi kenangan dan mimpi buruk sepanjang. Tiada henti aku meminta maaf kepada Tuhan dan ruh-ruh yang telah kupenggal. Aku tidak tahu, apakah orang yang kami penggal kepalanya waktu itu berbuat dosa besar hingga pantas kami matikan. Mungkin saja, mereka tidak tahu apa-apa, apalagi soal politik.

Malam-malam itu orang bisa dengan mudah di bawa ke truk, dan tidak pernah kembali.Dalam sembilan puluh malam jahanam yang kami lalui, aku saksikan dan lakukan sendiri betapa beringas dan biadabnya manusia. Orang tidak tahu dan tidak peduli siapa lawan dan kawan. Siapa saudara dan liyan. Jikalau kau punya istri cantik, mungkin kau akan hilang tak kembali. Aku bisa memfitnahmu sebagai PKI, lalu aku kawini jandamu. Jikalau aku pernah berselisih bab batas tanah, kau pun juga bisa hilang hari-hari itu. Kau pun bisa mati, kalau saingi usaha, tetangga yang pelit atau  bekas bosku yang galak. Tak penting kau PKI atau tidak, kalau kami mau, kalau kami tidak suka sama kau, maka hilanglah kau di malam-malam jahanam itu. Begitulah kegilaan di sembilan puluh malam jahanam.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Dalam hidup keseharianku, aku sering merasa linglung, perasaan bersalah yang mendalam telah menyanderaku. Aku sering melamun, menerawang kemana-mana dan aku ingin segera mati hari-hari ini. Umurku masih jauh dari 70 tahun, namun aku telah begitu lemah dan di sepanjang tubuh ini adalah penyakit. Kau lihat tongkat ini? Tubuhku telah mati separo bertahun-tahun lalu. Tahun-tahun ini aku mulai membaik, hingga sampai ke rumah ini. Beruntunglah jika aku bisa mati tahun-tahun ini.

Aku dan ayahmu mungkin beruntung, kami tidak seperti kawan-kawan segemblengan kami dulu yang banyak mengalami kecelakaan, kesulitan untuk mati dan menjadi bunga tempat tidur. Konon, orang-orang yang hidup sejaman dengan kami, menyebut kami para algojo itu kena karma. Sebagai orang Islam yang saleh, aku mengembalikan semua itu kepada Allah SWT semata.

Di hari tua  ini, aku berharap ada kawan segemblengan dulu,  ayahmu, yang masih sehat, bersedia membantu membersihkan diriku dari ilmu kebal dan khadam-khadam yang diberikan pada malam isen awak.  Daun kelor, mantra rapal dan doa-doa tertentu yang bisa membebaskan  kami dari ilmu kebal. Atau mungkin juga dengan cara Arab yang dikenal dengan rukyah.

Aku, ayahmu dan mereka adalah korban politik. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami  dan memberikan tempat terbaik bagi mereka yang binasa akibat perbuatan kami. Politik itu menang mukti, kalah mati.

***

May anakku. Katakan kemana ayahmu pergi. Tolong kau telpon dia, aku ingin bertemu dan kangen sekali dengannya. Katakan padanya Aku Ingin Mati Tahun-tahun Ini. []perangko 1965 - Aku Harus Mati Tahun - tahun Ini

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi