Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah celoteh

Di sebuah bioskop di Jember, suatu hari. Nonton bareng film tentang cinta remaja seperti Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2 mengajarkan bahwa kadang kita membutuhkan tak terduga dan terpikirkan serius untuk menerabas demarkasi perbedaan.

Awalnya adalah sebuah pernyataan. Dalam rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kabupaten Jember membahas keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Selasa (10/5/2016), Kepala Kepolisian Resor Ajun Komisaris Besar Sabilul Alif melontarkan pernyataan setengah puitis dan berbau curahan hati. “Saya hidup di antara dua cinta, itu susah sekali.”

Billy, sapaan akrab wartawan untuk Sabilul, tak menjelaskan rinci apa yang dimaksud dengan ‘dua cinta’ itu. Namun tak sulit untuk menebak, ‘dua cinta’ yang dimaksudnya adalah Bupati Faida dan Wakil Ketua DPRD Jember yang juga Ketua Gerakan Pemuda Ansor Ayub Junaidi. Keduanya terlibat ketegangan, karena perbedaan sikap soal keberadaan HTI di Jember.

Ayub menuntut agar HTI dilarang beraktivitas di Jember, jika menyeret isu khilafah dan penolakan terhadap Pancasila. Sementara Faida bersikukuh tak bisa melarang HTI berkegiatan, karena merasa tak punya kewenangan.

Pernyataan itu menjadi salah satu pemicu perbincangan di grup WhatsApp (WA) Tokoh Masyarakat Jember. Grup ini beranggotakan 123 orang, sebagian besar tokoh masyarakat, termasuk wakil bupati, ketua parlemen, hingga komandan TNI, sebagian lagi jurnalis.

“Ndan, kapan nonton AADC biar kita tidak ketinggalan sama Bu Ning,” celetuk Ayub Junaidi dalam diskusi di grup WA itu. AADC yang dimaksud tentu saja film Ada Apa dengan Cinta 2 yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, dan tengah diputar di New Star Cineplex, satu-satunya gedung bioskop di Jember.

Baca juga:  Rabina

Bu Ning adalah sapaan akrab untuk Cahyaning Indriasari, kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja Jember. “Iya nih, Mas Ayub dan Pak Kapolres perlu nonton AADC biar hati makin penuh cinta,” sahutnya dalam diskusi grup.

Tak menunggu lama, ide ini disambut Billy yang menjadi admin tunggal grup. “Oke, sore. Berapa orang yang mau nonton, saya siapkan semua,” katanya.

“Mantap kalau nobar, biar kita hidup selalu ditumbuhi benih-benih cinta,” timpal Ayub.

Billy memesan seluruh kursi di satu ruang teater untuk nonton bareng. Rabu (11/5/2016) sore, saya melihat, rombongan tokoh masyarakat memasuki gedung bioskop. Ada yang membawa sorban hijau. Ada yang masih berpakaian dinas, karena baru pulang dari kantor. Ada politisi seperti Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Tabroni dan mantan Ketua DPRD Jember Madini Farouq yang saat ini sibuk mengelola pondok pesantren. Ada wartawan. Ada petinggi kepolisian dan beberapa polisi wanita yang masih muda dan bening. Beberapa datang terlambat, setelah film diputar beberapa menit.

Ketua Front Pembela Islam Jawa Timur Habib Haidar minta maaf tak bisa hadir, karena sedang di Surabaya. Namun ia masih sempat mengirimkan salam via WA kepada CBN Samuel, seorang pendeta, yang sore itu datang. “Semua rekan selamat menonton. Untuk Pak Pendeta, monggo dinikmati,” katanya.

Matur nuwun, Bib. Kapan-kapan nonton bareng, Bib,” jawab Samuel.

Baca juga:  Benih, Pangan, dan Kehidupan

Sebelum film diputar, saya sempat bilang ke Cahyaning soal adanya adegan ciuman antara Rangga dan Cinta. Kami tertawa-tawa membayangkan kemungkinan para tokoh masyarakat yang sebagian sudah berusia di atas 45 tahun disuguhi film anak muda lengkap dengan adegan ciuman walau sebentar.

Benar saja. Acara nonton bareng itu tak setenang yang dibayangkan banyak orang. Ini kali ketiga saya nonton AADC2, dan kali ini kehebohannya melebihi nonton bersama anak-anak muda. “Kayak nonton film misbar (gerimis bubar) di kampung,” sahut Rangga Mahardika, salah satu wartawan, yang hari itu namanya disebut berkali-kali.

Celetukan beberapa kali terdengar di sana-sini, dalam bahasa Madura khas Jember. Bahkan ada tepuk tangan bersama. “Heeh, kalah be’en cong bik tukang foto,” kata Jumai, fotografer Harian Radar Jember, saat Cinta memilih bersama Rangga dan tidak mengangkat telpon dari Trian, sang tunangan. Jumai mungkin merasa Rangga satu profesi dengannya, karena selama adegan cerita di Jogja selalu bawa kamera.

Puncak kehebohan tentu saja saat adegan ciuman Rangga dan Cinta di Jogjakarta. Tokoh Nahdlatul Ulama dan orang dekat KH Hasyim Muzadi, Misbahussalam, langsung nyeletuk mengucapkan bacaan akad nikah. “Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyut taufiq,” tawa pun pecah dengan ditimpali celetukan di sana-sini.

Celetukan yang sama juga terdengar, saat adegan Cinta dihadapkan pada pilihan antara Rangga dan Trian. Misbahussalam kembali terdengar. “Haqquha fi nafsiha, hak menerima lelaki itu ada pada diri perempuan, bukan orang tua dan lainnya kalau perempuan itu dewasa atau janda,” lagi-lagi tawa pecah.

Baca juga:  Surat dari Kanada

Saya sempat melayangkan pesan WA kepada Billy untuk menanyakan apakah akan memberikan sedikit sambutan penutup setelah film usai, mengingat untuk pertama kalinya sebagian anggota grup WA berkumpul dan bertemu. “Tidak usah, foto bersama saja. Kalau pakai sambutan nanti seperti bupati,” katanya.

Billy bukan kepala daerah, dan sore itu ia hanya ingin nonton film, bukan hendak meresmikan gedung bioskop. Jadi ia menolak untuk formal, tampil kaku, dan memilih untuk spontan. Seperti kata Cinta: ‘the journey, not the destination.’ Menikmati prosesnya, bukan tujuan akhirnya.

Usai pemutaran film, seluruh penonton berdiri dan memasang pose, menebar senyum, untuk berfoto bersama. “Foto bersama saja sudah tahu maknanya,” kata Billy.

‘Jika ada seorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan’: Aan Mansyur menuliskan larik puisi ini khusus untuk film AADC2. Namun sore itu, kita tahu, inti jantung dan perbedaan bisa tersentuh di sebuah gedung bioskop di Jember dan dari acara nonton bareng sebuah film anak muda.

Sekali lagi, kita belajar itu dari Billy, Ayub, Cahyaning, Samuel, Haidar, dan mereka yang percaya cinta dalam makna yang luas adalah kata kerja yang harus diupayakan bersama, kadang melalui hal-hal spontan dan tak pernah terbayangkan.

Bukankah kedekatan memang tak membutuhkan dan tak akan pernah bisa dibangun dari ketegangan terus-menerus? []

cinta - Di Sebuah Bioskop, Suatu Hari

Ilustrasi Historead

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi