Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang karya Syekh Imam Tabbri

Sudah menjadi rahasia umum bahwa zaman yang sedang menuju milenium kedua ini memperlihatkan berbagai perubahan yang signifikan, khususnya di bidang teknologi dan industri. Perubahan tersebut juga disinyalir kuat sebagai salah satu faktor dari perubahan sosial masyarakat dunia, terlebih masyarakat kita yang masih gamang antara memilih lekat dengan tradisi, atau meninggalkannya untuk menapak jauh ke depan menuju perubahan dunia.

Kegamangan tersebut menjadi sebab dari kehidupan kita yang secara sekilas nampak rancu. Arus modernisasi yang sudah menuju pasca kebenaran ini seakan diikuti tanpa kendali penuh atau filterisasi dalam diri bangsa kita. Padahal bangsa ini sebenarnya mampu untuk melakukan itu melalui tradisi yang telah beratus tahun hidup cemerlang di alamnya sendiri. Menapak modernitas tidak harus meninggalkan tradisi tersebut.

Komunikasi antara tradisi dan arus modernitas yang meluncur seketika dari barat harus kita lakukan. Terlebih bangsa ini telah jauh berhasil di era-era sebelumnya dalam melakukan komunikasi antar kebudayaan, sehingga terjadi sinergitas dan pendorong bagi kemajuan bangsa kita sendiri. Untuk ini yang muncul dari komunikasi itu adalah orisinalitas kebudayaan yang telah sintetis dari berbagai kebudayaan yang ada sebelumnya.

“….vooral waar het hier gaat de Westerse en de Oosterse geest tot elkaar to brengen, deze beide tot een harmonische samenwerking te doen overgaan zonder de laatste haar karakter doen verliezen…”

Kalimat di atas adalah petikan dari pidato Hamenku Buwono IX (1940) pada saat di nobatkan sebagai Raja Yogyakarta, yang artinya “…..terebih-lebih karena ini menyangkut mempertemukan jiwa Barat dan Timur agar dapat bekerja sama dengan harmonis, tanpa yang Timur harus kehilangan kepribadiannya”. Melalui hal ini kemudian muncul istilah “jowo digowo, barat diruwat, arab digarap”

Ungkapan terakhir tersebut kontekstual karena komunikasi kebudayaan di Nusantara masa lalu, bahkan terjadi antara berbagai kebudayaan. Khususnya Jawa (pada masa sebelum Islam berarti yang telah sintesis antara hindhu, budha dan kepercayaan yang telah ada di dalamnya) dan Islam (ketika era Kerajaan Islam Demak mulai berdiri).

Baca juga:  Belajar dari Venezuela dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Selanjutnya, tugas berat seperti yang dikatakan Hamengku Buwono IX (1940) adalah melakukan pertemuan dan kawin antara Jawa (yang telah sintesis antara Islam, hindhu, budha dan kepercayaan-kepercayaan sebelumnya) dengan Barat. Hal ini adalah tugas yang belum selesai sejak dari pertama kali kolonialisme masuk ke tanah bangsa kita, sampai saat ini, bahkan setelah Hamengku Buwono IX tiada.

Kemudian, berkaitan dengan tradisi sebagai kendali, akhirnya juga kontekstual dengan pidato Hamengku Buwono IX tersebut. Menurut pemahaman awam penulis tentu tidak mungkin tidak hal ini juga telah dibaca oleh para Raja dan para intelektual sebelumnya. Tidak jauh beda tentunya dengan Syekh Imam Tabbri. Pujangga keraton tersebut merupakan bagian dari jajaran ulama yang mendukung perlawanan Diponegoro terhadap kolonialisme dalam Perang Jawa. Bahkan Syekh Imam Tabbri masuk ke dalam jajaran elit Brojomungah.

Kondisi semasa hidup Syekh Imam Tabbri yang tidak asing dengan suasana serba perang dan pengasingan, juga menunjukkan realitas bahwa di masanya Syekh Imam Tabbri pastinya selalu saja terpapar dengan realitas ketertindasan masyarakat, perilaku ketidakadilan penguasa dan kolonial serta perilaku-perilaku menyimpang lainnya. Tidak heran ketika kemudian Syekh Imam Tabbri menyimpan memori itu di dalam sebuah kumpulan tulisan berbentuk serat “tanpa nama”. Meskipun serat tersebut lebih banyak memuat do’a, hizb dan cerita kehidupan surga neraka serta cerita dari beberapa Nabi, akan tetapi di dalamnya sangat kental dengan nuansa pergolakan realitas masyarakat di zamannya.

Pergolakan tersebut sudah terlihat dari do’a pembuka Syekh Imam Tabbri di dalam seratnya yang artinya:

Merekalah Nabi, Wali dan setiap orang yang beriman, berdo’a agar Allah membuka lebar dada tuan (majikan) dan menunjukkan jalan kebenaran// dada-dada tuan yang tersesat dari Allah// tuan-tuan yang terdiri dari orang Yahudi dan Nasrani// 

Do’a tersebut sekaligus juga memperlihatkan ancaman di depan mata bagi orang yang membaca serat ini. Karena kolonialisme pada masanya sudah jelas sebagai pintu masuk pertama kali orang-orang yahudi dan nasrani, dan mereka adalah tuan-tuan yang tersesat di jalan Allah.

Baca juga:  Tiga Ahmad di Tikungan Gumitir

Setelah ancaman tersebut disampaikan secara abstrak di dalam do’a pembukanya kemudian Syekh Imam Tabbri melanjutkan do’anya dengan panjatan-panjatan syair yang puitik, seperti halnya di dalam syair-syair maulid. Selesai lantunan syair-syair tersebut tulisan di dalam serat ini berlanjut pada pengingat bagi para pendosa, yaitu pedih dan perihnya siksa neraka. Inilah yang penulis sebut sebagai kendali, yang dicatat kontekstual dengan zamannya.

Tidak hanya pedih dan perih, namun juga sadis dengan visualisasi yang bahkan tidak manusiawi ketika dihadirkan kembali saat ini. Bahkan kemungkinan akan sangat sensitif dan mengundang kontroversi bahwa agama terlalu subversif dan banal, karena hanya menunjukkan kekerasan dan eksploitasi visual kehidupan neraka yang kejam dan senonoh. Meskipun, sudah barang tentu kontekstualisasi pada zaman ini tidak hadir untuk memvisualisasikan siksa neraka yang kejam tersebut, tetapi sebagai bahan acuan bahwa di masa lalu para intelelektual telah jauh visioner dengan memetakan masalah dan memberikan solusi kendali atas masalah tersebut. Yakni kolonialisme sebagai masalah, dan visualisasi kejamnya neraka bagi pengikut kolonialisme serta perlilaku yang telah menyimpang dari Islam sebagai tradisi di masa itu.

Pada tataran inilah kemudian dipaparkan kisah para nabi yang tidak memiliki daya untuk menolong para pendosa tersebut ketika telah cebur di dalam neraka. Satu-satunya yang mampu berdo’a di atas Kursyi dan membuatnya bergetar untuk menyelamatkan kaumnya hanyalah purna Nabi yaitu Muhammad SAW. namun tentu Jibril AS. tetap mengingatkan bahwa “yang di neraka itu bukan umat yang taat padaMu, angkatlah kepalaMu”. Syafaat hanya berlaku bagi orang masih ada sepercik iman, tentu itupun setelah melalui siksaan-siksaan di bakar, di lilit kalajengking api, di palu gada, di kucurkan timah panas dan sebagainya, selama ribuan tahun.

Baca juga:  Setio dan Petuah Ki Banar

Selain itu, hal yang kontekstual pada masa ini adalah terkait dengan dilema standarisasi cantik yang telah dipegang oleh perusahaan-perusahaan mode dan life style. Cantik saat ini dalam visualisasi penulis adalah menghadirkan kecantikan yang ditawarkan surga di dalam keterangan serat ini, yang sebenarnya itu hanya bisa dicapai di surga dengan memenuhi syarat-syarat cantik di dunia. Perempuan cantik dalam serat ini dikatakan adalah orang yang berpuasa senin kamis, berbakti pada suami, lebih mementingkan mengaji daripada bekerja, orang yang berwudlu di dalam sholatnya, orang yang bertakbir di dalam sholatnya, orang yang rukuk di dalam sholatnya dan seterusnya. Inilah yang kemudian akan menjadi sebab cantiknya perempuan di surga yang wajahnya bersinar seperti rembulan, berpendar-pendar seperti bintang, berkilau seperti cahaya yang memantul dari kaca dan seterusnya. Kecantikan surga inilah yang ingin dihadirkan industri kencantikan melalui berbagai macam alat kosmetik dan aplikasi editing foto.

Kecantikan berbalut kosmetik ini menjadi tanggal jika kita mengacu pada perspektif Serat Syekh Imam Tabbri ini, dan sudah selayaknya penulisan ulang dan upaya transliterasi dari serat ini menjadi layak, bahkan cenderung penting bagi kendali atas paparan kebudayaan baru yang datang bertubi dari Barat menuju Timur.

Selanjutnya, mari kita menuju cantik sejati…….

covercantik - Cantik dalam Serat

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi