Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Biografi Ali Hasjmy

Ibu saya meninggal waktu saya berumur sekitar 4 tahun. Nenek Puteh kemudian pengganti Ibu. Ibu dari Ibu saya ini adalah seorang Muslimat yang “Alim Melayu”, yaitu mempunyai ilmu yang

luas dengan perantaraan kitab-kitab yang berbahasa Melayu dan Jawou. 

Beliaulah yang menjadi guru saya pertama. Saya masih ingat betul,waktu saya mula-mula diajar “Quran Cut”, yaitu Juz Amma,

beliau pertama sekali mengajar Surah Al Alaq, dengan mengajar kami menghafalkannya dan diberi arti dan tafsirnya. 

Ayat 1 – 5 Surah Al Alaq ini, kemudian sangat mempengaruhi kehidupan ilmiyah saya.[3]

aragraf di atas adalah penggalan pendahuluan pidato Ali Hasjmy dalam pembukaan Perpustakaan dan Museum Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, tanggal 15 Januari 1991. Ali Hasjmy, yang memiliki nama kecil Muhammad Ali, sangat menjunjung tinggi Nek Puteh, orang tua yang mendidik Hasjmy setelah ditinggal pergi ibunya. Ali Hasjmy mengakui, bahwa beliau-lah yang membuka dan membimbingnya untuk mengenal dunia melalui dunia pengetahuan.[4]

Lahir di Montasiek, Aceh Besar,  28 Maret 1914, Ali Hasjmy mewarisi darah Pejuang Aceh dari kedua pihak orang tuanya. Dari pihak ayah, ada sosok Pang Abbas, sedangkan dari pihak ibu adalah Pang Husein, panglima perang yang diangkat langsung oleh Panglima Polem dalam menghadapi pasukan kolonial Belanda. Ali Hasjmy begitu sangat terkesan terhadap dua kakeknya itu, melalui Pang Abbas, dia tahu banyak mengenai perjuangan Pejuang Muslimin yang kemudian hari sangat mempengaruhinya di masa mendatang, baik melalui karya-karyanya, maupun melalui aktifitas politiknya. Melalui kakeknya Pang Abbas pula, Ali Hasjmy menuliskan: 

Menurut keterangan kakek saya itu bahwa Kuta Cot Bak U di Montasie telah direbut Belanda, sehingga Markas Besar Habib Abdurrahman yang tadinya bertempat di sana teah dipindahkan ke tempat lain. Pang Abbas  sebagai salah seorang Panglima Balang (Batalyon) dari Surkey (Divisi) Teuku Panglima Polem Muda Perkasa, juga telah hijrah dari Montasie setelah benteng Kuta Cot Bak U yang penting itu jatuh ke tangan musuh. Daerah Indrapuri menjadi benteng setelah pertahanan Montasie jatuh.[5]

Cerita-cerita seperti diatas lah yang kemudian menjiwai Ali Hasjmy untuk terus melakukan perlawanan terhadap pendudukan Belanda di Aceh. Bagi Ali Hasjmy, Belanda adalah musuh, yang harus angkat kaki dari tanah syuhada. Dan hal ini dibuktikan olehnya, di tahun 1942, bersama dibawah pimpinan Tgk. A. Wahab Seulimum dan tokoh-tokoh pemuda,  menyerang rumah Controleur di Seulimeum,[6] ini adalah serangan pertama oleh para pemuda guna mengusir Belanda dari tanah Aceh.

Sikap dan pandangan Hasjmy yang ideologis ini jug dibentuk oleh pendidikan, baik informal maupun formal. Untuk pendidikan informal, Nek Puteh melakukan pembentukan karakter pejuang, dengan membimbing Ali Hasjmy melalui cerita-cerita hikmah dan penuh dengan nilai patriotisme. Bahkan Nek Puteh-lah, di saat para orang tua melarang anak-anaknya masuk ‘sekolah kafir’, yang mendorong Ali Hasjmy untuk masuk sekolah Belanda untuk kaum pribumi tersebut, yaitu Volkschool.[7] Setelah itu, berturut-turut Ali Hasjmy masing-masing menempuh jenjang pendidikan sebagai berikut: Governement Inlandsche School Montasie, Thawalib School Padang Panjang, Perguruan Tinggi Islam, Jurusan Sastra dan Kebudayaan Islam Padang.[8]

Keberangkatan Ali Hasjmy ke Sumatera Barat bagian daripada proyek kebangkitan masyarakat melalui sistem pendidikan modern. Pendidikan modern ini yang berlangsung di Sumater Barat itu sendiri sangat terpengaruh dengan gagasan baru yang berkembang di Timur Tengah kala itu, sehingga kemudian menjadi tempat pekacambahan kelompok intelegensia baru di Aceh.[9] Fragmen keberangkatan Ali Hasjmy ke Sumatera Barat pun ditulisnya dengan sangat baik:

 Masih segar dalam ingatan saya, bahwa “bus carteran” yang membawa kami dilengkapi dengan periuk, belanga, panci, beras, keumamah (ika kayu), sie reboh (daging masak pedas yang tahan lama), sie balu dan lain-lain bahan makanan. Hal ini karena ada berita bahwa di daerah Tapanuli sukar mendapat warung/restoran Islam. Demikianlah sepanjang jalan pada waktu-waktu makan kami berhenti/istirahat untuk mndapaur/memasak dan kemudian tentunya makan bersama. Suatu kenangan yang indah sekali. Oleh Teungku Syekh Ibrahim Ayahanda! Kami tidak dimasukkan dalam satu madrasah/sekolah, tetapi ditebarkan ke berbagai madrasah/sekolah. Ada yang dimasukkan ke Perguruan Muslim Bukittinggi, MKI (Moderne Islamic Kweschool), Bukittinggi, Madrasah Thawalib Parabek (dekat Bukittinggi), Madrasah Thawalib Padang Panjang, I.N.S (Indonesche National School) Kayutanam (dekat Padang Panjang).[10]

Pengalaman Ali Hasjmy di atas menunjukkan betapa gelombang angkatan dari kelompok intelegensia baru di Aceh tumbuh dengan sangat subur, dengan memanfaatkan jaringan pendidikan modern, baik di Sumatera Barat maupun di Timur Tengah. Melalui jaringan pendidikan aliiran modernis demikian, maka pembaharuan di bidang agama dan politik dapat dilakukan melalui pendirian lembaga-lembaga pendidikan Islam modern, seperti Jaddam, MIM Lampakuk, Normal Islam Bireuen dan lain-lain.[11] Secara politik-pun, kebangkitan dari kelompok intelegensia ini juga yang mendorong lahirnya Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang memang sangat memiliki pengaruh dalam reformasi pendidikan modern di Aceh, salah satu prestasinya adala dengan membangun sebuah sekolah guru, yang dinamakan Normal Islam School.[12]

tokoh aa - Keislaman, Kebangsaan, dan Kebudayaan

 Saatnya Bergerak: Ali Hasjmy dan Aktifitas Politiknya

 Selepas menyelesaikan pendidikan tahap awal di Sumatera Barat, Ali Hasjmy kemudian menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeum, lembaga ini pun kemudian juga diisi oleh tokoh intelegensia lainnya yang kemudian memiliki peran besar dalam revolusi sosial berikutnya di Aceh, yaitu Ahmad Abdullah dan Said Abu Bakar.[13] Perguruan Islam Seulimeum ini-lah yang kemudian menjadi pelopor pengusiran Belanda dari Aceh melalui serangan menjelang tengah malam yang menewaskan Controleur JC. Tiggelman.[14] Peristiwa penyerangan ini kemudian, tidak  menjadi tonggak keluarnya Belanda dari dan masukknya Jepang ke Aceh, menjadi tonggak peran Ali Hasjmy dalam pergerakan politik di Aceh di kemudian hari dengan menjadi pemimpin Lasykar Rencong, sebuah divisi militer Pesindo  Aceh yang memiliki peran besar sekitar tahun 1945-1949.[15]

Peran Pesindo tersebut dapat dilihat dalam baik dalam hal politik, maupun militer. Secara politik, Pesindo memiliki kekuatan sebagai salah satu faksi yang memberi tekanan kepada pihak Jepang dan juga ikut mempertahankan Propinsi Aceh pertama, sedangkan secara militer, organisasi Pesindo, dengan Divisi Rencongnya, berhasil memberikan peran yang besar terhadap kemenangan Perang Medan Area dan juga menyelamatkan tambang minyak di Pangkalan Berandan.[16]

Pesindo menjadi organisasi yang sangat kuat, karena dibangun secara modern, karena organisasi ini memiliki struktur yang sangat rapi. Misalnya saja, organisasi ini memiliki beberapa divisi yang sangat strategis, seperti militer yang dipimpin oleh Nyak Neh Lho’nga, bidang siasat yang dipimpin oleh Tgk. M. Ali Piyeung, maupun bidang penerangan yang dipimpin oleh A. Gani Mutiara.[17]

Selain aktif dalam dunia pergerakan, Ali Hasjmy juga dikenal sebagai wartawan. Bahkan dalam satu kesempatan, Ali Hasjmy pernah mengatakan bahwa dia lebih ingin dikenal sebagai wartawan daripada seorang pejabat. Sebab, lanjutnya, akan ada mantan pejabat, akan tetapi tidak istilah mantan wartawan. Kemampuan Hasjmy di bidang jurnalistik, yang kemudian di masa-masa berikutnya di terjemahkan dengan membangun Fakultas Dakwah dan Publisitik, dibangun dengan kemampuannya dalam dunia mengarang yang luar biasa. Bahkan mlalui dunia mengaranglah, Hasjmy bisa menyelesaikan pendidikannya di Sumatera Barat, setelah sebelumnya, orang tuanya tidak mampu lagi membiayai akibat bangkrut:

 Tahun 1938, tahun pertama saya belajar di Al Jami’ah Al Islamiyah, adalah tahun percobaan berat bagi saya. Menjelang akhir 1938, orang tua saya (Teungku Hasyim bin Abbas) jatuh dalam perniagaan. Hal tesebut diberitahukan kepada saya dengan mengirim sebuah wesel untuk ongkos pulang. Dengan demikian, saya harus tidak melanjutkan studi. Berat, sungguh berat! 

Malamnya saya shalat istikharah meminta tuntunan Allah atas keputusan yang akan saya ambil. Menjelang shubuh malam itu juga saya mengambil keputusan, yaitu tidak akan pulang ke Aceh, saya akan melanjutkan studi! Besoknya, saya mengirim surat kepada Ayah memberitahu tentang keputusan saya itu dan memohon doa restunya. 

Biaya yang dikiri ayah  untuk ongkos pulang, saya pergunakan sebaik-baiknya untuk belanja hidup, yang nyatanya cukup untuk tiga bulan dengan kadang-kadang (bahkan sering) makan hanya satu kali dalam sehari. 

Masa-masa yang sulit mendorong mencari jalan keluar. Pada waktu sulit, Allah melapangkan jlan bagi hambanya yang tabah dan taat: Inna ma’al usri yusra (sungguh, kesulitan akan melahirkan kemudahan).[18] 

Kemudian, keadaan ekonomi yang sulit itulah, membuat Hasjmy mencari uang secara mandiri dengan aktif memproduksi karangan. Dengan usahanya yang berlipat ganda itulah, maka dua karangan dia; Dewan Sajak dan Melalui Jalan Raya Dunia diterbitkan oleh Centrale Courant dan N.V. Indische Drukkerij, setelah itu pula, novel Suara Azan dan Lonceng Gereja juga diterbitkan oleh N.V. Syarikat Tapanuli, ketiga penerbit itu berada di Sumatera Utara.[19] Dengan diterbitkan karangan-karanganya tesebut, maka Hasjmy dapat memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikannya, sehingga dapat menyelesaikan studinya di Al Jamiah Al Islamiyah.

Karena kemampuannya Ali Hasjmy dalam usaha mengarang, itu pula-lah membawanya kemudian diangkat oleh Pemerintah Jepang untuk membantu penerbitan surat kabar Aceh Sinbun, dan berikutnya Ali Hasjmy diangkat menjadi pemimpin umum setelah setahun pengangkatannya sebagai redaktur media tersebut.[20]

Surat kabar Aceh Sinbun ini kemudian memiliki peran besar dalam mengambil posisi politik untuk mendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah mendapat berita proklamasi pada tanggal 21 Agustus 1945, maka di bertempat di ruangan redaksi Aceh Sinbun, dipimpin oleh Ali Hasjmy, yang saat itu menjabat sebagai pimpinan media tersebut, diadakan rapat yang dihadiri oleh 10 pemuda Indonesia terkemuka untuk menentang kembalinya Belanda ke Aceh.[21] Setelah selesai Perang Dunia Ke-II, Aceh Sinbun berubah nama menjadi surat kabar Semangat Merdeka, media ini memiliki jasa besar dalam mempertahankan proklamasi kemerdekaan dengan memuat berita mengenai Pemerintah Pusat di Yogyakarta dan perjuangan orang Aceh dalam melawan agresi-agresi Belanda.[22]

Selain aktif dalam dunia pergerakan, pendidikan dan jurnalisme, Hasjmy juga pernah menjadi Kepala Jawatan Sosial keresidenan Aceh , dan pada fase ini-lah persoalan krusial di Aceh yang dihdapi oleh Hasjmy kelak. Diawali dengan pembubaran Propinsi Aceh melalui Peraturan Pemerintah Peganti Undang-Undang No. 5 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950 yang berisi:

  1. Mencabut Peraturan Wakil Perdana Menteri peganti Peraturan Pemerintah No. 8/Des/WPM tahun 1949 tentang pembagian Sumatera Utara menjadi dua propinsi.
  2. Mengesahkan penghapusan pemerintahan daerah keresidenan Aceh, Sumatera Timur dan Tapanuli, serta pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat daerah-daerah tersebut.
  3. Menetapkan pembentukan propinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli.[23]

Penghapusan Propinsi ini kemudian memunculkan ketegangan bagi rakyat Aceh, pengorbanan yang  yang diberikan selama revolusi fisik kemudian tidak dihargai oleh Pemerintah Pusat ketika Aceh dileburkan menjadi bagian dari Sumatera Utara, sehingga terjadi-lah pemberontakan Darul Islam Aceh pada tanggal 21 September 1953.[24] Pemberontakan tersebut sudah diprediksi oleh Ali Hasjmy, sehingga kemudian dia menulis surat kepada Pemerintah Pusat untuk mengingatkan kemungkan pemberontakan itu;

 Sesungguhnya saya tidak menyatakan keyakinan, tetapi saya hanya mengatakan, bahwa jika sekiranya hal-ha atau akibat langsung dari revolusi yang sekarang telah diungkit-ungkit kembali, tidak segera diselesaikan, keadaan bukan bertambah aman, akan tetapi akan bertambah rumit dan kacau yang akan menuju keruntuhan.[25]

Walau-pun Ali Hasjmy tidak ikut dalam pemberontakan tersebut, namun 3 hari setelah proklamasi DI/TII Aceh, dia ditangkap, atas tuduhan terlibat dalampemberontakan yang dipimpin oleh Tgk. Daud Beureuh.[26] Proses penangkapannya itu diceritakan dalam sebuah buku yang berisi surat-surat kepada putrinya yang baru berusia empat bulan. Surat yang sebenarnya tidak pernah dikirim untuk putrinya tersebut. Berikut penulis kutip dengan agak panjang peristiwa penangkapan itu: 

Anakku yang budiman 

Pada tanggal 20 September 1953, di Aceh pecah pemberontakan melawan Pemerintah Pusat dibawah pimpinan seorang Ulama Besar Teungku Muhammad Daud Beureuh , yang kemudian dikenal dengan sebutan: Peristiwa DI/TII, karena mereka telah memproklamirkan Aceh lepas dari Republik Indonesia. 

Tentu engkau, anakku manis, belum lupa bahwa ayahda sedang bertugas di Medan sebagai Wakil Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara. 

Tanggal 23 September 1953, kira-kira pukul 11 siang ayahda ditangkap atas perintah Kepala Polisi Sumatera Utara. Karena dituduh terlibat dalam peistiwa DI/TII yang baru tiga hari yang lalu pecah di Aceh. Waktu itu ayahda baru pulang dari Belawan untuk mengurus para pengungsi yang baru datang dari Aceh; di kantor ayahda telah menanti seorang Inspektur Polsi dengan dua orang pembantunya. 

Inspektur Polisi tersebut dengan sikap sebagai seorang polisi memperlihatkan “surat perintah-tangkap”  kepada ayahda, dimana ayahda terima dengan tenang sebagai suatu “qadla-adar” dari Allah. Penahanan dan penagkapan bagi ayahda bukan soal baru; kaena waktu zaman penjajahan Belanda di Indonesia ayahda pernah berkali-kali berurusan dengan polisi kolonial Belanda, bahkan pernah ayahda ditangkap, ditahan dan dipenjarakan beberapa bulan setelah diajukan ke depan pengadilan kolonial di Padang Panjang, ayahda waktu itu sedang menghadapi ujian akhir  dari Madrasah Thawalib bagian Sanawiyah (Menengah). Sebagai seorang anggota pimpinan dari H.P.I.I (Himpunan Pemuda Islam Indonesia) ayahda dituduh melanggar undang-undang Hindia Belanda; undang-undang kolonial!.[27]

Di dalam penjara, Ali Hasjmy berusaha menjelaskan secara baik apa yang sedang dia hadapi, bertemu dengan banyak orang, berkisah tentang beragam peristiwa, linangan air mata dan tawa riang. Beragam suasana itu dapat kita baca di dalam salah satu surat yang berjudul Manusia dan Lingkungannya.[28] Tidak seperti surat-surat lain yang ditulis dalam satu waktu, pada bagian ini surat ditulis sejak tanggal 3 November- 31 Desember 1953, Hasjmy menyuratkan tentang betapa kerasnya hidup dalam penjara; tentang bersilangnya kabar mengenai status tahananan, atau satu waktu para  tahanan politik pemberontakan Aceh dilarang menerima tamu, sampai kepada para tahanan yang mulai terganggu kejiwaannya akibat tekanan hidup dalam penjara.

Baca juga:  Sesisir Pisang di Surga

Namun demikian kerasnya kehidupan di dalam penjara, Hasjmy memberikan pemaknaan tersendiri terhadap penjara yang dituangkan dalam salah satu suratnya yang berjudul Manusia dan Penjara.[29] Beginilah ungkapan Ali Hasjmy;

 …Demikianlah, manisku sayang, semenjak ditawan selama lebih tiga bulan, ayahda tidak merasa seperti dalam penjara, tidak pernah merasa kehilangan kebebasan. Ayahda merasa diri bebas sebebas-bebasnya. Dengan perantaraan surat-surat ayahda bebas mengadakan hubungan dengan engkau, ibu dan abang-abangmu, manisku. Ayahda bebas memberi pelajaran-pelajaran Islam kepada teman-teman setahanan, kepada orang-orang hukuman. 

Sekalipun tubuh kasar ayahda berada dalam apa yang mereka namakan penjara, namun jiwa dan pikiran ayahda tetap merasa tidak terkurung; tidak ada siapapun yang sanggup menarnatai atau membelenggu jiwa dan pikiran ayahda, kecuali Allah Maha Pencipta.

Setelah berada di dalam penjara selama 10 bulan, Ali Hasjmy di bebaskan tepatnya di bulan Juni 1954 karena dalam pemeriksaan tidak terlibat dalam gerakan DI/TII, dan sebagai pegawai negeri, maka dia dipindahkan ke Departemen Sosial di Jakarta.[30] Dalam  “pengasingannya” di Jakarta inilah pemberontakan DI/TII semakin kuat, sehingga di tahun 1956, status propinsi Aceh dikembalikan, dan Ali Hasjmy sebagai Gubernurnya. Artinya dalam sejarah Propinsi Aceh pertama, maka Ali Hasjmy adalah Gubernur kedua setelah Tgk. Muhammad Daud Beureuh. Ditunjuknya Ali Hasjmy sebagai Gubernur satu hal yang tepat, karena selain reputasinya yang tinggi sejak zaman revolusi fisik, juga Hasjmy memiliki kedekatan dengan kelompok DI/TII.[31]

Ketika diminta oleh Pemerintah Pusat untuk menjadi Gubernur Aceh, maka Hasjmy mengatakan sebuah kalimat yang sangat penting “Saya bersedia menjadi Gubernur, akan tetapi saya tidak mebawa api, melainka membawa air”, sehingga kebijakan pertamanya dalam menyelesaikan pemberontakan DI/TII Aceh adalah dengan menghubungi beberapa tokoh penting dalam tubuh gerakan tersebut seperti Tgk. Ali Piyeung, dan A. Jalil Amin. [32]

Upaya pendekatan melalui kedua sahabat lamanya itu kemudian menuai hasil yang sangat positif, bila sebelum ketegangan militer yang terjadi sangat kuat, maka semenjak Ali Hasjmy menjadi Gubernur, upaya dialogis dengan pendekatan kebudayaan menjadi lebih kuat, dan kemudian hal tersebut diterjemahkan dalam sebuah gencatan senjata (cease fire) yang dinamakan Ikrar Lamteh: 

Bismillahirrahmanirrahim

Kami Putera-Putera Aceh, di pihak mana pun kami berada, akan berjuang sungguh-sungguh untuk:

  1. Menjunjung tinggi kehormatan agama Islam
  2. Menjunjung tinggi kehormatan dan kepentingan rakyat Aceh
  3. Menjunjung tinggi kehormatan dan kepentingan daerah Aceh.[33]

Gencatan senjata ini sebenarnya sempat buntu, sampai kemudian Pawang Leman, tentara DI/TII dan juga tokoh masyarakat mengatakan dengan keras

Kalau bapak-bapak tidak sanggup menyelesaikan masalah ini, mari kita bakar saja Aceh ini suapaya kita puas dan agar cucu di belakang hari akan menuduh kita sebagai pengkhianat dan orang yang tidak bertanggung jawab!.

Ikrar lamteh ini kemudian digambarkan dalam sebuah piagam yang sangat memiiki makna yang sangat filosifis dan yang lebih penting lagi, Ikrar Lamteh itu sendiri mampu dilahirkan antara orang Aceh sendiri tanpa ada pihak yang memediasi, suatu kajian menarik dalam sebuah resolusi konflik.

Ali Hasjmy sendiri dalam sendiri dalam khutbah Idul Fitri di tahun 1959  mengatakan bahwa Ikrar Lamteh itu sendiri memiliki pokok pikiran untuk pemajuan agama Islam, pembangunan Aceh dan pembahagiaan rakyatnya.[34]

Semangat ikrar lamteh ini kemudian, satu tahun berikutnya yang menjiwai  pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Penghentian permusuhan kemudian benar-benar dimanfaatkan untuk melakukan pembangunan, dan yang menariknya pembangunan yang dilakukan oleh pemimpin Aceh kala itu adalah pembangunan karakter dan jiwa manusia Aceh. Ada keinginan kuat untuk membawa Aceh masuk ke alam peradaban baru, sehingga kemudian dipilihlah untuk diadakan Pekan Kebudayaan Aceh-1 di tahun 1958.

Dalam buku  laporan PKA-3,[35] kegiatan PKA-1 bisa bergerak karena dengan dorongan ketiga pejabat Aceh saati itu, Gubernur Ali Hasjmy, Pangdam Iskandar Muda Letkol Syamaunl Gaharu dan  Kasdam Iskandar Muda, Mayor  T. Hamzah.  Dijelaskan juga dalam laporan tersebut, bahwa PKA-1 dilaksanakan karenan beberapa hal; pertama, sebagai lanjutan dari usaha dalam upaya mewujudkan keamanan dan pembangunan Aceh. Kedua, adanya upaya membangun kebudayaan nasional melalui penggalian kebudayaan daerah. Ketiga, adanya kesadaran tentang kejayaan masa lampau yang menjelaskan Aceh kaya akan budaya. Kesadaran yang membuat PKA-1 begitu cepat sambutan dari masyarakat.

PKA-1 pun semakin memperjelas tentang visi Aceh kala itu, bahwa pembangun jiwa bangsa adalah menjadi agenda utama dengan membangun Perguruan Tinggi di Banda Aceh. Ketika di sela-sela acara tersebut, Mentei Agama K. H. Ilyas di tanggal 17 Agustus 1958 meresmikan batu pertama pembangunan Kopelma Darussalam. Selanjutnya pada penutupan PKA-1, giliran Menteri PP&K Dr. Priyono yang hadir ke Darussalam untuk meletakkan batu pertama pembangunan Kota Pelajar dan Mahassiwa (Kopelma), seraya menyetujui penamaan Darussalam (wilayah damai) sebagai lawan dari Darl Harb, yang dimaknai sebagai wilayah perang.[36]

Pendirian Kopelma Darussalam sebenarnya adalah cita-cita kelompok intelegensia Aceh yang tertunda, akibat terus berada dalam keadaan perang yang tak berkesudahan. Selain itu pula, pendirian Darussalam meruapakan sebuah kerja besar untuk membangun Aceh yang hancur akibat perang semenjak zaman perang kolonial, sehingga dalam sambutannya, Ali Hasjmy mengatakan tentang Darussalam sebagai berikut:

Tjita-tjita yang terkandung didalam dada pemimpin-pemmpin dan rakjat Atjeh dengan pembangunan “Darussalam”, ialah karena dorongan dan kesdaran hendak mendjadikan hari-depan Atjeh, selaku bagian Republik Indonesia, kembali megah dan berbahagia seperti zaman-zaman kebesaran dahulu, dengan tudjuan,  bahwa disamping akan mendjadi sebuah mata-air ilmu pengetahuan, “Darussalam” djuga merupakan suatu lembaga, dimana manusia-manusia baru jang berdjiwa besar, berbui luhur, dan berpengalaman luas dilahirkan.[37]

Disini bisa kita lihat bagaimana visi A. Hasjmy dalam membangun sebuah masyarakat melalui kebangunan jiwa dan akal budi, dan hal itu dapat dilakukan dengan memperbaiki pikiran dan hati melalui dunia pendidikan.  Sehingga kemudian bisa mengalihkan dan memindahkan sebuah situasi dari kekalutan yang akut menuju kedamaian yang hakiki. Dan yang suatu hal yang patut dicatat, Kopelma Darussalam dibangun untuk menuju cita-cita pembangunan, pesan yang disampaikan oleh Bung Karno, 2 September 1959: 

…Kota Pelajar/mahsiswa Darussalam, Pusat pendidikan di daerah Aceh, sebagai lambang iklim dalamai dan suasana persatuan adn eksatuan, sebagai hasil kerjsaama antara Rakyat dan para Pemimpin Aceh, sebagai modal pembangunan dan kemajuan bagi daerah Aceh khususnja dan bagi seluruh Indonesia umumnya.[38]

Tekad ini pula, dalam bahasa yang sangat terkenal,  yang disebut Bung Karno dalam pembukaan Kopelma Darusalam sebagai pelaksanaan cita-cita, melalui tekad yang bulat, tekad yang keras yang dimiliki oleh Aceh.[39] Dalam kesempatan yang berbeda, Ali Hasjmy menjelaskan tentang tujuan Kopelam Darussalam adalah untuk membangun Manusia Pancasila yang berijwa besar, memiliki pengetahuan yang luas serta berakhlak mulia, maka demikian, Kopelma Darussalam diharapkan dapat membangun manusia Berketuhanan yang Maha Esa, Berperi Kemanusiaan, Berkebangsaan Indonesia, Berpaham Kerakyatan, Berkeadilan Sosial, Berjiwa Besar, Berpengetahuan luas dan Berakhalak Mulia,[40] selain itu, Darussala adalah masa depan  Aceh yang gemilang.[41]

Lebih jauh, Ali Hasjmy menegaskan bahwa Darussalam memiliki konsepsi yaitu  dianya tidak hanya sebagai pusat kegiatan ilmu, melainkan juga sebagai doktrin pendidikan dan sumber cita (cita disini dimaknai oleh Ali Hasjmy sebagai ideologi),[42] yang kemudian memiliki hubungan dengan filsafat Pancasila, dalam pemaknaan Ali Hasjmy, filsafat Pancasila itu memiliki arti; 

  1. Tiap manusia harus mengabdi dan bertaqwa kepada Allah, berlandaskan suatu kejakinan “Tauhid” jang benar.
  2. Tiap manusia harus mengamalkan segala adjaran Allah jang telah ditetapkan dalam Sjari’atnja, baik ibdah maupun mua’ammalah.
  3. Tiap manusia harus mendjauhkan segala perbuatan mungkar dan maksiat.[43]

 Darussalam dalam pemaknaan Ali Hasjmy berikutnya adalah sebagai tempat mencetak pemimpin Aceh di masa depan, yang disebutnya sebagai Angkatan Darussalam, yaitu sebuah generasi baru setelah Angkatan 45, yang diharapkan mampu membangun hubungan antara ilmu pengetahuan yang mereka miliki dengan pengalaman di masyarakat guna menjadi pemimpin.[44] Dalam penjelasannya yang lebih lanjut mengenai Angkatan Darussalam, setelah pidatonya tanggal 27 Agustus 1986 mengenai istilah tersebut mendapat sambutan banyak pihak, Ali Hasjmy mengurai bahwa Angkatan Darussalam adalah pertama,  putera-puteri Indonesia yang lahir di Aceh  setelah tanggal 26 Mei 1959, ketika Aceh menjadi daerah damai (Darussalam) dan menjadi daerah istimewa, kedua, putera-puteri Indonesia yang berasal atau tinggal di Aceh, yang telah menyelesaikan studi di perguruan tinggi, baik di Aceh, Indonesia maupun di luar negeri.[45]

Kecintaannya kepada dunia pendidikan tidak saja ditunjukkan dengan menjadi pelopor pembangunan Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma), yang dimana di dalamnya terdapat dua perguruan tinggi, Universitas Syiah Kuala dan IAIN A-Raniry, melainkan juga membangun sebuah yayasan pendidikan, yang bernama Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Yayasan ini dibangun pada tanggal 25 Januari 1991,[46] di atas kesadaran bahwa pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan mesti terus dijalan. Selain itu pula, bagi seorang Ali Hasjmy, pembangunan yayasan ini didasari atas kegelisahannya yang berlipat-lipat. Dalam pidato sambutan di ulang tahun ke-4 Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, dia menuturkan:

Baca juga:  Tentang Julius dan Ibunya

 Setelah berusia lanjut, setelah hari-hari  “dunia saya” mendekatai SENJA, ketenangan hidup terusik oleh kekayaan yang saya miliki berupa kitab/buku yang hampir 30.000 jilid, naskah-naskah tua/manuskrip yang cukup banyak yang mengandung  bermacama disiplin ilmu: Filsafat, Farmasi, Kedokteran, Sejarah, Tafsir dan sejumlah  MUSHAF/AL QURANUL KARIM tulisan tangan yang berusia ratusan tahun, disamping benda-benda budaya dan senjata-senjata warisan Perang Aceh.

Akan menjadi barang luakkah kekayaan saya yang amat bernilai itu? Demikian hati saya bertanya entah kepada siapa. Atau ia akan menjadi makanan rayap, setelah saya sudah tiada? Gelisah, terus gelisah! Hati saya tetap dilanda ketakutan!

Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan buah kegelisahan itu terjawab, dengan terbentukny Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, dengan usahanya pertma pendirian sebuah Perpustakaan dan Museum, sebagai Sarana Pendidikan, Sarana dunia saya: DUNIA PENDIDIKAN.[47]

Pendirian Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy begitu diaspirasi oleh bebagai kalangan, Muhammad TWH, wartawan Aceh yang bermukim di Medan menyebutkan bahwa keberadaan Museum Hasjmy sebagai sarana komunikasi dan pendidikan yang penting, di saat masyarakat sedang menggalakkan peningkatan ilmu pengetahuan dunia dan akhirat.[48] Hal yang lebih kurang sama yang disampaikan oleh Menteri Negara Urusan Wanita  (UPW), Ny. Sulaskin Murprtomo ketika mengunjungi  Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, baginya keberadaan lembaga tersebut untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.[49]

Menurut laporan resmi dari pengurus, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy memiliki susunan koleksi sebagai berikut: buku-buku dalam berbagai bahasa, Arab, Inggris, Indonesia dan lain, yang berbicara tentang berbagai ilmu. Kemudian museum di Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy juga menyimpan benda-benda bersejarah, naskah-naskah tua, album-album foto dan makalah serta seminar kit.[50]

Kemudian, selain menjadi perpustakaan dan museum, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy juga menjadi pusat khazanah Melayu.[51] Pendirian khazanah Melayu ini didorong oleh sebuah gerakan kebudayaan yang disebut oleh Ali Hasjmy sebagai “Dunia Melayu Raya”, yang akan mengintegasikan kebudayaan di dalam kawasan ASEAN melalui persamaann bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia, Singapura, Thailand dengan bahasa Indonesia, dan bahkan gerakan kebudayaan ini akan semakin menguatkan peran ASEAN,[52]

Gerakan kebudayaan yang dinamakan “Dunia Melayu Raya” itu sebenarnya berkelindan juga dengan keberadaan Lembaga Kebudayaan Aceh (LAKA). Sebuah lembaga kebudayaan yang bekerja untuk memproduksi pengetahuan pada tema-tema kebudayaan, humaniora, sastra dan sejarah. LAKA ini sendiri lahir dari rekomendasi Seminar Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan di Takengon 1986, yang dihadiri dari berbagai utusan dalam dan luar negeri, sehingga LAKA diharapkan kehadirannya dapat membina kembali adat dan kebudayaan Nusantara.[53]  Dalam konteks dunia Melayu Raya, LAKA diharapkan dapat menjadi jembatan dunia Melayu di atas Selat Melaka, Selat Jawa dan Sunda, Selat Bali, Selat Nusantara Barat dan Timur, Selat Kalimntan, Selat Ambon, Selat Teluk Cendrawasih dan di atas laut yang membentang antara Sulawesi dan Filipina Selatan.[54]

Upaya LAKA untuk menjembatani hubungan Aceh dan Dunia Melayu salah satunya dengan penerbitan sebuah pamflet yang berjudul Aceh dan Pahang, yang memuat tiga buah artikel mengenai Putri Pahang dan Iskandar Muda, Sultan Iskandar Tsani sebagai simbol persudaraan Aceh dan Pahang, serta hubungan antara Aceh, Perak, Bugis dan Pahang. [55] Keberadaan pamflet itu menjelaskan bagaimana upaya untuk menarik garis kesamaan antara Aceh dan Dunia Melayu melalui eksplorasi sejarah dan kebudayaan.

Selain itu, yang patut diberi perhatian adalah kebepihakan Ali Hasjmy terhadap sejarah Aceh begitu tinggi.[56] Keyakinannya bahwa Aceh memiliki masa lalu yang gemilang, tidak hanya saja dengan menuliskan roman biografi Iskandar Muda dengan sangat baik,[57] namun juga kegemilangan Aceh di bawah kepemimpinan Ratu[58] dan Laksamana Malahayati.[59] Bahkan dalam sebuah kuliahnya di hadapan pengurus Kohati HMI Cabang Banda Aceh, Ali Hasjmy memaparkan secara lebih detil tentang posisi perempuan dalam sejarah Aceh. Melalui Jalaluddin Tursina yang mengarang kitab Safinatul Hukkam, Ali Hasjmy mengatakan bahwa perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sama, bahkan dalam soal kedudukan sebagai kepala negara, bahkan dalam Majelis Mahkamah Rakyat di zaman Ratu Safiatuddin, ada 17 perempuan dari 73 anggota lembaga tersebut.[60]

Ali Hasjmy juga banyak memproduksi pengetahuannya mengenai kebudayaan, selain itu dia juga memiliki perhatian terhadap banyak tema; Islam, politik, sejarah, sastra, ilmu dakwah dan lain-lain. Daftar buku-buku dengan tema beragam ini bisa kita lihat dalam artikel penting dari Syahbuddin Gade dan Abdul Ghafar Don[61] sebagai berikut:

  1. Kisah seorang pengembara, sajak, Pustaka Islam, Medan 1936
  2. Sayap terkulai. roman ini ditulis di 1938.
  3. Dewan sajak, Centrale Courant, Medan 1938.
  4. Bermandi cahaya bulan, Indiche Drukrij, Medan 1939.
  5. Melalui jalan raya dunia, roman masyarakat, diterbitkan oleh Indiche Drukrij, Medan 1939
  6. Suara azan dan lonceng gereja, Syarikat Tapanuli 1940.
  7. Cinta mendaki, gagal diterbitkan
  8. Dewi Fajar, Aceh Simbun, Banda Aceh 1943.
  9. Tanah Merah, Bulan Bintang, Jakarta 1950.
  10. Meurah Johan, Bulan Bintang, Jakarta 1950.
  11. Pahlawan-pahlawan Islam yang gugur, buku saduran dari bahasa Arab, Bulan Bintang 1956
  12. Kerajaan Saudi Arabia, Bulan Bintang, Jakarta 1957.
  13. Rindu bahagia, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963.
  14. Jalan kembali, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963.
  15. Semangat kemerdekaan dalam sajak Indonesia Baru, Pustaka Putro Canden, Banda Aceh 1963.
  16. Sejarah kebudayaan dan tamadun Islam, Penerbit IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh 1969.
  17. Yahudi bangsa terkutuk, Pustaka Faraby, Banda Aceh 1970.
  18. Sejarah hukum Islam, Majlis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh 1970.
  19. Hikayat perang sabi menjiwai perang Aceh lawan Belanda, Pustaka Faraby.
  20. Islam dan ilmu pengetahuan modern, buku terjemahan dari bahasa Arab, Pustaka Nasional, Singapura 1972.
  21. Rubaci Hamzah Fansury karya sastera sufi Abad XVII, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 1974.
  22. Sejarah kebudayaan Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1975.
  23. Iskandar Muda Meukuta Alam, Bulan Bintang, Jakarta 1977.
  24. Sumbangan kesusastraan Aceh dalam pembinaan kesusastraan Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta 1978.
  25. Langit dan para penghuninya, buku terjemahan bahasa Arab, Bulan Bintang, Jakarta 1978.
  26. Apa Sebab al-Qur’ān tidak bertentangan dengan akal, buku ini terjemahan dari bahasa Arab,Bulan Bintang, Jakarta, 1978.
  27. Nabi Muhammad sebagai panglima perang, Mutiara, Jakarta 1978.
  28. Mengapa ibdah puasa diwajibkan, buku ini terjemahan dari bahasa Arab, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
  29. Cahaya kebenaran, buku ini terjemahan al-Quran Juz Amma, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
  30. Surat-surat dari tanah suci, Bulan Bintang, Jakarta 1979.
  31. Sejarah masuk dan kerkembangnya Islam di Indonesia, Al-Ma’arif, Bandung 1981.
  32. Mengenang kembali perjuangan misi Haji RI ke-II, Al-Ma’arif, Bandung 1983
  33. Benarkah Dakwah Islamiyah bertugas membangun manusia, Al-Ma’arif, Bandung
  34. Kesusasteraan Indonesia dari zaman ke zaman, Beuna, Jakarta 1983.
  35. Sejarah kesusasteraan Islam/Arab, Beuna, Jakarta 1983.
  36. Hikayat Pocut Muhammad dalam Analisa, Beuna, Jakarta 1983.
  37. Publisistik dalam Islam, Beuna, Jakarta 1983.
  38. Syiah dan ahlussunnah saling rebut pengaruh di Nusantara, Bina Ilmu, Surabaya 1984.

Selain daftar karya di atas, kita juga bisa mendapati beberapa buku-buku Hasjmy dalam berbagai tema yang luas, sebagaimana yang disusun oleh Wildan,[62] sebagai berikut:

  1. Dustur Dakwah Menurut Al-Quran, Bulan Bintang, Jakarta, 1974.
  2. Pokok Pikiran Sekitar Dakwah Islamiyah, Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh 1981.
  3. Apa Tugas Sastrawan sebagai Khalifah Allah, Bina Ilmu, Surabaya, 1984.
  4. Semangat Merdeka, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.
  5. Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia, Bulan Bintang, Jakarta 1990.
  6. Malam-Malam Sepi di Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta, Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, Banda Aceh, 1992.
  7. Mimpi-Mimpi Indah di Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta, Banda Aceh, 1993.
  8. Orang Sakit di Kota Singa, 1994.
  9. Semakin Terasa Kebesaran-Mu ya Allah, Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Band Aceh 1997.
  10. Ulama Aceh Mujahid Pejuang Kemerdekaan dan Pembangun Tamaddun Bangsa, Bulan Bintang, Jakarta, 1997.

Dustur Dakwah: Keilmuwan Dakwah yang Berketuhanan dan Berkebudayaan

Katakan: inilah jalanku; aku dan pengikutku dengan sadar mendakwahkan kamu menuju Allah. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk dalam golongan orang-orang musyrik (Surat Yusuf/12: 107)

Ayat di atas adalah permulaan dalam bab Pengertian dan Tujuan Dakwah dari buku Ali Hasjmy, Dustur Dakwah Menurut Al-Quran.[63] Buku ini, sebagaimana penjelasan Ali Hasjmy dalam bab Pengantar, sudah disusunnya sejak tahun 1971, namun terus tertunda, sampai akhirnya dia mendapatkan pengalaman yang besifat eksistensialis ketika melihat kesungguhan para suster Katolik dalam menyampaikan ajaran Nasraninya, yang akhirnya mendorongnya menulis dan menyelesaikan buku ini.[64]

Ali Hasjmy kemudian memulai bahwa penjabaran surat al Fatihah, sebagai intisari dakwah islamiyah itu sendiri,y ang dimana tujuan dakwah islamiyah  adalah ajakan dan arahan kepada manusia untuk mengambil ajaran Allah yang termaktub di dalam Al-Quran.[65]  Lalu kemudian Ali Hasjmy menjelaskan dengan adanya kewajiban membaca al-fatihah 17 kali sehari bagi muslim dalam shalat, maka demikian telah menghayati intisari dari tujuan dakwah islamiyah itu sendiri, sebagai kemestian agar dakwah islamiyah bisa berjalan.[66]

Melalui Al-Quran pula, Ali Hasjmy berusaha untuk menempatkan bagaimana gagasan dakwah islamiyah dalam konteks keilmuwan. Hal ini bisa dilihat dari upaya kerasnya untuk menyamakan padanan kata dakwah dengan publistik:

Laksanakan dakwah (publisistik) ke DjalaN Tuhanmu dengan bidjaksana, bersendikan adjaran jang indah dan berpolemiklah dengan tjara jang indah, dan berpolemiklah dengan tjara jang terbaik. (An Nahl: 125).[67]

Upaya Hasjmy untuk memberikan makna yang sama antara dakwah dan publisistik dipahami sebagai usahanya untuk meletakkan dakwah dalam kerangka ilmu sekaligus actie. Hal ini dinyatakannya berikut ini:

Karena itu, Fakultas (Dakwah –tambahan penulis) dan Publisistik dalam melaksanakan pendidikan tingginja, bukanlah suatu fakultas jang berprinsip: “Ilmu untuk Ilmu”, tetapi ia adalah suatu fakultas jang berpendirian: “ilmu untuk diamalkan”.

Disamping memberi teori-teori ilmu dalam tingkat tinggi, djuga memberi latihan praktis dalam mengamalkan ilmu itu, sehingga dia otomatis ilmijah, teoritis dan amalijah, praktis bersama-sama sebagai kebulatan ilmu diadjarkan dan diamalkan dalam “Fakultas Dakwah/Publisistik” ini.

Tegasnja, bahwa Fakultas Dakwah dan Publisistik bertudjuan, untuk mendidik dan mentjetak para “DU’AH MUSLIMIN” (Publisisten Islam) jang memiliki sjarat-sjarat seperti jang dikehendaki Allah, baik mereka sebagai “Mursjid Lisan” (Chatib), ataupun sebagai “Mursjid Tulisan” (wartawan), bahkan djuga sebagai “Mursjid Pendidikan” (Pengadjar/Dosen) atau sebagai “Mursjid Amm” (Pemimpin Organisasi).[68]

Pandangan dakwah Ali Hasjmy pun dihubungkan dengan kebudayaan Islam itu sendiri, yang menariknya terjemahan kebudayaan itu sendiri tidak hanya melalui usaha-usaha penelitian semata, melainkan juga dengan kegiatan dakwah yang bersifat bil-hal: pelaksanaan PKA, pembentukan LAKA, penganugerahan gelar adat, pemakaian pakaian adat, pembangunan kubah mesid bermotif Aceh, pembangunan Monumen Islam Asia Tenggara dan pendirian Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.[69]

Hasjmy memberi pengertian bahwa dakwah islamiyah memiliki kesamaan dengan pengertian fisabilliah, sehingga memiliki implikasi yang sangat luas, karena kemudian Ali Hasjmy memaknai Dakwah Islamiyah sebagai keuniversalan ajaran Islam yang meliputi keimanan, sosial, politik, akhlak, keperibadian dan kemanusiaan.[70] Berikut uraiannya mengenai definisi dakwah islamiyah itu:

Ada jang harus diperhatikan, jaitu bahwa “Dakwah Islamijah” sama artinja dengan “Sabilillah”. Sudah amat djelas dan tidak dapat diagukan lagi, bahwa ajat2 Al Quran mendjadika pengertian “Sabilillah” sama dengan “Thariq Allah, “Dakwah Islamijah”, Din-Nja dan adjaran2 Nja jang berhubungan dengan keimanan, achlak, kemasjarakatan, kemanusiaan, politik dan pendidikan jang banjak terkandung dalam al Quran dan Rasul mengadjak  manusia melaksanakannja, atau dengan akta jang lain dapat disebut: Dakwah Islamijah itu sendiri.

Djadi, Dakwah Islamijah atau Sabilillah mengandung pengertian: panggilan ke arah pembebasan dari perbudakan hawa nafsu dan kedjahatan; panggilan untuk mengikat persatuan dan kesatuan ummat manusia serta persaudaraan umum, dengan djalan menganut satu agama di bawah naungan  bendera Alquran dan Ketuhanan Jang Maha Esa: dengan djalan kesatuan asas, kesatuan kewadjiban, kesatuan adjaran dan kesatuan pandangan jang bertaut dengan keimanan, politik, sosial, achlak, kepribadian dan kemanusiaan, jang kesemuanja akan memperkuat persaudaraan umum, persamaan sedjati dan djaminan sosial, jang bersendikan  tjintakasih, gotongrojong, dan saling maaf, dimana tidak ada lagi perbedaan ummat manusia dan tidak lagi kasta2.[71]

Uraian di atas  adalah upaya keras Ali Hasjmy untuk membawa pengertian dakwah islamiyah ke dalam berbagai bidang kehidupan, yang bahkan secara terang dan lugas, dia juga memasukkan pengertian dakwah ke dalam pandangan Islam sebagai ajaran yang universal; yaitu sebuah pandangan yang meyakini bahwa Islam ada sekumpulan ajaran yang lengkap dan paripurna dalam mengatur kehidupan manusia.

Pandangan keislam Hasjmy demikian tentu tidak mengejutkan, seperti yang sudah dijelaskan di awal tulisan ini bahwa sebab sejak muda, Hasjmy sudah terlibat dalam pergerakan organisasi Islam seperti PUSA dan Pesindo. Khusus untuk Pesindo, Ali Hasjmy bersama tokoh-tokoh lain seperti Tgk. Ali Piyeung dan Jalil Amin menempatkan sebagai organisasi yang berbeda secara ideologi dengan Pesindo di kepengurusan pusat. Hal ini dijelaskan dalam berbagai kesempatan oleh Hasmy sendiri, diantaranya dalam ceramahnya dihadapan para Taruna AKABRI di Magelang; bahwa perubahan nama Pemuda Republik Indonesia (PRI) di Yogyakarta pada tanggal 10 November 1945, menjadi Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), ikut mengubah ideologinya pula menjadi sosialisme yang lebih dekat ke kiri atau komunisme, sedangkan Pesindo Aceh menolak peubahan ideologi tersebut dan tetap menganut azas Islam dan Kebangsaan.[72]

Pandangan Ali Hasjmy mengenai Islam, sebagai  titik pangkal mengapa mesti adanya kewajiban dakwah islamiyah cukup menarik, apabila kita membacanya dari pandangan  politik Islamnya. Menurut Ali Hasjmy, Islam harus diletakkan dalam konteks ideologi, yaitu sebuah pandangan bahwa Islam adalah sebuah agama yang menyeluruh, yang mengatur segala aspek kehidupan, itulah mengapa Ali Hasjmy kemudian menjelaskan tentang posisi negara Islam yang sangat penting, yang kemudian disebutnya pula lahir dari kegiatan dakwah Nabi pada proses awalnya.[73] Ini menunjukkan keterkaitan pandangan dakwah islamiyah yang dibangun Ali Hasjmy memiliki keterkaitan dengan berbagai bidang, diantaranya politik.

Hal ini dapat dilihat secara lebih tegas dalam sebuah ceramahnya tentang Demokrasi Islam  dihadapan peserta Intermediate Training Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Banda Aceh, Ali Hasjmy menegaskan bahwa Islam hadir untuk mempersatukan, dalam organisasi agama, aspek keduniawian dan akhirat, sedangkan dalam organisasi manusia untuk mempersatukan jasmani dan ruhani, serta terakhir dalam organisasi hidup untuk mempersatukan ibadah dan muammalat, dan kesemua itu harus berada di Tariq Ilal’lah atau Jalan Allah.[74]  Lebih lanjut  Ali Hasjmy menjelaskan:

Islam adalah agama kesatuan jang mempersatukan antara semua kekuasan dan kekuatan alam, karena Islam itu adalah AGAMA TAUHID: Agama jang MENG-ESAKAN Tuhan, menjatuhkan semua Agama kedalam Agama Allah, mempersatukna para Rasul dalam memproklamirkan satu Agama, Agama Allah, sedjak adanja hidup: —Sesungguhnja ini adalah ummatmu, satu ummat dan Aku Tuhanmu. Karena  itu, beribadatlah kepada-Ku. (Q. Al Ambija: 92)

Islam adalah Agama kesatuan jang mempersatukan antara ibadat dan mu’ammalat, antara kejakinan dan kesopanan, antara djiwa dengan badan, antara nilai ekonomi dengan nilai ruhani, antar dunia dengan achirat, antar langit dan bumi.

 Dari kesatuan raksasa ini, mendjelmalah perundangan2an  dan peraturan2 Islam, lahirlah pendapat2 dan tjitanja dalam bidang politik, ekonomi/keuangan dan sosial/kebudajaan.

Inilah TJITA-DASAR ISLAM jang menjeluruh , jang mendjadi sumber dari “ideologi-politiknja”nja.[75]

Bila kita memperhatikan dua karangan Ali Hasjmy, Supaja Dakwah Islamijah Berhasil, yang ditulis di tahun 1968, dengan karangan yang ditulis satu tahun sesudahnya, Demokrasi Islam,  memiliki hubungan yang kuat mengenai pemaknaan dakwah islamiyah sebagai sebuah perkara fisabillah  atau Tariq Ilal’lah. Maka demikian, kita dapat membaca bahwa Hasjmy menempatkan dakwah islamiyah itu sebagai pekerjaan ideologi. Hal itu didasari oleh penjabarannya mengenai kedudukan dakwah islamiyah sebagai sebuah ekspresi keislaman yang juga menyeluruh, mencakup berbagai bidang.     

Ali Hasjmy menjelaskan bahwa Dakwah Islamiyah bersifat universal, artinya adalah dakwah alamiah yang dimana dakwah memiliki sasaran kepada seluruh manusia, masyarakat manusia dan alam semesta.[76] Ali Hasjmy melanjutkan bahwa Dakwah Islamiyah hendak membawa manusia kepada kebenaran Ilahiah, dan tidak boleh keluar dari jalan kebenaran Allah, dan kebenaran pun kebenaran tidak boleh bercampur dengan kebatilan.[77]

Selain itu. upaya Ali Hasjmy untuk menempatkan dakwah sebagai sebuah konstruksi keilmuwan, dilakukannya dengan berbagai cara, salah satunya dengan mengomentari retorika Bung Karno. Menurut Ali Hasjmy, Bung Karno mengajarkan melalui retorika, yang merupakan cabang Ilmu Dakwah, bahwa berpidato harus-lah disesuaikan dengan keadaan, waktu dan tempat.[78] Pertanyaannya, mengapa Ali Hasjmy memberikan contoh Ilmu Dakwah kepada sosok Bung Karno, tentu ini tidak lain karena kekaguman Ali Hasjmy terhadap proklamator RI ini. Rasa kekaguman itu kemudian pada masa revolusi fisik  dituangkannya dalam sebuah puisinya yang ditulis pada tanggal 7 Oktober 1945 dan sangat terkenal;

Aku Serdadumu-Untuk Bung Karno

Gegap gempita membana

Mengguruh riuh mengguntur

Menggentarkan djiwa tidur

Menjentak merentak-rentak

Membaju menderu-deru

Demikian djanji proklamasimu

Nenek-nenek menuntut balas

Bara dendam njala memanas

Kakek tua bangkit menerpa

Bara remadja mara mewadja

Muda belia madju menjerbu

Semua bersatu tudju

Bergegas kemedan bakti

Suaramu tjambuk sakti

 

Bung Karno

Patju kuda djihadmu

Djangan mundur lagi

Kami turunan Iskandar Muda

Tetesan darah Ratu Safijah

Anak tutju mudjahid tiro

Kemanakan Umar pahlawan

Telah siap bertempur

Kami sedang menggempur

 

Dengar derap kaki

Gemerintjing pedang djenawi

Damba sorga hikajat perang sabi

Lihat rentjong bertuah

Nausran dapah

Kami api memerah

Menjala membakar pendjajah

Pantang menjerah

 

Bung Karno,

Beri komando madju…

Aku serdadumu!!

 

Ali Hasjmy kemudian juga mencoba menempatkan dakwah Islamiyah dalam konteks kesejarahan, sebuah studi yang dia memiliki otoritas penuh di dalamnya. Dalam sebuah makalah panjangnya, yang disampaikan di Kuala Lumpur, dengan judul Perkembangan Dakwah Islamiyah di Indonesia.[79] Disini Ali Hasjmy menjelakan tentang perkembangan Islam di Indonesia, dengan menempatkan kegiatan dakwah Islamiah sebagai crucial point dalam penyebaran Islam tersebut dari Aceh sampai ke Jawa.[80]

            Namun demikian, Ali Hasjmy menggunakan istilah dakwah islamiyah terkesan arbiter,[81] karena diletakkan dalam setiap patahan-patahan sejarah. Misalnya saja menuliskan “Dakwah bersenjata”, yang dihubungkan dengan Perang Sabil atau “Dakwah Beroranisasi Modern”.[82] Padahal dibeberapa karangan lain, sebut saja Perang di Jalan Allah karangan Ibrahim Alfian,[83]  tidak disebutkan seperti istilah  Ali Hasjmy di atas. Alfian menyebut peristiwa itu sebagai perang. Akan tetapi, di satu sisi kita dapat memahami mengapa Ali Hasjmy bertindak demikian, hal ini disebabkan keinginan besarnya, agar dakwah islamiyah¸ tidak hanya diterjemahkan secara sempit dan praksis. Secara sempit dimaknai, dakwah hanya sekadar dunia mimbar dan pidato,[84] sedangkan secara praksis tidak dalam bermakna sebuh aktifitas penyampaian pesan kebenaran, melainkan juga konstruksi keilmuwan.

Perhatian Ali Hasjmy tentang sejarah dan hubungannya dengan dakwah Islamiyah kemudian juga diwujudkan dengan usulan pendirian Monumen Islam Asia Tenggara (MONISA), yang proyeksinya akan menjadi tempat pusat studi perkembangan Islam di Asia Tenggara, sekaligus sebagai tempat berlangsungnya dakwah Islamiah dalam perngertian yang seluas-luasnya, sebagaimana yang sering digambarkan oleh Ali Hasjmy.[85]        Usulan pendirian monumen dalam hubungannya dengan pusat studi Islam dan usaha dakwah islamiyah merupakan hal yang penting, sebab monumen bisa dijadikan pengikat ingatan bersama.[86]

Secara praktis, gagasan keilmuwan dakwah, dan dibeberapa tempat Ali Hasjmy sering menyebut sebagai dakwah Islamiyah,[87] coba diterjemahkan melalui IAIN Ar Raniry, sebagai tepat pendidikan kader-kader dakwah secara akademik. Itulah mengapa kemudian Ali Hasjmy menguraikan tentang peran mahasiswa Islam dalam tugas dakwah islamiyah. Masih beranjak dari alam pikiran keislaman yang mencakup segala aspek kehidupan, Ali Hasjmy menambahkan bahwa segenap mahasiswa yang ada di dalam lingkungan IAIN Ar Raniry adalah kader-kader dakwah yang kelak akan menjadi kader dakwak islamiyah,[88] melalui sebuah lembaga resmi yang dinamakan Lembaga Dakwah Islamiyah. Yang dimaksud Ali Hasjmy tentang Lembaga Dakwah adalah:

Lembaga Dakwah Islamijah sebagai suatu badan resmi dai IAIN Djami’ah Ar Raniry, merupakan gelanggang tempat dilatih dan berlatih para kader “dakwah Islamijah”, terutama jang mendjadi mahasiswa Ar-Raniry sendiri.

Lembaga Dakwah Islamijah, disamping mempunjai Markas pusat, Markas daerah, Markas Wilajah sebagai badan pembimbing, djuga mempunjai sebuah angkatan jang benama Angkatan Dakwah jang langsung mendjadi peradjurit dakwah.

Lembaga Dakwah Islamijah mempunjai organisasi tersendiri jang harus memiliki disiplin jang keras, terutama sekali Angkatan Dakwahnja.

Semua mahasiswa Ar Raniry diwadjibkan mendjadi anggota Angkatan Dakwah, sementara mahasiswa2 dari perguruan tinggi jang lain dan siswa2 dari sekolah2 menengah atas dan pemuda2 Islam pada umumnja , diboleh/diandjurkan mendjadi anggota Angkatan Dakwah.[89]

 Maka yang menarik, gagasan Ali Hasjmy tentang Angkatan Dakwah itu  kemudian diterjemahkan melalui pendirian Fakultas Dakwah, yang dia kemudian menjadi Dekan pertama-nya.[90] Walaupun demikian, Ali Hasjmy mendapat tantangan  dalam pendirian Fakultas Dakwah tersebut dari lingkungan IAIN-IAIN sendiri, karena pihak tersebut berpendapat bahwa tidak ada fakultas tersebut tidak perlu didirikan karena tidak dikenal adanya ilmu dakwah, meskipun demikian, hal tersebut tidak enghalangi tekad Ali Hasjmy untuk mendirikan Fakulta Dakwah yang ternyata kemudian diikuti oleh IAIN di tempat lain.[91]

 Kesimpulan

Bila mengikuti pemikiran Ali Hasjmy dan latar belakang kehidupan sosial budaya dan politiknya, dapat-lah kita menjelaskan bahwa Ali Hasjmy adalah orang besar, yang telah mendidikasikan hidupnya untuk agama dan bangsa, tanpa kenal lelah.

Beranjak dari keluarga taat agama, pahlawan perang Aceh dan cinta terhadap dunia pendidikan, Ali Hasjmy menjelma menjadi sosok yang kemudian ikut mewarnai Aceh di awal abad 20, melalui dunia politik dan pendidikan, dua wilayah yang tidak bisa dipisahkan darinya. Apa lagi dengan menjadi orang terdepan dalam pendirian Kota Pelajar dan Mahasiswa (KOPELMA) Darussalam, Ali Hasjmy hendak  membangun Aceh melalui dunia pendidikan, yang diyakininya akan membuat Aceh lebih baik sejak hancur akibat Perang Kolonial dan revolusi fisik. Kemudian, sumbangan terbesar dia berikutnya adalah dengan mendorong dakwah islamiyah, tidak sekedar perilaku  untuk mengajak orang kepada jalan Allah, melainkan didorong olehnya untuk menjadi sebuah ilmu, sebuah pekerjaan besar yang sampai kini terus dilakukan oleh para murid-muridnya.[]

cover a hasjmy - Keislaman, Kebangsaan, dan Kebudayaan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi