Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah refleksi

Dayak. Daya. Daya’, atau Dyak tampak sudah tak ada yang peduli lagi, termasuk mereka yang dijuluki seperti itu (penduduk asli Kalimantan). Meski pun dalam keseharian mereka lebih mengenal dirinya sendiri sebagai Kayan. Kenyah, Bahau, atau Tunjung, Benua, Bentian. Iban. Klemantan. Ngaju, Maanyan. Lawangan. Murut, Punan dan seterusnya. Dalam berbagai literatur yang ada. nama-nama di atas memang dibuat dan diucapkan oleh berbagai lidah orang luar. Sederet nama yang dirumuskan bukan saja atas pe-ngetahuan. pandangan, dan sikap si pembuat, tetapi juga atas dasar pertimbangan politis tertentu.

Yulianus F. Sulaiman (Budaya Benuak dan Tonyooi, Subsuku Dayak) menyebut bahwa nama-nama itu adalah sebutan-sebutan antropologis, dan orang- orang yang dinamai sendiri hanya menerima secara pasif. Victor King (1993) menyatakan beberapa kemungkinan asal kata Dayak, bisa dari kata daya (bahasa Kenyah) berarti hulu atau pedalaman, dari kata aja (bahasa Melayu) yang bermakna pribumi, atau dari istilah dalam bahasa Jawa (Tengah) yang berarti tindakan yang tidak sesuai. Lepas dari soal asal kata itu. Mikhail Coomans (1987) merumuskan Dayak sebagai seluruh penduduk pedalaman Kalimantan yang bukan muslim.

Baca juga:  Dunia Tanpa Islam

Dayak (sebutan yang akan selalu dipakai dalam liputan ini) selain disebut sebagai penduduk awal bumi Kalimantan, juga dicitrakan sebagai pemburu kepala, pembuat rajah-rajah, perampok, penghuni rumah- rumah panjang, masyarakat terasing, tak beragama, dan perambah hutan. Se-rangkaian citra yang dibangun para pelancong dan pencatat Barat, para peneliti Barat abad ke-19, kolonial, para penginjil, para da’i. dan birokrat hingga kaum terpelajar Indonesia pasca kemerdekaan. Saunders (1993) menegaskan bahwa karya Bock, The Head-hunters of Borneo (terbit 1881 di Inggris) berpengaruh besar terbangunnya citra Dayak sebagai pemburu kepala. Demikian pula bermacam gambar rekaan dari pariwisata yang bisa segera membangun /moge dan memancing perhatian atau meng-hadirkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada (absent) dalam kenyataan serta berbagai program pembangunan seperti proyek pemukiman (resettlement) dan kebijakan penambahan departemen perambah hutan dan suatu kabinet di masa orde baru.

Baca juga:  Metamorfosa Nasionalisme

Banyak kritik yang diajukan terhadap pencitraan itu yang umumnya menilai sangat Barat, kolonial, modernis, tidak manusiawi, dan menyesatkan. Selain King dan Saunders, McKinley (1976), Freeman (1979), Coomans (1987), dan Hoffman (1986) adalah beberapa pengkritik politik pencitraan tersebut, di samping sejumlah intelektual-aktivis dari Kalimantan sendiri yang sejak lima belas tahun terakhir tumbuh subur dan meruak di seluruh Kalimantan. Citra tentang Dayak yang dibangun atas dasar politik dan kebudayaan si pemandang dan bukan dari sudut pandang orang-orang Dayak sendiri adalah penilaian yang tidak adil dan merugikan gagasan subtansial keilmuan sosial- humaniora.

Dayak juga disebut berasal dari Cina. Seluruh dokumen tentang asal mula Dayak selalu menyebut bahwa mereka adalah imigran bergelombang dari Yunnan, daratan Cina Selatan yang menyusur melalui Indo-Cina dan Malaysia hingga berakhir di Kalimantan. Coomans memperkirakan bahwa Dayak yang kini bemukim di Kalimantan Selatan dan tengah menyusur pengembaraannya melalui Sumatera dan Jawa, sementara mereka yang sekarang berdomisili di Kalimantan Barat dan Timur melalui Filipina. Sebuah Mal di Samarinda memajang replika perahu bermotif Cina yang diklaim sebagai “perahu pertama” rombongan Cina pertama yang memasuki Kalimantan.

Baca juga:  Tempe, Sumbangan Jawa untuk Dunia

Bisa jadi asumsi-asumsi historis itu benar. Pembakuan “sejarah asal usul dari Cina” itu sendiri menciptakan citra yang tak menguntungkan bagi masyarakat Dayak dalam konteks sosial-politik Indonesia yang mempersoalkan “pri-nonprl”, WNI- WNA. “peranakan”, “minoritas-mayoritas”. dan problem rasial lain. Sebuah kelompok atau komunitas tertentu, dengan sangat gampang disudutkan hanya karena ia bukan pribumi, bukan WNI. Cina peranakan, dan bukan termasuk mayoritas.

Citra memang bukan yang sesungguhnya, karena ia lebih merupakan proyek politik mereka yang memandang. Tetapi, citra itu pula yang menentukan nasib bangsa Dayak kemarin, hari ini, dan esok hari. Bisakah citra itu menjadi yang sesungguhnya? Hanya orang-orang Dayak sendiri yang bisa menjawab.[]

dayak dayak citra dayak - Citra Dayak

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi