Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Arsip tulisan Pramoedya Ananta Toer pada Majalah Gadjah Mada Th. 1V Oktober 1953 No. 7

BELANDA MEMANG BUKAN EROPAH ATAU SEBALIKNJA. Tapi Belanda adalah sebagian dari Eropah dgn kebudajaannja. Djuga dari negeri seketjil ini orang dapat meraba Eropah. Dari
titiklontjatan ini pikiran ini bermula.

Djarak antara Djakarta – Banjuwangi adalah djarak antara Amsterdam – Roma. Antara Banjuwangi – Djakarta hania meluas satu daratan ketiil dari Indonesia dgn, penduduk dari satu bangsa, bangsa Indonesia. Sedangkan antara Amsterdam – Roma berderet perbatasan negara dan bangsa: Belanda, Belgia, Perantis, Swis dan Italia. Diri djadi jakin akan kebesaran tanah air dalam pengertian geografis. Dan Belanda jg sebegini ketjil ini, dengan kegiatan warga negaranja telah dapat menduduki tanah air jang begitu luas. Tapi sesuai dengan kata2 Chiang Kai Shek memanglah tidak ada bangsa didunia ini bisa didiadjah sonder  pertolongan bangsa itu sendiri.

Kini kebesarran Eropah dlm luasnja daerah pendjadjahan politik telah ambruk bersama dengan runtuhnja nazi dan fascisme jang melambangkan semangat pendjadjahan jang  extreem. Eropah telah banjak mengalami kegontjangan, perlombaan ketjerdasan untuk ikut dalam perebutan kemenangan mutlak. Kini daerah jang gilang – gemilang dalam  sediarah dunia ini terhantar tiada bertenaga: lemah, tjapai, katjau djiwa, kekurangan darah — tinggal seorang nenek bersendeku kedinginan, dengan banjak petuah dalam  hatinja, dan dengan existensialisme dalam kepalanja (filsafat tiapdjiki menurut Nadir di madjalah Mimbar IndoneSia).

Demokrasi jang diteriakkan setiap waktu melalui berbagai alat,kini mendjadi momok jang mau menerkam diri sendiri. Sembojan revolusi Perantjis Kemerdekaan, Persamaan dan Persaudaraan jang mengilhami berbagai bangsa dlm membentuk negara dan mendasarkan politiknya, kini mentjekik batang  leher Perantjis sendiri.

Pahlawan dalam sedjarah dunia ini terpaksa membuka genggaman tangannya dan di seberang lautan sana bangun bangsa2 baru, muda, penuh kegiatan sekalipun tidak djarang ditunggangi oleh kebodohan jang bersarang dalam kepalanja, peneuh kemauan dan menjimpan banjak tenaga didalam dirinya.

Perkembangan sedjarah telah membuat Eropah kena kutuk tjita-sendiri. Daratan telah sesak, manusia dan mesin berebutan tempat, dan badan2 sosial hanja menandakan ‘kelumpuhan orang untuk bisa memperoleh djalan keluar. Tiap tahun puluhan ribu djiwa tervaksa melarikan diri mentjari tanah air baru, mentiari hari depar baru, keberuntungan baru dan kemungkinan baru bagi anak tjutju kelak. Segala-galania di Eropah telah ada djawabannja, segalagalanja telah tersedia kotak dimana vemilihan jang meminta tenaga pikiran tidak diperlukan lagi. Semua telah terdierat dalam sistim — dan isme, dan jang tiada suka terpaksa hidup bergelandangan dgn tjita2 besar  jamg kerdil isinja: kebebasan seratus prosen (biasanja sambil mengemis untuk tinggal hidup) dan melemparkan ‘kutukan pada kaum bordiuis, dan biasanja pula mereka ini menanamkan diri. Tambah lanja kaum existensialisma Eropa tambah tua terus menerus  dikurung bahaja karena isme2 jang dibuatnja sendiri, hampir2 dilupakan orang.  Kebesaran dan kedjajaannja pindah kebenua2 lain. Tapi Eropa dengan ke-nenek-annja masih terus bergajutan pada kenang-kenangannja: kebesaran di masa lalu. Mereka tetan berbangga hati dalam ketuaannja, pada pada sepotong sedjarah jang kini hanja tersimpan dibuku sedjarah anak sekolah diruang2an museum.

Baca juga:  Pram

Semangat nenek Eropa kadang djuga bertemu dengan semangat belia Indonesia. Dan Indonesia jang selalu membuka tangan dan hatinja peda tiap tamu jang datang tidak djarang menerima sinenek untuk mendijadi beban didalam keluarganja. Achirnja terdjadi kekatiauan, dan orang kehilangan tempat berpidjak darimana ia harus memulai berpikir kembali dan kemana ia harus kembali pulang. Tapi ini tijuma sesuatu golongan tertentu dari kelompok jg terdjadi untuk segera hilang atau sudah hilang, karena masalah Indonesia dewasa ini bukanlah masalah dunia Eropa. Masalah Indonesia adalah masalah kini dan haridepan sedangkan masalah Eropa adalah masalah jang lalu, sudah kedjadian, sudah mendjadi sebagian dari sedjarah.

Tetapi kebeliaan Indonesia masih memberi kemungkinan dan daerah luas dan baniak. Semangatnja menggelora mengis: udara seluruh kepulauan Indonesia. Dengan ini pula berbagai tokoh dan golongan mempergunakannja dim berbagai kreasi, baik gagal maupun tidak. Dan tidak djarang sinenek dari Eropa ditempatkan dipodjok tjuma untuk mendijadi bahan pengetahuan belaka. atau untuk mendjadi bahan perbandingan buat djalanan hidup jang kini sedang ditempuh. Achir2nja tiap bangsa jang baru dilahirkan dirahmati semangat belianja sendiri, sebagaimana djuga Eropa dan lain-lainnia dahulu. Apa kah bangsa baru ini mendirikan sesuatu untuk kemudian merubuhi dirinja sendiri sekarang bukan masalah untuk didjawab. Apakah semangat belia ini akan terus dihamburkan sebgaimana halnja dengan sekarang dengan tiadanya penghematan barang sedikit dengan hasil kreasi jang tiada begitu banyak, adalah merupakan misteri dari tiap sedjarah dalam pembentukan. Bukanlah tidak mengherankan apabila penjair Rivai Apin menjebutnja dengan pembuatan mythe baru. Dipandang dari sini krisis2an jang tergelintjir dibibir tidak lain dari pada tingkah kanak2 dalam melatih ototnja belaka. Misteri ini selalu ada didepan hari ini, satu depa didenan langkah, terus madju selama orang berdjalan. Dan myhe apakah jang akan dibuat dgn semangat dan tenaga belia ini tidak nula mengherankan, sekalipun dengan tjara lain, apabila kelak prinsip2 dari perdjuangan itu achirnja akan berdjuang. sendirian melawan jang membuatnija.

Baca juga:  Bumi Manusia

Apabila tenaga tidak lagi memenuhi kebutuhan lagi untuk dipergunakan mentjapai tiita jg paling dekat, apabila ingatan hanja terikat pada kegemilangan masa lalu, —maka semangat belia ini dengan tiada terasa telah melalui kedewasaannja jang tidak produktif, mendjadi tua, dan padam. Dan bitjara tentang tua, adalah bitjara tentang adanja kalahiran baru ditempat lain — kelahiran jang membawa misteri baru dengan pembuatan mythe baru pula. Bukankah ketuaan berarti keadaan dimasa produsen kekuasaan telah runtuh, dan runtuhnia kekuasaan itu menimbulkan kekuasaan2 baru dlm tubuh2 lain ?

Kebesaran jang terpungut dlm hidup seseorang nenek besok atau lusa telah mendiadi barang umum bagi anak sekolah atau penduduk digunung2 dengan tiada perlu mengurbankan seluruh umur untuk memperolehnja. Berapakah banjak perdjuangan sia2 terlantiarkan dari semangat belia. Bahkan tidak djarang semangat ini demikian dinamis mentiekik batang lehernja sendiri, seperti seekor ular jang menelan buntutnja sendiri. Tjakil dalam tjerita wajang bukanlah lambang dari semangat belia jang lumpuh krena berlaga dgn kekuatannja belaka sonder memperoleh kreasi apa2, Tiap kali djatuh dan mati, timbul kembali dalam tenaga jang sekuat itu djuga dalam penjerbuan pada sesuatu maksud jg kadang2 tidak berguna untuk siapapun djuga. Tapi inilah semangat belia, semangat bergerak, semamgat meraba dan merasai.

Kemudian apabila umur telah tertjetjeran disepandjang djalan, tiada lagi, jang bisa iperbaiki dan dilaksanakan selain duduk bermalas di kursi gojang, berhadap2-an dengan masa lampau dan masa datang jang dekat, jaitu kematiannja sendiri, sadarlah orang: demikian banjak sudah jang disia-siakan tapi kesedaran itu hanja baik bagi jg mendengarkan, sedang iang sadar ini besok sudah diantarkan keliang kubur.

Apakah harus dimaafkan kegiatan semangat belia jang kini kadang2 merupakan pengerusakan dan penelanan lahap dari kekajaan jang seharusnia dipergunakan sebaik-baiknja,  merupakan misteri pula. Achir2nia manusia sendiri adalah misteri — djuga bagi dirinja sendiri. Dan kebutaan orang akan akibat dihari depan kelak, adalah romantik hidup — demikian penuh rampai, demikian mengajunkan, demikian menggairahkan dan menggiurkan. Dan bitjara tentang semangat belia hampir selamanja dapat dikatakan bitjara tentang apa jang hendak ditjapai dan bukanlah apa jang akan diperbuat. Sedangkan jang terachir inilah sesungguhnja bakal memerlukan creativiteit ,ketegasan sikap, dan – bukan silang siur dari angan2 abstrak dan penuh kebesaran hampa.

Baca juga:  Seperempat Manusia dan Monyet Ingusan

Bangsa2 Eropah kini merupakan sedjadjaran ikan sardentiis dengan benuanja sebagai kalengnja, dan sekalipun dibumbui setiara kimiah jang paling bersih dan awet sekalipun tidaklah bisa mendiadi teladan dalam segala hal bagi bangsa Indonesia dalam kebeliaannia kini jang tiada beda dengan ikan jang hidup dalam kolam berlumpur. Indonesia masih punja kesempatan untuk banjak tingkah. Memang enak kedengarannja dengan sikap besar mengandiurkan membuat pekerdjaan raksasa. Tetapi bukankah sangat menguntungkan (apabila ada pengetahuan untuk apa pekerdjaan raksasa dan apa jang sesunghuhnja bisa dan jang dapat diperbuat.Ah, pengetahuan adalah tanda2 kedewasaan. Sonder melalui ini baji jang baru dilahirkan ini tiba-tiba akan mendiadi nenek pula.

Pada suatu kali orang bisa tertegun pada adanja kemungkinan adakah orang bisa mabok dalam keriaannja dengan semangat belia dan bergirang dengan tenaganja jg penuh, jang mana telah menjebabkan sebagian besar dari bangsa2 diatas bumi ini kini hanja dapat kelap-kelip memandang dunia dari podjoknja jang gelap! masalah Indonesia dalam Kebeliaannja dewasa ini. Dan djawabad ie, jang ditunggu hanja akan datang pada golongan bangsa itu jang kini berhak menamai dirinia pemuda. Tapi, sesungguhnja, bukan sadja matjan mungkin mendapat nama karena belangnja,.djuga mung kin sekali dia terbunuh karena belangnja sendiri, dan gadiah karena gadingnja. Dan pemuda karena semangat belia dan tenagania jang penuh. Kadanig2 begitu enak mempergunakan perbandingan jg tepat asal sadja tiada terlupakan bahwa setepat- tepatnja perbandingan hanja mengena’ sesuatu maksud tertentu.

Achir2nja kediatuhan dan kenaikan adalah dibuat oleh diri sendiri. Baik di Eropah maupun di Indonesia kelak Dan antara keduanja tidak pernah ada tawar menawar, sekalipun dalam kebimbangannja tidak djarang sesuatu bangsa sesungguhnija telah djatuh sebagai korban pertama dan terachir.[]

pramicon - Bitjara tentang Semangat Belia (Jeugd)

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi