Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan etnografi

Sebagian dari kita merasa tak punya kaitan ketika membicarakan benih, seperti sesuatu yang jauh. Saya, Anda, Kita, tidak jarang tidak menyadari  jika memiliki relasi yang sangat dekat dengan benih. Realitanya, selaku manusia, butuh asupan pangan rutin. Pangan kita berasal dari benih. Apapun yang kita konsumsi berasal dari benih. Benih-benih yang ditumbuhkan menjadi pangkal dari rantai pangan kita. Bisa dikatakan, relasi kita dengan benih sedekat urat nadi kita sendiri. Benih ada dalam aliran darah kita. Semakin beragam pangan kita, semakin beragam pula benih yang ada dalam tubuh kita. Benih mengalami evolusi dan dinamika kehidupan yang panjang dan tua. Manusia yang hadir belakangan di bumi justru banyak mengeksploitasi dan mempengaruhi dinamika kehidupan benih. Tulisan ini adalah bagian dari kisah dinamika produksi pangan dan benih di Dusun Wintaos, Desa Girimulya, Panggang- Gunungkidul dalam kurun waktu 50-an tahun terakhir.

1. Dinamika Benih dan Pangan Sebelum 1980-an

Mbah Jo Putri : Kisah Tani Sekitar 1940-1970-an. Mbah Jo putri tidak ingat pasti tanggal lahirnya.  Yang diingatnya saat Nipon berkuasa (sekitar 1942-1945) ia sudah menikah. Menurut beberapa sesepuh di Wintaos, di era itu, rata rata jika sudah berusia 15-an tahun, gadis sudah dinikahkan. Kemungkinan mbah Jo lahir antara 1926-1930an. Menurut mbah Jo, sejak ia kecil, mungkin sejak usia 7 tahun dia telah terlibat dan membantu bekerja di ladang. Hingga saat ini, di usianya yang berkisar 90-an tahun, Mbah Jo masih mampu bekerja di ladang. Tubuh mbah Jo kecil, setinggi sekitar 145cm dengan berat 40 kg, namun ia mampu berjalan berkilo-kilo, dengan sigap dan cepat, bahkan naik dan turun perbukitan untuk menjagkau ladangnya.  Sepanjang hidupnya, aktivitas sehari hari yang dilakukannya tidak jauh dari kegiatan mengolah lahan, menanam, merawat tanaman, memelihara hewan ternak, mengolah pangan, dan merawat keluarganya. Mbah Jo sangat paham atas semua detail menumbuhkan dan merawat tiap jenis tanaman, memanennya, mengolah hasil panennya juga merawat ternaknya.

Mbah Jo bercerita, saat dia mulai berkeluarga dan memiliki lahannya sendiri, saat itu semua warga Wintaos bertani, tak terkecuali. Bertani adalah hal yang harus dilakukan sebagai cara untuk memenuhi pangan keluarga. Hampir semua kebutuhan pangan keluarga mulai dari pangan pokok, sayuran, kacang kacangan, bumbu, empon empon juga tanaman obat ditanam oleh semua keluarga. Tak hanya tanaman pangan yang ditanam, namun hampir semua masyarakat Wintaos saat itu juga menanam kapas. Kapas menjadi penting dimiliki oleh setiap keluarga karena selain berfungsi sebagai sumbu untuk lampu teplok, juga digunakan sebagai bahan dasar membuat baju bagi anggota keluarga.

Menurut mbah Jo, karena saat itu pangan pokok utama adalah thiwul yang dibuat dari gaplek atau singkong yang dikeringkan, sehingga beberapa jenis (varietas) singkong banyak ditanam. Sistem bercocok tanam tadah hujan menjadi cara mengairi tanaman. Selain singkong, saat itu banyak pula ditanam beragam pangan pokok lain seperti padi, jagung putih dan kuning, shorgum putih dan merah, jewawut, jali-jali,  juga umbi umbian seperti kimpul (talas), uwi, ganyong, garut, gembili, gadung, dll. Beragam tanaman tersebut ditanam dalam satu lahan yang biasa disebut dengan campursari/tumpangsari. Untuk jenis sayuran dan kacang kacangan yang umumnya ditanam saat itu adalah cabe, terong, tomat, mlinjo, kluwih, turi, kenikir, kacang panjang, cabe, koro, kecipir, benguk, gudhe, kacang ijo, kacang tanah, kedelai hitam, dll. Bumbu dapur dan empon empon juga ditanam, utamanya di pekarangan rumah. Semua benih yang ditanam adalah benih yang diwariskan turun temurun. Setiap panen mereka menyimpan sebagian hasil biji/benih terbaik yang dikeringkan dan disimpan untuk ditanam pada musim tanam di tahun berikutnya.

Mbah Jo juga menceritakan bagaimana benih benih itu ditanam di musim tanam. Saat mongso labuh tiba, setiap orang mempersiapkan ladang ladang mereka dengan membajak dan mencangkulinya juga memberikan pupuk kandang. Lahan harus siap sebelum hujan datang. Semua bibit yang akan ditanam telah dipersiapkan. Jika hujan pertama telah datang, benih dalam bentuk biji-bijian (biji jagung, jali, sorghum, padi, jewawut, aneka koro dan kacang kacangan) yang akan ditanam, ditempatkan dalam wadah, diaduk supaya bercampur lalu ditebar secara manual di lahan. Karena benih-benih telah diacak sesaat sebelum ditebar, maka beragam benih itu tumbuh di tanah secara semrawut, tak beraturan. Singkong ditanam dengan menancapkan stek batang ke tanah. Beberapa umbi ditanam dengan membenamkan umbi di tanah. Dalam satu lahan terdapat beragam jenis tanaman.

Tanaman yang ditaman dipelihara dengan menyiangi dari rumput liar dan memastikan mendapat cahaya yang cukup. Bercocok tanam dengan sistem tadah hujan membuat mereka hanya menanam di musim hujan. Mengandalkan air hujan sebagai sumber air bagi tanaman. Setiap tanaman memiliki usia panen yang berbeda, saat panen tiba, karena dalam satu lahan bercampur beragam tanaman, para petani perlu cermat memilah dan memilih tanaman yang siap dipanen. Oleh karena itu saat itu hanya digunakan ani ani sebagai alat untuk memanen supaya bisa dipilih jenis jenis tertentu yang dipanen. Semua hasil panen diutamakan untuk konsumsi keluarga. Mereka memiliki lumbung yang disebut Pesucen untuk menyimpan semua hasil panen, terutama pangan pokok dan kacang kacangan. Semua hasil panen diatur secara cermat supaya cukup hingga musim panen tahun depan. Perasaan aman dan tentram akan hadir dalam keluarga ketika mereka memiliki pangan yang cukup sepanjang tahun. Karena kebutuhan dasar sudah dicukupkan dari hasil bertani, sehingga relative mereka tak membutuhkan uang.

Bu Tuparsi : Kisah Tani sekitar 1970-1980-an. Bu Tuparsi lahir 1968. Saat berusia 7 tahun, ia sudah biasa ikut membantu bekerja di ladang. Menurut Bu Tuparsi, hingga akhir dekade 1970an sistem campursari masih diterapkan. Keragaman jenis tanaman di masa kecil Bu Tuparsi tak banyak berbeda dengan yang diceritakan mbah Jo (saat mbah Jo masih muda).  Artinya keragaman tanaman tahun 1970an  tak jauh beda  dengan tahun 1950an. Bahkan menurut Bu Tuparsi, teknik sebar benih juga masih diterapkan hingga tahun 1970-an. Sehingga dalam satu lahan tumbuh beragam jenis tanaman yang tidak beraturan dan acak. Thiwul menjadi makanan pokok sehingga aneka varietas singkong masih ditanam. Menurut Bu Tuparsi di masa kecilnya, ada sekitar 16 jenis varietas singkong yang masih ditanam. Padi benih warisan  (heirloom) yang rata-rata usia panennya 6 bulan, saat itu ada sekitar 10 jenis varietas yang biasa ditanam (Pakisan, Menurun, Deron, Puthu, Mayangan, Genjah Lasep, Gundil, Cempo kenongo, Glempo). Chantel (sorghum), Jewawut, Jali-Jali, aneka umbi umbian juga masih ditanam. Jenis sayuran dan kacang kacangan  yang ditanam saat itu lebih dari 50-an jenis, terutama saat musim penghujan. Saat musim kemarau keragaman jenis sayuran jauh berkurang karena banyak sayuran yang tidak bertahan di musim kemarau yang sulit air. 

Benih dan Subsistensi

Era sebelum 1980 budaya subsisten masih sangat kuat, setiap rumah tangga memproduksi semua bahan pangan yang dibutuhkan keluarga, baik tanaman pokok, lauk dan sayuran, juga bumbu dan tanaman obat. Pemenuhan kebutuhan pangan secara subsisten ini menjadi bagian dari sistem produksi pangan yang dikembangkan warga Wintaos. Pangan yang dikonsumsi keluarga menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik bercocok tanam yang mereka kembangkan. Pangan keluarga juga punya kaitan kuat dengan benih-benih yang diwariskan secara turun temurun.

Baca juga:  Revolusi Secangkir Kopi

Sistem produksi pangan yang para petani kembangkan merupakan adaptasi dari kondisi alam dan lahan Gunungkidul bagian selatan yang terdiri dari karst dan tak memungkinkan dibuat sumur untuk mengairi lahan pertanian. Alam diadaptasi dengan memanfaatkan air hujan dengan mengembangkan pola bertani tadah hujan. Bercocok tanam hanya dilakukan saat musim hujan. Di masa kemarau, lahan diistirahatkan dan tak ditanami. Di musim kemarau para petani menggunakan waktu untuk mengelola dan mempersiapkan lahan, seperti menata lahan dan membuat galengan. Aktivitas bertani mengikuti siklus alam yang dibaca dalam pranotomongso, yaitu sistem pengurutan musim yang menjadi panduan dalam melaksanakan aktivitas bertani. Pranotomongso ini merupakan wujud interaksi dan Interaksi dan keterikatan dengan alam.

 

gesang 194x300 - Benih, Pangan, dan Kehidupan

OPEN PREORDER. Buku ini merupakan catatan perjalanan sewindu pertama dari Sekolah Pagesangan. Proses mencari bentuk baru Sekolah Pagesangan (SP) dilakukan setelah Diah selaku inisiator SP merasa gelisah atas pendekatan pendidikan Sekolah Sumbu Panguripan (SSP). Baginya, SSP yang merupakan cikal bakal SP yang dijalankan selama 5 tahun (2008-2013), belum menjawab persoalan dan kebutuhan pendidikan bagi masyarakat di Dusun Wintaos. Anak anak SSP yang didukung melalui beasiswa dan pendidikan formal melalui SSP berakhir 100% menjadi buruh urban. Nyaris tidak ada diantara mereka yang kembali dan melakukan sesuatu bagi dusun/desa.

Selanjutnya digambarkan dalam buku ini upaya dan langkah untuk mewujudkan bentuk baru pendekatan pendidikan SP yang berbasis persoalan, dilakukan secara partisipatif bersama anak muda peserta belajar.  Pendidikan yang berbasis kebutuhan komunitas demi menyikapi persoalan bersama disebut Pendidikan Kontekstual (PK). Praktik PK a la Sekolah Pagesangan adalah ketika anak anak remaja diajak mengawali proses belajar dengan mengidentifikasi : pertama, masalah bersama dalam komunitas, kedua, Identifikasi potensi yang ada di sekitar. Urbanisasi yang menjadi pilihan hidup mayoritas anak muda Wintaos merupakan bagian dari persoalan bersama. Dari hasil identifikasi potensi desa, ditemukan jika budaya terkait produksi pangan dimana bertani di lahan kering, pengolahan dan pengawetan pangan menjadi potensi dan hal yang paling menonjol dalam aktivitas sehari hari kehidupan Wintaos. Selanjutnya bertani dan membangun wirausaha tani tersebut diproyeksikan sebagai bagian rintisan masa depan anak remaja tesebut, sebagai upaya menjawab persoalan urbanisasi. Bertani dan merintis wirausaha  tani yang awalnya dikembangkan oleh anak anak remaja selanjutnya melibatkan para orangtua, baik ibu maupun bapaknya. Pada kemudian hari kelompok perempuan yang terdiri dari ibu ibu petani dan pengolah menjadi salah satu motor penggerak kegiatan SP.

Imajinasi kesejahteraan yang identik dengan perkotaan, terlanjur melekat di komunitas akhirnya membawa ironi. Sebagian besar anak remaja yang pada awalnya terlibat merintis usaha tani dan wirausaha tani tersebut justru pada akhirnya memilih menjadi buruh urban. Namun kabar baiknya, diantara mereka yang memilih tinggal dan berkarya di desa, tumbuh dan berproses menjadi pejuang desa yang militan.  Buku ini tidak bermaksud menampilkan kisah sukses, sebaliknya mengisahkan bagaimana orang-orang biasa berupaya menyikapi realita persoalan yang  mereka hadapi. Jatuh bangun, untung malang dalam upaya mereka menyikapi masalah dan tantangan, menjadi proses belajar yang sebenarnya menghadapi realita hidup. Sekolah Pagesangan adalah proses menemukan cara dalam mengelola kehidupan. Paska diterbitkannya buku ini tahun 2017, proses SP terus berjalan, penuh dengan dinamikannya. Tahun 2020 SP memasuki perjalanannya menuju tahun ke-12.

Judul : Gesang di Lahan Gersang
Penulis : Diah Widuretno
Ukuran : 13x20cm
ISBN : 978-623-93680-6-7
Halaman : XVI + 397 hlm
Kertas : Bookpaper 70gram
Harga : 85K/exp
Kontak Pemesanan Buku : Murni (0838-6770-1830)

Praktik menanam secara polikultur sangat berkaitan dengan subsistensi. Bagi Bu Tuparsi dan masyarakat Wintaos umumnya, menanam beragam tanaman dalam satu lahan merupakan : 1. Upaya  mencukupkan kebutuhan pangan selama setahun, sehingga mereka merasa perlu menanam beragam tanaman untuk mencukupkan semua kebutuhan pangan, baik makanan pokok, sayuran, kacang-kacangan dan tanaman obat  2. Menanam beragam mengantisipasi jika satu jenis tidak panen/tidak berhasil tumbuh baik, masih bisa berharap pada jenis yang lain. Keberagaman pangan  menjadi jaminan memiliki alternative pangan yang cukup sepanjang tahun, paling tidak hingga musim panen berikutnya.  3. Mengintensifkan lahan yang dimiliki. Mereka sadar bahwa ketercukupan pangan bergantung dari luasan dan akses lahan, menanam beragam merupakan upaya mengintensifkan semua lahan yang diakses. 4. Proses mengupayakan cadangan makanan untuk segala kondisi baik kondisi normal maupun saat musim paceklik.

Ikatan dengan Benih dan keberdayaan   

Pada masa memanen setiap tanaman yang ditanam, para petani Wintaos memilih biji dan bibit terbagus untuk ditanam pada musim tanam berikutnya. Keragaman jenis benih terpelihara karena mereka merasa perlu mengkonsumsinya sehingga jenis jenis tersebut terus ditanam dari musim ke musim.  Secara teknis, saat panen mereka akan mengambil sebagaian hasil yang terbagus, mengeringkannya, merawatnya supaya terhindar dari jamur dan bubuk. Mereka mengembangkan cara untuk merawat benih benih itu, misalnya sebagian benih seperti benih jagung, shorgum, Jewawut disimpan diatas para-para dapur supaya asap tungku dapur mengawetkannya secara alami. Sebagian benih juga   disimpan dalam wadah yang kering dan ditaruh di tempat yang tak lembab, paling tidak benih akan tetap bertahan hingga musim tanam berikutnya. Secara prinsip, cara mengawetkan dan melestarikan benih paling efektif bagi para petani Wintaos adalah dengan menanamnya secara terus menerus. Jika benih-benih itu terus ditanam maka akan lestari. Benih benih itu terus diwariskan, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Cara pelestarian benih tersebut menjamin mereka bisa mendapatkan benih secara mandiri dari musim tanam tahun ini ke musim berikutnya, tanpa harus membeli. Keberadaan dan kelestarian benih menjadi penting bagi mereka. Terus merawat dan memeliharanya karena berhubungan langsung dengan stok pangan mereka.

2. Dinamika Benih dan Pangan Pasca 1980-an

Hingga awal 1980-an, thiwul masih jadi pangan pokok utama. Umum bagi semua keluarga di Wintaos menanam singkong. Mereka juga menanam beragam jenis pangan pokok lain, termasuk beberapa jenis padi-padian yang benihnya diwariskan secara turun temurun. Benih padi padian ‘warisan’ tersebut mulai terancam oleh serangan wereng sejak tahun 1975 an. Serangan tersebut membuat masyarakat Wintaos tidak panen padi hingga beberapa musim tanam. Gagal panen padi tidak lantas membuat masyarakat mengalami kelaparan karena saat itu pangan pokok adalah tiwul. Beras (padi) saat itu menjadi pangan mewah, dimakan saat moment istimewa atau ketika panen padi. Itupun harus dibagi-bagi dalam anggota keluarga, tiap orang mendapatkan sedikit jatah nasi (beras).

Baca juga:  Islam, Alam, Sains

Revolusi Hijau di Indonesia dikemas dalam beberapa program diantaranya BIMAS, INMAS, INSUS dan SUPRAINSUS. Program INSUS selanjutnya dimodifikasi menjadi OPSUS ketika diterapkan di daerah yang memiliki tantangan alam dan kondiis geografis khusus, seperti di Gunungkidul dan NTT. OPSUS di Gunungkidul diterapkan tahun 1982, mengusung Panca Usaha Tani sebagai upaya dan program moderenisasi pertanian. Panca usaha tani terdiri dari mekanisasi pengolahan lahan, perbaikan irigasi, penggunaan bibit unggul dan pupuk kimia, pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan pestisida. OPSUS dan progam revolusi hijau lainnya lebih terfokus pada penguatan produksi padi. Bibit unggul padi juga menjadi andalan dalam program ini. Secara teknis OPSUS diterapkan dengan cara memberikan pelatihan Panca Usaha Tani pada perwakilan petani di Wintaos dan membuat demplot percobaan untuk penerapan penanam bibit unggul padi IR 36, pupuk urea dan pestisida.

Karena kondisi lahan karst dan sulitnya menemukan sumber air untuk irigasi, maka dilakukan penyesuaian untuk pengolahan lahan dan irigasi. Penerapan OPSUS di Gunungkidul mengadaptasi pola lama dalam pengolahan lahan dan sistem tadah hujan yang sudah lama diterapkan komunitas petani. Setelah diterapkan 3 bulan, hasil panen dari demplot sangat baik. Kondisi ini menarik perhatian hampir semua petani di Wintaos. Apalagi selama beberapa tahun (musim tanam) sebelumnya para petani di Wintaos mengalami gagal panen padi karena serangan wereng. Kondisi tersebut  mendorong mereka untuk coba menanam IR 36.

Bagi petani, keberadaan IR 36 yang dibawa pemerintah ini menimbulkan harapan untuk panen padi lebih banyak sehingga bisa mengkonsumsi beras. Di musim tanam selanjutnya sebagian besar petani di Wintaos menanam IR36. Selain padi, melalui OPSUS, jagung jenis hibrida mulai dikenalkan. Karena padi unggul dan jagung hibrida ditanam berturut turut dari musim ke musim berikutnya, beberapa tahun kemudian mulai nampak jenis varietas benih warisan tersebut mulai hilang karena tak lagi ditanam. Penananam varietas jenis unggul bawaan program OPSUS secara terus menerus menjadi faktor pemicu menghilangnya dan mungkin kepunahan beberapa varietas benih warisan, seperti 9 padi,  varietas jagung dan sorghum.

Dari penanaman di beberapa kali musim tanam menunjukkan hasil panen padi unggul (IR36) 4-6x lebih banyak dibandingkan hasil panen padi-padi benih warisan. Keberhasilan tersebut mendorong ditanamnya padi unggul hingga beberapa musim selanjutnya. Dan hasil panen yang bagus menjadikan para petani dan keluarga bisa mengkonsumsi beras jauh lebih banyak dibandingkan saat mereka menanam padi jenis lama mereka. meski mereka masih mengkonsumsi thiwul tapi mereka menyukai makan nasi (beras).

Pak Pur bilang, “saiki wis mulyo, jaman iso mangan beras, mbiyen jaman rekoso mangan thiwul”(sekarang sudah sejahtera, saat bisa makan beras, dulu saat sengsara makanannya thiwul). Terlepas makan nasi beras dari sisi rasa relative lebih enak, mengkonsumsi  beras (padi) dianggap sebagai symbol kesejahteraan. Thiwul yang dimakan di kala susah merupakan simbol perjuangan sekaligus kesengsaraan.

Kondisi politik pangan di era 1980-an diwarnai oleh ambisi mantan Presiden Suharto untuk berswasempada pangan, yang selanjutnya diejawantahkan sebagai swasembada beras. Untuk mendukung swasembada beras, salah satu nilai yang dipropagandakan di tengah masyarakat adalah mengkonsumsi nasi beras dianggap lebih bermartabat dan modern. Kondisi sosial yang dibangun saat itu mempengaruhi dinamika di desa dan dusun dusun di Jawa, termasuk  Wintaos. Para petani menganggap mengkonsumsi beras bisa menaikkan martabat hingga berapa derajat. Peluang dan harapan untuk bisa mengkonsumsi beras padi lebih banyak bisa dipenuhi ketika menanam padi unggul ini.

Selanjutnya keunggulan hasil bibit unggul mendorong petani menyediakan lahan lahan terbaik (lenah-an) yang mereka miliki/akses untuk ditanami padi. Meski campursari masih diterapkan, menanam beberapa jenis dalam satu lahan, namun keragaman jenis yang ditanam tak sebanyak saat sebelum program OPSUS dijalankan. Para petani tak lagi menanam secara semrawut seperti dulu lagi. OPSUS mengajarkan petani untuk lebih menata cara bercocok tanam mereka. Dalam satu petak kebun yang lenah umumnya diutamakan menanam padi, singkong atau jagung yang ditanam rapi, berlarik-larik, bersebelahan dengan padi.  Tepi dan pinggir petak lahan umumnya ditanami kacang-kacangan dan beberapa jenis sayuran. Lahan lahan kini lebih terlihat tertata. Namun, seiring dengan berkurangnya ke-semrawut-an, berkurang pulan jenis keragaman yang ditanam. Ke-semrawut-an itu menandakan  keragaman yang dikonsumsi oleh petani dan keluarganya.

Perubahan Pola Pangan dan Benih

Biyung Marso,“ sing ditandur mbiyen luwih okeh maceme…mbiyen aku nandur canthel, jali, jawut, janganan ning alas…”(yang ditanam dulu lebih banyak macamnya…dulu aku nanan sorghum, jali jali, jewawut di ladang)

Bu Tuparsi, “mbiyen tanduran macem-macem, semrawut, yen panen milihi siji-siji….”(dulu tanamannya macam-macam, semrawut, saat panen harus dipilah satu persatu)

Penanaman padi yang mendominasi lahan lahan lenahan, selanjutnya berdampak pada pola konsumsi. Hasil panen padi unggul yang berlipat ganda dibanding padi benih warisan memungkinkan para petani memanen padi jauh lebih banyak dibandingkan sebelum OPSUS. Bahkan bagi keluarga pemilik lahan lenahan yang luas bisa memanen dan mengkonsumsi padi lebih banyak dibandingkan nasi thiwul. Sekitar tahun 1985 an mulailah padi menggeser tiwul selaku pangan pokok. Nasi (beras) mulai dikonsumsi sama banyaknya dengan nasi beras.

Takhanya thiwul yang mulai tergusur oleh beras, benih jagung warisan juga. Sebelum OPSUS diterapkan, di musim panen jagung, masyarakat wintaos  mengganti pangan pokoknya, mereka mengkonsumsi jagung yang ditumbuk dan diolah menjadi sego bledak.  Panen padi yang cukup banyak, apalagi masih mengkonsumsi thiwul, membuat konsumsi sego bledak di masa panen jagung tak dilakukan lagi. Apalagi tahun 1985-an mulai masuk jagung hibrida di Wintaos. Jagung hibrida yang bertongkol besar dan hasil yang lebih banyak dibanding jagung lokal, membuat petani Wintaos tertarik menanamnya dari musim ke musim. Beberapa jenis benih warisan jagung akhirnya jarang ditanam, lambat laun mulai menghilang.

Perubahan pola pangan menuju beras berdampak pada keragaman tanaman yang ditanam. Konsumsi terhadap beras semakin menggusur pangan pokok jenis-jenis lain, seperti jagung, chanthel, dan umbi umbian lain. Thiwul masih menjadi pangan pokok, meski dengan derajat konsumsinya tidak se-intens sebelum OPSUS.  Tanaman selain singkong dan padi, seperti sorghum, jewawut, umbi umbian tetap ditanam, namun fungsinya sebagai cadangan pangan yang diperlukan saat paceklik. Semakin beragam jenis yang dimakan, semakin beragam pula benih yang ditanam. Sebaliknya, semakin sedikit jenis jenis yang dimakan, semakin mengurangi keragaman jenis yang ditanam di lahan. Meski masih tetap beragam namun dibandingkan dengan keragaman jaman sebelum ada opsus, derajat keragaman berkurang.

Baca juga:  Masjid Bambang Di Pertigaan Jalan

Globalisasi, Industri Pertanian, dan Benih

Robert Malthus, dalam Teori Malthusian menyatakan, laju pertambahan penduduk akan lebih cepat dibandingkan laju pertumbuhan pangan sehingga jika pertumbuhan  penduduk tidak dikendalikan, suatu saat akan terjadi krisis pangan. Norman Bourlog mendukung teori Malthusian. Ia juga percaya jika pengetahuan dan teknologi sebagai jawaban untuk menyelamatkan manusia dari kelaparan. Sejak 1950-an Bourlog banyak melakukan inisiatif penelitian untuk menemukan benih-benih unggul yang produktivitasnya tinggi dengan harapan memberi makan dunia, seperti penemuanya atas bibit jagung hibrida dan gandum.

Selanjutnya sekitar tahun 1960-an penelitian perbenihan banyak dilakukan lembaga riset yang dibentuk untuk menemukan bibit bibit unggul bahan pangan, diantaranya IRRI untuk riset tentang padi-padian. IRRI mengumpulkan beragam benih padi yang berasal dari seluruh dunia. Indonesia sebagai negara megabiodiversiti, turut ‘menyumbang’ dengan memberikan ribuan varietas padi padian yang berasal dari seluruh nusantara untuk diteliti di IRRI. Rockefeller foundation memberikan hibah dana untuk mendukung riset-riset benih tersebut. PBB (UN) melegitimasi hasil riset riset benih unggul tersebut dengan memberikan rekomendasi untuk diterapkan di banyak negara. Hasil penelitian terkait benih-benih tersebut ditangkap oleh perusahaaan multinasional.  Di banyak negara, terutama di negara-negara berkembang, benih-benih itu dijual dan diterapkan dalam paket program Revolusi Hijau.

Industrialisasi pertanian merupakan ‘anak kandung’ globalisasi, revolusi hijau merupakan bagian darinya.  Secara teknis, melalui revolusi hijau, program pertanian modern masuk ke dusun-dusun. Di Gunungkidul, revolusi hijau diterapkan dalam bentuk OPSUS. Ciri khas dari industrialisasi pertanian (modern) diantaranya adalah dengan pertanian skala besar dan monokultur. Dukungan teknologi tinggi dan kapital besar menjadi salah satu kekuatan industri pertanian (modern). Cita cita dari industri pertanian modern adalah memberi makan dunia.

Benih merupakan pangkal dari rantai pangan. Siapapun yang menguasai benih, akan menguasai pangan. Penguasaan pada benih menjadi penting dalam industri pertanian. Hasil riset-riset benih unggul yang dipatenkan dan kuasa akses diberikan pada perusahaan benih menjadikan komodifikasi terhadap benih. Benih-benih unggul  hasil riset bisa diakses dengan cara membeli. Para petani yang menanam benih unggul harus membeli benih tersebut terlebih dahulu.

Di sisi lain, Industri pertanian yang mengusung budi daya pertanian secara monokultur dan massif cenderung mengarah dan mempersempit keragaman jenis pangan pokok menjadi gandum, beras dan jagung. Benih-benih selain benih unggul yang dikembangkan indusrti pertanian menjadi tidak populer dan tidak dikenal pasar sehingga jarang ditanam yang berdampak pada kepunahan.

Budaya subsisten yang cenderung menerapkan pola tanam polikultur, menjadi salah satu cara menyelamatkan keberagaman benih-benih warisan. Pola subsistensi hingga kini masih dipertahankan oleh  oleh para petani di desa-desa di Gunungkidul terutama di pegunungan sewu, termasuk di Dusun Wintaos, menjadikan arus kecil ‘melawan’ arus global pertanian modern.  Pertanian modern melalui OPSUS mengancam pertanian tradisi di lokal Wintaos : 1. Pada kurun 1980-1990-an (sempat) menimbulkan ketergantungan benih unggul (IR36 dan 64), namun sejak tahun 2000an hingga saat ini sebagian petani menanam benih warisan, diantaranya varietas padi ‘Segreng’. 2. Hingga kini benih jagung hibrida menggusur benih jagung warisan. 3. Kehilangan beberapa varietas benih warisan padi, jagung dan sorghum. 4. Sejak diterapkannya OPSUS hingga kini, hampir semua petani  mengalami ketergantungan pada pupuk kimia (urea).

Namun Kehilangan benih warisan di Dusun Wintaos relatif masih lebih sedikit jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang tidak menerapkan pola-pola subsistensi. Mereka mengalami kehilangan yang lebih besar, selain lebih banyak benih-benih warisan yang punah, mereka juga mengalami ketergantungan pupuk, pestisida.

Perubahan Gaya Hidup Berdampak Pada Benih

Paska 1980 mulai adanya jalan yang diaspal hingga ke daerah pinggiran Gunungkidul. Keterbukaan informasi dan  mobilitas mempengaruhi gaya hidup dan cara pandang tentang  kebutuhan. Kebutuhan tak cukup hanya kebutuhan dasar, mulai ada kebutuhan yang pemenuhannya menggunakan uang, seperti iuran PDAM, listrik, sekolah formal, sepeda motor, HP, fashion, dll. Kebutuhan tersebut bisa dipenuhi jika memiliki uang. Kebutuhan akan uang cash membuat sebagian orang dewasa dan di usia produktif melakukan kerja-kerja di kota (urban), terutama para buruh musiman, hanya bekerja di musim kemarau. Bahkan generasi muda yang lahir paska 1990 an, sebagian besar (hampir semua) menjadi buruh urban.

Jika sebelum era 1980 tentram dimaknai ketika memiliki stok pangan yang cukup hingga musim panen yang akan datang, maka paska 1980, pemaknaan tentram  bergeser ketika memiliki uang. Perubahan gaya hidup yang mempengaruhi pemaknaan ketentraman tersebut menyebabkan pergeseran pola subsistensi. Jika semula penerapan subsistensi memungkinkan mengkonsumsi beragam pangan,  terjadi penurunan derajat subsistensi terutama dari tingkat keragaman jenis pangan yang ditanam sendiri. Subsistensi tetap dilakukan, meski pangan pokok semakin mengerucut pada beras (padi). Sebagian keluarga petani secara berkala juga masih mengkonsumsi Thiwul, meski kecenderungan konsumsi beras semakin meningkat. Keragaman umbi umbian dan serealia yang ditanam untuk konsumsi semakin sedikit. Di sisi lain, ketika uang bisa dipergunakan membeli pangan, maka tidak perlu menanam untuk mendapatkan pangan. Ketika tidak menanam kebutuhan pangan sendiri, maka apa yang dimakan akan banyak diwarnai selera pasar umumnya. Keragaman pangan yang menjadi kekhasan dalam budaya pangan makin lama kian pudar.

Perubahan makna ketentraman dan gaya hidup berpengaruh pada regenerasi petani. Sebagian besar anak muda kelahiran paska 1980 mulai enggan bertani, mereka memilih menjadi pekerja urban. Tak ada anak muda yang tinggal di desa. Saat di kota, anak anak muda yang menjadi buruh urban cenderung membeli pangan menggunakan uang yang mereka hasilkan. Sebagian besar dari mereka tinggal di kota dan tak menanam apa yang mereka makan. Tak jarang mereka dikirimi bahan pangan oleh orang tua di desa. Hingga kini, orang tua mereka masih bertani dan memelihara benih-benih. Namun tinggal petani tua yang menanam dan memproduksi pangan, regenerasi petani terancam mandeg. Baik transfer pengetahuan maupun praktik menanam dan merawat benih benih mandeg. Mandegnya regenerasi petani langsung mengancam punahnya sistem produksi pangan yang selama ini mereka kembangkan. Di sisi lain benih-benih warisan akan terus lestari ketika ditanam dan dikonsumsi secara terus menerus. Karena mulai jarang ditanam, keragaman benih-benih yang dimiliki juga mulai terancam hilang dan punah.

Perubahan gaya hidup mengancam keberlangsungan benih. Perubahan gaya hidup dari subsisten menjadi konsumen (pembeli bahan pangan) turut berkontribusi dalam kepunahan benih. Untuk melestarikan benih, dengan menanamnya secara terus menerus adalah cara yang efektif. Ketika tidak dikonsumsi sehingga tak ditanam, benih akan punah. Mandegnya regenerasi petani berarti beragam benih yang nyata mulai mandeg pula ditanam. Ketika mandeg ditanam, benih pun bisa mati dan punah.[]

coverbenih - Benih, Pangan, dan Kehidupan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi