Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan etnografi

“Simbahku bendino to masak thiwul. Mbahku kui saben dino kudu mangan thiwul, pokmen. Yen simbokku ora niwul, mbahku niwul dewe ….”

Thiwul di tahun 1940-an. Nenekku itu setiap hari harus makan thiwul, pokoknya. Kalau Ibu-ku tidak masak thiwul, Nenekku masak sendiri…. Penuturan Yanu, seorang pemuda Dusun Wintaos, berusia 18 tahun, tentang neneknya yang dipanggilnya, Mbah Jo. Wintaos adalah dusun di Desa Girimuya, Panggang, Gunungkidul. Menurut perkiraan Yanu dan keluarganya, Mbah Jo kini berusia lebih dari 90 tahun. Meski hampir seabad usianya, hingga kini Mbah Jo masih melangsungkan aktivitas negal (kerja-kerja tani di lahan) dan ngalas (kerja-kerja tani di lahan yang jauh dari rumah, lokasinya berada di areal khusus tegalan).

Ketika pertama kali berjumpa dengan Mbah Jo di tahun 2018-an, yang pertama kali terekam di benak saya adalah cara berjalan Mbah Jo yang cepat dan gesit. Tinggi badan Mbah Jo sekitar 145cm, perkiraan berat badannya 40kg. Kulitnya kecoklatan, dipenuhi keriput. Suaranya khas dan keras. Ia mampu bertutur dengan gamblang dan jelas meski ketika diajak bicara seringkali tak mendengar. Karena usia, pendengaran Mbah Jo sudah berkurang. Kita harus berbicara lebih keras supaya bisa berkomunikasi lancar. Hingga kini Ia masih mampu bekerja aktif di ladang, berjalan pergi dan pulang dari ladang ke rumah yang berjarak sekitar 3-4 km sekali jalan. Aktivitas sehari-harinya adalah kerja di ladang, merawat tanaman, memberi makan hewan dan memasak thiwul untuk dimakannya sendiri.

Jaman Nipon kae aku wis gede, wis biasa melu negal, wis segede Pika” (Waktu ada Nipon, saya sudah besar, sudah biasa ikut bekerja di ladang, sudah sebesar Pika). Mbah Jo tidak ingat tahun lahirnya. Yang diingatnya, ketika pendudukan Jepang, mungkin usianya 10 tahun-an (Pika adalah cicitnya yang berusia 10 tahun). Jepang memasuki wilayah Gunungkidul antara tahun 1942-1944, jika saat itu mbah Jo sudah berusaia 10-an tahun, kemungkinan Ia lahir 1930-an).

Mbah Jo menuturkan, sejak ia kecil, tahun 1940-an, dia sudah terlibat dalam kerja-kerja di ladang. Menurutnya di masa itu kegiatan sehari-hari anak-anak adalah membantu pekerjaan di ladang dan angon ternak. Belum umum bagi mereka pergi sekolah. Kegiatan utama bagi anak anak saat itu membantu dan terlibat pekerjaan di ladang maupun pekerjaan di rumah. Selaku anak kecil, mereka bekerja di ladang mengikuti ritme alami kerja ladang yang dilakukan orangtuanya. Di masa kecil mbah Jo, semua jenis tanaman pangan yang dibutuhkan untuk pangan keluarga ditanam di masing masing keluarga. Tiap keluarga menanam tanaman pangan pokok, sayuran, buah, kacang kacangan, bumbu dan tanaman obat. Singkong menjadi tanaman yang penting dan ditanam dalam jumlah banyak mengingat singkong menjadi bahan baku thiwul yang merupakan makanan pokok utama di Gunungkidul saat itu.

Karst Gunungsewu identik sebagai lahan gersang, kering, dan berbatu (Martias, 2014). Zona karst pegunungan Gunungsewu tidak memungkinkan dibangunnya sumur untuk irigasi. Mengadabtasi kondisi alam tersebut, usaha tani yang dikembangkan memiliki pola yang khas : 1. menerapkan bertani di lahan kering dengan pengairan tadah hujan, 2. menerapkan sistem penanaman tumpangsari (polikultur), 3. masih mengikuti siklus alam dan pengetahuan lokal pranotomangsa. Meskipun sistem polikultur yang diterapkan, namun singkong sebagai jenis tanaman yang adaptif pada kondisi kering, lebih banyak ditanam dan dijadikan sebagai sumber pangan pokok.

Pada musim kemarau, saat puncak panen singkong, sekitar bulan Juli-Agustus, semua anggota keluarga dikerahkan untuk ‘njedol telo’, mengupas kulitnya dan mengeringkannya menjadi gaplek. Setiap keluarga melakukan dan menjalani rutinitas ini. Membuat gaplek ini menjadi penting mengingat keberlangsungan hidup mereka bergantung pada persediaan gaplek yang mereka panen. Dijadikannya gaplek dan thiwul sebagai pangan pokok merupakan mekanisme adabtasi masyarakat atas kondisi alam yang kering. Singkong tahan pada kondisi kering dan tak butuh banyak air selama dia hidup. Mengeringkan singkong pada panas matahari merupakan cara alami untuk mengawetkannya.  Cara ini membuat singkong bisa tahan dan awet hingga beberapa tahun.

Sistem tadah hujan membuat mereka hanya bisa menanam sekali dalam setahun yaitu di musim penghujan. Kondisi tersebut membuat mereka perlu memikirkan cara untuk tetap bisa memiliki stok pangan sepanjang tahun, paling tidak hingga panen yang akan datang (tahun depan). Proses mengawetkan singkong menjadi gaplek tersebut merupakan budaya pangan sebagai upaya dan cara yang dikembangkan untuk mengadaptasi kondisi tersebut.

“Jaman aku cilik, kabeh wong mangane thiwul. Wiwit cilik aku wis ngewangi simbokku mangsak, biasane aku diakon niwul. Simbok biasane wis nutu gapleke dadi glepung. Sakdurunge negal biasane sarapan. Simbok nggowo thiwul kangge mindho ning tegal…” (Saat aku kecil, semua orang makan thiwul. Sejak kecil aku sudah bantu simbok-ku memasak, biasanya aku disuruh membuat thiwul. Sebelum berangkat ke ladang biasanya sarapan. Simbok membawa thiwul untuk makan siang di ladang, Mbah Jo).

Sego Thiwul diolah dengan cara  gaplek kering ditutu (ditumbuk) menggunakan alu lumpang hingga menjadi tepung gaplek. Selama proses nutu gaplek diselingi juga dengan napeni dan nginteri untuk memisahkan tepung yang sudah cukup halus dengan yang masih berupa potongan  gaplek. Potongan gaplek yang belum halus, dikembalikan lagi ke lumpang dan dihaluskan dengan menumbuknya menggunakan alu. Begitu seterusnya hingga sampai didapat tepung gaplek yang cukup untuk diuleni dengan air dan dibentuk menjadi butiran butiran kecil (seperti pasir atau sebesar butiran nasi padi).

Menurut Mbah Jo, saat itu, karena thiwul menjadi pangan pokok sehari-hari, ketrampilan membuat thiwul (niwul) lazim dimiliki semua perempuan, termasuk gadis-gadis kecil seusianya. Saat itu, karena masa revolusi, harus banyak berhemat untuk pangan. Simpenan Gaplek menjadi sangat berharga dan harus dihitung dengan cermat dalam penggunaannya. Saat itu, jika keluarga bisa makan 2x sehari sudah patut disyukuri. Jika sedang ada sayuran dari ladang, biasanya thiwul dimakan dengan sambel atau kelan (sayur).

Thiwul di tahun 1950 an hingga 1970 an

Mbah Jo tidak begitu mengingat tahun ia menikah, tapi anak pertamanya lahir sekitar tahun 1957 an. Kemungkinan Mbah Jo menikah sekitar  awal 1950an. Ketika menikah, umumnya para orangtua di Wintaos memberikan sebagian lahan milik keluarga untuk dikelola anak yang baru menikah. Paska menikah, Mbah Jo mendapatkan bagian lahan dari orangtuanya. Suami Mbah Jo juga mendapat lahan dari orangtuannya pula. Mereka mengelola dan menggantungkan hidup dari lahan-lahan itu. Mereka menanami lahan tersebut dengan beragam tanaman pangan. Mereka menanam singkong, padi (lokal), chantel, jali-jali, garut, ganyong, kimpul, kacang tanah, gudhe, kacang panjang, labu, cabe, tomat, terong, beberapa jenis remah dan bumbon. Di masa itu semua orang mengandalkan tanah-tanah yang mereka miliki untuk menanam semua jenis yang dimakan. Bahkan beberapa orang memelihara lebah untuk diambil madunya.

“Sedoyo ditandur piyambak.  Pangan pokok, janganan, bumbon, ugi tanaman obat pun ditanem piyambak. Bapak kulo rumiyin ugi ngingu tawon, dipendet madune.” (Semua ditanam sendiri. Pangan pokok, sayuran, bumbu, juga tanaman obat pun ditanem sendiri. Bapak saya dulu juga memelihara tawon, diambil madunya (Penuturan Ibu Supinah)

Baca juga:  “Kapitalisme dari Bawah”

Bu Supinah kelahiran Dusun Wintaos tahun 1949, lahir dari keluarga petani tulen. Supinah terlibat bekerja di ladang sejak belia. Supinah kecil mengenyam pendidikan formal di Sekolah Rakyat Legundi (dusun di sebelah Wintaos). Sekolah jaman itu selesai sebelum siang. Paska pulang sekolah, terutama di masa persiapan lahan (Lalahan) tiba, Supinah kecil berangkat ke ladang dengan menggendong tenggok (bakul dari anyaman bambu) berisi rabuk, pupuk kandang kering yang sudah siap tabur di lahan. Dari rumah ke ladang ia berjalan kaki. Menurut Supinah, sejak ia masih kecil sistem tani di Wintaos dijalankan mengikuti kalender musim dan pranotomongso.

Menurut Bu Supinah, saat ia masih kecil (sekitar akhir 1950an- atau awal 1960-an) warga tani di Wintaos mengembangkan cara yang khas untuk menanam benih yang berbentuk bebijian, yaitu dengan meletakkan beragam benih di dalam tenggok (wadah seperti baskom yang terbuat dari bambo), seperti benih padi lokal, jali-jali, jewawut, jagung, sorghum dll. Kemudian benih biji-bijian itu semua diaduk supaya tercampur. Benih benih itu kemudian disebar. Setelah terkena hujan, benih benih itu berkecambah dan tumbuh. Karena disebar bercampur maka beragam benih tumbuh bercampur baur. Semrawut. Tidak ada penataan atau kekhususan posisi dan letak penanaman setiap jenis nya. Berbeda dengan benih bebijian, singkong dan tanaman umbi-umbian penanamannya tidak disebar. Singkong ditanam dengan cara menanam potongan batangnya. Kimpul, gembili, gadung dan beragam umbi lain ditanam dengan membenamkan umbinya ke dalam tanah. Semua umbi dan bibit yang ditanam tersebut merupakan calon pangan yang akan dikonsumsi keluarga. Singkong bisa tahan ditanam di lahan kering, tak perlu lahan yang lenah (datar dan subur). Kala itu, singkong banyak ditanam di menthuk-menthuk (bukit-bukit berbatu) dan tanah bebatu yang tak terlalu subur. Singkong relative tanpa butuh banyak perawatan. Pengairan hanya menunggu hujan dari langit.

Karena keragaman tanaman yang ditanam, saat panen harus jeli memilih dan memilah. Aneka jenis tanaman bercampur, sementara masing masing jenis tanaman memiliki usia panen yang bisa berbeda-beda. Misalnya padi lokal panen sekitar 5-6 bulan, jali-jali 5 bulan-an, begitu pula jagung lokal dan sorghum yang bisa dipanen setelah 4 bulan-an.  Setiap hasil panen perlu dijemur hingga kering lalu dimasukkan ke dalam Pesucen (ruangan untuk menyimpan hasil panen). Pesucen adalah semacam ‘gudang logistik’ di dalam rumah, biasanya berada di samping dapur. Semua hasil panen harus diatur supaya cukup hingga panen tahun depan. Meskipun tanaman pangan yang ditanam beragam, namun pangan pokok di era itu adalah Thiwul.

“Yen pun garing, gaplek disimpen teng Pesucen. Gaplek niku saget awet, tahun ngajeng mawon taksih sae. Kangge simpenan ngantos panenan ngantos tahun ngajeng mawon tesih saget. Yen pun wonten simpenan gaplek, ayem. (Kalau sudah kering, gaplek disimpan di Pesucen. Gaplek itu bisa awet, tahun depan saja masih bagus. Berguna untuk simpanan hingga panen tahun depan saja masih bisa. Kalau sudah ada simpanan gaplek, bisa tenang/tentram. (Bu Supinah).

Hal yang paling umum dijumpai di mongso ketigo (musim kemarau) adalah gaplek. Semua orang menjemur gaplek. Sebelum tahun 1970-an, jika sudah kering gaplek akan dimasukkan dalam keranjang bambu besar yang disimpan dalam Pesucen. Karena menjadi pangan pokok, maka simpanan pangan yang paling umum dijumpai di tiap rumah adalah gaplek. Saat itu gaplek takhanya diolah menjadi thiwul, namun bisa juga diolah menjadi beragam bentuk panganan lain. Eweg-eweg (seperti bakwan yang diolah dari tepung gaplek), thiwul ayu (thiwul manis yang sering difungsikan sebagai kudapan), Krawu, dll.  Keragaman pangan yang bisa dikembangkan dari gaplek, membuatnya berperan penting. Semua rumah di Wintaos, dipastikan melakukan proses penggaplekan di musim kemarau sehingga punya persediaan gaplek.

Para petani sepuh menandai (niteni), mereka akan mengalami rutinitas paceklik tiap beberapa tahun sekali. Namun paceklik yang paling berat yang dialami para petani sepuh yang masih hidup hingga kini,  terjadi  sekitar tahun 1964. Kala itu terjadi bencana paceklik akibat kekeringan karena kemarau panjang dan ledakan tikus yang sering disebut dengan mongso gaber. Gaplek saat itu menjadi barang berharga, yang paling dicari di Gunungkidul. Karena tidak bisa panen singkong hingga beberapa musim tanam, banyak rumah tangga yang persediaan gaplek nya habis. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bertahan hidup, segala yang dimiliki di rumah dijual. Awalnya ternak mereka jual, sapi, kambing, ayam. Jika ternak habis, maka pintu,  dinding (sekat rumah) bahkan tiang rumah yang umumnya terbuat dari kayu jati, mereka jual dan menukarnya dengan gaplek.  Jika tak ada lagi yang bisa dijual, tiap keluarga berupaya bertahan hidup dengan mengonsumsi bonggol pisang, ataupun inti (bagian dalam) batang pohon papaya, itupun dengan porsi yang tidak membuat kenyang. Jumlah yang sudah sedikit, harus dibagi pada semua anggota keluarga. Yang penting ada yang mengganjal perut dan menyambung nyawa.

Bangunan ingatan dan berkaca dari ‘pahitnya’ peristiwa paceklik, khususnya gaber, membuat tiap orang yang jadi penyintas dari Gaber, merasa penting untuk melakukan penyimpanan pangan di pesucen. Menyimpan pangan untuk persediaan di masa-masa sulit. Mengingat kemampuannya bertahan dalam waktu yang relative lama, gaplek menjadi simpanan pangan yang paling umum dilakukan. Jika memiliki panenan padi lokal (benih warisan), disimpan dalam bentuk gabah kering. Padi lokal jika masih dalam bentuk gabah kering pun bisa bertahan hingga beberapa tahun. Labu yang tua, juga bisa bertahan lama disimpan jika masih utuh dan belum terbuka.

Menurut Mbah Jo dan Bu Supinah, saat mereka kecil hingga awal tahun 1980 an, jagung putih yang biasa mereka tanam ketika panen bisa diolah menjadi sego bledak. Nasi bledak dibuat dengan cara, bulir-bulir jagung ditumbuk dengan alu dan lumpang hingga butirannya remuk dan pecah menjadi sekecil gabah. Jagung yang telah lembut dicuci, direndam beberapa saat dan dikukus hingga matang. Selain thiwul, bledak juga menjadi salah satu pangan pokok di Wintaos, terutama di masa panen jagung.

Umbi umbi-an paling pol enak iku yo ing puncaknya mongso ketigo…(umbi umbian paling enak itu ya di puncaknya musim kemarau, Pak Giyadi). Umbi umbi-an seperti kimpul, gembili, ganyong, garut, uwi, umumnya juga ditanam para petani untuk pangan sehari hari dan cadangan pangan di kala paceklik.

Thiwul di tahun 1970-an hingga awal 1980-an

Yen mongso panen jagung, tangi isuk ditangekke suoroblag blug’…suoro mbok-mbok nutu jagung” (Kalau musim panen jagung, bangun pagi dibangunin suara blag blug…ibu ibu menumbuk jagung). Menurut Bu Tuparsi yang lahir tahun1967, saat ia masih kecil (era 1970-an hingga awal 1980-an), dini hari dia dibangunkan oleh suara  suara ibu ibu yang menumbuk jagung. Saat itu jagung lokal masih ditanam dan dikonsumsi.

Baca juga:  Seandainya Tak Ada Wahib

Bu Tuparsi menceritakan, di masa panen singkong yaitu di musim kemarau, semua orang menjemur singkongnya hingga kering. singkong singkong yang telah dijedol (dicabut), dikupas di ladang dan dijemur di galengan galengan (pematang) batu yang terletak di pinggir pinggir ladang. Singkong dijemur hingga benar-benar kering. Kulit singkong bisa untuk pakan sapi. Sebagian panenan singkong dibawa pulang ke rumah dan dijemur di rumah.

Keluarga Bu Tuparsi seperti umumnya keluarga di Wintaos juga menanam padi kala itu. Di era 1970-an umumnya padi yang ditanam adalah jenis jenis padi benih warisan (heirloom) yang rata-rata usia panennya 5-6 bulan. Saat itu ada sekitar 10 jenis varietas yang biasa ditanam para petani di Wintaos diantaranya Pakisan, Menurun, Deron, Puthu, Mayangan, Genjah Lasep, Gundil, Cempo kenongo, Glempo. Seingat Bu Tuparsi, orang tuanya sering menanam Padi Puthu, Menurun dan Pakisan. Teknis menanamnya dengan cara disebar bersama benih dan biji bijian lain di awal mongso tandur (musim tanam). Karena saat nyebar nya dicampur dengan bebijian lain, maka saat tumbuh akan acak dan semrawut. Saat panen mereka harus memilih satu persatu yang bisa dipanen. Panen padi lokal tersebut takbanyak. Tak sebanyak panen singkong. Sehingga tak bisa memenuhi pangan setahun. Mengkonsumsi padi seperti mengkonsumsi pangan mewah. Selain harus dihemat dalam mengkonsumsinya, juga hanya bisa dikonsumsi pada kesempatan khusus, seperti saat ada hajatan maupun selamatan.

Hingga akhir tahun 1970 an, selain singkong, tiap keluarga juga menanam padi, Chantel (sorghum), Jewawut, Jali-Jali yang usia panennya juga sekitar 4-5 bulan.  Aneka umbi umbian juga masih ditanam. Chantel, Jewawut, Jali-jali serta umbi umbian merupakan pangan pokok yang sifatnya lebih sebagai pendukung dimana diolah sebagai kudapan maupun selingan, maupun cadangan pangan di kala pangan pokok utama (gaplek/thiwul, jagung, dan padi) kehabisan atau kurang.

Sekitar tahun 1975-an hingga beberapa tahun setelahnya, terjadi serangan wereng pada padi-padi-an yang mereka tanam. Serangan tersebut menyebabkan selama beberapa musim tanam tidak panen padi. Meskipun tak panen padi, karena mereka menanam beragam tanaman sehingga masih bisa panen yang lain. Panen singkong masih memungkinkan mereka punya stok gaplek dan mengkonsumsi thiwul. Begitu pula dengan umbi-umbian ataupun panen bebijian yang lain. Membuat mereka masih punya stok pangan.

Thiwul di tahun 1980-an hingga 1990-an

Opsus (Operasi Khusus) dan Beras

“Bapak ditunjuk teng pelatihan jamane Opsus. Jaman niku kan kathah wereng to.. e..mbokmenowo pemerintah mikirke rakyate wis ora panen pari amargo keno wereng. Kejobo bapak, enten perwakilan sanes. Kadose  dipilihi tokoh- tokoh masyarakat ngoten…”(Bapak saya ditunjuk ikut pelatihan jamane Opsus. Mungkin pemerintah memikirkan rakyatnya yang sudah lama tidak panen padi karena diserang wereng. Selain bapak ada perwakilan lain. Sepertinya dipilih tokoh-tokoh masyarakat)…

Opsus (Operasi Khusus) diterapkan di Gunungkidul sekitar 1982. Opsus merupakan modifikasi program Insus (Intensifikasi Khusus) yang diperuntukkan untuk wilayah dan daerah khusus, yaitu daerah yang perlu mendapatkan perlakuan khusus karena kondisi alam dan geografisnya seperti di NTT dan Gunungkidul. Insus (juga Opsus) merupakan kelanjutan dari Bimas, Inmas, dan Insus, selaku bagian dari Revolusi Hijau di Indonesia. Opsus mengusung Panca Usaha Tani yang terdiri dari mekanisasi pengolahan lahan, perbaikan irigasi, penggunaan bibit unggul dan pupuk kimia, pengendalian hama dan penyakit tanaman dengan pestisida. Karena kondisi lahan karst dan sulit menemukan sumber air untuk irigasi maka penerapan program Panca Usaha tani di Gunungkidul melakukan penyesuaian dengan mengadaptasi pola lama dalam pengolahan lahan juga sistem tadah hujan yang sudah lama diterapkan komunitas petani. Panca Usaha Tani diperkenalkan melalui pelatihan pada perwakilan petani.

Opsus seperti laiknya progam revolusi hijau lainnya, lebih terfokus pada penguatan produksi padi. Bibit unggul padi, Ir 36 menjadi andalan dalam program ini. Untuk memperkenalkan hal-hal baru seperti : Ir 36, pupuk urea dan pestisida dan teknis  penerapannya, dibuatlah demplot percobaan. Setelah diterapkan 3 bulan, hasil panen dari demplot sangat baik. Keberhasilan demplot menarik perhatian hampir semua petani di Wintaos. Apalagi selama beberapa tahun (musim tanam) sebelumnya para petani di Wintaos mengalami gagal panen padi karena serangan wereng. Kondisi tersebut  mendorong mereka untuk coba menanam IR 36.  Bagi petani, keberadaan IR 36 yang dibawa pemerintah ini menimbulkan harapan untuk panen padi lebih banyak sehingga bisa mengkonsumsi nasi beras lebih banyak.

Di musim tanam selanjutnya, sebagian besar petani meninggalkan jenis jenis padi lokal (benih warisan), dan mulai menanam IR36. Selain padi, melalui Opsus, jagung jenis hibrida mulai dikenalkan. Dari penanaman di beberapa kali musim tanam menunjukkan hasil panen padi unggul (Ir36) 4-6x lebih banyak dibandingkan hasil panen padi-padi benih warisan yang sebelumnya ditanam. Keberhasilan tersebut mendorong ditanamnya padi unggul hingga beberapa musim selanjutnya. Hasil panen yang bagus menjadikan para petani dan keluarga bisa mengkonsumsi beras jauh lebih banyak dibandingkan saat mereka menanam padi jenis lama mereka. Para anggota keluarga masih mengkonsumsi thiwul tapi mereka lebih menyukai makan nasi (beras).

Kondisi politik pangan di era 1980-an diwarnai program swasembada pangan yang dicanangkan Mantan Presiden Suharto. Target swasembada pangan berupaya dipenenuhi melalui program Revolusi Hijau. Mengingat Revolusi Hijau fokus pada beras, maka swasembada pangan yang dicanangkan, menjadi swasembada beras. Untuk mendukung tercapainya target swasembada beras, ditanamkan nilai nilai dan  propaganda di tengah masyarakat bahwa mengkonsumsi nasi beras dianggap lebih bermartabat dan meningkatkan status sosial. Kondisi sosial yang dibangun saat itu mempengaruhi dinamika di desa dan dusun dusun di Jawa, termasuk  Wintaos. Para petani dan keluarga menganggap mengkonsumsi beras bisa menaikkan martabat hingga berapa derajat. Peluang dan harapan untuk bisa mengkonsumsi beras padi lebih banyak bisa dipenuhi ketika menanam padi unggul ini.

Sejak bisa memanen padi dan memiliki stok beras berlipat ganda dibanding sebelum Opsus, masyarakat Gunungkidul umumnya mengkonsumsi beras dengan jumlah yang sama dengan thiwul, bahkan bagi yang lahannya luas dan panennya lebih banyak, bisa mengkonsumsi beras lebih banyak. Sebagian besar masyarakat Wintaos berpendapat “saiki wis mulyo, jaman iso mangan beras, mbiyen jaman rekoso mangan thiwul”(sekarang sudah sejahtera, saat bisa makan beras, dulu saat sengsara makanannya thiwul). Terlepas makan nasi beras dari sisi rasa relative lebih enak, mengkonsumsi  beras (padi) dianggap sebagai symbol kesejahteraan. Thiwul yang dimakan di kala susah merupakan simbol perjuangan sekaligus kesengsaraan.

Pada tahun tahun paska penerapan Opsus keunggulan hasil bibit unggul mendorong petani menyediakan lahan-lahan terbaik (lenahan) yang mereka miliki untuk ditanami padi. Meski campursari masih diterapkan, menanam beberapa jenis dalam satu lahan, namun keragaman jenis yang ditanam tak sebanyak saat sebelum program Opsus dijalankan. Para petani tak lagi menanam secara semrawut seperti dulu lagi. Opsus mengajarkan petani untuk lebih menata cara bercocok tanam mereka. Dalam satu petak kebun yang lenah ( lahan yang datar, tak banyak batu dan lapisan top soil lebih tebal), umumnya diutamakan menanam padi. Singkong atau jagung yang ditanam rapi, berlarik-larik, bersebelahan dengan padi.  Tepi dan pinggir petak lahan umumnya ditanami kacang-kacangan dan beberapa jenis sayuran. Lahan-lahan kini lebih terlihat tertata. Namun, seiring dengan berkurangnya ke-semrawut-an, berkurang pula jenis keragaman yang ditanam. Ke-semrawut-an itu menandakan  keragaman yang dikonsumsi oleh petani dan keluarganya.

Baca juga:  Kepada Facebook Kita Mengadu

Karena padi unggul dan jagung hibrida ditanam berturut turut dari musim ke musim berikutnya. Beberapa tahun kemudian jenis-jenis varietas benih warisan mulai hilang (punah) karena tak lagi ditanam. Penananam varietas jenis unggul bawaan program Opsus secara terus menerus menjadi salah satu pemicu menghilang dan punahnya beberapa varietas benih warisan, seperti 9 padi,  varietas jagung dan sorghum. Karena jagung hibrida yang ditanam, Sego Bledak perlahan tapi pasti mulai hilang. Jagung Hibrida yang ditanam biasanya dipanen untuk dijual, tidak dikonsumsi keluarga. Jagung jagung hibrida hasil panen disetor ke pedagang, dan diangkut oleh truk ke luar desa. Memasak sego bledak menjadi langka.

Raskin, Jalan, Angkutan, dan Gaya Hidup

Tahun 1998 program beras raskin dicanangkan pemerintah, hampir semua keluarga di Wintaos mendapat jatah beras raskin. Semakin banyak beras masuk ke Wintaos. Akses ke beras pun semakin mudah sejak jalan raya dari Panggang ke Jogja mulai diaspal sekitar tahun 1980-an – 1990 an, sehingga mobilitas bis, truk dan angkutan barang  lebih leluasa. Banyak pedagang yang membawa dan kulakan bahan-bahan pangan termasuk beras dari Pasar Imogiri dan dibawa ke desa-desa di Kecamatan Panggang, termasuk ke Dusun Wintaos. Sebaliknya, keberadaaan angkutan, umumnya bak terbuka, membuat gaplek dan kacang kacangan hasil panen dari Wintaos dibawa ke Pasar Imogiri. Keluarga keluarga di Wintaos umumnya menyisakan gaplek disisakan seperlunya untuk stok pangan dan cadangan pangan secukupnya, selebihnya dijual untuk mendapatkan cash. Uang yang didapat seringkali digunakan untuk membeli beras. Jagung hibrida yang ditanam dijual, uang yang didapat untuk beli beras.

Jalan raya yang diaspal mulus, membuat mobilisasi mudah. Banyak orang mengiris kebun, jual sapi ataupun kambing untuk beli motor. Semua keluarga kini bisa memiliki sepeda motor, bahkan dalam satu keluarga kini memiliki beberapa. Saat ini, sebagian besar orangtua Wintaos, jika memiliki anak remaja usia SMP, akan membelikan motor digunakan untuk transportasi ke sekolah. Keberadaan motor membuat anak anak muda dan usia produktif lebih mudah dan cenderung mencari kerja di kota kota terdekat, baik Bantul maupun Jogja. Bekerja di kota sering mereka sebut sebagai mburuh.

Mburuh biasa dilakukan dengan cara menginap di tempat kerja atau kost dan pulang ke dusun saat libur kerja. Sebagian dari mereka pulang seminggu sekali, tiap sabtu sore. Paska tahun 2000 ketika semakin banyak orang memiliki sepeda motor, muncul dan semakin banyak orang yang mburuh dengan cara nglajo. Bekerja di kota umumnya dilakukan di sektor informal. Sebagian besar mereka bekerja menjadi buruh bangunan. Mereka umumnya berangkat dari rumah di pagi hari dan pulang kembali sore. Selama bekerja di luar desa, mereka terbiasa dan beradaptasi dengan pangan yang umum di makan di Bantul dan Jogja, yaitu nasi putih. Jika stok beras hasil panen habis, upah hasil mburuh di kota, sebagian digunakan untuk beli beras. Orang orang Wintaos yang bekerja menjadi buruh urban semakin jarang mengkonsumsi thiwul.

Thiwul Bagi Generasi Milenial

Meskipun banyak beras, Generasi sepuh (yang lahir sebelum tahun 1950), thiwul layaknya sudah menjadi kebutuhan tubuh karena mereka terbiasa mengkonsumsi tiwul sejak usia dini hingga dewasa, maka meski generasi anak dan cucu kini lebih cenderung mengkonsumsi nasi beras, hingga saat ini, sehari hari generasi sepuh tersebut tetap mengkonsumsi thiwul. Namun bagi para orang tua yang sudah usia lanjut dan tidak bisa memasak makanan sendiri, biasanya ‘pasrah’ mengikuti pola konsumsi keluarga.

Untuk generasi yang lahir antara tahun 1950 hingga1979, mereka tumbuh dari kecil hingga remaja/dewasa dengan mengkonsumsi tiwul. Sebelum 1980, nasi padi (beras) di masa itu adalah pangan mewah bagi mereka.  Namun paska 1980-an dimana selain produksi beras lebih banyak dan akses beras lebih mudah, mereka merasa ingin merasakan hasil kerja keras selama ini. Mereka ingin menikmati ‘kemewahan’ nasi beras. Apalagi normalisasi terkait wacana beras, dimana gencar saat itu diwacanakan  bahwa beras adalah makanan orang yang beradab dan meningkatkan status sosial. Wacana itu mendorong mereka juga mengkonsumsi beras supaya bisa merasakan kemewahan dan keberadaban. Generasi ini mengkonsumsi beras sebagai pangan sehari hari, namun mereka tetap mengkonsumsi tiwul secara berkala. Thiwul seringkali sebagai makanan klangenan. Bagi mereka mengkonusmsi tiwul tetap menjadi kebutuhan, karena tiwul menjadi pangan utama di masa kecil hingga separuh usia mereka.

Generasi yang lahir  paska 1980-an, terutama paska 1985-an yaitu generasi yang lahir ketika ‘kelompok normal’ adalah kelompok yang mengkonsumsi beras. Generasi kelahiran paska 1985 an, lahir ketika panen beras mulai banyak, keluarga juga sudah memiliki relatif banyak stok beras sehingga sejak kecil mereka sudah mengkonsumsi beras. Generasi ini memiliki ikatan yang ‘longgar’ dengan thiwul. Berbeda halnya dengan generasi yang lahir sebelum 1970 dimana memiliki ikatan yang relative kuat dengan thiwul. Generasi yang terlahir paska 1980, rata-rata telah melakukan mobilitas ke luar Wintaos, berinteraksi dengan beragam orang dari beragam daerah, desa dan kota. Mereka juga sudah menggunakan handphone (HP) dan rata rata pernah bersekolah atau bekerja di luar desa maupun luar kecamatan Panggang. Sebagaian besar dari mereka menjadi buruh musiman ataupun buruh urban. Mereka kini sehari-hari mengkonsumsi nasi (beras). Namun sebagaian dari mereka tidak menolak dan masih doyan memakan thiwul di waktu tertentu. Bahkan sebagian dari mereka masih mampu dan memiliki ketrampilan mengolah dan memasak thiwul. Mungkin karena mereka ditumbuhkan di kultur nenek-kakek yang sehari-hari mengkonsumsi tiwul.

Generasi Wintaos yang lahir paska 2000-an, generasi milenial. Generasi ini jangkauan mobilitas lebih jauh dan tinggi. Sebagian mereka ber-sekolah formal di area Jogjakarta, Bantul, dan Kota Wonosari sehingga biasanya untuk mobilitas, mereka menggunakan sepeda motor. HP dan gadget menjadi hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para milenial. Sebalikanya, saat ini semakin longgar ikatan mereka dengan thiwul. Sejak kecil orangtua memasak nasi beras untuk pangan sehari hari. Sebagian mereka sudah tidak doyan dan menolak thiwul meskipun keluarga memasakkannya.  Sebagaian besar dari mereka nyaris tak pernah belajar dan mengolah thiwul sehingga tidak memiliki ketrampilan dalam mengolah thiwul.

Waktu berjalan, ketika generasi sepuh yang tersisa satu persatu meninggal dunia, semakin sedikit dan berkurang orang-orang yang mempunyai ikatan kuat dengan thiwul. Berkaca dari generasi milenial yang memiliki ikatan paling longgar dengan thiwul, mungkin beberapa puluh tahun lagi, thiwul akan punah, tinggal kenangan.[]

cover tiwul - Cerita Thiwul

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi