Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Sebagai anak kecil, tentu saja Bowo kurang memahami orang tua. Bowo diberi tahu bahwa orang tua itu baik, benar dan harus diteladani. Bowo kecil mendengarkan itu di rumah, sekolah dan masjid.

Di jalan sempit. Surya sedang jaya. Anak-anak kecil menguasai jalanan. Bowo melihat seorang perempuan tua memakai kerudung kuning, duduk di pinggir jalan, asyik dengan dunianya.

“Heh ada orang gila”

“Hush, jangan keras-keras nanti perempuan gila itu dengar”

Begitulah kawanan anak kecil berbisik-bisik ketakutan. Bowo diam, takut tapi juga melihat perempuan yang tatapanya terus ke bawah, mulutnya berkecumik.

Gerombolan anak-anak pulang dari sekolah, semula berjalan tenang tapi tak bisa menyembunyikan ketakutan. Ketika posisi mereka segaris jalan dengan perempuan itu, entah siapa yang memulai, mereka berlarian secepatnya.

-*-

Setiap hari Bowo ketemu perempuan tua gila. Tiap hari bersama kawan-kawan selalu berbisik-bisik, takut juga tertarik. Tiap hari mereka lari menghindarinya. Padahal perempuan itu tak pernah mengejar mereka. Bowo tahu perempuan tak pernah melihatnya dan kawannya.

Dari kawannya, Bowo mendapatkan cerita perempuan itu gila gara-gara bercerai dengan suaminya. Suami perempuan itu juga gila. Bedanya, kalau suaminya gila dengan sering berjalan. Perempuan ini gilanya dengan duduk terpekur.

Selepas magrib, burung hantu mulai bekerja, Bowo bercerita pada orang tuanya.

“Mak, aku tiap hari ketemu orang gila mak, perempuan, usianya sebaya emak”

Emaknya diam beberapa saat.

“Dia mengganggumu?”

“Tidak mak”

“Kamu mengganggunya?”

“Tidak mak”

“Ya sudah”

Pendek jawaban Emaknya.

“Perempuan berkerudung kuning itu benar orang gila, mak?”

Emaknya Bowo diam sesaat. Belum menjawab. Emaknya malah meneruskan menjahit, menambal sarung lakinya yang berlobang karena rokok kretek.

“Sudahlah nak, yang penting orang itu tidak mengganggu dirimu, kamu tidak mengganggu orang itu, sudah cukup. Yang penting kamu sekolah, tugasmu belajar. Jangan kau pikirkan tentang orang itu gila atau tidak.”

Emaknya tidak menjawab pertanyaan. Bowo tidak berani bertanya pada bapak.

-*-

Sore hari sebelum surya tidur, di sebuah gang rumah penduduk desa, ayam jantan masih merayu ayam betina dengan suaranya, sementara di Masjid, Bowo dan kawan-kawannya mengaji. Sewaktu ngaji sudah selesai mereka menunggu adzan ‘asyar, kawan Bowo, Romi, bertanya pada guru ngaji mereka yang masih muda bernama Kuslan.

Baca juga:  Politik Sonder Humor yang Membunuh Nalar

“Pak, pak”

“Apa Romi?”

Bowo dan beberapa kawannya mendengarkan sambil bermain pesawat terbang dari kertas.

“Perempuan yang sering duduk di pinggir jalan itu namanya siapa sih pak?

“Munawaroh, kenapa?”

“Kenapa dia terus duduk di situ tiap hari, dia gila ya pak?”

“Hush, jangan bicara jelek padanya, dia sedang dzikir.”

Hanya itu yang dijawab. Pak guru ngaji segera mengajak mereka wudhu, karena sudah puji-pujian, imam sholat sudah datang. Sebenarnya Bowo mau bertanya, kalau berdzikir mengapa di pinggir jalan, kenapa tidak di masjid, selepas sholat.

-*-

Barangkali rembulan tak bisa ngomong, namun rembulan tahu Bowo memang anak kecil. Barangkali, sebagaian anak kecil yang suka mencari-cari tahu dengan berteriak-teriak, bersembunyi-bunyi atau berlari-lari, sementara anak perempuan sambil pasaran, bernyanyi–nyanyi atau menari-nari. Rasa ingin tahu itu kenyal.

Bowo tidak sering bertanya, tidak sembarang orang yang ditanya, dalam mencari tahu. Namun ketika ada berita atau cerita tentang perempuan itu Bowo mendengarkan dengan seksama.

Memang dari orang tuanya Bowo tidak mendapatkan cerita. Namun tanpa disengaja Bowo mendapatkan cerita justru ketika tidak bertanya.

-*-

Saat rembulan bersinar indah, Bowo lupa malam. Karena habis magrib Bowo makan kekenyangan. Siang sampai sore, Bowo bermain sepak bola dengan sepuasnya, karena hari itu kamis legi ada pengajian khusus orang tua, orang-orang toriqoh, jadi ngajinya libur. Karena kecapekan dan kekenyangan makan, Bowo tidur sebelum isya’.

Burung hantu bersuluk ria di pohon cengkeh, remang dan bijaknya menyikapi malam. Dini hari sekitar jam tiga lebih, Bowo terbangun karena mendengar suara dari kamar orang tuanya. Orang tua sering menyangka anak-anaknya tidur dikala malam. Ibu dan ayahnya bicara. Bowo tak sengaja jadi pendengar.

Baca juga:  Kuli Kontrak

“Pak, anakmu Bowo pernah tanya tentang mbakyu Muna, Munawaroh”

“Pasti tanya apakah mbakyu Muna itu gila, terus kamu jawab apa bu?”

“Iya pak anakmu tanya itu…aku tidak menjawab. Aku tidak tega menceritakan kesedihan mbakyu Muna. Untuk apa anak sekecil itu tahu.”

“Yah, memang kasihan nasib mbakyu Muna….”

“Bagaimanapun mbakyu Muna sekarang, mbakyu itu yang mengajari aku ngaji, ah, mengapa mbakyu sampai copot hatinya hanya masalah keluarganya”

“Memang tragis kisah mbakyu Muna. Begitu pula tragis nasib kang Ahmad, suaminya, kang Mamad juga gila sekarang. Mereka sama-sama gila. Meski kang Mamad gila sekarang, kang Mamad itu juga yang ngajari aku ngaji, aku juga heran mengapa kang Mamad sampai bisa linglung setelah bercerai dengan mbakyu Muna.”

“Semua itu masalah ekonomi dan keluarga, coba kalau mereka sabar, tentunya nasib mereka tidak akan seperti itu.”

“Ya kita tidak boleh berkata demikian bu. Nasib orang di dunia hanya Allah yang tahu. Sudahlah, sebaiknya berprasangka baik pada Allah bu.”

“Ya pak. Ah, yang paling ku ingat terus, mbakyu Muna dan kang Mamad itu ikut berperan mempertemukan kita berdua pak.”

“Sudahlah bu. Kita berdoa saja untuk kebaikan, keselamatan mbakyu Muna dan kang Mamad. Sudahlah. Sudah masuk subuh bu.”

Cerita berhenti ketika orang tuanya mandi menjelang subuh. Setelah mereka mandi, Bowo bangun untuk kencing, yang tertahan oleh rasa pekewuhnya karena tak sengaja mendengar bicara mereka. Ketika di kamar mandi, Bowo menyadari mengapa orang tuanya tidak terbuka soal perempuan tua gila itu.

Pandangan dan sikapnya Bowo terhadap perempuan tua gila itu berubah. Bowo tidak jijik dan takut padanya.

-*-

Setelah mendapat pengetahuan tak sengaja, tiap pulang sekolah, kawan-kawannya lari, Bowo tidak. Kawan-kawannya keheranan. Bowo terpengaruh dan meniru orang tuanya. Bowo kasihan padanya. Baginya perempuan berkerudung kuning itu orang baik, suka berdzikir. Bowo kasihan padanya, orang yang kerjanya dzikir, tak pernah terlihat makan, dicap gila.

Rasa kasihan akhirnya memuncak. Perempuan itu sebagai orang tua sedang mengalami kisah hidup yang tragis, tidak punya teman, kehujanan, kepanasan, tidak pernah makan. Bowo ingin sekali membantunya.

Baca juga:  Potret Kerja Perempuan Pesisir

Di hari Rabu pon lain, surya beri kesejukan, Bowo mewujudkan bentuk kasihnya. Ketika kawan-kawannya lari, Bowo justru mendekatinya. Setelah dekat denganya, perempuan itu masih terpekur, masih berkerudung kuning, mulutnya masih berkecumik, Bowo mengambil mantel plastik murahan dari tas sekolahnya. Mantel plastik murahan itu diberikan pada orang gila seraya berucap;

“Bu Muna, mantel, ini mantel”.

Perempuan itu berhenti berkecumik, berhenti terpekur, berhenti menatap ke tanah. Dia memandang Bowo dengan mantel plastik murahan. Senyum rekah. Rona sumringah. Teduh sorot matanya. Berdiri dan didekapnya Bowo. Beberapa saat. Bu Muna mengambil sesuatu di sakunya.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

“Ini nak, coklat. Semoga jadi anak yang baik.” Bowo menolak. Tapi bu Muna memaksanya.

“Kau cita-citanya apa nak”. Bowo diam.

“Mau jadi tentara? Apa? Kalau jadi tentara, yang baik ya nak, jangan suka marah-marah pada yang lemah, jangan suka mbedil-bedil pada orang kecil, ya nak”. Bowo mengangguk.

“Ya sudah, sana berangkat sekolah”. Bowo menerima sebuah coklat. Hatinya girang menuju sekolah.

-*-

Beranjak siang, pelan surya tertutup gumpalan-gumpalan mendung. Kemudian hujan turun. Pak tani segera memakai mantel plastik murahannya. Sementara bu tani kebingungan mencari-cari mantel plastik murahannya. “Pak, mantel plastikku ketinggalan, pulang atau berteduh dulu pak?”.

Hanya sesaat Bowo girang. Sepertinya ada seseorang yang mengetahui Bowo bicara, beri diberi, dipeluk menerima peluk dengan perempuan tua gila. Dan lidah orang sepanjang jalanan. Sampailah di sekolah, kawan-kawanya dengan meriah mengejeknya, pacaran dengan orang gila. Sampai di rumah, jengkel bukan main orang tuanya, jewer, cubit, berkata sekasarnya, bodoh tidak ketulungan.

Semenjak itulah Bowo yang nama lengkapnya Wibowo, dapat nama tambahan, Bowo Gila.[] Temanggung, Agustus 2016

wayang - Bowo Dipeluk Orang Gila

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi