Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

SYAHDAN, maka tampillah pemuda itu. Tangan kanannya memegang alat penggesek biola. Dan tangan kirinya mengepit biola. Ia berdiri tegak di antara tempat duduk para panitia Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia (KPI) II dengan tempat duduk para hadirin. Ratusan pasang mata menatap ke arahnya. Dia terlebih duhulu membungkukkan badan, memberi hormat kepada para panitia  KPI II dan kepada hadirin. biola berdawai

Kemudian Wage Rudolf Soepratman (1903-1938) mengalunkan irama lagu Indonesia dengan permainan biola yang merdu sekali. Gesekan biolanya diiringi oleh permainan piano nan cantik oleh Dolly, putri dari Pahlawan Nasional H. Agus Salim. Selama beberapa menit, semua orang takjub. Mereka terpukau oleh irama lagu Indonesia. Pasca WR. Soepratman mengakhiri permainan biolanya, serentak para hadirin memberi sambutan dengan tepuk tangan yang gemuruh. Sebagian malah ada yang berdiri sejenak untuk bertepuk tangan. Sebagiannya lagi ada yang meneriakkan puja-puji. Riuh penghormatan mengiringi hingga dia kembali ke tempat duduknya. Lagu ini kemudian direkam secara perdana oleh Tio Tek Hong.

Pada 1926, bangsa Indonesia masih dijajah oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Namun, angkatan muda kita pada masa itu, telah mempunyai cita-cita amat mulia. Yaitu, memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pemimpin angkatan muda, bersepaham untuk menggelar KPI I. Adapun tujuan KPI I ialah menggalang persatuan angkatan muda se-Indonesia. Bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kegiatan mereka tatkala mempersiapkan penyelenggaraan KPI I itu, sangat menarik perhatian WR. Soepratman selaku jurnalis. Ia bermaksud segera menghubungi mereka, untuk memperoleh bahan berita. Patut diketahui, bahwa WR. Soepratman pernah menjadi pemimpin redaksi Kaoem Kita (terbitan Bandung), dan mendirikan kantor berita Alphena bersama P. Harahap. Salahsatu tulisannya dalam buku Perawan Desa, berisi kecaman terhadap perilaku penjajah Belanda.

Soepratman tahu bahwa mereka seringkali berkumpul di gedung “Langen Siswa” (kini dinamakan museum Gedung Sumpah Pemuda) yang terletak di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta. Gedung itu, memang menjadi tempat pertemuan rutin para pemuda Indonesia. Juga menjadi tempat pemondokan pemuda yang masih sekolah. Gedung itu mempunyai ruangan untuk mengadakan pertemuan, atau mengadakan latihan dan pertunjukan kesenian. Ada pula ruangan-ruangan untuk belajar, membaca, dan bermain catur. Nah, di bagian belakang gedung itulah terdapat sebuah kamar yang sering dipergunakan oleh para tokoh angkatan muda tadi, untuk mengadakan pertemuan. Mereka sibuk memersiapkan penyelenggarakan KPI I.

Baca juga:  Rayap dan Para Pencuri Buku

Di kamar itu pulalah, WR. Soepratman bertemu dan berkenalan dengan mereka. Ia memperoleh banyak keterangan ihwal persiapan dan acara-acara kongres. Akan tetapi, mereka meminta agar keterangan-keterangan itu jangan diberitakan dulu. Sebab mereka sangat gundah, penyiaran berita perihal persiapan KPI I akan menggusarkan Pemerintah Kolonial Belanda. Ini dapat berakibat, Pemerintah Kolonial Belanda akan melarang penyelenggaraan kongres. WR. Soepratman dapat menerima alasan mereka. Oleh Muhammad Tabrani dan kawan-kawannya selaku panitia kongres, dia diberi keleluasaan untuk mengikuti kegiatan mereka.

Akhirnya, KPI I ternyata dapat diselenggarakan. Para pesertanya, terdiri atas para tokoh angkatan muda yang datang dari pelbagai daerah di Nusantara. Tentu saja ada perwira polisi Belanda dan kaki tangannya yang selalu hadir untuk melakukan pengawasan. Juga ada beberapa wartawan Indonesia yang meliput, termasuk WR. Supratman.

Dengan penuh perhatian, lulusan Normal School (sekolah guru) di Makassar ini mengikuti sidang-sidang KPI I. Dia terpukau oleh pidato-pidato Muhammad Tabrani, Sumarto, dan lainnya. Isi pidato mereka senada. Yakni, seruan untuk menggalang persatuan. Karena hanya dengan persatuan kokoh, perjuangan untuk mencapai kemerdekaan akan berhasil. Mereka semua yakin bahwa kelak, Indonesia pasti akan merdeka.
[su_box title=”Baca juga” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Membaca Lir – ilir
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
[/su_box] Rupanya WR. Soepratman sependapat dengan gagasan dan keyakinan mereka. Hal ihwal itu, menggerakkan hatinya untuk menciptakan sebuah lagu yang dapat diterima oleh bangsanya sebagai Lagu Kebangsaan Indonesia. Selain bekerja sebagai seorang kuli tinta, sebenarnya ia juga seorang seniman musik. Pemuda  kelahiran Jakarta pada 9 Maret 1903 ini sangat mahir bermain biola dan pandai mencipta lagu-lagu. Ia menciptakan beberapa lagu, seperti: R.A. Kartini, Bendera Kita, Di Timur Matahari, dan Bangunlah Kawan.

Sebagai seorang seniman musik yang berpengetahuan luas, dia juga tahu bahwa setiap bangsa yang merdeka, tentu mempunyai Lagu Kebangsaan. Oleh karena itu, peristiwa KPI I tersebut telah mengilhami dirinya untuk menciptakan Lagu Kebangsaan. Niatnya itu dituturkan kepada Muhammad Tabrani. Lagu ini kemudian ia gubah pada saat berada di Bandung dalam usia 21 tahun.

Namun, WR. Soepratman senyata mengurungkan niatnya. Dia baru memainkan lagu Indonesia itu pada Minggu, 28 Oktober 1928 saat hari kedua berlangsungnya KPI II di Jakarta. Kongres yang dilaksanakan selama dua hari ini kemudian kita kenang sebagai moment yang sangat bersejarah: Hari lahirnya Sumpah Pemuda.

Sebenarnya sebelum WR. Supratman mengumandangkan lagu “Indonesia” dalam sidang KPI II, lagu tersebut sudah sering diperdengarkan, dinyanyikan oleh para pandu Indonesia di Jakarta. Mereka memperoleh turunan asli lagu Indonesia dalam not balok dan not angka serta syair lagunya. Oleh para pandu (pramuka), turunan naskah asli lagu tersebut, diedarkan secara beranting. Hampir semua pandu Indonesia di Jakarta mempunyainya. Namun penyebarannya terbatas, hanya di kalangan kepanduan Indonesia.

Tak berapa lama setelah KPI II berakhir, para wartawan Indonesia menyiarkan naskah lagu Indonesia ke seluruh Nusantara. Dengan cara memuatnya dalam surat kabar dan majalah. Lebih-kurang seminggu pasca KPI II berlangsung, surat kabar di mana WR. Soepratman bekerja, memuat naskah lagu Indonesia dalam not balok, not angka, dan syair lagunya. Tak ketinggalan mingguan Suluh Rakjat Indonesia juga memuatnya. Disusul dengan pemuatan dalam pelbagai media cetak, baik yang terbit di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lain-lain. Melalui pelbagai media cetak itulah, lagu tersebut dengan cepat dikenal oleh masyarakat umum di seluruh penjuru tanah air.

Baca juga:  Pernik Konflik Jagat Wayang

Para pemimpin baik dari pergerakan kebangsaan, pergerakan pemuda, dan kepanduan serta tokoh-tokoh pendidikan serempak untuk menganjurkan agar lagu itu dipelajari untuk diperdengarkan dan disenandungkan. Dalam gedung-gedung pertemuan, sekolah-sekolah, di lapangan-lapangan terbuka, lagu Indonesia senantiasa dikumandangkan dengan semangat. Maka tidak mengherankan jika dalam waktu singkat, lagu itu menjadi lagu yang paling populer dan paling sering dinyanyikan bersama-sama.

Lagu Indonesia menjadi lagu kesayangan sebagian terbesar bangsa Indonesia pada masa itu, karena isi syair lagunya menyentuh hati nurani yang mampu menggelorakan semangat persatuan dan rasa kebangsaan. Lambat laun, timbullah gagasan dari sang penciptanya untuk merubah judul lagu Indonesia menjadi Indonesia Raya, tanpa merubah isi syair lagu tersebut. Dalam tahun 1929, suatu pergerakan kebangsaan, mengumumkan bahwa Indonesia Raya diakui sebagai Lagu Kebangsaan Indonesia. Pengakuan itu, membuat WR. Soepratman sangat terharu. Maka ia segera menerbitkan sendiri naskah lagu Indonesia Raya.

Arkian, Berkat jasa-jasanya, dia diberi gelar Pahlawan Nasonal dan tanda kehormatan Bintang Mahaputera oleh Pemerintah Republik Indonesia. WR. Soepratman menghebuskan nafas terakhirnya pada 17 Agustus 1938 di Surabaya. Pengabdian dan jasanya harus tetap kita hargai dan teladani untuk sepanjang masa. []

wrsoepratman - Biola Berdawai

Wage Rudolf Soepratman, Biola Berdawai

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi