Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Benedict Richard O'Gorman Anderson

“GTB masih doyan ngompol di kasur sampai usia sekitar enam tahun, Om Ben. Hampir dipastiken setiap pagi, Mama akan selalu menjemoer kasur kapuk, bekas air kentjingku. Nah, ada peristiwa yang paling berkesan, begini tjeritanja: Abah jang biasanja poelang dari masjid seusai shalat subuh, sebelom berangkat ke kantor, menyempatkan waktunja buat ngorok barang beberapa menit. Nah, pagi itoe aku telat bangun, terus pas bangun rasanja sudah ngaceng ini konthol pengen kentjing. Bangun tidur, rasanja sudah di toilet (padahal posisi GTB masih di atas kasoer!), langsung sadja, roedalku pipis, eh, dhilalah, mulut Abah jang lagi mangap ngorok2, langsung kemasukan air kentjingkoe. Kaget dan langsung bangun si doi. Mukanja bak kesambar petir, namun karena sajang sama si botjah garong, dia gak main poekoel. Akoe langsung diangkat dan dibawa ke kamar mandi buat dibersihin. Luar biasa, durhaka sekali GTB kala itu! Ha-haa-haaa…” ujarku.

Membaca surel (surat elektonik) ini, Om Ben pun membalas, “Hahaha… Koerang adjar!!! Ini betoel2 bocah calon bandit dari Bandjirmesum. Iqbal memang tjotjok dijuluki Garoeng Tjentil Berjenggot!” Nah, saudara2, sejak itulah, Om Ben (Benedict Anderson) mem-”baptis”-ku dengan nama baroe–seenak udelnja–jakni: GTB. Sejak itoe komunikasi virtual-imajiner kami semakin akrab dan intim, laiknja sahabat. Benedict Richard O’Gorman Anderson

Aku mengenal Om Ben, tergolong baru, sekitar 2008, itu pun lewat email. Semula, sebagai mahasiswa tingkat akhir yang galau dengan skripsinya, aku mencoba nekad mengirim surat kepada para Indonesianis (khususnya di bidang sejarah dan politik Indonesia). Laiknya menebar jala, ada yang kena, namun lebih banyak yang dicuekin. Nah, Om Ben adalah salah satu Indonesianis yang mau menjadi sahabat intelektualku di kemudian hari.

Baca juga:  Pertanyaan Seputar Kebudayaan

Kami  ngobrol matjem2: dari soal Nahdlatul Ulama, Idham Chalid & Gus Dur, juga tentang Masjid Sultan Suriansyah dan Sabilal Muhtadin di kota Bandjirmesum (bayangkan Saudara2. Om Ben memelesetin kota Banjarmasin menjadi “Bandjirmesum”! Astagafirullah…), karena dia sebelum kenal aku, sudah pernah jalan-jalan ke dua tempat bersejarah ini. Dia suka arsitektur Masjid Sultan Suriansyah–yang notabene mesjid tertua di Kalimantan Selatan–karena arsitekturnya agak mirip dengan di Demak dan beratap limasan, bukan kubah.

Gilanya si Om Ben, dia tanya ke aku, apakah pernah melihat isi bedug besar di Masjid Sabilal Muhtadin? Kok ada banyak corat-coret dari tipe-X atau pulpen yah, yang isinya macem: Aris love Ririn, Udin sayank Atul, dlsb di dalamnya? (Busyet dah si Om Ben sampai urusan beginian dipelototin dan dianalisa segala!). “Apa GTB tau kalau arsitek dari Masjid Orde Baru (maksudnya: Sabilal Muhtadin) itu orang Kristen?” Aku pun hanya bisa jawab, “Wah, Om Ben, GTB gak tau tuh, he-he-he…”

Tahun 2008 akhirnya kami bertemu di Djogjakarta. Om Ben, bersama anak angkatnya, Mas Edu Manik (mereka baru pulang dari perjalanan ‘mistik’ panjang dari Aceh dan Jawa Timur). Aku bersama Geng Garong-ku: Fajar, Galih, Hilman, Andri bertatap muka dan ngobrol asyik dengan si Om Ben. Kemudian, Om Ben ada ide buat ngajak kami jalan2 wisata sejarah ke Makam Sunan Tembayat di Klaten dan lanjut ke komplek percandian Dieng dan Candi Sukuh (ini salah satu tempat favoritnya Om Ben, seingatku sih).

Baca juga:  Tjamboek Berdoeri

Saat sampai di Candi Sukuh, suasana sudah Magrib dan mulai berkabut. Kami sebagai generasi alai, tak lupa berfoto2. Tetapi, yang aku ingat, Om Ben sempat menyuruh aku berpose di belakang sebuah arca yang memegang kontholnya. Jadi tangan kananku memegang burungnya si Arca, dengan muka tertawa riang. Emang bedebah si Om Ben! Hi-hi-hi…

Setelah lulus dari Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta (2009), aku pulang kampung ke Bandjirmesum. Komunikasi lewat surel dan perjumpaan kami berdua tetap saja berlanjut (biasanya Om Ben ke Indonesia, dua kali setahun). Saat aku mulai mengajar Sejarah Peradaban Islam di sebuah pesantren di Kalsel (yang rata2 pesertanya adalah ustad dan ustadzah di tempat itu, Om Ben begitu senang mendengar kabar ini. Bahkan dia mengirimi tiga jilid buku sedjarah Islam klasik koleksinya di Freeville: The Venture of Islam, karya alm. Marshall G.S. Hodgson.

Baca juga:  Pernik Konflik Jagat Wayang

Kegiatan ini terus berlanjut. Om Ben sering sekali menghadiahiku buku-buku bagus dan mahal–yang bagi urang jaba (bahasa Banjar untuk lema “paria”) macem aku ini gak mungkin terbeli–baik buku-buku karangan terbaru Om Ben sendiri, maupun novel-novel Orhan Pamuk (Om Ben tau banget kalau aku bermazhab Orhan Pamuk GarisLurus.com). Dua buku terakhir yang dia kirimkan ke Bandjirmesum (2014) adalah Rifle Report karya Ibu Mary Margaret Steedly dan The Longest Journey karya Hadji Eric Tagliacozzo.

Om Ben, si penikmat hedon buah durian dan wiski (juga jago masak!) itu, kini telah berpulang. Bagiku, Om Ben sangat mencintai Indonesia dan respek dengan anak muda (pemuda). Dia mendengar apa yang tak didengar, melihat apa yang tak dilihat,  menyuarakan apa yang tak diungkapkan. Selamat jalan, Om Ben. Kami mencintaimu, selalu! Peltji (GTB-Bandjirmesum).[]

ben anderson foto - Om Ben di Mata Bandit Bandjirmesum

Benedict Richard O’Gorman Anderson

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi