Budaya Populer Pemilu

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Dari Banalitas Politik ke Kematian Tanda

Dalam sebuah debat calon anggota legislatif yang diselenggarakan salah satu stasiun swasta, terlontar pertanyaan apa fungsi dan tugas anggota DPR yang terhormat. Sekenanya sang calon anggota legislatif dengan mecontek lontaran para pendukungnya mengatakan dengan singkat: regulasi. Karena hanyalah lontaran liar yang diulang, maka yang tercutat dari mulut sang anggota caleg begitu tidak karuan mencampuradukan, memaknai regulasi tidak lebih dari administrasi. Inilah politik asal-asalan tidak karuan, yang penting mereka mau mendaftar, menyetor uang, asal orang terkenal tidak peduli copet, preman, pengguna ijasah palsu, koruptor, bahkan kriminal dan sebagainya. Jadilah maka jadi, kebanalan politik itu.

Tidak bisa dipungkri, kebebasan berekpresi ditopangi budaya pop dan bebasnya dari represi a la Orde Baru plus libido kekuasaan dan ekonomi yang overdosis menjadikan ajang pemilihan umum seolah tidak lebih dari sebuah kontes bintang atau ruang kasino dimana keberuntungan dan nasib dipertaruhkan. Tak urung dari pengamen jalanan, satpam, penggaguran, anak pengusaha, asongan, keluarga orang terkenal, hingga selebritis dengan cara dan alat ketenaran mereka masing-masing asyik masuk dalam bursa pencalonan legislatif dan senator. Pemilu pun sebagai prosesi demokrasi prosedural, ditengah jaman ledakan informasi seperti telah menjadi peristiwa budaya populer. Dimana politik, lewat pemilu, dengan caranya sendiri, telah menjadi institusi populer yang banal, tidak lebih sebagai tontonan, penuh bujuk rayu dan merujuk pada dirinya sendiri.

Masih kental diingatan kita pada pemilu tahun 2004 dan 2009, mendadak para kompetitor pemilu (baca: caleg, capres, dan calon senator) tiba-tiba pandai menyanyi, membaca puisi bahkan membuat album untuk ‘dekat’ dengan rakyat. Hingga tidak heran ketika Susilo Bambang Yudhoyono dengan fasih melantukan “Pelangi di Matamu”dan Jenderal Wiranto yang saat mencolonkan diri menjadi presiden tampil dan bernyanyi di final di sebuah ajang pencarian bakat bernyanyi yang begitu populer dan menyedot jutaan pemirsa pada waktu itu. Lebih jauh mereka mendadak mengunakan insignia agama seperti jilbab, peci, merenteng gelar haji atau akademik, mengklaim dekat dengan tokoh besar, mengklaim mendapat bisikan gaib, menziarahi makam keramat, mengatakan bahwa dia adalah keturunan raja, menunjukan dia adalah bapak dari artis, menunjukan bahwa dia adalah sutaradara film terkenal dan bahkan dia adalah artis itu sendiri.

Baca juga:  Djemilah

Dan lihatlah poster-poster pemilu yang dijadikan wahana politik memperkenalkan diri atau membujukan tawaran politik mereka kepada para calon pemilih alias rakyat. Dari yang lucu, tidak masuk akal, karikatural hingga konyol menyebutkan dirinya adalah bapak atau keluarga selebritris negeri ini. Ambil saja poster Damin Sada, caleg DPR PPP dari Jawa Barat yang tampil dengan kata provokatif Damin Itu Indah (baca damai itu indah), dimana Bang Damin, dalam poster itu, seolah-olah telah menengahi dan mendaminkan (baca damaikan) perseteruan kesumat antara Bang Obama dengan Bang Osama. Lihat pula caleg nomor urut tujuh PAN dari Banten yang sedemikian rupa mengidentikan diri melali dandanan, gaya dsb dengan agen 007 James Bond dalam cerita fiksi yang terkenal dalam layar perak.

Tidak jauh dari karibnya di Jawa, Reflyn Lamusu, calon anggota legislatif di DPRD Gorontalo, tak segan mengusung nama dan popularitas sang anak Cynthia Lamusu yang terkenal sebagai istri aktor terkenal dan juga seorang penyanyi perempuan papan atas. Refyn Lamusu, dalam strategi visual posternya, mengumbar foto Cynthia Lamusu dan caption papanya “Cynthia Lamusu”. Begitu pula Haji Prya Ramadhani, ayah dari pesinetron muda Nia Ramadhani, selain mengusung janji meningkatkan ekonomi rakyat, Prya tak segan mengguratkan dukungan sang anak dalam posternya. “Mohon doa restu buat bapak saya, untuk jadi wakil anda di DPRD DKI,” ungkap Nia, seperti halnya Cynthia yang fotonya juga ada dalam poster, dalam poster kampaye itu.

Baca juga:  Raja atas Diri Sendiri

Bak para tokoh superhero dalam film-film Amerika atau fiksi Jepang, yang menjadi orang terpilih, gaul, tanpa cela, sempurna, kuat, jantan, pemberantas korupsi, pemberantas kemiskinan dan seolah-olah hanya dia yang bisa menyelamatkan dunia, para calon anggota legislatif dan senat ini pun berjanji dan mevisualkan diri dalam poster. Sebutlah nama Sabarudin, caleg Partai Indonesia sejahtera untuk daaerah pemilihan Balikpapan Timur. Sabarudin tidak segan berdandan ala superhero Superman ciptaan Marvell Comics yang tersenyum malu-malu dan berlatar kota yang sedang berkembang dengan gedung bertingkat. Ada pula Haji Egy Massadiah dari Partai Golkar yang menjadi caleg DPR RI daerah pemilihan II Jakarta Selata dan Luar Negeri. Dengan percaya diri dan penuh keperkasaan, Egy secara visual mendeskrispsikan diri sebagai ‘Superman’. Dan David Beckham, Barrack Obama atau juga Naruto pun menyeruak dalam banyak poster caleg. Mereka telah menjadi bagian bricolage tanda atau pencitraan dalam pemilu.

Tak pelak, dunia kampaye adalah dunia budaya populer, tontonan dan pertujukan yang syarat dengan hinggar binggar musik, goyang pantat, citra visual, artis, selebriis, pelawak dan sebagainya. Dimana mobilisasi massa, yang tentu potensial sebagai penghasil suara, adalah segala-galanya. Memang secara historis, dunia kampanye atau dunia politik telah lama berkolaborasi dengan pernik budaya populer bahkan para selebirtis untuk mendulang suara, pengumpul dana, penguat daya tarik media, mempengaruhi atau merubah kebijakan. Menguatnya budaya populer lewat televisi, radion, internet dan media lainnya, telah mendemokratisasikan ketenaran. Ketenaran bukan milik siapa-siapa, tapi milik mereka yang ada, terlibat atau dilibatkan dalam pernik-pernik mesin budaya populer itu.

Baca juga:  Hegemoni

Memang menggunakan pernik budaya populer seperti poster, musik, selebritis untuk kampanye memang kreatif, mendekatkan dengan pengalaman visual atau populer masyarakat namun juga menunjukan bahwa betapa berjaraknya mereka dengan masyarakat atau konstituen yang diklaim diwakilinya. Hingga mereka harus tampil beda, menjadi sebuah komoditas yang menggambarkan sesuatu yang diingini, ideal dan utopis.

Dus dunia politik kini tak ubahnya arak-arakan citra, tontonan, penanda palsu yang artinya ideologis, berjarak dan merujuk pada dirinya sendiri. Dimana kampanye, sebagai komponen penting politik dan demokrasi prosedural, lewat dunia citranya telah menjadi situs perebutan makna dan konstruksi atas sesuatu yang ideal, perbaikan nasib, glamor, kebaikan, kemakmuran, kesalehan, keadilan dan menjanjikan kehidupan yang seharusnya. Namun sayang semua itu hanya komoditas politik yang banal dan tak bermakna apa-apa selain pada dirinya.

Ditulis untuk Pendar Pena edisi April 2009

Inilah budaya populer pemilu, dimana pemilu tidak lebih dari institusi budaya populer yang selalu diproduksi, diperebutkan oleh kelas penguasa untuk stabilitas dan kelanggengkan kekuasaannya, hingga tidak begitu jelas dibedakan antara citra dan realitas, pura-pura, kepalsuan dan kenyataan. Inilah kematian tanda[].

Budaya Populer Pemilu

poppemilu - Budaya Populer Pemilu

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi