Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Menyebut etnis Dayak pada era kontemporer, barangkali laiknya imajinasi kelam yang berkelebat dalam pikiran banyak orang, terutama setelah sejumlah konflik komunal berdarah yang melibatkan etnis ini dalam kurang lebih sepuluh tahun terakhir. Namun, laporan penelitian berjudul Badingsanak Banjar-Dayak Identitas Agama dan Ekonomi Etnisitas di Kalimantan Selatan (CRCS UGM, 2011)  ini menyajikan kepada sidang pembaca sesuatu yang liyan, yakni kemampuan orang Dayak Meratus (dan juga orang Banjar) membangun kepastian mereka untuk hidup berdampingan secara damai dalam kondisi yang tidak sepenuhnya memuaskan.

Ketiga penulis (Mujiburrahman, Alfisyah dan Ahmad Syadzali) berusaha melihat relasi antara etnis Dayak dan Banjar, bagaimana negoisasi-negoisasi identitas terjadi di antara keduanya, dan kaitannya dengan pelbagai faktor apa yang dapat menyebabkan terciptanya hubungan baik antara etnis Dayak Meratus dan Banjar atau, sebaliknya, potensi-potensi yang dapat menimbulkan konflik antarkedua etnis itu.

Penelitian mereka berlokasi di dua desa yang berada di kecamatan Loksado, Kalimantan Selatan, yaitu desa Hulu Banyu dan desa Loksado. Desa Hulu Banyu berpenduduk mayoritas orang Banjar, sedangkan desa Loksado berpenduduk lebih heterogen, dengan jumlah orang Banjar dan orang Dayak seimbang, dan jumlah pemeluk Islam, Kristen dan Agama Balian (Kaharingan) masing-masing cukup signifikan. Dengan membandingkan keadaan di kedua desa termaktub, buku ini berusaha menemukan suatu pemafhuman atas proses pembentukan, negoisasi dan kemungkinan konflik lintas identitas etnis dan agama antara orang Dayak dan Banjar.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Monografi ini menunjukkan bahwa agama dan etnisitas merupakan dua unsur identitas yang paling menonjol dalam perjumpaan kedua etnis ini, yang kadangkala mengalami konflik, negoisasi atau akomodasi. Semuanya berada dalam medan interaksi dialektis yang dinamis, seiring dengan perubahan sosial politik dan budaya di kawasan Meratus khususnya, dan Kalimantan Selatan umumnya. Di desa Tanuhi, komposisi penduduk yang lebih didominasi oleh etnis Banjar yang beragama Islam, akomodasi antaridentitas cenderung lebih kuat sehingga kehidupan masyarakat relatif harmonis. Perbedaan agama dan etnis serta relasi antara mayoritas dan minoritas tidak menciptakan gesekan dan ketegangan yang berakhir pada konflik.

Baca juga:  Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik

Hubungan Dayak-Banjar direkatkan oleh mitos ihwal asal-usul nenek-moyang yang bersaudara (badingsanak) antara Sandayuhan (asal-usul orang Dayak Meratus) dan Bambang Basiwara (asal-usul orang Banjar), sementara hubungan Islam-Kristen dijembatani oleh mitos bandingsanak antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Pelibatan orang Dayak dalam kebanyakan upacara yang diselenggarakan oleh orang Islam Banjar Pahuluan tampaknya mampu mencegah munculnya kondisi-kondisi yang berpotensi menciptakan situasi konflik, dan pada saat yang sama memberi karakter unik pada praktik berislam yang akomodatif terhadap kebudayaan setempat.

Di desa Loksado, dengan komposisi yang menganut tiga agama relatif seimbang, konflik dan negoisasi identitas cenderung lebih menonjol. Konflik tampaknya lebih potensial antara penganut Islam dan Kristen, tinimbang antara penganut kedua agama itu dengan penganut agama lokal (Agama Balian). Dalam pola hubungan antaretnis dan agama itu, negara cukup berperan, terutama dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan untuk “masyarakat terasing” yang melibatkan misionaris Kristen, penentuan agama-agama resmi yang tidak mengakui agama lokal dan keterlibatan aparat negara yang didominasi oleh urang Banjar Muslim dalam membantu perkembangan dakwah Islam di kawasan ini.

Hubungan sosial di sini memang tidak selamanya harmonis. Kadang-kadang ketegangan terjadi, terutama menyangkut soal perbatasan tanah dan kebakaran lahan, namun belum pernah sampai mewujud dalam bentuk konflik komunal yang keras. Adanya “pembagian” ragam mata pencaharian tampaknya berhasil mencegah terjadinya kesenjangan sosial ekonomi yang menyolok di antara para penduduk dengan tiga identitas agama itu, dan dengan demikian ketegangan tidak menjelma menjadi konflik yang keras.

Dalam kerangka pluralisme kewargaan, kemampuan suatu komunitas dalam membangun hubungan dialogis dengan komunitas lain merupakan kondisi yang diperlukan dalam rangka menegoisasikan batas-batas identitas masing-masing demi kelangsungan hidup bersama secara damai dan beradab. Namun, negoisasi batas-batas identitas itu bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sejauh mana kesenjangan-kesenjangan struktural yang terjadi masih dapat ditoleransi oleh masing-masing pihak. Pada titik inilah masalah rekognisi, representasi, dan redistribusi saling terkait dalam relasi antarkomunitas yang beragam.

Baca juga:  Gegeran Mencari Sekolah yang Tetap Menyisakan Ruang Resistensi

Ketiga penulis Serial Monograf Praktik Pluralisme ini memadahkan bahwa hubungan antara etnis Dayak Meratus dan etnis Banjar di desa Loksado dan desa Hulu Banyu/Tanuhi di masa sekarang tidak terlepas dari akar-akar historis yang cukup panjang. Secara umum, orang Dayak Meratus adalah pendukung dan kadang menjadi korban kekuasaan orang luar, baik di masa Kesultanan Banjar berkuasa, masa kolonial, hingga masa kemerdekaan. Dalam pola hubungan yang demikian, tidak berarti bahwa orang-orang Dayak selalu mengalah. Yang terjadi seringkali adalah negoisasi yang terus-menerus antara budaya Dayak itu sendiri dengan pengaruh-pengaruh luar, baik pengaruh agama Islam dan Kristen ataupun birokrasi pemerintahan.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Arkian, buku ini menyimpulkan bahwa desa Hulu Banyu, yang mayoritas penduduknya adalah orang Banjar, merupakan contoh nyata di mana para pendatang akhirnya menjadi dominan, sementara orang Dayak asli tergeser ke wilayah pinggiran, jauh dari pusat perdagangan dan pemerintahan desa. Tetapi, hal ihwal ini tidak berarti bahwa orang Banjar yang merupakan generasi kedua dan ketiga, tidak melakukan negoisasi batas-batas identitas, sebagaimana yang dilakukan orang Dayak. Penerimaan kedua belah pihak atas mitos badingsanak, kemauan orang Banjar mengadopsi sebagian upacara menanam padi dari orang Dayak, kepercayaan yang sama terhadap orang keramat, keterlibatan sosial orang Dayak dalam upacara keagamaan orang Islam, dan akhirnya kesepakatan kedua belah pihak untuk mengidentifikasi diri kepada pihak luar sebagai Orang Hulu Banyu dengan tanpa menyebut identitas etnis dan agama, semua ini jelas merupakan negoisasi dan kompromi batas-batas identitas kedua etnis itu.

Baca juga:  Menapaktilasi Jejak Leluhur

Secara positif hal ini bisa dimaknai sebagai strategi yang cukup jitu dalam menjaga harmoni sosial di desa itu. Namun, secara negatif dapat pula dinilai bahwa orang Banjar yang mayoritas dan kuat secara ekonomi dan politik, telah berhasil menghegemoni Dayak, sehingga yang terakhir tidak punya pilihan lain kecuali menyesuaikan diri.

Di desa Loksado dengan penduduk yang heterogen, dengan jumlah orang Dayak penganut Kristen dan penganut agama Balian/Kaharingan seimbang dengan bahkan lebih besar dibanding penganut Islam, membuat nuansa hubungan antaretnis dan pergumulan identitas di desa ini berbeda dengan yang terjadi di Hulu Banyu. Kedatangan agama luar seperti Islam dan Kristen, yang dalam batas tertentu juga didukung oleh negara, secara perlahan membuat batas-batas identitas yang menjelma begitu konkrit dalam geto-geto di desa itu.

Di satu sisi, pemisahan ruang ini dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya pergesekan langsung langsung di antara tiga identitas agama yang berbeda (Islam, Kristen, Balian), tetapi di sisi lain, mungkin pula sebaliknya, yakni justru memperkeras dan mempertajam perbedaan itu. Penuturan masing-masing tokoh dari ketiga identitas agama itu tampaknya menunjukkan bahwa perbedaan identitas semakin ditonjolkan ketimbang persamaan di sini.

Namun sampai saat ini, belum pernah terjadi konflik yang berujung pada tindak kekerasan atas nama agama dan atau etnis di desa itu. Satu hal yang tampaknya dapat mencegah konflik tersebut ialah adanya “pembagian” ragam mata pencaharian sehingga kesenjangan sosial ekonomi reltif tidak begitu besar di antara para penduduk dengan tiga identitas agama tersebut. Tetapi patut pula dicatat, posisi agama lokal secara perlahan tergeser oleh Islam dan Kristen. Hal ini bukan saja karena kedua agama tersebut memiliki dukungan kuat dari masyarakat di luar Loksado, melainkan juga karena kebijakan pemerintah yang tidak mengakui agama Balian/Kaharingan sebagai agama resmi. Pemerintah memang menghargai agama lokal, namun sebatas sebagai salah satu objek wisata belaka. []

badingsanakhistoread - Badingsanak

Badingsanak

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi