Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang pemikiran nasionalisme Azar Gat

KATA “bangsa” (nation) dalam sejarah nasionalisme, laiknya kata pepatah, ‘tindakan yang sulit untuk diikuti’. Buku-buku bergenre ini, seperti karya klasik Benedict Anderson Imagined Communities, Nations and Nationalism-nya Eric Hobsbawm, atau buah pena Hans Kohn The Idea of ​​Nationalism, telah menjadi teks-teks kanonik dan tidak memiliki penantang serius dalam beberapa tahun terakhir.

Lewat karya terbarunya Nations: The Long History and Deep Roots of Political Ethnicity and Nationalism (2012) ini, Azar Gat naik ke podium untuk menantang para pakar nasionalisme terdahulu berdebat, dengan penuh keyakinan dan terbilang cukup sukses. Gat adalah seorang guru besar sejarah dan ketua departemen sejarah di Universitas Tel Aviv, Israel, serta penulis buku War in Human Civilization (2006).

Gat sendiri menempatkan pekerjaannya ini dalam kanon studi nasionalisme yang dimulai, secara longgar berbicara, sejak munculnya esai Ernest Renan yang mahsyur itu: What is a nation? (1882). Peristiwa internasional abad ke-20, seperti dua perang dunia yang terus menjadi ‘subjek hidup’ bagi kepentingan umum, karena tampaknya menawarkan cara mendedahkan ‘sesuatu yang tak bisa dijelaskan’; insiden lokal yang berlebihan, seperti misalnya Peristiwa Kebangkitan Paskah 1916 di Irlandia, yang juga menjadi perhatian dari para sarjana di negara-negara tetangga.

Gat lewat Nations-nya, berkesempatan untuk mensintesakan dan mengkritik teori nasionalisme yang dominan berkembang di antara akhir abad 19 dan akhir abad ke-20. Dengan memilih rentang waktu yang luas ini, ia memiliki momentum untuk terlibat dengan berbagai pakar, termasuk Anthony Smith, Walker Connor, Tom Nairn, Pierre van den Berghe, Eric Hobsbawm, Karl Deutsch, Ernest Gellner, Liah Greenfield, dan Benedict Anderson. Gat sangat kritis terhadap sebagian besar sumber-sumber itu, meskipun–atau mungkin saja karena–tempat suci mereka di kanon studi nasionalisme.

nations 184x300 - Metamorfosa Nasionalisme

***

Nations dibagi menjadi enam bab yang ditulis oleh Gat dan bab terakhir yang ditulis oleh Alexander Yakobsen. Nama Yakobsen tersemat di sampul depan buku dan, sebagaimana diutarakan oleh Gat, bahwa dia telah dibantu oleh Yakobsen untuk menghasilkan ide awal bagi buku ini.

Di dalam pengantarnya, Gat menjelaskan pada kita perihal wacana pemikiran apa yang ditawarkannya di dalam buku ini dibandingkan dengan historiografi nasionalisme terdahulu. Gat juga mengambil kesempatan untuk mendefinisikan secara khusus beberapa istilah yang dia gunakan, termasuk ‘ethnos’ dan ‘etnisitas’, serta ‘nasionalisme’ dan ‘patriotisme’.

Definisi dalam diri mereka sendiri menjadi diskusi yang begitu menarik. Misalnya, definisi ‘masyarakat’ dimulai, Kata Masyarakat adalah hal ihwal yang aneh dan langka dalam literatur tentang bangsa dan nasionalisme, meskipun penggunaan umum dari istilah ini ada dalam bahasa biasa. Ada orang-orang di mana-mana… tapi ia (hampir) hadir dalam wacana ilmiah belaka (hal. 22).

Baca juga:  Gender dan Nasionalisme

Menurutku, dalam membaca Nations, para pembaca  harus menjaga dengan seksama halaman-halamannya, karena beberapa definisi Gat adalah buah pikiran yang luar biasa atau menyumbangkan nuansa definisi umum dan referensi yang dapat membantu untuk memafhumi pelbagai uraian dalam bab-bab selanjutnya.

Bab dua dan tiga mengeksplorasi pengembangan komunitas kerabat-budaya dan evolusi komunitas ini, serta kemudian menemukan mediumnya ke dalam suku-suku. Ini adalah diskusi yang menarik. Gat mensintesakan dan membandingkan pelbagai kasus di seluruh Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Dia menunjukkan bahwa fokus dari sebagian besar pakar nasionalisme Eropa di masa lalu dan pasca kasus tertentu di Asia yang dipilih, sedangkan di tempat-tempat lain, seperti Afrika dan Amerika Selatan telah sebagian besar bergulir secara wajar. Dalam diskusinya, Gat berhasil mengembangkan cakupan hampir di seluruh dunia, meskipun sumber-sumber membatasinya untuk memperluas karyanya ke wilayah Kutub Utara, Australia, atau pribumi Amerika Utara.

Bab empat meliputi era pramodern. Bab ini menjadi semacam arsenal pertama bagi paparan Gat, yang memungkinkannya untuk bekerja dengan teorinya, bahwa nasionalisme, mungkin dengan nama lain, pra-Revolusi Perancis dan ‘usia nasionalisme’ berikutnya. Tujuan Gat itu tampaknya untuk menantang teori Benedict Anderson, yang berpendapat bahwa pembangunan modern yang khusus–dalam kasus teknologi percetakan dan melek keberaksaan–diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Alih-alih, Gat berpendapat bahwa perasaan dari masyarakatlah yang mendorong untuk menentukan sebuah negara lahir, terbukti jauh sebelum munculnya periode modern. Dia berpendapat tentang kasusnya dengan baik dalam hal ini dan pada bab berikutnya, meskipun ada teori nasionalisme yang dapat menutup semua perspektif, teori Gat ini membantu untuk menambah kedalaman dan kompleksitas diskursus nasionalisme, yang tampaknya ia pertimbangkan sebagai medan yang terlalu disederhanakan oleh banyak pakar.

Baca juga:  Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia

Bab lima mengencangkan fokus ke Eropa, bidang klasik untuk studi nasionalisme. Gat meneliti munculnya negara nasional di Eropa, kemudian mengambil sudut pandang geografis dari wilayah selatan terhadap utara, dan akhirnya berlabuh dengan bentangan panjang pada kemungkinan kebangsaan di Eropa pramodern. Pada bab enam, seperti upaya untuk mengantisipasi, Gat meneliti hubungan antara masyarakat dan bangsa yang berhasil atau gagal terbentuk, perbedaan antara negara-negara sipil dan etnis, dan efek dari globalisasi terhadap konflik nasional atau solidaritas. Bab terakhir ini adalah esai perenungan dari Yakobsen tentang sejarah dan perkembangan bangsa dan aspek konstitutif atau normatif seperti apa yang muncul dari proses nasionalisme.

***

Sepanjang buku ini, Gat tampaknya mengkhususkan diri dalam mengambil masalah dengan cendekiawan yang paling terkenal di lapangan nasionalisme, termasuk sebagian dari mereka yang disebutkan di atas yakni, Benedict Anderson dan Eric Hobsbawm. Misalnya, dalam survei literatur awal dalam pendahuluan, Gat menulis: “Anderson telah menciptakan istilah yang sangat sukses ‘komunitas terbayang’ untuk melukiskan dampak nasionalisme sejak akhir abad ke lima belas teknologi percetakan. Diduga, print-capitalism telah menciptakan jejaring budaya skala besar yang dibagi berdasarkan bahasa keseharian rakyat yang tercetak, perjumpaan masyarakat desa setempat dan kota. Namun, meskipun munculnya teknologi cetak, tak diragukan lagi merupakan lompatan kuantum dalam komunikasi, skala besar budaya bersama telah ada sebelumnya, ‘komunitas terbayang’ diresapi dengan rasa identitas dan solidaritas bersama.” (hal. 12).

Perlu direnungkan apakah hal ihwal ini merupakan upaya untuk mengambil masalah dengan argumen Anderson. Gat juga menindaklanjuti argumen tekstual utama dengan seakan-akan menyarankan dalam catatan kaki bahwa, karena masalah kapitalisme-cetak dan nasionalisme telah ditangani oleh Hayes dan Kohn, karya Anderson mungkin kurang bernilai atau sekadar melakukan pengulangan saja. Sangat disayangkan bahwa kritik Gat yang berbuah dari pelbagai percakapan dengan sarjana sebelumnya ini, kadang-kadang datang sekadar untuk meremehkan teori umum terdahulu. Sementara proyeknya tidak ada yang berada di atas kritik, Gat terkadang menelanjangi karya-karya terdahulu dengan analisis minim atau sarat kontekstual. Haruslah diingat, bahwa ide yang dikembangkan pada 1882 mungkin tidak lagi memiliki relevansi hari ini, tetapi ia relevan terhadap masanya.

Baca juga:  Kala Mas Joko Rajin Ke Masjid

Beberapa unsur perihal perselisihan ini mungkin tampak sedikit tendensius dan pantas untuk menyandingkan Nations dengan Imagined Communities dan Nations and Nationalism since 1780 sebagai teks perbandingan. Namun, untuk sebagian besar, analisis Gat itu dilakukan dalam semangat wacana akademik dan diskusi daripada serangan membabi buta. Dia membuat titik yang baik ketika berbicara tentang studi bangsa dan nasionalisme yang telah dikodifikasikan oleh beberapa ‘pemikir besar’ dalam paruh terakhir abad ke-20; mempertanyakan ide-ide, bahkan jika diskusi kemudian mengarah kembali ke bukti yang mendukung mereka, tidaklah sia-sia.

***

Perlu dicatat bahwa tidak semua pertanyaan yang diajukan oleh karya Gat yang diartikulasikan oleh penulisnya sendiri, sementara dia mengeksplorasi topik-topik bermanfaat seperti: apakah nasionalisme dapat muncul sebelum kapitalisme-cetak atau hubungan agama dengan nasionalisme, pembaca dapat datang dengan topik lain seperti: adalah studi perbandingan yang cocok untuk nasionalisme?

Masalah ini tidak dimaksudkan sebagai kritik atas karya Gat; melainkan, sebagai amanat yang kuat dari nilai Nations dalam melibatkan pembacanya. Buku Nations akan menjadi rangsangan dan sumbangan yang amat berharga untuk kanon ilhwal “nasionalisme”. Karya Gat ini akan menjadi kajian berharga bagi para sarjana berpengalaman serta mahasiswa yang dipersiapkan untuk terlibat secara mendalam dengan sumber historiografi nasionalisme nan melimpah.

Apakah relevansi Nations ini untuk pembaca di Indonesia? Aku kira dengan membacanya, kita mendapatkan banyak cermin perbandingan secara global mengenai nasionalisme dengan pelbagai permasalahannya, sehingga kita dapat bersikap bijak dan rasional dalam memaknai kebangsaan dan nasionalisme kita. Sangat diperlukan sikap waras dan kritis untuk ke luar dari gempuran krisis ekonomi, politik disintegratif dan korup, ekologi, serta tentunya moralitas yang mendera Indonesia saat ini.[]

covergat - Metamorfosa Nasionalisme

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi