Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Kosa Historead

Apa itu budaya populer? Mari kita melacaknya dalam konteks perubahan paradigma dalam ilmu sosial dan humaniora. Secara epistimologis, budaya populer yang kritis terhadap segala bentuk kekuasaan, mencoba mendefinisikan, merumuskan dan mewakili itu lahir dalam gairah pascastrukturalisme dan postmodernisme atau disebut titik balik naratif.

Para intelektual telah gerah dengan polah tingkah ilmu sosial dan humaniora yang memiliki kecenderungan positivistik dengan asumsi biologi (titik balik biologi) dan asumsi bahasa (titik balik linguistik), bahwa determinasi biologi sebagai pembenaran ilmiah dan model-model biologi untuk melihat persoalan manusia dan kebudayaannya. Lalu kecenderungan titik balik bahasa yang menempatkan persoalan manusia layaknya gramar dalam bahasa.

Tak pelak, model biologi melahirkan berbagai kebekuan, kekakuan dan kemandekan dan melahirkan cara berpikir rasis, obyektifis, superior inferior dan asumsi-asumsi yang sangat homogen dan cenderung meniadakan keberagaman. Lah muncul titik balik bahasa, misalnya dalam model strukturalisme, yang juga dipakai dalam cultural studies, dilihat sebagai perlawanan pada titik balik biologi, ini ternyata tak lama juga mengalami kestatisan, dimana cenderung melihat persoalan selalu dalam struktur dan makna muncul dalam struktur, disini makna menjadi sinkronik dan cenderung tidak berubah. Titik balik ini cenderung logosentrik dan rasional, yang mengasumsikan pengetahuan dan rasio manusia telah final, padahal kedua hal tersebut represif terhadap hal kecil atau tak terjangkau oleh mereka. Banyak orang kecewa, dengan titik balik bahasa.

Ilmu sosial dan humaniora mengalami kebuntuan luar biasa. Ada gairh baru muncul disebut dengan pascastrukturalisme dan pascamodernisme yang ramah terhadap liyan, keberagaman dan kestabilan makna dan realitas sosial. Bahwa segala sesuatu itu memiliki konteks, subyektif, tidak bisa diseragamkan dsb. Mereka menolak model empirisme, statiskisme, matematikisme ala titik biologi. Mereka menolak pada logosentrisme, falogosentrisme, rasionalitas dsb yang menurut mereka itu reduksionis, menindas dan anti liyan.

Gegap gempita pun muncul dari berbagai ilmu yang tidak pernah dianggap sebagai ilmu utuh karena dianggap tidak mempunyai dasar epistimologi kuat dan kurang rasional dsb. Menguatlah feminisme yang pada waktu itu belum begitu percaya diri, akhirnya menemukan momen titik balik naratif ini untuk membongkar segala bentuk ketidaksetaraan, falogosentrisme, patriarkisme dalam ilmu sosial, humanioran, agama, kebijakan, negara dsb. Lalu muncul pascakolonialisme yang membela suara dibungkam negeri dunia ketiga dsb.

Baca juga:  Seandainya Tak Ada Wahib

Dalam ilmu sejarah, momen ini melahirkan ilmu sejarah yang berani mengkaji hal-hal biasa, orang biasa, pecundang, yang lisan, dsb sebagai kajian sahih dalam sejarah. Sejarah bukan lagi soal hal besar, orang besar, peristiwa besar dsb. Sejarah juga bukan lagi catatan dokumen, tapi dia bisa saja lisan dan dari data apa saja dan oleh siapa saja. Ini sebuah dekonstruksi. Ini sebuah perlawanan. Dan dalam konteks ini queer studies, porn studies, gay studies, indegenous studies dsb akhirnya muncul dalam emporium epistimologi ini.

Nah budaya populer dalam kajian budaya adalah lahir dan besar dalam epistimologi ini. Budaya populer muncul sebagai hal yang remeh temeh, yang menolak segala bentuk definisi, pendefinisian apa yang baik dan apa yang buruk, budaya tinggi dan budaya rendah dsb dengan mempertanyakan dan menggunakan alat bedah hubungan kekuasaan bagaimana kekuasaan itu muncul, kekuasan itu dibentuk, bagaimana klasifikasi itu muncul.

Dengan kritis budaya populer membedah hubungan kekuasaan aktor /agency dalam pembentuka budaya populer, oleh siapa, dari siapa dan apakah ini muncul sebagai bentuk expresi bebas otonom yang lahir dari pengalaman keseharian dsb dari masyarakat atau muncul dan dimunculkan dari kekuatan tertentu sebagai alat kontrol atau bentuk-bentuk konrol sosial yang baru?

Dalam konteks Inggris waktu itu, budaya populer lahir dari kelompok kelas pekerja dan buruh yang mencoba mensiati hidup dan kebudayaannya dari tekanan budaya borjuis yang tidak terjangkau oleh mereka, elitis dan mencap kebudayan mereka sebagai bodoh, tidak terdidik, banal, biadab, tidak senonoh, tidak berpikir, konsumeris, hilang kedalaman dsb. Mereka adalah budaya diantara gelombang besar kapitalisme lanjut, revolusi industri dan ledakan media via televisi, koran dan film dsb. Budaya ini adalah budaya kaum terbuang, kelas pekerja, migran, non kristen, non kulit putih, bukan sekolahan dsb.

Baca juga:  Foucault

Bagi budaya borjuis dan elit Inggris, apa yang disebut budaya adalah budaya mereka yang adiluhung, hasil pemikiran, hasil pembelajaran, ekslusif dsb. Diluar itu jelas bukan budaya, ya persis budaya populer itu adalah sampah dan nista dalam kebudayaan Inggris yang agung kata mereka.

Lalu siapa yang berhak mengklasifikasikan dan merumuskan itu? Dan dari sinilah Budaya Populer dalam Cultural Studies adalah perlawanan terhadap segala sesuatu yang merumuskan apa yang baik dan benar, yang moral dan yang tidak dan yang berbudaya dan tidak dalam pengalaman kehidupan sehari-hari orang biasa. Tidak ada lagi batas antara elit dan biasa, semua begitu dinamis, cair, dan berubah-rubah.

Pierre Boudieu  dalam bukunya berjudul “Distinction”, melihat, bagaimanapun cairnya kebudayaan itu, kaum elit tidak akan pernah senang diri dan budaya mereka menjadi budaya orang kebanyakan. Kaum elit akan membuat budaya mereka semakin ekslusif dan tidak terjangkau dengan orang kebanyakan. Misalnya pada masa lalu, priyayi dan pejabat Indonesia kegemaranya berolahraga adalah tenis. Ketika tenis sudah bisa dijangkau orang kebanyakan, mereka berubah dengan golf, lalu memancing di samudera. Ketika pesawat telah jadi moda orang kebanyakan, mereka memilih jet pribadi atau sewa pesawat. Ketika konser bisa dilihat di TV atau stadion senayan, kaum elit memilih menonton di New York, Australia atau Singapura dsb.

Biasanya selain kaum elit, budaya populer dianggap sebagai ancaman bagi moralitas bangsa. Ada kepanikan moral luar biasa yang coba ditegakkan oleh kaum agamawan, guru, pejabat, tokoh masyarakat dsb. Otoritas dan superiotas mereka terancam dengan adanya penyimpangan akibat budaya populer. Kasus contoh adalah adanya upaya menekan budaya alay dengan model pendisiplinan lewat sensor, lewat kekuasan institusional, pembinaan bahasa dsb, agar bahasa alay itu tidak tumbuh kembang di kalangan anak muda.

Nah ancaman yang dianggap dari budaya populer adalah amerikanisasi sebagai akibat dari globalisasi yang dipercepat akibat adanya teknologi internet, transportasi pesawat murah, pasar besar, kawasan regional bebas, dsb. Adanya anggapan yang akan terjadi adalah amerikanisasi. Konsumen, orangbiasa atau audien selalu diposisisikan sebagai orang bodoh, tidak paham apa-apa, jadi ideologi yang ada akan mudah masuk, itulah amerikanisasi.

Baca juga:  Menolak Pabrik Semen

Nah adanya internet, koran dsb media digital dan cetak itu melakukan secara luar biasa demokratisasi ketenaran, media mediasi dsb, karena siapapun anda, kapanpun anda, dimanapun anda, tidak peduli kontennya apa asal itu pas dengan selera orang kebanyakan anda akan menjadi terkenal, kaya raya dsb tanpa perlu proses sulit seperti pada masa lalu, misalnya harus jadi artis, sekolah dsb. Cukup nyalakan Youtube, Facebook dan Twitter anda pun bisa terkenal dan kaya karena popularitas instan. Contoh Justin Bieber, Sinta Jojo, Obama, Jakarta Baru dsb

Saya percaya akan selalu adanya negosiasi, siasat yang banyak rupanya seperti halnya glocalisasi, karena ternyata globalisasi gagal sepenuhnya menggantikan sepenuhnya apa yang lokal, yang terjadi akhirnya adalah percampuran, perkawainan, hibridisasi, kreolisasi dsb.

Kenapa itu terjadi, ini persis dengan teori Stuart Hall dalam “Encoding/Decoding” bahwa makna itu tidaklah sama seperti asumsi yang dibangun Shanon dan Weaver yang sangat matematis. Makna itu bagi Hall, mengadopsi Fran Parkins dan Barthes, selalu adalah proses negosiasi antara teks, pembaca, dan pengarang. Jadi makna tidak pernah tunggal, selalu jamak dan anti linear. Maka Hall melihat akan munculnya makna dominan, negotiated dan oppositional. Dimana makna dominan itu subyek/obyek sepenuhnya patuh tunduk pada makna yang dikehendaki oleh kelas dominan, misalnya Amerika dalam Amerikanisasi. Sedang, negotiated itu makna berpeluang lahir dari siasat, negosiasi dan kreativitas baru, misalnya adalah rap berbahasa Jawa dengan busana destar blangkon atau McRendang. Atau opposional, yang benar-benar melawan atau melihat segala berbau Amerika itu tidak layak dinikmati, merusak dsb

Budaya populer tidak selalu sampah dan merujuk pada dirinya sendiri, ternyata dia juga bisa berfungsi sosial sebagai diplomasi budaya, hegemoni budaya, soft power di tengah dunia yang kompetitif secara ekonomi, keahlian dsb dengan tanpa kekerasan, perang, semua selesai dengan bujuk rayu saja. Itulah fungsi sosial budaya populer.[]indomieilutrasi - Apa itu Budaya Populer?

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi