Belajar dari Venezuela dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Lukisan berjudul C karya Anthony Padgett
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ditulis oleh Leonardo Flores. Dialihbahasakan oleh Ikwan Setiawan

Mengapa Venezuela melakukan jauh lebih baik daripada negara-negara tetangganya
di kawasan?

Dalam beberapa jam setelah diluncurkan, lebih dari 800 warga Venezuela di AS mendaftar untuk penerbangan darurat dari Miami ke Caracas melalui situs web yang dijalankan oleh pemerintah Venezuela. Penerbangan tanpa dipungut biaya ini diusulkan oleh Presiden Nicolás Maduro ketika ia mengetahui 200 warganya terjebak di Amerika Serikat setelah keputusan pemerintahnya untuk menghentikan penerbangan komersial sebagai tindakan pencegahan wabah virus corona. Janji satu kali penerbangan ditambah menjadi dua kali penerbangan atau lebih, karena semakin banyak warga Venezuela di AS ingin kembali ke tanah airnya. Namun situasinya menjadi rumit karena pemerintah A.S. melarang penerbangan menuju dan dari negara itu.

Mereka yang hanya mengandalkan media arus utama mungkin bertanya-tanya, apa warga Venezuela itu sudah gila hendak meninggalkan Amerika Serikat menuju negaranya. Sejumlah saluran media— termasuk majalah TIME, Washington Post, The Hill, Miami Herald, dan lainnya — menerbitkan opini dalam sepekan terakhir yang menggambarkan Venezuela sebagai mimpi buruk yang kacau-balau. Saluran media ini melukiskan gambaran bencana virus corona, ketidakmampuan pemerintah, dan negara yang berada di ambang kehancuran. Realitas respons pemerintah Venezuela untuk menangani wabah virus corona sama sekali tidak dimuat oleh media arus utama.

Lebih jauh lagi, masing-masing artikel hanya menghadirkan sekilas fakta kehancuran yang disebabkan oleh sanksi pemerintahan Trump yang membuat gonjang-ganjing ekonomi dan sistem kesehatan jauh sebelum pandemi virus corona. Sanksi tersebut telah memiskinkan jutaan rakyat Venezuela dan berdampak negatif pada infrastruktur vital, seperti pembangkit listrik. Venezuela dihambat untuk mengimpor suku cadang pembangkit listrik. Akibatnya, pemadaman layanan air yang bergantung pada pompa listrik tidak terelakkan. Permasalahan itu, bersama dengan puluhan implikasi lain dari perang hibrida (tekanan besar terhadap pemerintah Venezuela oleh pemerintahan Trump melalui bermacam larangan dalam bidang ekonomi, teknologi, transportasi dan yang lain, pen) di Venezuela, telah menyebabkan penurunan indikator kesehatan di seluruh level yang menyebabkan 100.000 kematian sebagai konsekuensi dari sanksi.

Baca juga:  Dua Seni Rupa

Mengenai virus corona, sanksi tersebut meningkatkan harga alat tes dan pasokan medis, serta melarang pemerintah Venezuela membeli peralatan medis dari AS (dan dari banyak negara Eropa). Larangan tersebut sekilas tampak akan menempatkan Venezuela di jalan menuju skenario terburuk, mirip dengan Iran (juga dihancurkan oleh sanksi) atau Italia (babak belur oleh penghematan dan neoliberalisme). Berbeda dengan kedua negara itu, Venezuela mengambil langkah-langkah awal untuk menghadapi pandemi.

Hasil dari langkah-langkah tersebut dan faktor-faktor lain, Venezuela saat ini berada dalam skenario terbaiknya. Sampai tulisan ini dibuat, 11 hari setelah kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi, terdapat 86 orang terinfeksi, dengan 0 kematian. Adapun negara-negara tetangganya bernasib kurang baik: Brasil memiliki 1.924 kasus dengan 34 kematian; Ekuador 981 dan 18; Chili 746 dan 2; Peru 395 dan 5; Meksiko 367 dan 4; Kolombia 306 dan 3. (Dengan pengecualian Meksiko, semua pemerintah tersebut secara aktif berpartisipasi dan berkontribusi pada upaya perubahan rezim yang dipimpin AS di Venezuela). Mengapa Venezuela melakukan tindakan yang jauh lebih baik daripada negara-negara lain di kawasan ini?

Kaum skeptis akan mengklaim bahwa pemerintahan Maduro menyembunyikan jumlah penderita dan angka kematian yang sebenarnya dengan argumen tidak ada cukup alat tes, tidak cukup obat, tidak cukup kemampuan untuk menangani pandemi secara memadai. Lalu, apa yang menjadikan Venezuela siap menghadapi pandemi global ini. Berikut beberapa fakta yang patut kita ketahui.

Pertama, solidaritas internasional memainkan peran yang tak ternilai dalam memungkinkan pemerintah untuk bangkit menghadapi wabah ini. China mengirim alat diagnostik virus corona yang memungkinkan 320.000 warga Venezuela diuji, selain tim ahli dan berton-ton persediaan medis. Kuba mengirim 130 dokter dan 10.000 dosis interferon alfa-2b, obat yang tercatat mampu membantu pemulihan pasien COVID-19. Rusia yang pertama mengirim perlengkapan dan peralatan medis. Tiga negara ini, yang secara ajeg dikonstruksi oleh kebijakan luar negeri AS sebagai IBLIS, menawarkan solidaritas dan dukungan material. AS memberikan lebih banyak sanksi dan IMF, yang secara luas dikenal berada di bawah kendali Paman Sam, menolak permintaan Venezuela untuk pengajuan dana darurat sebesar 5 miliar dolar. Bahkan, pun Uni Eropa mendukung langkah IMF.

Baca juga:  Kompas Si Baha

Kedua, pemerintah dengan cepat melakukan rencana untuk mencegah penyebaran penyakit. Pada 12 Maret, sehari sebelum kasus pertama terkonfirmasi, Presiden Maduro menetapkan darurat kesehatan, melarang orang berkumpul, dan membatalkan penerbangan dari Eropa dan Kolombia. Pada 13 Maret, Hari ke-1, dua orang Venezuela dinyatakan positif, pemerintah membatalkan kelas, mulai mensyaratkan pemakaian masker di kereta bawah tanah dan di perbatasan, bioskop, bar dan klub malam, dan membatasi pelayanan restoran (dibawa pulang atau dikirim). Sekali lagi, tindakan ini dilakukan pada Hari ke-1 kasus terkonfirmasi; banyak negara bagian A.S. belum mengambil langkah-langkah ini. Pada Hari ke-4, karantina nasional diberlakukan (setara dengan aturan tinggal/diam di rumah) dan sebuah portal online yang disebut “Sistem Tanah Air” (Sistema Patria) digunakan kembali untuk mensurvei kemungkinan penambahan kasus Covid-19. Pada Hari ke-8, 42 orang terinfeksi dan sekitar 90% dari populasi mengindahkan karantina. Pada Hari ke-11, lebih dari 12,2 juta orang telah mengisi survei, lebih dari 20.000 orang yang dilaporkan sakit dikunjungi di rumah mereka oleh tenaga medis profesional dan 145 orang dirujuk untuk tes virus corona. Pemerintah memperkirakan bahwa tanpa langkah-langkah ini, di Venezuela akan terdapat 3.000 orang terinfeksi dan jumlah kematian yang tinggi.

Ketiga, rakyat Venezuela dilibatkan untuk menangani krisis. Selama 7 tahun terakhir, Venezuela telah hidup dalam kematian pemimpin yang sangat populer, protes sayap kanan yang kejam, perang ekonomi yang ditandai dengan kelangkaan dan inflasi tinggi, sanksi yang telah menghancurkan ekonomi, kudeta yang berkelanjutan, upaya pemberontakan militer, serangan terhadap fasilitas publik, pemadaman, migrasi massal dan ancaman aksi militer AS. Memang virus corona merupakan tantangan berbeda, tetapi krisis sebelumnya telah menanamkan dan memperkuat ketahanan di antara rakyat Venezuela dan memperkuat solidaritas di dalam masyarakat. Tidak ada kepanikan di jalanan; sebaliknya, orang tenang dan mengikuti protokol kesehatan.

Baca juga:  Hikayat Kopi

Statistik Pandemi Korona – Live Update 2020

[covid19 title=”Dunia” style=”list” label_confirmed=”Kasus” label_deaths=”Meninggal” label_recovered=”Sembuh”]

Keempat, mengatur massa dan memprioritaskan orang-orang di atas segalanya. Komuni (sekelompok orang yang hidup bersama serta berbagi pekerjaan dan tanggung jawab) dan komunitas terorganisir mengambil peran penting, memproduksi masker dan menjaga sistem pasokan makanan CLAP tetap berjalan (paket makanan bulanan ini mencapai 7 juta keluarga). CLAP (Comité Local de Abastecimiento y Producción) atau Komite Lokal untuk Suplai dan Produksi merupakan komite distribusi makanan yang dibentuk oleh pemerintahan Maduro di mana masing-masing komunitas mensuplai dan mendistribusikan bahan pangan prioritas melalui metode pengiriman dari rumah. Selain itu, pemerintah juga memfasilitasi kunjungan dokter ke rumah warga dan mendorong penggunaan masker di tempat publik. Lebih dari 12.000 mahasiswa kedokteran tingkat akhir atau dua tahun sebelum tingkat akhir mendaftar pelatihan untuk kunjungan rumah. Pemerintahan Maduro juga menunda pembayaran sewa, membekukan pemecatan nasional, memberikan bonus kepada pekerja, melarang perusahan telekomunikasi memotong telepon atau internet warga, mencapai kesepakatan dengan jaringan hotel untuk menyediakan 4.000 tempat tidur jika krisis meningkat, dan berjanji untuk membayar gaji karyawan usaha kecil dan menengah. Di tengah krisis kesehatan masyarakat–diperparah oleh krisis ekonomi dan sanksi–respons pemerintah Venezuela tetap mengutamakan untuk menjamin ketersediaan makanan, menyediakan perawatan kesehatan gratis, dan tes virus secara luas, serta mengurangi tekanan ekonomi lebih lanjut pada kelas pekerja.

Pemerintah AS belum menanggapi permintaan pemerintahan Maduro untuk membuat pengecualian bagi Conviasa Airlines, maskapai nasional yang dikenai sanksi, untuk menerbangkan warga Venezuela yang terdampar di Amerika Serikat kembali ke Caracas. Mengingat semua yang terjadi di Amerika Serikat, di mana pengobatan Covid-19 dapat menelan biaya hampir 35.000 dolar dan pemerintah mempertimbangkan pilihan untuk memprioritaskan ekonomi di atas nyawa manusia, mungkin rakyat Venezuela yang menunggu untuk pulang memahami bahwa peluang selamat dari virus corona— baik secara fisik maupun ekonomi — jauh lebih baik di negara yang menghargai kesehatan daripada keuntungan.

lukisan berjudul C karya Anthony Padgett - Belajar dari Venezuela dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Lukisan berjudul C karya Anthony Padgett

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi