Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Hikayat sebuah kota

Bagaimana kita membayangkan sebuah kota seperti Jember pada masa lalu? Mungkin dengan romantisme, kita bisa, walau agak terbatas. Atau mungkin dari makam, dari mereka yang mati, kita mencoba memahami bagaimana ‘yang lampau’ bergerak dan membentuk ‘yang kini’.

Dan siang itu, di bawah langit Desember 2011 yang kelabu, saya dan Harry A. Poeze berdiri di depan sebuah makam dengan nisan besar. Di sana tertulis: Hier rust Djemilah Birnie. Geb: 30 Juni 1845. Overl: 14 April 1906.

Poeze, saya menyapanya Pak Harry, adalah sejarawan tekun yang menulis sosok Tan Malaka, bapak Republik Indonesia yang terlupakan itu. Seorang Belanda, yang banyak tersenyum. Kami mendatangi makam Djemilah atas usulan Hendro Sumartono, seorang dosen Fakultas Sastra Universitas Jember, setelah bedah buku Poeze di kampus selesai.

Djemilah adalah istri George Birnie, seorang Belanda keturunan Skotlandia yang disebut-sebut sebagai bapak Jember modern. Sekitar tahun 1850, Birnie membuka perkebunan tembakau di Jember, untuk dipasarkan hasilnya ke Eropa. Ia mendatangkan pekerja dari Jawa Timur bagian barat yang Mataraman dan Pulau Madura.

Birnie tak hanya menanam tembakau yang menjadi bahan baku cerutu. Dia juga menanam kopi, karet, dan kakao. Kelak Jember menjadi pusat penelitian kopi dan kakao. Jember pada abad 19 adalah sebuah afdeling, bagian dari kabupaten Bondowoso. Tanaman perkebunan dibudidayakan di sekujur lereng pegunungan Argopuro.

Nama perusahaan perkebunan Birnie adalah Lanbhouw Maaschappij Out Djember. Pekerja-pekerja perkebunan yang didatangkan dari beberapa daerah di Jawa Timur, membuat Jember menjadi ramai. Tahun 1805, jumlah penduduk Jember hanya lima ribu orang. Akhir abad 19 sudah mencapai sekitar satu juta orang.

Esais Goenawan Mohamad pernah menulis soal Bruges, sebuah kota di Eropa. Menurutnya, di Bruges, “Tak ada yang aus: masa silam hadir secara rutin, dan secara bangga.”

Baca juga:  Rabina

Namun di hadapan makam Djemilah, saya merasa, masa silam sebuah kota seperti Jember justru hadir dalam kebingungan. Mungkin juga kesia-siaan. Masa silam seperti bukan bagian dari masa kini, dan oleh karenanya dirawat sekenanya saja.

Makam ini terletak di tengah persawahan, di tepi jalan raya Jember-Bondowoso, Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Di bawah rerimbunan pohon, ada tiga makam lain yang menyertai dengan ukuran yang lebih kecil. Tanpa batu nisan. Diduga, ini makam anak-anak Birnie dan Djemilah.

Tak ada yang peduli dengan makam ini. Toh ini bukan makam tokoh agama yang membawa syiar, atau dukun sakti yang bisa ditanyai soal nomor togel. Ini makam bukan siapa-siapa dalam struktur masyarakat kita: seorang perempuan yang menikahi seorang juragan Belanda. Sosok yang hilang dalam sejarah, dan hanya menyisakan ukiran nama di batu nisan.

Makam yang dijaga secara turun-temurun, terakhir oleh Jumadi yang tak tahu benar siapa Djemilah. “Tak oning kaule,” katanya dalam Bahasa Madura. Makam itu mulanya dijaga dan dirawat oleh Pak Juhana, dan “Pak Juhana sobung omor (meninggal dunia).”

Jumadi hanya tahu, ini makam istri Tuan Berni. Dalam masyarakat Jember yang dihuni percampuran suku Jawa dan Madura, itulah pelafalan nama Birnie. Dan Birnie hidup dalam selimut mitos. Seorang kawan asli Jember mengatakan, kakek dan neneknya mengenalkan ‘Tuan Berni’ sebagai sosok kulit putih yang dermawan. “Dia suka membagi-bagikan roti kepada rakyat,” katanya.

Saya tidak tahu pasti bagaimana Birnie kemudian bisa menikahi Djemilah. “Mungkin dia perempuan ‘raddin’,” kata Hendro. Raddin, cantik, dalam bahasa Madura.

“Tapi Birnie mencintai istrinya ini,” kata Poeze kepada saya. Djemilah bukanlah nyai, sebutan perempuan Indonesia yang dikawin orang Belanda sebagai simpanan. Dan makam itu adalah penandanya.

Djemilah menyematkan nama Birnie di belakang namanya. Ini bentuk pengakuan, bahwa ia adalah istri resmi, dan bukan gundik. Makamnya juga terbilang mewah dan mahal. Namanya diukir di atas plat yang menempel erat di batu nisan. Di bagian bawah plat nama Djemilah ada ruang kosong. “Ini akan jadi tempat plat suaminya kalau ia dimakamkan juga di sini. Tapi karena George Birnie tak dimakamkan di sini, maka tempat plat dibiarkan kosong,” kata Poeze.

Baca juga:  Losing a Job in the time of Corona

Masa lalu juga tak hadir dengan bangga di bekas kediaman Birnie yang tak jauh dari makam itu. Rumah di itu kini dijadikan sarang burung walet. Dua bagian lain rumah itu ditempati dua keluarga pekerja perusahaan perkebunan milik negara yang mengurusi tembakau. Nanik, istri sang pekerja kebun, menggeleng: tak tahu siapa itu Birnie.

Saya mencium ironi di sini. Sejarah Jember adalah sejarah kota yang diciptakan oleh peradaban lain yang disebut Barat, oleh sesuatu yang kolonial. Di samping pos polisi Jalan Sultan Agung, ada gedung bekas kantor maskapai Hindia Belanda atau Nederlandasche Handel Maatschappij. Kantor Badan Kepegawaian Daerah sebelum direnovasi menunjukkan bangunan asli kantor pemerintahan Jember setelah menjadi regenstchap tahun 1929.

Nama kota ini dikenali dari arsip-arsip pemerintahan Belanda. Provinciaal Blad ban Oost Java, 7 September 1929. Jember sejak awal tidak dimaksudkan dikembangkan sebagai sebuah kota administratif, namun sebuah daerah perkebunan.

Bahkan, sebelumnya, Jember hanyalah sebuah afdeeling di bawah naungan Gewestelijk Bestuur Besoeki, yang dipimpin seorang residen. Jember terbagi menjadi enam distrik, yang masing-masing distrik dipimpin seorang wedana, yakni Distrik Jember, Sukokerto, Mayang, Rambipuji, Tanggul, dan Puger.

Pemerintah Hindia Belanda lantas meningkatkan status Jember dari afdeeling menjadi regentschap. Regentschap setara dengan kabupaten. Sang bupati bukan lagi seorang Belanda, tapi pribumi yang berkulit sawo matang.

Jember ditetapkan sebagai kabupaten melalui staatsblad nomor 322 tentang Bestuurshervorming, Decentralisastie, Regentschappen Oost Java. Pengesahnya adalah Gubernur Jenderal De Graeff. Jumlah distrik diperluas menjadi tujuh, yakni distrik Jember, Kalisat, Mayang, Rambipuji, Tanggul, Puger, dan Wuluhan.

Baca juga:  Membaca Lir – ilir

Sebenarnya surat penetapan Jember sebagai kabupaten ditandatangani 9 Agustus 1928. Namun, surat itu berlaku efektif 1 Januari 1929. Kemudian kita tahu, 1 Januari ditetapkan sebagai Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Jember.

Didik Purbandriyo, Koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakal Kementerian Budaya dan Pariwisata, meyakini usia Jember lebih tua lagi. Bahkan mungkin lebih tua dari usia Surabaya.

Didik mengacu dari situs prasasti Congapan yang berada di Desa Karangbayat. “Di situ tertulis ‘tlah sanak pangilanku’ yang artinya tahun 1088,” katanya.

Jika ini menjadi acuan, maka usia Jember saat ini mencapai 923 tahun. Bandingkan dengan Surabaya yang berusia sekitar tujuh abad. Namun, tidak seperti Surabaya yang dipastikan tanggal berdirinya pada 31 Mei, masih sulit mengidentifikasi tanggal pasti lahirnya Jember.

“Kalau dilihat di kitab Negara Kertagama, Jember hanya perlintasan turne (perjalanan) Hayam Wuruk ke daerah selatan,” kata Didik.

Kelurahan Mangli dulu juga kerajaan kecil di bawah Blambangan. “Perang Sadeng yang termasyhur itu juga diperkirakan terjadi di daerah Kecamatan Balung sekarang. Perang Sadeng kemungkinan ada di sana, karena di Balung sampai Kecamatan Semboro ada temuan benteng,” kata Didik.

Sejarah pada akhirnya memang kembali hadir, memanggil kita melalui apa yang tak aus: batu-batu, prasasti, bangunan, atau makam. Namun apa yang tak aus itu pada akhirnya kita hancurkan sendiri: bangunan-bangunan dibongkar dan direnovasi, batu-batuan kuno dicuri, atau makam Djemilah dibiarkan saja di tengah persawahan diterpa hujan dan kemarau.

Entahlah. Mungkin warga Jember siapa tahu seperti warga London, Inggris. Mereka, kata Goenawan Mohamad: “tak mau kotanya menjadi museum.” []

jemilahbirnie - Djemilah

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi