Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan Etnografi Batas Etnis Mahasiswa dari Papua dan Kalimantan Barat di Yogyakarta

Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota pendidikan, di mana banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia tinggal. Sebagaimana orang-orang migran yang datang ke daerah yang baru, para mahasiswa tersebut datang dengan membawa identitas primordial daerah asal mereka. Identitas ini seringkali menjadi latar belakang maupun penguat dalam munculnya gesekan-gesekan konflik dengan masyarakat tempatan. Fenomena ini saya lihat cukup signifikan dalam kasus mahasiswa pendatang dari Papua dan daerah Indonesia Timur di Yogyakarta. Tulisan ini ingin membuktikan bahwa stigma dan konflik masyarakat Yogyakarta terhadap mahasiswa pendatang dari Papua merupakan persoalan pembentukan batas-batas etnis di antara mahasiswa pendatang. Untuk menguji hal tersebut tulisan ini membandingkan dengan kelompok mahasiswa Kalimantan Barat yang cenderung tidak menarik perhatian masyarakat terkait konflik etnisitas. Pengujian diletakkan pada konteks keseharian para mahasiswa pendatang dengan fokus terhadap jaringan migrasi, interaksi sosial, kebahasaan dan rencana tinggal. Tulisan ini pada akhirnya ingin mencoba mengurai apa sebenarnya akar konflik etnisitas antara mahasiswa pendatang dengan masyarakat Yogyakarta yang semakin sering terjadi.

Sabtu malam tanggal 21 Juni 2014 pengunjung alun-alun selatan Yogyakarta mendapat tontonan menarik. Sekelompok orang dari daerah Papua datang berombongan secara spontan mempertunjukkan tarian-tarian tradisional di tengah keramaian pengunjung. Para penari berdandan menggunakan kostum adat khas Papua. Sepuluh orang penari laki-laki dan perempuan menari di atas tanah diiringi oleh personil lain yang menyanyi, bermain gitar dan jimbay. Para pengunjung yang memadati alun-alun selatan sontak mengerubungi pentunjukkan dadakan ini. Dengan antusias para pengunjung bertepuk tangan, mengajak berfoto, dan tidak sedikit yang memberi uang di kotak yang telah disediakan. Rombongan sekitar 30 orang penampil tersebut ternyata berasal dari organisasi mahasiswa Kabupaten Sorong Selatan. Mereka menggelar tarian Yospan di tempat umum dalam rangka penggalangan dana untuk kegiatan makrab untuk menyambut sejawat mereka sedaerah untuk kuliah di Yogyakarta tahun ini.

Bagi pengunjung warga Yogyakarta sendiri seperti saya, ekspresi kesenian spontan dengan simbol-simbol kedaerahan tersebut menunjukkan wajah bersahabat dan simpatik kepada masyarakat kota ini terkait keberadan mereka sebagai pendatang. Namun tidak lama kemudian apa yang saya bayangkan tersebut terbantahkan sama sekali. Hanya selang beberapa jam dan berjarak tidak terlalu jauh, di Malioboro terjadi demonstrasi menolak keberadaan pendatang Papua oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan berbagai ormas keagamaan di DIY. Beberapa hari setelahnya saya ditunjukkan pesan singkat oleh teman dari Papua:

Info: Terkait dengan kebrutalan Etnis Papua di Jogyakarta yg terus2an meresahkan warga masyarakat (terakhir pagi ini jam 04.30, kejadian perusakan Mako Laka Lantas depan Gramedia dan pemukulan terhadap Brigradir Mahendra dan Brigadir Yulianto) Kami seluruh Ormas Islam DIY mengutuk keras dan menuntut mereka diproses secara hukum yg berlaku, jika kejadian terakhir ini mereka masih dilepas, malam ini kita akan bikin gerakan protes secara massal di titik 0 km. Alahu akbar!! Mari selamatkan Jogjakarta! (FUI, Muhammadiyah, NU, MMI, PPP, GPK, PMJ, FJI, DMI, RMJ,FSRMY, Moslem Greenzone). Tolong dilanjutkan kepada mahasiswa Papua se-DIY.[1]

Demonstrasi yang ternyata benar-benar dilakukan tersebut dilatarbelakangi peristiwa perusakan kantor pos polisi di Kotabaru Yogyakarta oleh sekelompok orang yang dianggap berasal dari Papua.[2] Unjuk rasa tersebut berlangsung singkat dan tidak sampai menimbulkan kerusuhan. Berita-berita tentang demonstrasi ini pun juga sulit ditemukan di media massa. Namun bagi teman saya yang berasal dari Papua, demonstrasi tersebut sangat mencemaskan.

Sikap sinis sebagian kelompok masyarakat Yogyakarta terhadap etnis pendatang khususnya dari daerah Indonesia Timur tidak sekali ini saja terjadi. Kejadian lain yang terkait dengan hal ini dan menyedot perhatian publik cukup besar adalah peristiwa yang disebut ‘Lapas Cebongan’. Pembantaian sadis oleh Kopassus terhadap empat orang tersangka kasus pembunuhan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Lapas Cebongan 23 Maret 2013 ternyata didukung oleh berbagai kelompok masyarakat. Sebagian masyarakat Yogyakarta merasa bahwa para “orang timur” pendatang adalah pembuat onar yang mengganggu. Pada saat itu di berbagai sudut kota Yogya terpampang spanduk-spanduk bertuliskan “basmi preman”, “I love Kopassus”, “seribu preman mati kami tak rugi”, atau yang paling jelas seperti “premanisme bukan sifat asli orang Yogya, pergi atau kita usir!”.[3]

Baik peristiwa perusakan kantor polisi maupun Lapas Cebongan merupakan contoh bagaimana sentimen kedaerahan membawa stereotip tertentu. Kedua peristiwa secara tersirat melabeli pendatang dari Papua maupun yang disebut “orang timur” (Indonesia Timur) yang ada di Yogya secara keseluruhan, walaupun kemungkinan kekerasan yang terjadi dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Stereotip ini tentu saja mengabaikan wajah mereka yang jauh dari kekerasan seperti pertunjukkan tarian Papua yang saya temui.

Sebagai kota pelajar, banyak sekali para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia tinggal di Yogyakarta. Namun, stigma masyarakat Yogyakarta terhadap pendatang dari Papua ini tampaknya lebih besar dari pada terhadap pendatang-pendatang dari daerah lain. Saya sendiri belum pernah mengetahui ada ekspresi penolakan masyarakat Yogyakarta di ruang publik yang dilatarbelakangi sentimen etnis pendatang selain dari Papua maupun Indonesia Timur. Maka kiranya kondisi sosial seperti apa yang dapat memunculkan persepsi-persepsi negatif serta penolakan terhadap mahasiswa Papua seperti di atas?

Dalam tulisan ini saya ingin menguji bahwa pola kehidupan sehari-hari dari mahasiswa pendatang di Yogyakarta mempunyai interrelasi dengan keras atau tidaknya batasan etnisitas kelompok etnis pendatang. Pada titik tertentu, batas-batas etnis kelompok kedaerahan tesebut menentukan interaksinya dengan masyarakat di sekitarnya. Sudut pandang ini meminjam pengertian Fredrik Barth (1969: 16) bahwa ‘kelompok’ di sini bukan dipahami ‘dari dalam’ namun lebih pada batas-batasnya, dari pengakuan diri dan orang lain, serta bagaimana batas sebuah etnis dipelihara oleh anggotanya dalam proses kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, kelompok pendatang yang memiliki batas-batas primordial yang cair dalam kesehariannya dapat membuat mereka cenderung melebur ke dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya, kelompok pendatang yang memiliki batas etnisitas yang keras dan tertutup maka akan cenderung tidak membaur dengan masyarakat. Pada tulisan ini, sikap hidup yang eksklusif tersebut pada gilirannya dibayangkan dapat memunculkan prasangka maupun stereotype tertentu.

Untuk menguji hal tersebut saya melakukan riset kecil dengan mewawancara delapan mahasiswa pendatang di Yogyakarta. Empat orang informan merupakan mahasiswa yang berasal dari Papua, sedangkan empat orang lagi berasal dari Kalimantan Barat (Kalbar). Pemilihan informan dari Kalbar ini dilandasi oleh lingkungan tempat saya bergaul dimana terdapat banyak mahasiswa pendatang dari daerah tersebut. Asumsi yang saya bangun bahwa pergaulan mereka tampak membaur dengan orang-orang dari berbagai daerah maupun dengan masyarakat Yogyakarta sendiri. Selain itu, paling tidak sampai saat ini identitas kedaerahan mereka belum pernah menjadi penyebab terjadinya benturan etnisitas di Yogyakarta seperti yang dialami oleh mahasiswa dari Papua. Dengan demikian, penyajian informasi dari mahasiswa asal Kalimantan Barat ini sebagai pembanding dari apa yang dialami oleh mahasiswa Papua terkait pembentukan batas-batas etnisitas mereka di Yogyakarta.[4]

Informasi yang didapat mencakup aspek-aspek seperti migrant networks, interaksi keseharian, kebahasaan, serta pandangan mengenai Yogyakarta dari kelompok mahasiswa Papua maupun Kalbar. Analisis dari aspek-aspek tersebut untuk mengetahui bagaimana batas-batas etnis  itu dibentuk dan dileburkan, yang membuat kelompok mahasiswa daerah tertentu memiliki karakteristik batas-batasnya sendiri (Wimmer, 2008). Pada akhirnya tulisan ini mencoba menunjukkan benih-benih konflik etnisitas yang berpotensi terjadi di Yogyakarta. Sebelum membahas tersebut, baik untuk melihat dahulu konteks Yogyakarta sebagai kota yang dihuni banyak pelajar.

Kota Pelajar sebagai Tempat Singgah Mahasiswa Pendatang

Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota pelajar dan pendidikan. Kota ini memiliki lebih dari 137 institusi pendidikan tinggi dengan sekitar 300 ribu mahasiswa di dalamnya. Kota ini sangat dinamis dan progresif terutama karena tingginya tingkat orang terdidik dan muda. Banyak dari mereka berasal dari daerah lain di Indonesia dan tinggal di kos-kosan atau rumah kontrakan yang jauh dari orang tua (Nef Saluz, 2007:3).

Namun di sisi lain, kota ini juga di mana budaya lokal Jawa masih sangat kuat, terutama di daerah selatan, di dalam dan sekitar Kraton. Jika melihat sejarahnya, Yogyakarta secara klasik menyandang status sebagai patok kebudayaan Jawa (Mulder, 1986). Sehingga, selain merupakan kota yang cukup progresif, Yogyakarta juga memiliki identitas etnis sebagai kota kebudayaan Jawa.

Para mahasiswa pendatang tersebut dengan demikian masuk pada komunitas etnis baru yang berbeda dengan identitas etnis di daerahnya. Seperti halnya kategori yang dibuat Patrick Manning (2005: 7), migrasi pada mahasiswa pendatang tersebut termasuk apa yang disebut cross-community migration, yaitu migran yang meninggalkan komunitasnya untuk tinggal di komunitas yang baru. Komunitas ini bisa dikatakan merupakan kelompok etnis di mana sebelumnya mereka tinggal dan memasuki komunitas etnis lain, yaitu Yogyakarta yang dikenal sebagai ‘pusat’ teritorial etnis Jawa.

Baca juga:  Nasionalisme, Sosialisme, Keperempuanan

Pola migrasi para mahasiswa pendatang berbeda dengan orientasi-orientasi seperti ekonomi, transmigrasi, politik (pengungsi), dan lainnya. Kembali meminjam istilah Manning, para mahasiswa pendatang umumnya migran dengan tipologi sojourners, di mana tinggal ke komunitas baru untuk tujuan tertentu dengan maksud akan kembali lagi ke komunitasnya. Berbeda dengan settlers yaitu mereka yang menempati komunitas baru sebagai tujuan migrasinya (ibid: 8). Implikasi dari perbedaan di atas adalah para migran dengan tujuan menetap biasanya akan lebih membaur dengan komunitas barunya. Namun demikian, antara tipologi sojourners dan settlers tidaklah tetap. Mereka dapat berubah menjadi satu dan sebaliknya tergantung dari dinamika sosial yang dihadapi migran.

Cukup disayangkan tidak ada data tersedia terkait jumlah mahasiswa tiap etnis di Yogyakarta. Tetapi jika setiap etnis ini dibayangkan berasal dari daerah yang sama, maka etnis mahasiswa di Yogyakarta sangat variatif. Data Kesbangpora DIY hingga tahun 2008 mencatat terdapat 73 asrama mahasiswa milik 30 pemerintah daerah baik tiap provinsi maupun berbagai kabupaten di Indonesia.[5] Asrama tersebut tersebar di berbagai sudut wilayah kota Yogya. Selain tinggal di asrama, mahasiswa dari luar daerah justru lebih banyak tinggal di kos-kosan atau kontrakan yang memenuhi kota ini. Banyak mahasiswa dari suatu kabupaten yang belum memiliki asrama di Yogya membuat asrama sendiri dengan menyewa rumah dan ditinggali teman-teman sedaerah.

Keberadaan asrama mahasiswa juga dapat mengindikasikan sejak kapan gelombang mahasiswa dari daerah lain datang ke Yogya. Misalnya Asrama Rahadi Osman yaitu asrama mahasiswa Kalimantan Barat yang terletak di daerah Bintaran Yogya didirikan sejak tahun 1951.[6] Selain tinggal di asrama, kebanyakan dari mereka menyewa kos dan mengontrak rumah bersama mahasiswa dari daerah lain maupun masyarakat Yogya sendiri.

Terkait keberadaan asrama mahasiswa daerah di Yogyakarta tersebut lambat laun menjadi hal yang problematis. Di satu sisi asrama daerah dapat menjadi tempat tinggal sekaligus ruang untuk mengorganisir rasa solidaritas mahasiswa sesama etnis di Yogya. Namun di sisi lain banyak yang menganggap bahwa asrama menjadi penghambat mahasiswa daerah membaur dengan masyarakat Yogya sehingga berpotensi memunculkan gesekan konflik. Gubernur DIY, Sultan HB X bahkan pernah menghimbau agar pemerintah daerah tidak lagi membangun asrama daerah di Yogyakarta karena memicu kekerasan antar etnis. Statement dari Sultan tersebut khususnya menanggapi ketegangan antara masyarakat Yogya dengan orang timur baik dari NTT maupun Papua pasca kasus Cebongan.[7]

Walaupun seringkali asrama mahasiswa dipandang sebagai tempat munculnya benih-benih konflik etnis, kehidupan mereka di tempat kos atau kontrakan bukan berarti tidak ada potensi konflik sama sekali. Sebagian besar mahasiswa pendatang di Yogyakarta tidak tinggal di asrama daerah karena jumlahnya yang terbatas. Saat ini kantong-kantong tempat tinggal mahasiswa pendatang yang ngekos maupun ngontrak hampir menempati sebagian besar wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman. Mereka tentu saja berbaur dengan masyarakat Yogyakarta maupun pendatang dari daerah lain. Namun gesekan-gesekan antar etnis pun masih terjadi. Potensi konflik etnis yang terjadi pada mahasiswa pendatang dan masyarakat Yogyakarta bukan hanya pola mereka bertempat tinggal namun juga dari proses interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Kasus Delapan Mahasiswa Kalbar dan Papua di Yogyakarta

Untuk mengkaji mengenai bagaimana pola hidup keseharian dan interaksi mahasiswa pendatang dari Papua maupun Kalbar, saya mengambil representasi delapan orang mahasiswa (empat dari Papua dan empat dari Kalbar) untuk diwawancarai. Kedelapan informan dipilih dari universitas yang berbeda-berda. Informan dari Kalbar yaitu Awan (26 tahun) kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyajarta; Fikri (25 tahun) di Universitas Islam Indonesia; Widas (24 tahun) di STIE YKPN; dan Ade di Amikom. Para informan dari Papua yaitu Merlin (perempuan, 20 tahun) yang kuliah di Universitas Kristen Duta Wacana, Romi (26 tahun) di UPN, Fredi (23) di Universitas Widya Mataram, dan Medi (perempuan, 26 tahun) di Universitas Mercubuana.[8] Pemilihan informan dari latarbelakang universitas ini karena mempertimbangkan persebaran kampus di Yogyakarta serta agar informan tidak terpusat pada satu wilayah.

Apa yang akan saya tampilkan adalah meliputi kesamaan karakteristik dari jawaban-jawaban informan tiap daerah. Pertanyaan yang disusun meliputi jaringan migrasi, pergaulan di Yogya, bahasa serta rencana hidup setelah kuliah. Poin-poin tersebut dijadikan indikator untuk mengetahui derajat eksklusivitas dan perbedaan budaya dari kedua kelompok mahasiswa pendatang terhadap masyarakat Yogyakarta. Seperti yang dikatakan Andreas Wimmer (2008: 1008), suatu kelompok etnis memiliki derajat eksklusivitas (social closure) yang tinggi jika mereka tidak memiliki relasi kuasa/politik yang kuat (political salience) serta terdapat perbedaan budaya (cultural difference) yang tajam dengan masyarakat dimana mereka tinggal. Begitu sebaliknya, sebuah kelompok etnis tidak terlalu tertutup jika jaringan politik mereka besar dan tidak terlalu banyak perbedaan budaya dengan masyarakat barunya.

Empat Mahasiswa Kalimantan Barat

Pada kasus empat mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Barat, pemilihan tempat kuliah di Yogya umumnya dari rekomendasi keluarga. Rata-rata mereka juga mempunyai saudara atau teman yang telah lebih dulu kuliah di Yogyakarta. Rekomendasi yang diberikan keluarga antara lain biaya hidupnya yang murah dan kualitas pendidikannya yang bagus. Hanya Ade yang menjawab bahwa kuliah di Yogya atas inisiatif sendiri. Orang tuanya membebaskan Ade untuk kuliah di manapun. Ia memilih Yogyakarta karena menurutnya jika kuliah di Kalimantan Ade merasa tidak dapat berkembang karena mutu pendidikannya yang buruk. Selain itu, Ade memiliki nenek dari ibunya yang bermukim di Yogya, sehingga ia dapat tinggal di sana.

Saudara, teman, maupun keluarga yang telah lebih dulu tinggal di Yogya tersebut yang menjadi jaringan migrasi mereka dalam hari-hari awal mereka kuliah. Widas misalnya datang bersama temannya dari Pontianak lantas tinggal sementara di kontrakan temannya yang sama-sama asal Kalbar. Umumnya mereka tidak lama tinggal di tempat singgah saudara atau teman lantas mulai mencari kos-kosan atas informasi dari teman kampus. Kesulitan yang dialami mereka ketika mencari tempat tinggal baru umumnya kos yang penuh, sehingga harus berkali-kali mendatangi rumah kos. Namun satu pun dari mereka tidak pernah ditolak oleh pemilik kos atau kontrakan atas alasan etnis maupun tempat asal.

Teman kampus umumnya menjadi pintu bagi mereka untuk lebih membuka pergaulan dengan orang-orang baru di Yogyakarta. Dari teman kampus mereka kenal dengan teman-teman yang berasal dari luar kampus dan berbagai daerah.  Hanya Widas yang ketika pada saat-saat awal di Yogya masih sering bergaul dengan teman-teman asal Kalbar selain kawan kampus, karena ia sempat tinggal di kontrakan temannya sedaerah dulu. Sedangkan Awan, Fikri dan Ade mengaku lebih intensif berkawan dengan teman-teman kampus yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk Fikri dan Awan bahkan mendapatkan jaringan pergaulan baru karena berkenalan dengan orang-orang di luar kampus, seperti seringnya nonkrong di warung burjo.[9] Namun demikian, pada saat itu mereka mengatakan jarang ada teman pergaulan mereka sehari-hari yang berasal dari Indonesia Timur seperti Ambon, NTT, maupun Papua meskipun, selain Fikri, kampus mereka juga banyak terdapat orang timur tersebut. Dari keempatnya pergaulan saat awal di Yogya kebanyakan dengan teman yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa, termasuk Yogyakarta. Dari penuturan Ade ia menganggap bahwa teman-teman sekampus yang berasal dari Indonesia Timur berkelompok dengan mahasiswa sedaerahnya. Ade pun merasa tidak ada kepentingan untuk bergabung dengan kelompok mereka.

Tempat kelahirannya Awan, Fikri dan Ade di Pontianak, sedangkan Widas lahir di Kabupaten Sanggau Kalbar. Namun terkait dengan identitas etnis, Awan, Fikri, dan Widas mengaku sebagai etnis Melayu Kalimantan. Sedangkan walaupun tumbuh besar di Kalimantan Barat, Ade menganggap dirinya sebagai etnis Bugis karena ayahnya merupakan orang Bugis dari Gowa, Sulawesi Selatan. Pada kasus Fikri, sebenarnya dari kecil ia telah meninggalkan Pontianak mengkuti ayahnya yang berdinas di Bali dan Semarang sampai lulus SMA. Ia pun saat ini mengaku tidak fasih lagi bahasa Melayu, bahkan lebih fasih bahasa Jawa karena lebih lama hidup di Jawa. Namun demikian ia masih merasa sebagai etnis Melayu, seperti yang dia ingat ibunya sering menggerutu kepada kepadanya; “orang Pontianak kok nggak bisa bahasa Melayu”. Jika ditanya saat ini pun ia selalu menjawab orang Kalbar etnis Melayu.

Terkait dengan pergaulan sesama etnis atau daerah, dari keempatnya sangat jarang mengikuti kegiatan kedaerahan di Yogyakarta. Bahkan Fikri dan Awan sama sekali tidak pernah mengikuti acara organisasi sesama mahasiswa sedaerah dan tidak sekalipun pernah mengunjungi asrama Kalbar yang ada di Yogyakarta. Mereka berdua merasa tidak memiliki kepentingan yang mendesak untuk mengunjungi asrama atau kegiatan kedaerahan mahasiswa Kalbar, karena keduanya juga telah mendapat teman-teman baru dari berbagai daerah. Bagi Widas dan Ade pernah sekali-dua kali mengikuti acara mahasiswa Kalbar yang diadakan oleh anak-anak asrama Kalimantan Barat. Meskipun demikian kedatangan mereka bukan didasari karena ingin membentuk pergaulan dengan teman sedaerah, namun lebih karena alasan-alasan praktis. Widas misalnya pernah mengunjungi acara Gawai (pesta adat Dayak Kalbar) yang diadakan di Yogya karena tertarik dengan format acaranya. Sedangkan Ade dua kali mengunjungi asrama Kalbar karena diajak temannya yang ada keperluan dengan salah satu penghuni asrama. Namun sampai saat ini, baik Awan, Fikri, Widas dan Ade bergaul dengan teman-teman pada kehidupan sehari-hari yang dikenalnya di Yogya dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia termasuk orang Yogya sendiri.

Baca juga:  Sukiman Mati, Senin Pagi

Dari keempat informan tersebut sehari-harinya mereka menggunakan bahasa Indonesia. Hanya Fikri yang kadang-kadang menggunakan bahasa Jawa karena teman sepergaulan mereka banyak yang beretnis Jawa. Penggunaan bahasa Melayu dari Fikri dan Awan cukup jarang, hanya misalnya ketika mereka telepon oleh keluarga di Kalimantan Barat. Sedangkan Widas dan Ade masih cukup sering menggunakan bahasa Melayu ketika bertemu teman sesama daerah di Yogya. Namun keempatnya mengaku tidak terlalu bermasalah dengan bahasa Jawa. Secara pasif mereka mengerti bahasa Jawa ketika mendengar atau diucapkan lawan bicara. Kemampuan ini juga didukung oleh keseharian mereka yang bergaul dengan banyak teman yang berasal dari Jawa atau orang Yogya sendiri.

Book Chapter dalam dalam “Migrasi, Politik dan Etnisitas: Sebuah Bunga Rampai“, editor Riwanto Tirtosudarmo, penerbit Kentja Press tahun 2017, halaman 231-245

Terkait dengan rencana tinggal setelah kuliah nanti, mereka berempat memiliki jawaban yang beragam. Bagi Awan, setelah kuliah ia fleksibel untuk tinggal dimanapun asalkan mendapat pekerjaan yang bagus. Awan memang memiliki rencana pulang ke Pontianak karena orang tuanya di sana, namun itu ketika ia sudah merasa mapan. Jawaban yang bernada sama diutarakan Fikri dimana ia akan mencari pekerjaan di Yogya atau kota lain di Jawa terlebih dahulu. Jawaban menarik dilontarkan dari Widas dan Ade, bahwa keduanya ingin menetap di Yogya. Pada kasus Widas, ia sempat tiga kali ditawari oleh orang tuanya menjadi PNS di Kalbar kelak setelah kuliah, namun Widas menolak tawaran tersebut. Alasannya selain ia tak ingin menjadi PNS, ia ingin membuka usaha di Yogya di mana banyak teman-temannya yang juga menetap di sini. Sedangkan bagi Ade mengatakan bahwa tradisi Bugis sebagai pengelana membuat keluarganya membebaskan ia untuk tinggal di manapun. Ia bahkan tidak ingin tinggal di kota lain selain di Yogya karena selain ada neneknya yang tinggal di sini, Ade merasa bahwa Yogya telah menjadi kampung halamannya.

Empat Mahasiswa Papua

Keempat informan yang saya wawancara adalah sama-sama dari Papua, namun masing-masing dari mereka memiliki etnis yang berbeda-beda. Romi lahir dan besar di Jayapura, namun ketika ditanya etnisnya Romi menjawab ia etnis Tanimbar, Maluku Tenggara. Ini karena ayahnya berasal dari Maluku Tenggara, sedangkan ibunya berasal dari Biak. Darah yang mengalir dari ayah tersebut yang membuatnya merasa sebagai orang Tanimbar. Lagipula, ia mengatakan bahwa di Jayapura sendiri keluarganya masih dianggap pendatang oleh masyarakat sekitarnya. Merlin lahir di Maybrat, ia juga mengaku sebagai etnis Maybrat. Akan tetapi dari SMP ia tinggal di Sorong karena orang tuanya berdinas di sana. Pada kasus Fredi, ia lahir dan besar di Sorong dan mengaku sebagai etnis Sorong. Sedangkan Medi merasa sebagai orang asli Jayapura beretnis Tabi, namun ia dan keluarganya telah lama tinggal di Timika.

Seperti halnya para mahasiswa Kalbar di atas, keempat mahasiswa dari Papua tersebut juga memanfaatkan keluarga sebagai institusi migrasi mereka ke Yogyakarta. Keputusan untuk kuliah di Yogya juga mengikuti saran dari keluarga khususnya orang tua karena telah ada keluarga yang tinggal di kota ini. Fredi dan Merlin telah memiliki kakak yang telah tinggal di Yogya sebelumnya. Romi direkomendasikan ayahnya yang sering bolak-balik Jayapura-Yogya terkait urusan dinas. Sedangkan Medi disarankan oleh keluarga dan teman-temannya di tempat tinggalnya untuk kuliah di Yogya.

Keberadaan keluarga di Yogya ini lah yang pertama kali membantu mereka untuk hidup di tempat baru yang belum cukup diketahui. Bagi Fredi, Romi dan Medi, kedatangannya untuk kuliah adalah kunjungan mereka pertama kali ke Jawa. Sedangkan Merlin pernah sekali datang Yogya pada saat SMP untuk mengunjungi kakaknya. Mereka masih merasa asing di Yogya waktu pertama kali sehingga keberadaan keluarga cukup membantu mengurus hal-hal seperti mencari kos dan mendaftar ke universitas.

Namun seperti yang dialami Medi, peran keluarga ini digantikan oleh perkumpulan teman-teman sedaerah. Teman-teman Medi di Sorong mempunyai teman yang telah kuliah di Yogya, dan Medi dianjurkan untuk tinggal di tempat tinggal temannya terlebih dahulu. Tempat tinggal tersebut mirip asrama, sebuah rumah yang dikontrak oleh para mahasiswa asal Sorong yang ada di Yogyakarta untuk tempat berkumpul. Hal ini karena Kabupaten Sorong tidak mempunyai asrama mahasiswa di Yogya. Ia tinggal di sana beberapa hari sembari dibantu teman-teman baru sedaerahnya tersebut untuk mencari kos-kosan.

Dalam hal pergaulan di Yogya, mereka sama-sama mengiyakan ketika kampus sebagai tempat mendapatkan lingkaran pergaulan lain selain teman sedaerah. Romi mengaku bahwa pada saat awal ia tidak kesulitan mendapatkan kenalan dari orang-orang berlatar belakang etnis lain. Hal yang demikian juga dialami oleh Merlin, Fredi maupun Medi. Mereka sama-sama merasa tidak ada penolakan ataupun pengasingan dari teman-teman di kampusnya.

Walaupun demikian, baik Romi, Fredi, Medi dan Merlin mengakui bahwa sampai saat ini teman-teman dekatnya adalah orang sedaerahnya, paling tidak sesama orang Papua. Keempatnya juga sama-sama aktif di kegiatan kedaerahan walaupun keempatnya tidak tinggal di asrama daerah. Fredi dan Merlin tergabung pada Ikatan Mahasiswa Sorong Selatan yang menggelar acara tarian-tarian seperti yang saya tunjukkan di awal. Organisasi tersebut juga secara rutin menggelar makrab menyambut mahasiswa baru yang datang dari Sorong. Sejak awal mahasiswa yang datang dari Sorong diinventaris dan diajak bergabung dengan organisasi tersebut. Sedangkan Romi juga tergabung dalam organisasi Forum Komunikasi Mahasiswa Papua dan kelompok kesenian Papua Art Family. Medi tidak secara resmi tergabung organisasi mahasiswa kedaerahan, namun ia mengatakan cukup aktif mengikuti acara-acara kedaerahan seperti makrab, pertemuan, dan pesta-pesta mahasiswa daerah yang digelar.

Alasan umum bahwa mereka secara intensif bergaul dan bergabung dengan organisasi mahasiswa daerah karena ingin mencari teman-teman sedaerah. Seperti yang dikatakan Merlin:

“Sejak awal kuliah saya langsung bergabung dengan kelompok mahasiswa Sorong Selatan. Saya ingin selalu mencari teman-teman sedaerah di Yogya, karena mereka kuliah terpencar-pencar, ada yang di kampus ini, kampus itu. Rasanya senang jika di tempat yang jauh dari rumah ini bisa ketemu orang dari Sorong. Kita ngobrol dan bercanda juga lebih nyambung. Kumpul-kumpul ini juga biar solidaritas sesama mahasiswa Sorong di Yogya ini kuat”

Baik Merlin dan yang lainnya merasa lebih merasa nyaman bergaul dengan teman-teman sedaerah. Akan tetapi teman-teman mereka yang berlatarbelakang etnis daerah lain ataupun Yogya sendiri tidak terlalu dekat. Apa yang membuat hal ini terjadi mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Merlin merasa bahwa ia sendiri memang tidak terlalu suka bergaul di luar teman kampus maupun organisasi daerah. Ia tidak pernah secara sengaja mencari teman di luar lingkaran-lingkaran tersebut. Dalam penjelasan Fredi dan Medi, mereka sering bergaul di luar namun kebanyakan kenalannya juga berasal dari Papua maupun Indonesia Timur. Mereka merasa lingkungan mereka mengarahkan pada situasi tersebut. Sedangkan Romi mengatakan bahwa ia jarang diajak nongkrong atau berkumpul dengan etnis daerah lain dan orang Yogyakarta. Teman-teman satu kontrakan Romi sekarang semua berasal dari Jayapura, lingkungan kontrakannya pun kebanyakan adalah orang-orang NTT.

Romi mengatakan salah satu hal yang menghambat pergaulannya dengan orang Yogya adalah faktor komunikasi. Sampai saat ini ia sulit memahami bahasa Jawa. Ia sering jengkel misalnya ketika nongkrong di kampus, teman-temannya mengobrol dengan bahasa Jawa. Ia tidak dapat mengikuti bahan obrolan. Selain itu Romi juga seringkali merasa omongannya tidak dapat dipahami dengan baik ketika mengobrol dengan teman dari Yogya. Logat bahasa Papuanya yang kental membuatnya sering terlalu cepat mengatakan sesuatu. Hal senada juga dialami oleh Medi dan Merlin. Mereka mengaku sering terganggu ketidaktahuan mereka atas Bahasa Jawa ketika sedang berada di pasar, kampus, maupun tempat keramaian yang lain.

Selain faktor komunikasi, terdapat perbedaan kebiasaan antara berkumpul dengan teman sedaerah dan orang timur lain dengan orang-orang Yogya. Seperti apa yang dialami Fredi, ia mengatakan bahwa gaya bercanda orang Yogya berbeda dengan Fredi dan teman-temannya. Selain itu kebiasaan orang Jawa untuk minum minuman keras tidak seintensif yang dilakukan Fredi dan teman sedaerah. Saat ini Fredi rutin satu dua kali tiap bulan mengunjungi salah satu diskotik yang ada di Yogya di mana banyak terdapat orang dari timur. Ketika berada di diskotik tersebut, Fredi sering diajak minum oleh sesama orang Papua walaupun sebelumnya ia tidak kenal. Alasannya sering mengunjungi diskotik tersebut katanya juga disebabkan karena sulitnya mendapatkan minuman alkohol di Yogya. Ia dan teman-temannya seringkali ditolak membeli minuman alkohol di suatu pedagang minuman. Padahal ia tahu di pedagang tersebut menjual minuman keras. Kalau sudah begitu ia menyuruh kenalan orang Jawa membelikan karena kalau bukan orang Papua yang beli maka akan dilayani.

Baca juga:  Badingsanak

Selain sikap pedagang tersebut, Fredi juga pernah ditolak ketika ingin menyewa sebuah kamar kos. Alasan pemilik rumah tidak menerima orang dari Papua. Penolakan ini juga dibenarkan oleh Romi, Medi maupun Merlin. Medi pernah mendapati rumah kos di Yogya dengan tulisan di depannya “menolak orang timur”. Namun alasan paling sering yang mereka dapatkan terkait penolakan tinggal di kos-kosan adalah tempat tersebut hanya menerima mahasiswa muslim. Kondisi seperti itulah yang membuat mereka seringkali bertempat tinggal di lingkungan yang banyak terdapat teman-teman sedaerah.

Baik Romi, Fredi, Merlin dan Medi sebenarnya memahami bahwa perlakuan penolakan tersebut dengan kepapuannya. Penolakan-penolakan itu sudah menjadi hal umum bagi mereka karena teman-teman sedaerah yang lain juga sering merasakannya. Namun mereka sama-sama menolak jika dianggap pernah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi masyarakat Yogyakarta. Keempatnya mengaku tidak pernah sekalipun terlibat konflik dengan kelompok masyarakat lain. Keempatnya juga sama-sama menyatakan bahwa memang ada orang-orang yang berasal dari Papua berbuat hal-hal yang seenaknya di Yogya. Mereka pun sama-sama tidak suka bahkan takut bergaul dengan orang-orang tersebut. Baik Romi, Merlin, Fredi, dan Medi menyatakan ingin benar-benar menuntut ilmu di Yogya karena mereka memiliki tanggung jawab terhadap orang tua dan kampung halaman mereka.

Alasan-alasan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan rencana apa setelah mereka menyelesaikan kuliah di Yogya. Keempatnya dengan mantap menjawab selesai kuliah akan kembali ke Papua. Tentunya hal ini berkaitan bahwa Papua merupakan kampung halaman mereka dan tempat orang tua dan teman-teman mereka tinggal. Alasan lain yang mereka utarakan adalah soal peluang kerja. Mereka sebenarnya telah kerasan tinggal di Yogya, namun ia merasa akan sulit untuk mendapatkan kerja di sini. Keempatnya mengatakan bahwa orang Papua jarang yang bisa mendapatkan pekerjaan di Yogya. Peluang kerja di Papua lebih besar karena mereka mengaku terdapat banyak relasi yang menyediakan kerja di sana, selain karena besar pendapatan di Papua lebih besar daripada di Yogya.

Penutup: Simpul-simpul Perbedaan dua Mahasiswa Pendatang

Sebagai kota pelajar, Yogyakarta menampung banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam proses kehidupan bersama, ternyata sebagian dari mereka terlibat gesekan-gesekan konflik dengan masyarakat Yogyakarta sendiri. seperti yang dicontohkan diawal, para mahasiswa pendatang dari Papua maupun Indonesia Timur sseringkali dipersepsikan secara negatif sebagai pembuat keonaran di Yogya. Muncul kemudian demonstrasi atau tuntutan dari sebagian masyarakat agar mereka diusir dari Yogya. Persepsi ini tentunya menimpa bagi seluruh mahasiswa pendatang dari Papua yang ada di Yogya, yang sebenarnya tidak terlibat kerusuhan apapun di kota ini.

Di sisi lain, terdapat kelompok mahasiswa pendatang dari daerah Indonesia lainnya yang notabene sepi dari gesekan-gesekan dengan masyarakat Yogyakarta secara umum. Salah satu dari mereka yang saya pilih adalah para mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Barat. Walaupun sama-sama dari luar Jawa dan memiliki etnis yang berbeda, namun para mahasiswa dari Kalbar ini jarang sekali menarik perhatian publik khususnya yang berkaitan dengan konflik etnis.

Pengujian dari perbedaan tersebut memperbandingkan perilaku para mahasiswa Kalbar dan Papua dalam konteks kehidupan sehari-hari. Pergaulan keseharian dari contoh empat mahasiswa Kalbar dalam tulisan ini menunjukkan bahwa jaringan pergaulan mereka lebih luas dibanding mahasiswa dari Papua. Selain bergaul dengan teman baru di kampus pada awal kuliah, mereka juga memperluas pergaulan dengan orang-orang di luar kampus yang berasal dari berbagai daerah termasuk orang Yogya sendiri. Di Yogya contoh mahasiswa Kalbar tersebut justru mencari teman baru dan tidak mengikatkan diri pada orang-orang yang berasal dari daerah mereka, termasuk jarangnya mereka mengikuti kegiatan asrama Kalbar. Intensitas pergaulan yang tinggi dengan teman yang berasal dari Yogya menyebabkan mereka tidak terlalu awam dengan bahasa Jawa. Faktor kemampuan bahasa menyebabkan mereka semakin melebarkan pergaulan di Yogyakarta.

Sebaliknya, empat contoh mahasiswa dari Papua sejak awal kedatangannya di Yogya mempunyai keterikatan kuat dengan para mahasiswa sedaerah. Asrama menjadi salah satu institusi pengganti keluarga dalam hal jaringan migrasi mereka di kota ini. Tradisi tersebut berlanjut seperti halnya selalu menyelenggarakan kegiatan penyambutan teman mereka sedaerah ketika datang ke Yogya melalui makrab. Jaringan pergaulan keempat mahasiswa Papua tersebut juga hanya sekitar teman-teman yang berasal dari daerah yang sama. Para mahasiswa Papua tersebut juga merasa bahasa sebagai penghambat pergaulan mereka dengan orang Yogya. Karena punya pola bahasa yang berbeda dan tidak adanya keinginan untuk memperlajari bahasa Jawa menjadi hambatan pergaulan mereka dengan orang Yogya.

Hal lain yang membuat para mahasiswa Papua di sini lebih cenderung eksklusif dengan teman sedaerahnya adalah penolakan-penolakan dari orang Yogya sendiri, dari penolakan kos-kosan sampai penolakan untuk beli minuman. Penolakan tersebut sama sekali tidak terlontar dari jawaban keempat mahasiswa Kalbar di atas. Akhirnya pada rencana tempat tinggal setelah kuliah, para mahasiswa Kalbar mengaku lebih kerasan di Yogyakarta dan ingin tetap tinggal di kota itu. Sedangkan pada mahasiswa Papua, kondisi pergaulan dan peluang hidup di Yogya yang kecil menyebabkan keterikatan akan daerahnya justru semakin besar. Mereka mantap pulang ke Papua setelah kuliah untuk membangun daerah.

Dari apa yang ditunjukkan di atas, maka terlihat bahwa eksklusivitas (social closure) dari mahasiswa Papua lebih besar daripada mahasiswa Kalbar. Aspek perbedaan-perbedaan budaya (cultural differences) seperti bahasa, asrama, maupun tradisi pergaulan teman sedaerah semakin membuat mereka cenderung tertutup, di mana tidak dialami oleh para mahasiswa Kalbar. Secara politis, para peluang hidup mahasiswa Papua di Yogyakarta juga kecil karena terdapat penolakan-penolakan dari masyarakat masyarakat seperti tempat tinggal maupun pekerjaan. Maka para mahasiswa Papua cenderung akan pulang ke kampung halamannya setelah kuliah, tidak seperti mahasiswa dari Kalbar yang bercita-cita untuk membangun masa depan di Yogya.

Relasi sosial yang cenderung tertutup ini memungkinkan para pendatang dari Papua mendapatkan stigma-stigma dari sebagian masyarakat Yogyakarta. Adanya oknum-oknum yang membuat kerusuhan dengan mudahnya dilabelkan pada pendatang dari Papua atau Indonesia Timur secara keseluruhan. Sehingga, wajah-wajah lain seperti pertunjukkan tarian-tarian Yospan seperti di alun-alun selatan oleh mahasiswa Sorong tidak menjadi pertimbangan masyarakat untuk menilai keberadaan mereka di Yogyakarta.[]

papua3 - "Batas yang Tertutup dan yang Terurai"

Rujukan

Barth, Fredrik. 1969. Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Culrure Difference. Boston: Little, Brown and Company

Manning, Patrick. 2005. Migration in World History. New York: Routledge

Mulder, Niels. 1996. “Pribadi Masyarakat Jawa”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Nef Saluz, Claudia. 2007. Islamic Pop Culture in Indonesia: An Anthropological Field study on Veiling Practices among Students of Gadjah Mada University of Yogyakarta. Arbeitsblatt Nr. 41, Institut für Sozialanthropologie, Universität Bern, Bern

Tirtosudarmo, Riwanto. 2013. From Colonization to Nation-State: The Political Demography of Indonesia. Jakarta: LIPI Press

Vermeulen, Hans and Cora Govers (eds). 1994. The Anthropology of Ethnicity: Beyond ‘Ethnic Groups and Boundaries’. Amsterdam: Het Spinhuis

Wimmer, Andreas. 2008. The Making and Unmaking of Ethnic Boundaries: A Multilevel Process Theory. AJS Volume 113 Number 4 (January 2008): 970–1022. The University of Chicago

 

[1] Pesan tersebut merupakan broadcast massage blackberry massanger (BBM) tanggal 21 Juni 2014 yang telah menyebar di beberapa orang termasuk mahasiswa yang berasal dari Papua. Bentuk pesan di atas masih seperti aslinya dan tidak saya ubah

[2] http://krjogja.com/read/220372/kantor-polantas-dirusak-dua-brigadir-dianiaya.kr

[3] http://www.tempo.co/read/news/2013/04/10/078472549/Spanduk-Pro-Kopassus-Bertebaran-di-Yogyakarta

[4] Karena keterbatasan waktu, cukup disayangkan dalam tulisan ini memuat mewawancarai dari orang Yogyakarta (Jawa) sendiri dengan format yang sama seperti pada mahasiswa Papua maupun Kalbar. Prioritas informasi saya berikan lebih kepada dua mahasiswa daerah tersebut.

[5] www.portalkbr.com/nusantara/jawabali/2534397_4262.html

[6] http://rahadiosman1.blogspot.com/2012/03/blog-post.html

[7] http://www.republika.co.id/berita/nasional/13/03/13/sultan-imbau-pemda-tak-bangun-asrama-mahasiswa-di-yogyakarta

[8] Nama-nama dari para informan telah saya samarkan.

[9] Warung burjo (Bubur Kacang Ijo) adalah tersebar di berbagai sudut kota Yogya, khususnya yang banyak kos-kosannya. Warung Burjo selalu menjadi rujukan mahasiswa untuk makan karena murah dan cepat. Walaupun sebutannya burjo, namun lebih banyak mahasiswa membeli nasi telur atau mie instan.

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi