Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Maya sudah asyik duduk di depan layar monitor komputer berukuran 14 sentimeter sejak dua jam yang lalu. Rokok di sela jemarinya masih mengepul.

Berselancar di internet merupakan rutinitas dia beberapa bulan terakhir, sekadar membunuh rasa lelah sepulang bekerja di perusahaan penerbitan buku. Selain membaca beberapa artikel yang ada di berbagai blog yang bertebaran di internet, Maya juga sedang keranjingan chating di layanan mlRC.

“Halo, kamu apa kabar di sana?” tanya Maya kepada lawan bicaranya di mlRC. Lawan bicara yang setia menemani dia berkomunikasi di dunia maya.

“Baik. Apa kabar Indonesia?” jawab lawan bicaranya sejurus kemudian.

Teman chating Maya berada di Sydney, Australia. Mereka belum pernah sekalipun bertemu. Hanya berkomunikasi online. Di warung internet yang ada tak jauh dari kontrakannya di Mangga Besar, Jakarta Barat, Maya biasa menghabiskan waktu 4 jam. Seperti biasa, pukul 23.00 dia meninggalkan warnet, sembari berharap bertemu dengan lawan bicaranya di mlRC.

*

Usianya jelang 28 tahun, Maret 2002 nanti. Namun, Maya tak kunjung mendapatkan calon suami. Padahal, seluruh teman satu kelas di kampusnya dahulu sudah menemukan jodoh masing-masing. Beberapa bahkan sudah memiliki dua orang anak.

Meski tak cantik, Maya bukanlah gadis yang buruk rupa. Dia tetap menarik, walau wajahnya tak dipoles make up. Baginya, make up adalah sebuah kebohongan kepada diri sendiri yang paling sempurna.

Tak hanya itu. Maya justru lebih nyaman memakai kaus polos berwarna hitam, celana jeans belel, dan sepatu kats. Begitu dia berpakaian saat pergi ke perusahaan penerbitan buku, jalan-jalan di pusat perbelanjaan, atau nongkrong hingga dini hari di warung kopi pinggir jalan.

Maya bukannya tak pernah memadu kasih. Dia sudah 5 kali berpacaran, sejak duduk di bangku SMA di kampungnya yang ada di Sulawesi Utara sana. Saat berkuliah di Jakarta, dia pernah menjalin hubungan sebanyak 3 kali. Namun, apa mau dikata. Seluruh kisah cintanya itu harus berakhir dengan kata putus.

Maya tak pernah salah. Hubungan asmaranya yang kandas melulu, lantaran mantan-mantannya berselingkuh. Ada pula yang ringan tangan. Sebagai seorang perempuan, tentu saja dia tak pernah salah. Dan, tentu saja kata putus adalah kata pamungkas yang mesti dia utarakan.

Hanya kepada teman chating-nya itu dia berharap sekarang. Menantinya kembali ke Indonesia, dan melangsungkan pernikahan. “Kalau bisa di Bali,” kata Maya menyinggung rencananya menikah kepada teman dekatnya di mlRC.

*

Hujan mengguyur Jakarta sore itu, persis saat Maya ingin menghidupkan mesin motornya di tempat parkir halaman kantornya. Bau tanah basah menusuk penciuman Maya. Menghapus aroma aspal dan asap knalpot Kopaja yang setiap hari meraung-raung di jalan besar depan kantornya di bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Maya sangat menyukai bau tanah basah yang diguyur hujan. Saat katup hidungnya dibuka lebar-lebar, tiba-tiba telepon selulernya berdering. Nomor asing.

Baca juga:  Teori Negara dan Feminisme

“Helo, Maya…Ini aku!” sapa suara berat di ujung telepon.

“Oh, kamu. Kamu nelepon khusus untuk aku dari Australia?” kata Maya semangat. Wajahnya berubah sumringah.

“Iya, dong! Jakarta hujan, May?” tanya teman bicaranya lagi.

“Iya, nih. Nggak bisa pulang, deh.”

“Aku tunggu di mlRC ya, May! Miss you…” kata lawan bicaranya.

“Yes…wait ya…” jawab Maya gembira bukan kepalang.

Telepon seluler itu kemudian mati. Tak ada lagi suara berat itu. Maya tersenyum. Tak sabar pergi ke warnet. Menunggu hujan yang sudah tak lebat. Maya berkelebat menunggangi sepeda motor bebeknya. Tanpa basa-basi, dia menghidupkan mesin, dan pergi dari halaman parkir kantornya. Gerimis masih jatuh dari langit. Air yang menggenangi jalan pecah terlindas roda sepeda motor bebek yang larinya kencang.

*

Tak butuh waktu lama mencapai warnet yang letaknya sekitar 15 kilometer dari kantornya itu. Dia hanya membutuhkan waktu 20 menit, meliuk-liuk di padatnya lalu lintas ibu kota.

“Bang, main,” tegur Maya kepada penjaga warnet yang matanya sudah sayup, kurang tidur.

“Eh, Maya. Pasti mau chating lagi ya?! Tuh ada di nomor 5,” jawab si penjaga warnet.

“Mau tau aja lu urusan orang,” kata Maya ketus. Lalu ngeluyur masuk ke bilik komputer nomor 5.

Sebatang rokok yang sudah berada di bibirnya disulut. Kemudian, dia menggeser tetikus, dan mengklik ikon mlRC yang ada di halaman muka layar komputer. Satu nama sasaran chating sudah menunggu di sana.

“Halo,” sapa Maya mengawali pembicaraan.

“Helo, Maya. Kamu sehat kan?” tanya lawan bicaranya sejurus kemudian.

“Iya, gimana kuliah kamu?”

“Lancar, May. Kerjaan-kerjaan kamu gimana?”

“Aku lagi sibuk banget. Ada dua naskah yang harus aku edit, dan harus selesai bulan ini.”

“Wah, semangat ya. Semoga semua beres.”

“Sip…”

Obrolan mereka lalu kian akrab dan santai. Tak lagi berbicara perihal pekerjaan dan masalah kampus. Mereka mulai membicarakan soal keluarga. Kehidupan pribadi. Kemudian berlanjut ke hal-hal yang lebih intim.

Sudah 4 bulan mereka menjalin komunikasi dunia maya. Mereka merasa, ada berbagai persamaan di dalam diri masing-masing. Maya sangat percaya ramalan bintang. Dia yang berzodiak Pisces, percaya akan mendapatkan jodoh dan cocok dengan orang berzodiak Cancer.

Larut dalam suasana. Tak terasa sudah pukul 02.00 dinihari. Mereka lalu saling melontarkan pujian. Terlilit asmara lintas negara. Kemudian berjanji mengikat tali kasih. Meski tak pernah saling bertatap muka, namun mereka percaya, hubungan mereka adalah hubungan yang wajar. Mereka pun percaya, jodoh sudah saling bertemu di sini: di dunia maya.

Baca juga:  Kuli Kontrak

*

Rasa kantuk masih hinggap. Pagi itu, Maya bermalas-malasan di kasur busa yang sudah tipis. Hari ini, dia libur kerja. Ada banyak hal yang ingin dia lakukan. Salah satunya bertemu dengan sang pujaan hati yang baru saja dinihari tadi berjanji sehidup semati di mlRC.

Maya membuka katup jendela kamar kontrakannya. Membiarkan sinar matahari yang menyilaukan matanya bablas masuk ke dalam kamar. Dia menatap jalan kecil di bawah kamarnya, yang ada di lantai dua sebuah rumah sederhana. Tangannya menopang dagu. Sembari mengisap rokok, khayalannya terbang ke Negeri Kanguru.

Dia membayangkan sosok kekasihnya yang belum pernah sekalipun bertemu. Menggambarkan melalui imajinasi liar, mulai dari ujung kaki ke ujung kepala. Maya memiliki harapan, kekasih barunya ini berbeda dengan mantan-mantannya terdahulu. Dinihari tadi, mereka berjanji bertemu di Bandung esok.

“Aku sudah pesan tiket pesawat dari sini ke Bandung. Bandung itu kota yang romantis, May. Kita bisa melepaskan segala perasaan di sana,” kata lawan bicara Maya dinihari tadi. Maya terkejut bukan kepalang, bercampur haru. Kekasih online-nya itu rela cuti kuliah, demi menemui dirinya. Dia akan melewati sekitar 6 jam perjalanan dari Sydney ke Bandung.

Maya lantas bergegas. Membereskan beberapa keperluannya untuk dibawa ke Bandung esok hari. Buku, pakaian, perlengkapan mandi, beberapa makanan kecil, dia masukan ke dalam ranselnya. Melalui surat elektronik, semalam kekasihnya mengirimkan satu foto diri. Cukup untuk mengingatkan Maya ciri-cirinya, jika nanti bertemu.

Maya benar-benar tak sabar ingin melewati malam bersamanya. Dia benar-benar tak sabar. Rasanya, jika jarum jam bisa diputar seenaknya, dia ingin segera esok tiba.

*

Kekasih online Maya sejatinya memang orang Bandung. Namun, ayahnya adalah ekspatriat dari Australia. Kini bekerja di provinsi paling timur Indonesia, sebagai tenaga ahli di pertambangan emas terbesar negeri ini.

Kekasih online Maya berusia 23 tahun. Mengambil Jurusan Filsafat dan Sejarah di salah satu universitas terbaik di dunia, University of Sydney. Sudah 5 tahun dia tinggal di sana, demi meraih gelar sarjana.

Kisah cinta kekasih online Maya mirip Maya. Dia juga kerap disakiti. Karena itu, mereka cepat sekali akrab dan intim dalam berkomunikasi. Seolah, mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, dan saling mengenal begitu mesra.

*

Hari yang dinantikan Maya akhirnya tiba. Dia segera bergegas meninggalkan Jakarta, menggunakan kereta api dari Stasiun Jakarta Kota. Stasiun yang memiliki catatan sejarah panjang. Stasiun ini mulai dibuka pada 1929 silam. Tentu saja, stasiun ini merupakan saksi bisu segala kisah yang selalu berganti setiap zaman.

Baca juga:  Islam dan Negara

Maya duduk di kursi peron stasiun. Menunggu kereta api yang akan mengangkutnya ke Bandung tiba. Dua pemuda genit menghampirinya. Lalu, menggoda Maya dengan segala pujian gombal. Maya sudah terbiasa dengan godaan gombal pria. Dia bergeming. Tak acuh pada godaan dua pria tadi.

Tak lama, sirine kereta api menderu-deru. Maya berdiri, kereta api berhenti. Lantas dia masuk ke gerbong dua kereta api. Kemudian, duduk manis di bangku 4D, persis di sebelah jendela kereta. 15 menit kemudian, kereta api melaju lamban. Mengatarkan Maya yang sedang jatuh cinta.

*

Maya gelisah. Dia terus melihat penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya yang mulus. Sesekali dia melemparkan pandang ke panorama gunung, semak belukar, bukit, dan sungai yang dilewati kereta api tumpangannya. Dia sudah tak sabar ingin segera bertemu kekasihnya. Telepon seluler Maya bergetar. Ada pesan pendek yang masuk.

“Aku tunggu di Lapangan Gasibu ya, May,” begitu tulisan di pesan pendek Maya.

Dia gelagapan. Senang bukan main. Kekasihnya sudah menunggu di Lapangan Gasibu.

Satu jam kemudian, kereta api tiba di Stasiun Bandung. Dia lalu bergerak cepat meninggalkan kereta api. Para porter berseragam kuning sibuk mencari orang yang ingin memakai jasa panggulnya. Maya, tak mempedulikan mereka. Berjalan cepat, lalu meninggalkan stasiun.

*

Berkat petunjuk yang diberikan oleh kekasihnya untuk naik angkutan kota, Maya tiba di Lapangan Gasibu. Napasnya masih tersengal. Namun, desir angin sore yang romantic menghapus rasa lelah perjalanan selama 4 jam dari Jakarta. Apalagi, saat dia bertemu kekasihnya, yang sudah menunggunya sedari tadi.

Dia melambaikan tangan, ketika Maya turun dari angkutan kota berwarna hijau. Kemudian, Maya menghampiri dan memeluknya erat-erat. Aroma parfum mewah kekasihnya menempel di kaus Maya.

“Kita jalan,yuk!” kata kekasihnya, tanpa basa-basi.

“Ke mana?” tanya Maya.

“Lembang!”

“Ayo!”

Kekasih Maya sudah memarkir mobil sedannya, tak jauh dari Lapangan Gasibu. Mereka lalu masuk ke  dalam. Melanjutkan perjalanan cinta mereka ke Lembang.

*

Sore meninggalkan mereka. Malam datang, membawa hawa dingin saat mereka tiba di saung bambu sederhana yang menghadap kebun teh nan luas. Lengkap sudah. Suasana romantis, hawa yang sejuk, dan kisah cinta yang manis. Semuanya berpadu menjadi satu. Tangan mereka saling menggenggam. Lalu, di tengah sergapan hawa dingin yang mengepung Lembang malam itu, mereka bercumbu dan berpelukan.

“Aku sangat mencintaimu, Karina,” kata Maya lirih berbisik di telinga kekasihnya. “Namun, mungkin Tuhan melaknat cinta kita,” sambung Maya, kali ini air matanya meleleh [].cintamaya - Cinta Dunia Maya

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi