Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah usulan gerakan

“Saya tidak bisa lupa. Zaman itu pahit. Sulit pangan. Supaya bisa makan, bapak saya menebang pohon pisang klutuk dan kepok, diambil bonggolnya. Pada hari lain menebang batang pohon pepaya. Pernah juga nebang pohom aren, diambil tengahnya dan dimasak, ya hanya makan itu untuk bisa bertahan dari kelaparan…”

Penggalan cerita di atas adalah pengalaman Pak Giyadi ketika ditanya mengenai gaber. Pak Giyadi saat itu berusia 9 tahun. Hingga kini, dia dan keluarganya masih dapat mengingat dengan jelas peristiwa yang dialami. Para orang tua di Desa Girimulya, Gunungkidul yang saya jumpai pun dengan semangat dan gamblang menceritakan kesulitan dan kepahitan yang mereka alami di masa gaber. Rupanya bagi mereka, peristiwa itu begitu melekat di ingatan.

Mongso gaber  atau zaman gaber demikian para penyintas itu menyebut, adalah sebutan untuk peristiwa paceklik dan krisis pangan yang terjadi pada medio1963 di Gunungkidul. Paceklik tersebut disebabkan oleh ledakan populasi tikus yang menghancurkan semua tanaman pangan. Hancurnya tanaman pangan menyebabkan tak tersedianya stok pangan untuk bisa dikonsumsi oleh warga di Gunungkidul. Indonesia pada masa itu juga sedang mengalami masa sulit, ancaman krisis pangan terjadi di banyak tempat. Di sisi lain kondisi geografis yang sulit serta akses informasi dan mobilisasi yang sangat terbatas membuat Gunungkidul sangat sulit diakses saat itu.

Saking banyaknya tikus, saat itu tikus ada dimana mana. Jumlah mereka sangat banyak, semua hasil panen pun tak cukup bagi tikus-tikus. Mereka jadi kelaparan. Tikus itu menggigiti kaki-kaki manusia di malam hari saat sedang tidur….”. Hal senada juga diungkap Pak Pur. Saat gaber terjadi, Pak Pur berusia sekitar 6 tahun. Keluarganya juga mengalami susah pangan, kehabisan stok tiwul. Mereka menebang pohon papaya dan diambil bagian dalamnya untuk diolah jadi bubur. Mbah Jo, keluarga Pak Pur, menambahkan cerita karena saat itu kemarau panjang, hijau-an saat itu juga terbatas. Tapi Pohon Sambi, yang biasanya ketinggiannya bisa mencapai 5-7 meter, masih ada daunnya. Mereka memanjat dan mengambil dedaunan sambi untuk dikonsumsi, pengganjal perut.

Menurut keterangan Sahid Susanto, dalam artikelnya yang dimuat di web dimuat di web Cerita Fakta Sumberdaya Alam Tropis (16/12/2015) berjudul “Mengingat Zaman Gaber”, orang desa yang kekurangan pangan pergi ke kota Wonosari, ibukota Kabupaten Gunungkidul untuk mencari kerja buat makan sehari hari. Peluang kerja tentu saja susah, karena sebagian dari mereka sudah tidak memiliki apa pun. Menjual satu per satu barang berharga miliknya akhirnya dilakukan. Dimulai dari hewan ternak, kandang ternak, pintu dan jendela rumah, genteng rumah, kayu-kayu penopang rumah, sampai semua rumah habis dijual hanya untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah itu pergi ke kota Wonosari mengais-ngais makanan. Sasarannya tentu saja Pasar Wonosari yang sekarang berganti nama menjadi Pasar Argosari.

 Mongso gaber tentu saja menjadi trauma bersama, memori kolektif bagi semua yang mengalaminya. Menurutnya, gaber membuat mereka ‘kapok’ dan tak ingin mengalami lagi. Dari pengalaman itu, mereka semakin ngugemi (mempertebal kepercayaan) pada ajaran nenek moyang terkait pangan. Tradisi pangan yang berkembang di Desa Girimulya, Gunungkidul umumnya, mengajarkan pentingnya menyiapkan kebutuhan pangan di segala kondisi dengan melakukan langkah antisipasif untuk persiapan masa paceklik melalui praktik menanam beragam jenis tanaman pokok, menanam beragam cadangan pangan (bisanya tanaman semi liar), mengawetkan dan menyimpan pangan. Lebih lanjut, dari obrolan dengan para penyintas gaber tersebut, ada beberapa poin yang saya sarikan terkait upaya penyelamatan dari krisis zaman gaber:

Pertama, upaya penyelamatan yang dilakukan pada tingkat keluarga. Tradisi subsistensi pangan dengan cara menanam tanaman yang dibutuhkan untuk konsumsi ternyata mampu menyelamatkan hidup mereka. Kondisi ini ditunjukkan dengan banyak keluarga bisa bertahan hidup karena masih memiliki cadangan pangan yang mereka tanam di pekarangan. Bentuk tanaman cadangan pangan seperti buah pepaya muda, nangka muda, bonggol pohon pisang, bagian dalam batang papaya dan aren, daun  pohon sambi, dll.

Baca juga:  Panen Ikan

Demikian juga dengan tumbuhnya tanaman cadangan yang tumbuh semi liar di lahan utama yang diolah untuk budi daya tani oleh tiap keluarga. Meskipun tanaman utama seperti singkong padi dan beberapa jenis umbi umbian telah habis, tanaman pangan seperti canthel (sorghum) jawut (jewawut) dan jali (jali jali) bisa tumbuh karena tersiram air hujan. Beberapa bulan kemudian tanaman tersebut bisa tumbuh dan bertahan di kondisi kering musim kemarau, dan pada akhirnya bisa dipanen dan menyelamatkan banyak nyawa. Tentu saja, jika masyarakat Gunungkidul tidak memiliki tradisi menanam untuk subsistensi, maka sangat mungkin mereka tidak dapat selamat dari bencana kelaparan. Sehingga, inti pelajaran bagi kita dari peristiwa gaber yaitu bahwa penting bagi setiap keluarga memiliki praktik kedaulatan pangan sebagai bagian dari survival. Kemampuan menanam dan memproduksi pangan adalah bagian dari ketrampilan hidup dasar yang selayaknya dimiliki setiap manusia.

Kedua adalah adanya upaya penyelamatan bersama di komunitas melalui gotong royong dalam lingkungan terdekat. Adanya praktik dan upaya konkrit yang dilakukan secara bersama-sama, diupayakan melalui upaya saling dukung dalam sebuah komunitas. Pak Sahid Susanto, misalnya, menuturkan bahwa selama gaber, banyak keluarga yang masih mempunyai cadangan pangan saat itu secara sukarela membungkusi nasi tiwul dengan lauk dari tempe mlanding (petai cina) yang dibagikan pada orang-orang yang kelaparan. Di masa sulit itu, banyak keluarga yang meskipun tidak berlimpah pangan, namun mereka bersedia berbagi sedikit dari yang mereka miliki. Prinsip pelajaran kedua yang didapat dari gaber adalah pentingnya menghadapi bencana secara bersama sama dengan cara gotongroyong dan mau berkerjasama.

Relevansi Gaber dengan Pandemi Corona

Saat terjadi pandemi corona seperti saat ini, banyak orang mulai berpikir tentang pangan. Ketersediaan pangan bisa menjadi masalah besar di masa pandemi. Bagi negara yang terbiasa berswasembada pangan tidak terlalu masalah. Namun hal ini sebaliknya bagi yang menggantungkan pada impor. Kondisi pandemi membuat banyak negara membatasi dan menutup kran ekspornya karena lebih memprioritaskan keamanan stok pangan dalam negeri. Indonesia diprediksi termasuk negara yang akan mengalami kesulitan. Selama ini, alih alih swadaya dan memproduksi pangan sendiri, pemerintah justru berpegang pada kebijakan impor pangan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa volume impor beras Indonesia periode Januari-November 2018 sebesar 2,2 juta ton, melonjak dibanding periode Januari-Desember 2017 yang hanya mencapai 305,75 ribu ton. Data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia menunjukkan hal yang sama. Volume impor gandum Indonesia pada 2017 naik sekitar 9% menjadi 11,48 juta ton dari tahun sebelumnya. Bahkan Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor gandum tertinggi di dunia. Tempe dan tahu yang menjadi konsumsi kita sehari hari, sekitar 70% bahan dasar kedelainya diimpor dari USA. Kini ancaman krisis pangan akibat pandemi mulai didengungkan oleh banyak pihak, bahkan presiden Jokowi mulai memikirkan bagaimana mengatasi ancaman krisis pangan dengan memerintahkan BUMN untuk mencetak sawah.

Baca juga:  Membaca Lir – ilir

Tentu saja kita belum bisa memastikan apakah ancaman krisis pangan karena pandemi ini akan benar-benar terjadi. Namun, diantara ketidakpastian itu, kita dapat mengambil pelajaran dari bagaimana masyarakat Gunungkidul menyikapi gaber. Kita bisa belajar dari pengalaman itu, utamanya mengenai prinsip keswadayaan dan gotong royong dalam mengantisipasi krisis pangan.

Dalam praktik antisipasi krisis pangan, ada hal yang harus diingat sebagai penanda yang khas di masa pandemi covid 19 yaitu terkait Physical distancing (jarak fisik). Untuk memutus dan menghambat sebaran covid 19 perlu menerapkan jarak fisik. Praktik apapun untuk antisipasi krisis pangan di masa pandemi harus mempertimbangkan jarak fisik dan protokol standar keamanan dari penularan covid 19. Tentu saja penting dipahami Bersama bahwa physical distancing berbeda dengan social distancing. Bahwa yang perlu dijaga dan dibangun adalah jarak fisik untuk meminimalkan penularan covid 19, dan bukan jarak sosial. Penerapan jarak fisik tidak lantas membuat kita jadi antisosial. Kita tetap harus melakukan interaksi sosial. Justru pada masa kini, penting untuk menumbuhkan dan menyuburkan gerakan bersama menghadapi pandemi ini. Belajar dari para penyintas zaman gaber, sikap antisosial tidak akan membantu menyelamatkan kita dari kelaparan, bahkan sebaliknya bahwa saling bantu dan gotong royong yang akan menyelamatkan. Banyak orang survive dari gaber karena ada yang membantu memberi makan karena tak ada jarak sosial.

Namun, di sisi lain, masif ditemukan realita di sekitar di masyarakat, akibat penerapan jarak fisik dan lockdown justru menimbulkan kecenderungan bersikap konstrik, yaitu menarik diri dari pergaulan sosial. Reaksi dengan menutup kampung dari orang luar, mengurung diri dalam rumah tanpa berinteraksi dengan tetangga dan orang lain menjadi tidak asing di masa pandemi, reaksi yang cenderung menuju konstrik.

Dalam situasi pandemi justru kita perlu memperkuat solidaritas, bukan sikap konstrik.  Kita butuh menguatkan interakasi dan kontak positif, seperti dijelaskan Robert Putnam dalam teori intergroup attitude. Dalam menghadapi ancaman krisis pangan seharusnya kita justru memperkuat kontak dan interaksi positif sebagai upaya untuk mengidentifikasi ragam potensi pangan lokal, pengetahuan & kearifan pangan lokal, pelaku & produsen pangan, serta sistem pengolahan pangan lokal yang kesemuanya bisa memperkuat upaya pertahanan pangan kita. Kontak positif dalam situasi setara, apalagi jika didukung oleh tokoh masyarakat dan pemerintah setempat, akan menguatkan inisiatif komunal yang dibangun. Memilih bersikap konstrik dan menarik diri dari pergaulan sosial justru menjadi kontraproduktif dengan upaya bersama yang dibangun.

Membangun kontak positif seluas-luasnya bisa dilakukan dengan tetap mempertimbangkan protokol keamanan selama pandemi covid 19. Dengan tetap mengurangi dan membatasi kontak fisik, membangun jaringan, dan gotong royong di masa pandemi tetap bisa dilangsungkan. Misalnya, dengan memanfaatkan teknologi, gadget, dan media sosial guna memperluas kontak dan koordinasi. Berdasarkan hipotesis kontak tersebut, maka dapat diidentifikasi beberapa praktik yang bisa direalisasikan secara bersama untuk antisipasi krisis pangan pandemi.

Mengambil pelajaran dari budaya subsisten yang membawa ketentraman di kondisi normal dan menyelamatkan banyak nyawa baik di kondisi saat paceklik,  maka penting menempatkan langkah-langkah swasembada pangan di urutan pertama dalam antisipasi krisis pangan akibat pandemi covid 19. Secara teknis dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan, kita bisa memanfaatkan dan memaksimalkan pekarangan dengan menanaminya dengan tanaman pangan. Bagi warga urban yang tidak memiliki lahan luas,  bisa menggunakan beragam teknik urban farming. Ada banyak contoh pemanfaatan lahan sempit pekarangan dengan membuat vertical garden, kebun atap, menanam di pot, polybag dll. Bahkan ada yang menanam ratusan jenis tanaman pangan dalam lahan seluas 30m2 dengan bantuan pot.

Baca juga:  Gagasan Pokok Pesantren dan Kebudayaan

Salah satu solusi untuk menyiasati keterbatasan lahan untuk produksi pangan adalah dengan membuat kebun komunal. Alangkah lebih baik jika Urban farming di rumah masing masing diperkuat dengan kebun komunal. Kebun komunal bisa diinisiasi berbasis pada kontak dan jaringan yang dibangun. Basis komunal bisa diinisiasi dari kedekatan rumah; antar tetangga misalnya kelompok RT, dasawisma, maupun kelurahan. Kebun komunal juga bisa diinisiasi berbasis pada kedekatan hubungan antar teman, minat hobi, dan komunitas. Hal ini sebenarnya sudah dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat, seperti kelompok jogja berkebun dan kelompok kebun anak jalanan. Dalam kebun komunal pekerjaan bisa dilakukan bersama dan ada pembagian hasil kebun. Melalui Kebun komunal kita bisa membangun kekuatan demi kepentingan bersama, karena tujuannya adalah untuk kepentingan bersama, sehingga akses lahan juga relatif lebih mudah.  Lahan yang diakses bisa beragam, mulai lahan tidur hingga lahan yang bisa diakses umum, seperti tanah kas desa dan lahan fasilitas umum lainnya.

Membangun jaringan antar kelompok produsen pangan, membuat data base dari usaha dan kelompok-kelompok yang memproduksi pangan, baik kelompok yang melakukan budidaya tani maupun olahan pangan juga merupakan cara yang dapat ditempuh. Menerapkan sistem barter ataupun jual beli, selain dapat saling memperkuat produk dan jasa, namun bisa juga dilakukan barter pengetahuan dan teknologi. Kontak positif yang dilakukan secara intens dapat pula dilakukan barter dan saling belajar metode preservasi pangan dan saling berbagi teknik berkebun.

Memperkuat gerakan pangan local dapat dilakukan dengan cara sebisa mungkin mengkonsumsi pangan pangan lokal, terutama yang dihasilkan oleh kebun dan produsen terdekat. Menjalankan kontak positif antar pribadi dan komunitas akan sangat memungkinkan dengan dibangunnya jaringan yang mempertemukan petani, produsen dengan konsumen. Gerakan pangan lokal akan memotong dan memperpendek jalur distribusi pangan, lebih adil bagi petani/produsen, lingkungan dan konsumen.

Dalam masa dan pasca pandemi, penting untuk selalu berinteraksi dengan para tetangga terdekat, minimal satu dasawisma (10 rumah terdekat), untuk saling memastikan tidak ada yang kekurangan pangan. Dalam membangun ketahanan pangan di  masa sulit ini, komunitas perlu juga melakukan upaya menggalang dukungan bagi kelompok paling rentan kurang pangan dan kelaparan dengan membagikan bahan pangan secara gratis.

Semua langkah lahkah di atas tentu saja mensyarakatkan penerapan kontak positif antar individu maupun antar kelompok. Dengan memperkuat dan memperbanyak kontak positif dan komunikasi maka terbentuklah jaringan sosial yang baik sebagai praktik untuk antisipasi krisis pangan. Jaringan sosial ini akan bekerja optimal jika dibangun atas dasar kesetaraan dan didukung sepenuhnya oleh para pemangku kepentingan.

Beberapa langkah diatas hanyalah bebeh hyujrapa contoh yang bisa dilakukan. Ada banyak tindakan dan aksi lain yang bisa dilakukan dan belum tertulis diatas, silakan ditambahkan. Namun yang harus diingat, 1000 rencana luar biasa akan tetap menjadi wacana jika masih dalam bentuk rencana, namun 1 rencana akan menjadi nyata jika dijalankan. Adalah penting Menyusun rencana yang hebat, namun yang lebih penting adalah mewujudkannya.[]

covermbakdiah - Belajar dari Gaber, Atasi Ancaman Krisis Pangan Pandemi Corona

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi