Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Sejak kecil aku sangatlah suka dideh. Setiap hari tak tak menyantapnya rasanya selang-selang yang berada di ruang perut terasa serret, sesak, karena penuh seperti diganjal bebatuan kecil yang mampu menyesakkan setiap ruangan di dalamnya serasa ledeng macet sebab sesak dengan sampah-sampah kecil. Ya untung orang tuaku baik hati pula penyayang terhadapku, jadi dibuatkannya setiap hari walau dapur rumah berbau amis (anyir) tetapi mereka ogah memakannya.

Tiga kali sehari, biasanya, ibu selalu pergi ke rumah pemotongan hewan (RPH), yang berada di ujung desa. Membeli darah segar yang dihasilkan dari pemotongan beberapa ekor sapi. Cairan darah itu dijemur dengan memakai belanga di atas genting, supaya mendapat panas matahari sepenuhnya, sampai wujudnya membeku. Kemudian, diiris berbentuk persegi; ukuran lima kali tiga senti lalu digoreng dengan dibubuhi sedikit garam sebagai penyedap lidah. Dan siap untuk disantap. Uenaak…

Tapi sekarang tak lagi. Sekitar 1 tahunan, semenjak aku disunting Mas Ryan, suamiku—aku tak pernah memakan. Dia telah membawaku pada kehidupan super-wuah. Dengan gemerlapnya lampu-lampu mercury di malam hari semisal kilauan mutiara dalam kantong hitam. Gedung-gedungnya menjulang tinggi ke atas, seakan tangga sebagai jalan menuju langit. Ramainya bising kendaraan bermotor yang berlalu lalang menjadi ciri khas, dan—katanya—orang-orang menyebutnya metropolis. Kota bagi hedonis.

Aku sudah tak pernah lagi mencium bau tak sedap; amis, apek, pesing, bahkan—khususnya—bau (anyir) darah yang sering menyengat hidung. Berbeda saat aku masih bersama dengan kedua orang tuaku di desa, dahulu. Sepertinya ada yang kurang dalam istanaku, yakni dideh. Aku rindu dengan baunya yang selalu membuat nafsu makanku lebih berselara.

Pula, semenjak aku tinggal serumah, dengan Mas Ryan, kehidupanku berubah seratus-delapan-puluh derajat. Dunia super-mewah, rumah yang serba-wuah, beserta harta yang melimpah dengan miniatur yang ala ke barat-baratan, juga fasilitas di dalamnya apik, bisa dibilang mengandung unsur estetik. Buktinya, berbagai macam pohon dan bunga seperti pinus, pakis haji, adenium, anthurium dsb, menjadi ikon tersendiri di sebuah pekarangan rumahku, tepatnya halaman depan rumah. Dari pintu gerbang saja orang yang ingin bertamu harus menyusuri jalan pekarangku, menuju mulut pintu rumahku, sekitar dua menit. Biasanya para tamu suamiku, yang bertandang, sering berkata ‘ini baru rumah idaman’ seraya berdehem menjadi hiasan.

Patung-patung—yang berbentuk binatang—terbuat dari kuningan, batu dan  tanah liat menjejali ruangan rumahku sehingga mata para tetamu, klien bisnis suamiku, sering melirak-melirik dari sudut ke sudut walaupun mereka tengah asyik berbincang dengan suamiku. Selain itu, lantai rumahku tembus pandang karena lantainya terbuat dari kaca. Air yang menggenang bersama ikan-ikan di bawahnya, yang suka berenang kesana-kemari di bawah lantainya, sehingga sering menyeret pikiranku pada masa kecil, dahulu, yang suka bermain dengan ikan-ikan hasil tangkapan nelayan—juga ayah. Dan jikalau saja, ada seorang wanita yang hanya menggunakan rok mini atau span, tentunya, celana dalamnya bisa terlihat walau rada-rada kabur/tidak terlalu jelas. Untung—walaupun aku seorang wanita—span merupakan benda momok bagiku—yang amat menakutkan, hingga tak sudi mengenakannya. Risih. Lebih suka mengenakan celana. Praktis dan sederhana.

Baca juga:  Pram

Pernah sesekali klien bisnis suamiku bilang. “Enak sampeyan jeng, punya suami ganteng, nggak neko-neko, pula kaya. Jadi apa-apa yang sampeyan butuhkan dapat terkabul.”

Namun kata-kata itu kuanggap angin lalu, tak kuhiraukan, walau hatiku sempat ge-er. Sebab menurutku kebahagiaan itu tak harus dihitung dengan harta atau pun ketampanan. Yang terpenting bagiku dia adalah pemimpin keluarga yang bertanggung-jawab, beradab, bermartabat. Memang betul apa kata pepatah jawa: nawang si nawang (sebatas pandangan). Padahal, realitanya belum tentu sama dengan yang dilihat.

Tapi ada satu hal yang paling tak kusenangi dari sikap Mas Ryan. Yakni makanan wajib, dengan menu saji—juga bagi tamu—vegetarian food, makanan yang bebas dari unsur daging hewan.  Hingga saat ini pun rasanya, pipa-pipa kecil dalam tubuhku terasa sesak mengalirkan sesuatu yang kumakan. Tapi mau gimana lagi! Apapun dan bagaimana pun yang namanya seorang istri haruslah patuh terhadap titah suami. Sebab surga seorang istri berada dalam keridhoan suami dan hal itu yang selalu kujadikan pedoman, demi rahmat yang tiada tara.

***

Suatu siang, suamiku pulang awal dari kantornya. Aku sempat bingung. Tumben siang-siang sudah pulang, gumamku. Padahal yang namanya seorang direktur pulangnya selalu larut malam, seperti pada umumnya, walaupun sudah memiliki anak buah/kaki tangan tapi pekerjaaanya amat berat, dengan tanggung jawab, dan banyak menyita waktu. Dan itu terbukti bagi suamiku yang selalu pulang larut malam, dan itu pun sudah dijalaninya tiga tahun terkahir ini, katanya. Walau, sisi lain, sarapan batinku pun jarang terpenuhi.

Ada yang tampak aneh, terpendam dalam tubuh Mas Ryan, siang itu. Raut mukanya tampak beringsut dan ronanya redup bagai bohlam lima watt. Tidak seperti biasanya. Baru siang itu, aku hanya mampu menghampiri dan mengambil tas koper milik suami, seraya kumencium tangannya, yang sudah menjadi tradisi, sebagai tanda takdim seorang istri kepada suaminya.

“Dik, panggilan suamiku, tolong siapkan air hangat aku mau mandi,” pintanya.     Aku hanya diam bercampur aneh saja. Siang-siang kok hendak mandi air panas, kataku dalam hati.

“Hmm, jangan lupa buatkan aku teh hangat, sebelum berangkat mandi,” tambahnya.

Aku mengangguk, tanpa berkata apapun dan langsung menuju dapur untuk membuatkan teh kesukaannya. Tak sampai hitungan sepuluh menit, aku menghampirinya seraya bilang, “ini mas tehnya,” kataku seraya menyodorkan segelas teh hijau kesukaanya.

“Terima kasih ya, adikku sayang.” Ucapnya sembari tersenyum, mengembangkan lesung pipinya, yang menyiratkan lembah yang beranak telaga.

Baca juga:  Aku Harus Mati Tahun - tahun Ini

Dia menyeruput teh hijau itu.

“Dik, kesini mendekatlah, mas ingin ngomong.” Ujarnya, sebelum aku meniggalkannya sendiri, dengan mengalaskan tubuhnya pada kursi sofa, di ruang tamu.         Tubuhku serasa kaku untuk bergerak, setelah mendengar kata-katanya yang amat lirih, lembut, menggeretakkan hatiku ini. Aku menghampiri, dan duduk, pas di sampingnya. Betapa riang hatiku bagai Cleopatra yang hendak memancing keperkasaan para lelaki, sebagai lawan di atas ranjang. Kepalaku langsung kusandarkan pada lengan sebelah kirinya. Sedikit demi sedikit, kepala kurobohkan pada pahanya, yang bersilang, serasa tertidur di bantal empuk—yang terbuat dari bulu angsa.

Tak sampai hitungan menit, aku tersentak dengan rasa dingin yang menggeliat di pipi. Tak lain air mata bening suamiku menjelajahi dengan liar. Sepasang bola mataku menangkap kubangan hitam yang tergenang air bersih nan jernih. Matanya tak merekah lagi, kuncup, bagai bunga matahari di malam tiba. Dengan sigap, tangan menghapus jejak tetesan yang masih menempel pada pipinya sembari aku berkata sendu. “Mas kenapa menangis?”

“Dik. Mas…” Suaranya terhenti serasa kata-kata itu tercekat di tengah tenggorakannya, atau kata-kata sudah terbang dari otaknya.

Aku semakin terlarut oleh ronanya yang kian lama kian redup seperti warna jingga yang sering menyiratkan duka bagi anak malang yang ditinggal pergi kedua orang-tuanya.

“Ada apa mas. Kok jenengan…”.

“Sudah dulu… Mas mau mandi,” jawabnya tiba-tiba, dengan mengerjap-ngerjap matanya yang berlinang, sembari dia meninggalkanku tergeletak sendiri.

Dia pergi, menjauh dariku, menuju kamar mandi. Aku terngungun. Mataku hanya bisa menerawang, dari belakang dan enggan terpejam. Tetap melototinya… Ternyata ada sesuatu yang berputar-putar dalam kepalaku.

Kenapa suamiku menangis…?

Yang kutahu, menangis bukanlah hal yang asing bagi manusia. Menangis merupakan pakaian setiap manusia, tak terkecuali dia seorang presiden, menteri, orang tua, anak muda, nabi atau rasul sekalipun pernah menangis. Sepengetahuanku, air mata merupakan jembatan bagi manusia dengan Sang Pencipta dan semesta demi menggapai kasih-sayang tak terbatas.

Ada apa dengan suamiku…?

            Mungkinkah diriku bersalah karena tak dapat memahami cintanya yang telah tersemikan dalam rumah ini atau karena aku tak mampu menghadiahkan seorang pangeran/putri dalam rumah ini! Tapi dia tak pernah mengeluh dengan semua itu. Dia hanya diam. Apa mungkin diamnya bagai air riak yang mengandung seribu makna yang amat dalam. Atau mungkin aku tak paham tentang cinta dan riak perasaannya.

Ataukah suamiku sudah bosan denganku…?

Mustahil bosan. Pernikahan kita masih seumuran jagung. Andainya saja dia bosan pastinya dia sering jajan di luar. Atau mungkin kepulangannya ke rumah, sering larut malam, direkayasa agar diriku tak curiga, pikirku naif. Pantesan, sudah setahun lebih dia jarang menggerayangiku dengan liar, bagai nelayan takut melaut, yang sering menyengat selangkanganku seperti ular sanca hingga aku mengerang tak ketolongan. Atau birahiku yang tak sebanding dengannya hingga tak memuaskan nafsu liarnya di atas ranjang. Dan, mungkin juga, kantong rahim dalam tubuh ini sudah tak berfungsi, hingga ia jengah melakukannya.

Baca juga:  Kala Mas Joko Rajin Ke Masjid

Ning-nung, ning-nung. Bel rumahku berbunyi, dengan tiba-tiba. Aku terhentak dari lamunanku—antara sadar dan tidak sadar—di atas kursi sofa. Aku segera bergegas menuju pintu, membukanya. Gerangan siapa yang hendak bertamu sore-sore gini, gumamku. Sebab dalam buku agenda keluarga, hari ini tak ada tamu. Gugup menghampiriku, karena aku tak siap dengan ritual perjamuan bagi tamu. Biasanya  suamiku selalu membuat ritual perjamuan, sebagai agenda wajib, terhadap tamu-tamunya. Namun, sore itu tak.

Ternyata tamu sore itu empat sosok pria. Dua orang berpakaian serba hitam, dua orang lainnya berpakaian warna coklat abu-abu. Perawakannnya tegap dan kekar. Rasanya mereka cocok dijadikan budak nafsu: bronis, sebutan untuk gigolo dalam film arisan.

“Selamat sore, bu. Ini betul rumah Bapak Ryan Sorimulat,” ujarnya tegas.

“I-y-a p-a-k,” jawabku tersendat-sendat sembari gemetar, ketakutan. Karena kali pertama aku mendapatkan tamu yang berperawakan algojo namun bisa juga membangkitkan gairah kewanitaanku, bila melihat bentuk tubuhnya yang atletis.

“Maaf bu. Bapak Ryan-nya ada di rumah. Kami dari KPK. Kedatangan kami kemari bermaksud menjemput suami anda ke kantor kami untuk diinvestigasi dengan alasan; dia telah menyuap salah satu aparatur negara untuk memenangkan kasus perusahaanya di peradilan.”

Jantungku terasa terpukul martir. Napas tersengal-sengal. Kata-kata telah karat, sulit diencerkan dalam bentuk kalimat. Cengang.

“Bu, apakah Bapak Ryan ada di rumah?” Tanyanya lagi.

Aku hanya bisa mengangguk bagai keledai yang sering dibodohi oleh si empunya karena tak mampu berbuat apa-apa. Lalu, “Tunggu sebentar, aku panggilkan,” ujarku rada-rada pelan.

Aku langsung menuju kamar tidur kami dengan segera. Siapa tahu dia tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur, tidur. Sesampainya di dalam kamar Mas Ryan tak ada. Yang kudapati hanyalah sepasang bantal dan guling saja. Kumelangkah lagi, menuju kamar mandi. Namun, tiba-tiba, hidungku terasa tercucuk oleh bau yang tak sedap—amis, anyir—dari balik pintu kamar mandi itu. Yang mengingatkanku pada kehidupan masa lalu. Kehidupan yang sangat berarti dan berharga, dimana amis, anyir, sudah menjadi jubah nafsu. Bagaimana tidak, bau itu telah menemaniku lebih lama daripada suamiku!

Kerinduanku pada darah mulai terobati, sedikit demi sedikit. Kuhirup bau itu dalam-dalam, rasanya jengah menghembuskannya keluar. Hasratku ingin segera membuka pintu kamar mandi. Akhirnya, merah yang kutatap. Merah yang menghiasi lantai nan indah. Tubuhnya juga digenanginya. Mengalir dengan pasrah dan rasa rinduku mulai tersumbat dengan warna itu.

Didehku  sudah tiba.”

                          coverdarah - Darah

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi