Celengan Islam Haji Misto

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Narasi hidup keseharian di pedesaan Jawa

Pagi itu Jumat 30 Agustus 2013. Matahari pagi baru saja muncul,  namun angin berhawa panas sudah terasa di Gumukmas, Jember, Jawa Timur. Ini adalah puncak-puncak musim kemarau yang kering dan terik di kepulauan Nusantara. Artinya panen besar telah tiba.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Para laki-laki, perempuan dan anak sejak selepas subuh menyambangi sawah dan ladang mereka. Perasaan was-was, akan cuaca tak menentu dan hujan salah mongso,  sirna sudah.  Karena pagi itu mereka akan panen.

Doa musim kemarau dan hujan yang berganti secara menentu, ditambahi rapalan syukur tak terhingga. Mereka adalah para petani tembakau, melon, semangka, pepaya dan jagung yang sedang sibuk merayakan berkah panen di musim kemarau.

Panen dan panen adalah pemandangan jamak sepanjang perjalanan kami pagi itu, dari jantung kota menuju Gumukmas yang terletak 30 kilometer di ujung selatan Jember.

***

fototembakauhistoread - Celengan Islam Haji Misto

Heru Putranto untuk Historead

Jumat pagi itu, kami hendak menemui Haji Misto di Desa Mayangan, Gumukmas, Kabupaten Jember. Laki-laki kelahiran Jember tahun 1932 ini adalah saksi bagi pasang surut pertanian Tembakau di Jember. Haji Misto, kini membudidayakan tembakau, hanya untuk dikonsumsi sendiri.

“Orang disini sekarang lebih suka menanam semangka, melon dan pepaya. Tembakau dan padi kurang  diminati. Cuaca sering tidak menentu,” ucapnya menjawab obrolan pembuka kami.

Haji Misto bukanlah petani tembakau besar. Namun  asap dapur rumahnya mengepul dari para petani tembakau pada masa jayanya. Pada masa muda, dia adalah seorang tukang kayu, tukang batu yang mengerjakan berbagai gudang tembakau dan rumah-rumah para petani tembakau. Pernah dalam hidupnya bekerja sebagai nelayan. Pun dia berdagang untuk bertahan hidup secara temporal. Namun sejatinya, dari berbagai profesi yang pernah dijalani, dia adalah petani tulen.

Seperti orangtuanya, Haji Misto bertani secara subsisten. Dia menanam sendiri tembakau yang dihisapnya. Sayur mayur, sapi, ayam, padi, kebun pepaya, cabe, pisang dsb juga dibudidayakannya. Haji Misto adalah tipikal keluarga Indonesia kebanyakan di masa lampau, dia adalah petani subsisten. Yaitu mereka yang bertani untuk mencukupi diri mereka sendiri.

Baca juga:  "Batas yang Tertutup dan yang Terurai"

Sistem pertanian subsitensi, sejak diwajibkannya revolusi hijau dan sistem komodifikasi barang- jasa, telah lenyap dalam pedesaan Indonesia. Subsitensi dan sistem pertukaran barang-jasa berlalu bersama angin materialitas dan individualitas.

***

Kami hari itu hendak menimba ilmu panjang umur, bahagia, sehat dan produktif  kepada Haji Misto. Di usianya yang lebih dari 80 tahun itu, jari jemari dan kakinya masih sibuk dengan pekerjaan sawah, ladang dan ternak. Kulitnya telah berkeriput disana-sini, rambutnya pun telah putih perak. Namun tiada terpancar sekalipun masalah kesehatan jiwa dan fisik.

Haji Misto begitu sehat. Dia begitu berdamai dengan hidup. Secara spontan, pagi itu, Haji Misto membuka rahasia sehat dan panjang umurnya: rokok!

Tidak pernah sakit pak?  “Tidak,”  jawab Haji Misto. “Paling cuman sakit tua, pinggang ini nyeri sesekali. Saya malah sering bilang ke orang-orang kalau sakit, rokoknya kurang besar itu. Semakin besar rokoknya, semakin sehat.”

Rokok, khususnya jenis klobot,  memang ciri khas mencolok Haji Misto. Setiap hari, mulutnya tidak pernah berhenti mengepulkan asap rokok jenis ini. Diselingi seduhan secangkir kopi, dan sepiring nasi jagung bersayur bening bayam dan ikan laut, rokok klobot ini dilibasnya berbatang-batang.

“Kesukaan saya itu “Klobot Manis Gudang Garam” dicampur tembakau dan cengkeh pasar. Itu saya bawa sampai Mekkah.”

Rokok klobot kesukaan Haji Misto adalah jenis rokok tembakau bercampur cengkeh yang dibungkus daun jagung kering. Rokok model ini, karena pembungkusnya yang khas, disebut sebagai klobot atau rokok klobot. Dalam bahasa Jawa,  klobot adalah sebutan untuk daun jagung kering.

“Kalau cuman rokok klobot saja tanpa campuran, tidak terasa. Harus saya tambahi tembakau dan cengkeh sendiri,” ungkap Haji Misto sambil menunjukan rokok klobot hasil modifikasinya. “Dua kali lebih besar dari aslinya to?”

Haji Misto dalam satu bulan bisa menghabisakan 5 slop rokok klobot. Dalam setiap slop terdiri atas 10 bungkus rokok. Dan setiap bungkus terdiri atas 6 batang rokok. Artinya dalam sebulan setidaknya 300 batang rokok dihisap oleh Haji Misto.

Baca juga:  Selamat datang di Historead Indonesia

Rokok sejumlah itu, tentu sangat banyak sebagai konsumsi, terlebih untuk ukuran kakek lanjut usia macam Haji Misto.  Tidak ada tanda-tanda untuk mengurangi konsumsi rokoknya. Dia berdalih, tidak merokok itu menjadikan dirinya tidak sehat, lidah pahit dan tidak semangat. Bahkan ketika kami kunjungi, Haji Misto bertanya sekaligus menantang : “ayo bikin lomba rokok, saya akan ikut jadi peserta!”

***

Meski bergelar haji dan memiliki ketrampilan baik dalam pertanian dan pertukangan, jangan dibayangkan Haji Misto adalah seorang yang berumah mewah dan kaya. Hidupnya sangat bersahaja. Bahkan orang yang baru mengenal selintas  ataupun  menurut  takaran survei Badan Pusat Statistik akan di-cap sama: miskin.

Rumahnya berdinding anyaman bambu dan berplester semen. Menempel dengan dinding belakang rumah, terdapat pekarangan berpagar bambu bercampur tumbuhan hidup. Dipekarangan itu, Haji Misto memelihara sapi dan ayam. Di belakang rumah Haji Misto ini pula, terdapat kebun pepaya dan pisang yang luas. Dari sini keluarga besar Haji Misto menggantungkan hidupnya.

Sekali lagi, jangan nilai orang dari penamilan rumahnya. Namun coba tengok dengan Mushola berdinding batu merah dan kaca, berubin keramik, berlangit-langit eternit yang lebih luas dari rumah Haji Misto itu. Dua bangunan berhadap-hadapan dan kontras ini adalah bukti hidup yang melampaui hidup. Ini adalah bukti pengabdian pada Tuhan, seorang Haji Misto. Mushola itu adalah prakarsa Haji Misto dan keluarga besarnya.

“Saat ini, sapi saya tinggal satu saja. Sapi-sapi saya sudah saya jual untuk menyumbang ke masjid. Itu celengan Islam saya.”

Haji Misto berfilosofi, tabungan hidup bagi setiap muslim itu berbagi. Jadi harta itu tidak hanya untuk menghidupi diri sendiri. Tetapi juga diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Selain juga digunakan untuk mendirikan Islam seperti membangun masjid.

“Celengan tiyang  Islam itu, nek gadah arta mboten dipangan thok, kedah disukaaken masjid. Nek wonten tiyang butuh, ngeh disukaaken,” ujarnya sambil melepaskan kepulan asap rokok.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]
Baca juga:  Menyegarkan Ulang Teologi Penciptaan bagi Praksis Kerukunan Antarumat Beragama

Haji Misto mengenang, tahun 1988 adalah titik balik religiusitasnya. Tahun itu, istri terkasih meninggal dunia. Praktis hidupnya sendiri. Dari perkawinan dengan almarhumah, Haji Misto tidak dikarunia anak. Hari-hari dengan istrinya hanya dijalani berdua dengan dikelilingi para keluarga batih yang tinggal dalam satu pekarangan besar itu.

Ketika hari-harinya semakin sunyi. Banyak kekhawatiran dan usulan melanjutkan hidup bagi Haji Misto.  Dengan tegas dia mengabaikan semua saran kerabatnya: kawin ! Bagi Haji Misto, sudah bukan saatnya lagi memikirkan kesenangan diri sendiri dan mabuk dunia. Sudah saatnya, hidup untuk orang lain dan Tuhan. Saat itulah dia berjanji, mengisi hidupnya dengan celengan Islam.

“Daripada saya mencari uang untuk diberikan ke orang (baca Istri baru), lebih baik saya mengisi celengan Islam.”

Semangat celengan Islam itulah yang membawa hidup Haji Misto selalu tenang bahagia. Hidupnya hanyalah untuk beribadah dan berbuat baik pada orang lain. Dia tidak kwatir akan masatuanya yang sendiri. Kopi, rokok, gula, tembakau dan cengkeh masih mampu dibeli dari hasil kerjanya di sawah tiap tahun. Pun dengan hasil ternak yang dibudidayakannya.

“Ilmune tiyang Islam niku nggih sembahyang.” Bahagianya seorang muslim adalah beribadah.

petani tembakauhistoread2 - Celengan Islam Haji Misto

Heru Putranto untuk Historead

Dimasa tuanya kini, Haji Misto rajin berziarah ke makam-makam para alim ulama dan penyebar agama Islam di Jawa – Madura.  Ziarah ke sembilan wali penyebar Islam ini rutin dilakukan Haji Misto setiap tahun.  Baginya, memeroleh berkah  dari Allah, karena mengunjungi dan mendoakan para alim ulama itu, utama dalam hidupnya.

“Kalau ada rejeki, saya ingin ke Mekkah lagi. Saya dulu naik haji tidak dengan menjual sawah.”

***

Pada usianya yang uzur (81 tahun) ini, Haji Misto menolak pandangan umum bahwa merokok dan minum kopi itu merongrong kesehatan. Menurutnya, sebagai orang miskin, hartanya  sedikit, tetapi memiliki rejeki besar. Orang sekarang, terangnya, hartanya banyak, tetapi rejekinya sedikit.  Buktinya mereka kena stroke karena dilarang macam-macam. Bagi Haji Misto, tidak bersyukur dan tidak bekerja itulah yang merusak kesehatan jiwa dan mental. “Ya semua ini memang berkat Allah, kalau Allah tidak menghendaki semua tidak terjadi.” []

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi