Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Esai Sejarah Sastra Indonesia Modern

Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Hamka ([1939] 1976), menurut C.W. Watson, adalah “novel romantis yang mungkin paling populer pada 1930-an dan 1940-an” di Indonesia (Ras & Robson 1991: 106-129). Titimangsa 1962, novel itu sudah mengalami cetakan kedelapan. Pada 7 September, koran kiri Bintang Timur menerbitkan tuduhan bahwa Hamka melakukan plagiat di novel masyhur itu. Penulisnya, bernama Abdullah S.P., mengawali dengan mengaku bahwa sewaktu muda dia telah menjadi penggemar berat Hamka, “terpesona” dan “terharu” karena kisah-kisah seperti Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Kemudian, tulisnya, dia menemukan karya penulis Mesir Mushthafa Luthfi al-Manfaluthi, dan dia mendapati kemiripan antara Magdalena karya al-Manfaluthi dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck–apalagi pasca dia menonton film Mesir yang mengadaptasi Magdalena. Abdullah akhirnya menyimpulkan bahwa Hamka terang-terangan melakukan plagiasi.

Artikel Abdullah disertai “idea script” yang menunjukkan betapa dekatnya jalan cerita novel Hamka dengan novel al-Manfaluthi, yang sendirinya merupakan terjemahan bahasa Arab satu novel Prancis abad ke-19 karya Alphonse Karr, Sous les tilleuls (“Di Bawah Pohon Linden”). Artikel liyan menggambarkan “Hamka kita”–“siapa yang tak kenal namanya?”–tampil di seminar umum dengan mengatakan banyolan garing, mengiklankan bukunya, dan menyatakan satu kisah Socrates itu kisah dirinya sendiri.

Serangan Bintang Timur membuka satu fakta yang telah dibahas sayup-sayup selama bertahun-tahun di antara para cendekiawan muslim Indonesia. Bagi kebanyakan pembaca dan pengikutnya, Hamka adalah otoritas besar. Namun, di antara kalangan sastrawan, sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa karya Hamka itu didasari buku dan artikel orang lain.  Cerita-cerita semacam itu sudah lama beredar di Jakarta.

Menurut penulis biografinya, James R. Rush dalam Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia (2016: 172-187), Hamka banyak membaca kepustakaan kontemporer berbahasa Arab ihwal Islam dan menerjemahkan apa yang dia pelajari menjadi tulisan berbahasa Indonesia yang mudah dibaca. Ketika melakukan itu, dia memindahkan pengetahuan baru dan kisah-kisah baru ke wacana Indonesia, sambil mencantumkan ciri khasnya sendiri. Ingatlah apa yang Hamka katakan mengenai Ahmad Amin dari Mesir: “Penanya kerap memengaruhi pena saya.” Hal ihwal itu merupakan tradisi lama transmisi antarbudaya di dunia Islam dan di mana-mana, sebelum kode etik kepenulisan modern berlaku.

Akan tetapi, zaman pun berubah. Sebagian besar kaum terpelajar Indonesia mendapat pendidikan Barat. Banyak penulis yang menganut protokol kepenulisan yang lebih ketat. Hamka bukannya tidak tahu mengenai itu. Dalam Pedoman Masjarakat pun dia sering menyebutkan sumber-sumber artikelnya. Namun, sebagai seorang otodidak, pendekatannya terhadap sumber itu tak disiplin dan tidak hati-hati, sebagaimana dia akui secara terbuka.

Hanya setahun sebelum Bintang Timur menerbitkan tuduhan bombastis terhadap Hamka, salah seorang pengagum muda Hamka memperingatkannya bahwa dia rentan diserang. Sang pemuda mendorong Hamka agar mengakui sumber-sumbernya secara eksplisit, supaya reputasi Hamka tidak rusak sesudah dia meninggal dunia, ketika dia sudah tak bisa membela diri.

Hamka menjawab dengan mengatakan bahwa tuduhan semacam itu sudah dia terima selama bertahun-tahun. Orang-orang yang membuat tuduhan itu tidak memeriksa karyanya dengan saksama. Jikalau mereka membaca dengan detail, paling-paling mereka bisa menyatakan bahwa karya-karya Hamka yang dipermasalahkan adalah saduran, bukan contekan. Tenggelamnya Kapal van der Wijck, ujarnya, adalah saduran. Jalan ceritanya disadur dari buku karya Mushthafa Luthfi al-Manfaluthi dan “diberi jiwa Indonesia”.

Baca juga:  Islam, Alam, Sains

Sama saja dengan buku-buku lain yang menggunakan pelbagai sumber berbahasa Arab, tetapi dia tambahi gagasan-gagasannya sendiri. Untuk menulis sesuatu seperti empat jilid Sejarah Umat Islam, kata Hamka, orang harus membaca “berpuluh buku, dan bukan menyalin sebuah buku.” Jika dia dituduh secara publik, ujar Hamka, dia tidak akan berpura-pura menjadi pengacara dan membela diri. Biarkan “komisi yang jujur dan bersifat ilmiah” nan memutuskan.

Pramoedya Ananta Toer mengasuh rubrik sastra Bintang Timur, “Lentera”, yang terbit tiap Jumat. Pramoedya kala itu berumur tiga puluh delapan tahun, seorang penulis fiksi berbakat yang menyetujui pesan revolusioner komunis Indonesia, walau dia tidak menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai tokoh intelektual kiri terkemuka, Pramoedya mempromosikan “realisme sosialis” dalam sastra dan menyerang apa yang dia pandang sebagai “sentimentalisme religius” dalam buku-buku seperti karya Hamka. Menginjak awal 1960-an, Pramoedya sudah menjadi pejuang budaya berpengaruh di kubu kiri. Pencantuman namanya di rubrik sastra Bintang Timur membuat rubrik itu punya otoritas dalam pertarungan. Tuduhan Bintang Timur terhadap Hamka memicu skandal nasional.

Menurut Muhidin M. Dahlan dalam bukunya, Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 (2011), minggu demi minggu menjelang musim penghujan 1962, Bintang Timur melanjutkan serangan, termasuk dengan satu “ideal strip” gaya kartun yang kembali menunjukkan kemiripan jalan cerita Magdalena/Tenggelamnya Kapal van der Wijck, kartun cemoohan yang mengingatkan orang mengenai kedekatan Hamka dengan Jepang semasa perang, dan satire pedas berjudul “Affam” yang menggambarkan Hamka sebagai ulama munafik, suka pamer, dan berbicara tanpa isi–diterbitkan ulang pasca pertama tampil di satu majalah sastra Jakarta pada 1955. Selagi rubrik sastranya terus mencela, Pramoedya sendiri, dalam wawancara dengan majalah Berita Minggu, berkata bahwa, “sebagai pengagum Hamka, [saya] sangat kecewa sekali dengan terbongkarnya kepalsuan Tenggelamnya Kapal van der Wijck.” Menurut Pramoedya, Hamka seharusnya minta maaf.

Namun, Hamka tidak meminta maaf. Selagi putranya Rusydi dan sekutu-sekutunya yang lain bangkit membela Hamka di Gema Islam dan tempat-tempat lain, Hamka justru tak banyak bicara, selain mengakui bahwa dia telah “sangat terpengaruh oleh Manfaluthi”. Tiga minggu kemudian dia mengeluarkan jawaban, dengan menyatakan, “saya pun tidaklah akan dihancurkan dengan menuduh saya.” Hamka menyebut pelbagai tuduhan itu “caci-maki, sampah”. Orang-orang yang percaya tuduhan itu, ujarnya, “hanyalah orang-orang yang telah memusuhi saya selama ini”. Sedangkan mengenai plagiarisme dan pelanggaran kesastraan terkait, biarkan panel cendekiawan dari Universitas Indonesia yang menyelidiki apakah bukunya merupakan hasil curian atau saduran atau asli.

Skandal seputar Tenggelamnya Kapal van der Wijck mengarah ke suatu diskusi publik yang serius mengenai apa sebenarnya plagiarisme dan apa bedanya dengan bentuk-bentuk peminjaman sastrawi lainnya seperti terjemahan, penyaduran, dan inspirasi. Kemiripan antara karya Manfaluthi dan Hamka sudah jelas. Bintang Timur menunjukkan enam belas kemiripan jalan cerita dalam “idea strip”. Dus, apakah itu berarti plagiarisme?

Baca juga:  Politik Sonder Humor yang Membunuh Nalar

buku - Beranggar Pena

Balon ditusuk jarum

Otoritas sastra tertinggi di Indonesia waktu itu adalah Hans Bagus (HB) Jassin. Majalah dan buku sastra Jassin mempromosikan penulisan sastra dengan penuh semangat. Bagi banyak sastrawan Indonesia, Jassin dianggap paling berwenang. Dia ditahbiskan sebagai “Paus” sastra Indonesia–walau di kalangan Lembaga Kebudayaan Rakjat (Lekra), julukan itu digunakan untuk mengejeknya. Jassin adalah dosen luar biasa di Universitas Indonesia dan ketua bagian sastra Indonesia modern di Lembaga Bahasa dan Budaya. Jassin secara pribadi adalah muslim taat, tapi dia juga percaya kebebasan berekspresi. Potret satire Hamka berjudul “Affam” justru aslinya muncul di salah satu majalah yang dikelola Jassin (Kisah, Agustus 1955). Untuk mendapat jawaban pernyataan kelindan buku terkenal Hamka, orang-orang beralih kepadanya.

Apakah Tenggelamnya Kapal van der Wijck merupakan hasil plagiat? “Tidak”, tegas H.B. Jassin.

Plagiarisme, Jassin mendedahkan, adalah salinan atau terjemahan suatu karya yang nyaris persis sama setiap katanya dan penulis aslinya tidak diakui; adaptasi adalah pengubahan satu karya asli ke latar zaman dan tempat berbeda dan mengubah nama tokoh-tokoh sehingga sesuai dengan latar baru, tetapi masih memakai tema, tokoh, dan jalan cerita karya asli.

Dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck, ujar Jassin, Hamka berbuat lebih daripada adaptasi. Memang benar, ‘ada kemiripan-kemiripan jalan cerita dan ada gagasan serta konsep yang menyerupai Magdalena”, tetapi Tenggelamnya Kapal van der Wijck mengandung ekspresi, pengalaman pribadi, permasalahan, dan pandangan dunia yang asli–khas Hamka.

Jassin menunjukkan bahwa banyak bagian dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck itu otobiografis, membahas luar dalam adat Minangkabau yang mewarnai kehidupan Hamka dan kehidupan banyak tokohnya. Jassin menekankan peran penting Islam di buku Hamka dan latar kisah itu di masyarakat Indonesia modern (latar cerita Hamka), serta kritik sosial modernis yang Hamka masukkan di dalamnya–gaya hidup kota sekuler yang merayu Hayati, misalnya.

Terakhir, Jassin menegaskan bahwa Zainuddin, Hayati, Aziz, dan tokoh-tokoh liyan dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck sepenuhnya Indonesia dalam hal cara bicara, pakaian, dan perasaan, sebagaimana buku itu secara keseluruhan. Tenggelamnya Kapal van der Wijck adalah “ciptaan [Hamka] sendiri’, simpul Jassin.

Penangkapan

Hamka jelas terluka karena dipermalukan secara publik, tetapi dia tidak terpancing. Hamka mengerti bahwa penyebab yang mendasari serangan itu adalah politik dan bersumber dari otoritasnya sebagai pemimpin muslim terkemuka. Tentu saja Hamka menafsirkan serangan terhadap reputasinya sendiri adalah taktik komunis Indonesia dan sekutunya dalam perang budaya yang makin gencar zaman itu. Pelbagai terbitan sayap kiri menunjuk Masjid al-Azhar sebagai pusat “neo-Masyumi” yang dipimpin Hamka. Pramoedya sendiri menyebut-nyebut pengaruh Hamka, tatkala dia menyatakan Hamka dibaca sekitar “tiga juta pengagum”.

Serangan tuduhan plagiat oleh Lekra membuat Hamka merasa malu, tetapi tampaknya tidak merusak otoritasnya sebagai pemimpin spiritual dan pembentuk wacana untuk muslim modernis Indonesia. Alih-alih, peredaran Gema Islam naik tiras menjadi tiga ribu eksemplar tiap nomor. Di antara orang-orang yang melancarkan intrik di sekeliling Presiden Soekarno, ada yang takut pengaruh publik Hamka. Titimangsa Januari 1964, mereka pun beraksi (Salam 1979: 155-9).

Baca juga:  Hiperrealitas Virtual

Menurut Hamka, pada Senin, 27 Januari 1964, kira-kira pukul 11 tengah hari, sepulang dia mengajar kaum ibu di Masjid Agung al Azhar, 4 orang polisi dari DEPAK (Departemen Angkatan Kepolisian) telah datang menangkapnya dengan membawa Surat Perintah Penahanan Sementara, dengan alasan “karena saya diduga melakukan kejahatan yang terkena oleh PenPres No. 11//1963”. (Penetapan Presiden itu memperbolehkan penangkapan orang-orang yang dicurigai atau dituduh makar).

Hari itu juga, Hamka ditempatkan di wisma polisi di kawasan perbukitan di Bogor, sekitar 115 kilometer di selatan Jakarta. Kolega Hamka, Jenderal Nasution selaku Menhankam tidak bisa berbuat apa-apa untuk membelanya. Hamka baru bisa menghirup udara bebas dua setengah tahun kemudian.

Hamka (1908-1981) tidak diadili. Dia memang tak pernah didakwa secara resmi. Hamka tatkala itu sudah berumur lima puluh enam tahun dan menderita banyak penyakit, termasuk diabetes dan wasir kronis. Sesudah dia dipindah-pindah di antara empat tempat di perbukitan Bogor, pada Agustus 1964, aparat memasukkan Hamka ke Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta Timur. Di sana, dia ditahan selama tujuh belas bulan berikutnya. Hamka terpasung dalam gulag tahun-tahun terakhir kekuasaan “presiden seumur hidup” Soekarno.

Arkian, selama masa penahanannya, Hamka giat menulis tafsir Alquran 30 Juzu’-nya (lihat Aljunied, 2018). Dia juga menghibur diri dengan cerita riwayat Ibnu Taimiyah (1263-1328), ahli fikih mazhab Hambali yang dibui bertahun-tahun di Damsyik di bawah kediktatoran Mamluk karena pandangan antipemerintahnya–sebagaimana Hamka katakan, “jiwanya tidak bisa dibeli”–dan jenazah Ibn Taimiyah diiringi dari penjara ke kuburan oleh banyak pengikutnya. []

coverhamka - Beranggar Pena

Sekadar Bacaan:

Aljunied, Khairudin. Hamka and Islam: Cosmopolitan Reform in the Malay World. Ithaca and London: Cornell University Press, 2018.

Anwar, Rosihan. “Hamka dan ‘Gema Islam’ dan Kumandang Dakwah”. Dalam Kenang-kenangan: 70 tahun Buya Hamka, disunting oleh Solichin Salam, 155-9. Jakarta: Yayasan Nurul Islam, 1977.

Dahlan, Muhidin M. Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia, 1962-1964. Yogyakarta: ScriPtaManent, 2011.

Hamka, Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Hamka, 1976.

Jassin, H.B. “Prakata”. Dalam Magdalena: Terdjemahan Madjdulin Mustafa Luthfi al-Manfaluthi, dialihbahasakan oleh A.S. Alatas, xi-xxii. Jakarta: Kirana, 1963.

Rush, James R. Hamka’s Great Story: A Master Writer’s Vision of Islam for Modern Indonesia. Madison, Wisconsin: The University of Wisconsin Press, 2016.

Salim, Hairus (H.S.). “Indonesian Muslims and Cultural Networks”. Dalam Heirs to World Culture: Being Indonesian, 1950-1965, disunting oleh Jennifer Lindsay & Maya HT Liem, 75-118. Leiden: KITLV, 2012.

Watson, C.W. “Religion, Nationalism, and the Individual in Modern Indonesian Autobiography: Hamka’s Kenang-kenangan Hidup”. Dalam Variation, Transformation, and Meaning: Studies on Indonesian Literatures in Honour of A. Teeuw, disunting oleh J.J. Ras & S.O. Robson, 106-129. Leiden: KITLV Press, 1991.

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi