Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

SELASA sore, 4 November 2014, sekitar pukul 16.00 Wita. Lukisan-lukisan karya Umar Sidik di Taman Budaya Kalsel (Kalimantan Selatan) itu membuat saya tercenung dan murung. Alih-alih, berharap dapat menemukan lanskap estetik bernafas lokal dalam acara Pameran Tunggal Seni Lukis Umar Sidik dengan tema “the Painting and Beyond”, 3-8 November 2014 itu, saya bahkan dihadapkan pada potret-potret satiris–tentang masyarakat Kalimantan yang “glokal”–sekaligus paradoks. “Glokal” yang saya maksud di sini ialah gabungan antara dua perkataan, yaitu: “global” dan “lokal”. Global yakni antarbangsa, internasional dan menjangkau seluruh jagat. Sedangkan lokal adalah nasional, tanah air, dalam negara kita ini.

Nuansa muram amat menyelimuti lukisan-lukisan Umar Sidik dalam pamerannya ini, seperti: “Anak Zaman”, “Bermain Batu Api”, “Bue Manarawang”, “Budaya yang Rapuh”, “Bumi Menangis”, “Kolehan Mendulang (Galuh)”, “Pasar Global”, dan “Setetes Air Mata”. Suasana ini saya tangkap sebagai elegi sang pelukis atas situasi dan kondisi Banua kontemporer yang semakin miris dan papa.

Bagi Umar Sidik, kerusakan alam Borneo adalah akibat dari ketamakan manusia ‘modern’ perkotaan–mereka yang mengagungkan ilmu pengetahuan, teknologi dan konsumerisme. Namun, ironisnya, berbagai macam musibah alam, punahnya ribuan satwa dan tumbuh-tumbuhan ditimpakan kepada rakyat kecil dan miskin di pedesaan/pedalaman sebagai objek penderita. Tuhan menjadi murka, dan Umar seakan berteriak mengingatkan kita, dingsanak, sebentar lagi, kita tinggal sejarah!”

Entah mengapa, sekelebat saya membayangkan “Arwah” Chico Mendes hadir di gedung Warga Sari itu. Bulu kuduk saya bergidik. “Astaga”, tutur dalam benak saya, “hantu Chico Mendes ada di sini!”. Meski tanpa medium piduduk, saya melihat ada letupan-letupan emosional nan mistik dari mendiang aktivis buruh karet Brasil itu dalam beberapa lukisan karya Umar Sidik.

Baca juga:  Meludahi Jalan Malioboro

Matinya tukang kritik

Kala itu, menjelang Natal, 22 Desember 1988.  Chico Mendes ditembak mati di pintu belakang rumahnya di perkebunan Xapuri oleh segerombolan kaki tangan pengusaha dan tuan tanah Brasil. Berbagai aksi yang digawangi oleh sang pemimpin Serikat Buruh Penyadap Karet dan Aktivis Lingkungan itu, dinilai menjadi ancaman serius bagi perolehan keuntungan dari eksploitasi hutan dan manusia oleh kaum kapitalis Brasil.

Francisco ‘Chico’ Alves Mendes Filho–lahir pada 15 Desember 1944 di perkebunan karet Xapuri, Acre, barat-laut Brasil–pada mulanya adalah sebuah nama yang biasa saja. Ia dari kalangan remaja buta huruf yang bekerja dan hidup sebagai penyadap getah karet  di tengah kemiskinan dalam rimba raya hutan Amazon tropis, Brasil. Namun kerja dan pemikirannya di tengah hutan belantara itu, menempa Chico Mendes menjadi seorang pejuang buruh perkebunan, sekaligus aktivis pelestarian dan seorang ekolog Brasil. Kisah-kisah perjuangannya merumuskan sebuah dalil: “Hutan hanya mungkin dikelola secara bijak-lestari oleh oleh rakyat penghuni dan empunya hutan itu sendiri,” (Mendes, 1989).

Kini, nama orang yang tadinya buta aksara itu telah berubah menjadi sebuah “Simbol Gerakan” kebangkitan umat manusia, dalam perjuangan bagi pemanfaatan dan pelestarian hutan, terutama untuk berbagai hutan tropis dunia. Dan, ini berarti perjuangan bagi kelangsungan peradaban umat manusia itu sendiri. Spirit itu kini dapat kita mafhumi dalam pelbagai lukisan bernuansa paradoks-ekologis a la Umar Sidik.

Kritik ekologi a la Umar Sidik

Pembangunan selalu mengingatkan kita pada gagasan ihwal kemajuan, kesejahteraan dan kekayaan. Spirit pembangunan memang demi mencapai hal-hal itu. Namun pada praktiknya, pembangunan justru menemui kebuntuannya sendiri. Alih-alih mewujudkan cita-citanya, ia justru menjerumuskan rakyat ke jurang kesengsaraan. Banyak kritik yang telah diarahkan kepada proyek pembangunan, namun sedikit yang mengarahkan evaluasinya pada fondasi yang menopang proyek pembangunan itu.

Baca juga:  Ibnu Hadjar dalam Sejarah Indonesia

Pasca pernah dianggap sebagai “usaha kolektif paling ambisius umat manusia” (Robertson, 1984: 1), pembangunan menjadi hal ihwal yang kontroversial dan menantang. Pembangunan didakwa telah gagal, terutama dalam menghapus kemiskinan yang sangat luas. Kritik ini menitikberatkan perhatiannya pada asumsi yang menopang pembangunan, dan mengungkapkan bahwa wacana pembangunan dipengaruhi oleh relasi kuasa serta berfungsi untuk melanggengkan relasi dominasi dan subordinasi internasional dengan mengkonstruksi bahwa Dunia Ketiga, seperti Indonesia adalah Dunia Pertama yang terbelakang (Abrahamsen, 2000: 1).

Menurut saya, salah satu alasan kenapa pluralisme begitu sulit dipertahankan di negara-negara dengan pendapat per kapita yang rendah seperti Indonesia ialah tingginya derajat ketimpangan sosial dan ekonomi yang mencirikan pelbagai masyarakatnya. Konflik di tengah rakyat yang sangat terpecah-belah seperti itu, acapkali lebih tajam dan sulit diselesaikan, karena para aktor yang terlibat di dalamnya telah mempertaruhkan lebih banyak hal. Golongan elite punya lebih banyak alasan untuk mencemaskan tuntutan distribusional dari kelompok masyarakat miskin, sehingga godaan untuk menutup atau membatasi saluran politik demokratis masih tetap kuat.

Di Kalsel, misalnya. Dengan dibukanya keran demokrasi pasca-Orde Baru sebagai buah gerakan reformasi 1998, produk politik-hukum seperti Otonomi Daerah dan pilkada langsung dinilai secara pragmatis oleh masyarakat: tak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, situasi ini semakin menyengsarakan penghidupan mereka. Bagi Umar Sidik, eksploitasi atas alam Kalimantan yang habis-habisan oleh bisnis kartelistik, antara pejabat dan pengusaha lokal dengan aparat keamanan plus investor bertaraf multinasional, tidak membuat kurva kesejahteraan masyarakat Banua membaik, malahan membuat rakyat semakin menderita (lihat lukisan “Anak Zaman”, “Bermain Batu Api”, “Bue Manarawang”, “Budaya yang Rapuh”, “Bumi Menangis”, “Kolehan Mendulang (Galuh)”, dan “Setetes Air Mata”).

Baca juga:  Keislaman, Kebangsaan, dan Kebudayaan

Aksi penggusuran, pengangguran, kemiskinan, wabah kekeringan, pemanasan global, musibah banjir kiriman dan tanah longsor, buruknya sanitasi dan kualitas kesehatan, telah membuat masyarakat pedesaan dan pedalaman semakin frustasi serta pesimistis menatap masa depannya. Tidaklah heran, kita jika sering melihat pergesekan wacana politik identitas, antara penduduk lokal dengan pendatang, yang sering kali ditiupkan oleh elite lokal yang berbasis politik dinasti dan bernafas refeodalisme. Ingatan kabur dan pendek atas kestabilan “palsu” rezim Orde Baru pun kerapkali mewabah di masyarakat sipil; sebagai wujud kefrustasian hidup kekinian.

Arkian, apakah Umar Sidik hanya menghamparkan kemuraman (huzun) belaka kepada kita? Tentu saja tidak. Pelukis kelahiran Sampit, Kalimantan Tengah, 15 Mei 1971 itu tetaplah seorang seniman yang optimistik. Dan, Umar Sidik tidak sepenuhnya nyinyir atas wacana pembangunan dan modernisasi. Secercah harapan yang positif, masih dapat kita nikmati, dalam beberapa kanvasnya, seperti: “Akil Balig”, “Bekutuan”, “Digendong”, “Gadis Borneo”, “Damang Einstein”, “Burung Kertas”, “Lotus”, “Pasar#1”, “Pasar#2”, dan “Harapan”.

Selain itu, Umar Sidik masih menilai pentingnya akan pengetahuan lokal. Ia tidak harus dibuang jauh-jauh seluruhnya dalam menghadapi tantangan globalisasi masa kini dan masa depan yang serba tak pasti. Pengetahuan lokal inilah yang menjadi manifestasi dari “gerakan simbolik”–meminjam Chico Mendes–sebuah kompas kehidupan bagi keberlangsungan khazanah budaya tradisional yang kian hari, semakin terkikis. Tapi, benarkah Umar Sidik? Saya kira, hanya waktu yang akan menjawabnya.[]

chicomendez - Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik

“Arwah” Chico Menes di Kanvas Umar Sidik

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi