Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ketika orang Barat seringkali rabun dalam urusan yang berkaitan dengan isu-isu nasionalisme dan identitas (terlebih dalam kasus Timur Tengah), dan ingin serba mudah dengan melempar semua permasalahan ke keranjang bernama “Islam” belaka.

DALAM bukunya A World Without Islam, sejarawan Graham E. Fueller mencoba memakai pendekatan sejarah counter-factual, untuk membayangkan sebuah dunia di mana Islam tidak akan ada, dan mempertimbangkan kecenderungannya saat ini, untuk mencari tahu apakah mereka akan berbeda atau tidak.  tanpa islam dunia tanpa islam

Sejumlah orang mungkin yakin bahwa tanpa Islam, tak akan ada perbenturan peradaban, seperti yang digambarkan Huntington (1993, 1996): tak ada perang jihad, tak ada terorisme. Tapi Fuller menolak asumsi itu. Dia sejak awal meyakinkan pembaca, bahwa andai Islam dihapus dari jejak sejarah, maka wajah dunia tetap akan sama seperti yang kita lihat sekarang.

Menurutnya, tetap akan terjadi perang melawan terorisme, benturan peradaban, kebencian terhadap Amerika Serikat, dan lain-lain. Fuller memulai uraiannya  dengan catatan sejarah nan panjang, tentang hubungan Timur-Barat sebelum dan sesudah kedatangan Islam. Dia mengemukakan bahwa “kompetisi” antara kedua belahan dunia itu telah hadir lama dan Islam tidak ada hubungannya dengan itu.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Bahkan dalam kasus Perang Salib, Fuller berpendapat, bahwa motif sejati mereka bukanlah untuk melawan Islam dan kembali ke Yerusalem Kristen. Selain itu, berkaitan dengan situasi umat Islam dewasa ini di negara-negara non-Muslim seperti Rusia, Eropa, India, dan Cina–dengan pengecualian India–dia berpendapat bahwa sebagian besar konflik antara negara-negara dan kelompok minoritas muslim mereka, akar masalahnya adalah etnisitas.

Sepanjang 14 bab buku ini, Fuller secara terinci memaparkan argumen itu dalam tiga bagian besar. Bagian pertama, mengajak kita untuk melihat akar, keterkaitan dan sejarah ketegangan Islam dan Kristen. Dia memulai bagian ini dengan melihat ke ajaran tiga agama besar Samawi (Yahudi, Kristen dan Islam), yakni ajaran Ibrahim perihal monoteisme. Di bab pertama yang berbicara tentang ajaran Ibrahim, Fuller mengutip ayat ketiga surah Al Ikhlas, dalam terjemahan Bahasa Inggris: “God neither begets, nor is He begotten.”

Bagian kedua memetakan relasi antara Islam dan peradaban lain, khususnya Barat, Rusia Ortodoks, India, dan Cina. Fuller menggambarkan hubungan antar peradaban yang (sebenarnya) lebih didominasi oleh relasi saling menguntungkan, ketimbang konflik dan konfrontasi.

Baca juga:  Negara Islam

Di bagian ketiga, Fuller mengajak kita untuk melihat sejarah yang lebih terkini dalam hubungan Barat dan Islam. Hubungan ini banyak ditentukan oleh kolonialisme, tumbuhnya nasionalisme, dan perjuangan kemerdekaan. Tentu saja ada warna-warna konflik yang muncul belakangan, terlebih satu dekade terakhir, ketika tarikan kepentingan politik dan ekonomi tenggelam dalam tema-tema keagamaan yang sangat kuat. Di era ini, tema kebangsaan dan geopolitik jadi tak semenonjol tema keagamaan seperti jihad.

Pada bagian terakhir buku inilah, menurutku, adalah yang paling menarik. Fuller bersawala ihwal kondisi apa yang terjadi hari ini dan peran apa yang dimainkan Islam dalam konflik di era kontemporer. Dia menjelaskan, bahwa simbol Islam digunakan sebagai faktor pemersatu kekuatan dalam mendapatkan banyak penduduk di bawah satu bendera. Sang sejarawan juga menegaskan bahwa Sosialisme, Pan-Arabisme, dan lain-lain, memainkan peran ini dalam dekade terakhir, dan telah gagal. Jadi hari ini, semua aktivis muslim beralih kepada Islam dan menggunakannya untuk tujuan tersebut. Dia mengakui tentang keunikan yang dimiliki oleh Islam membuat faktor ini menjadi lebih efisien.

Di sisi lain, Fuller juga menekankan pada peran kekuatan Barat. Dia kembali menyoroti era kolonialisme Barat beserta kebijakan-kebijakannya salah dan bodoh. Fuller bahkan mengatakan sesuatu yang aku tidak melihatnya di buku lainnya, bahwa penjajah Barat memastikan untuk meminggirkan kaum cendekiawan Muslim dan lembaga pendidikan, yang karenanya berkembang (atau tidak) terpisah dari masyarakat. Dan hari ini, bahwa para sarjana itu kembali ke peran ‘normal’ mereka, sangat wajar untuk melihat perbedaan pendapat antara apa yang mereka katakan dan apa yang mereka inginkan dari masyarakat.

Secara politis dan ekonomis, negara-negara muslim mempunyai agenda dalam negeri masing-masing, dan bahkan mesti dibayar dengan perang untuk mempertahankan kepentingan komunalisme regional dan identitasnya. Konflik yang terjadi antara Irak, Iran, Arab Saudi, Suriah, dan Mesir, hanyalah kelanjutan persaingan etnis dan regional jauh sebelum Islam datang.

Begitu pun persaingan antara Gereja Roma, Konstantinopel, dan Ortodoks Timur yang berpusat di Suriah dan Palestina sudah berlangsung ratusan tahun. Kemuliaan agama selalu saja tercoreng dan terkooptasi oleh negara yang secara laten berambisi memenuhi nafsu kekuasaan politik dan ekonominya.

Baca juga:  Gus Dur

Meski Kristen lahir di wilayah Arab, agama ini berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Namun sengketa dan klaim mazhab atau sekte tidak pernah luntur. Beberapa sekte Kristen Ortodoks Timur yang menggunakan bahasa Arab dan Yunani mengklaim dirinya paling dekat dengan tradisi Yesus. Namun mereka sadar sebagai pihak yang kalah dalam persaingan politik dan ekonomi dari sekte Kristen yang berkembang di Barat.

Klaim sebagai komunitas paling dekat dengan tradisi Islam yang otentik juga dikembangkan oleh masyarakat muslim Arab Saudi, sehingga memandang umat Islam non-Arab, seperti Turki dan Indonesia sebagai umat Islam pinggiran (periferal). Meski dikenal sebagai kantong umat Islam terbesar, Islam Indonesia dianggap rendah kadar keislamannya. Lingkungan masyarakat Barat pun baru belakangan ini semakin tahu Indonesia sebagai “the largest muslim country”, terutama setelah Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat yang pernah berkunjung ke Indonesia dan pidatonya diikuti dengan meriah oleh rakyat Indonesia. Dunia baru menyadari bahwa ternyata di Indonesia, demokrasi dan Islam tidak perlu dipertentangkan.

Adapun peristiwa terorisme yang mengatasnamakan Islam memang kenyataan yang tidak bisa dibantah. Namun sungguh ceroboh kalau kasus ini digeneralisasi untuk memberi label dunia Islam. Di satu sisi, radikalisme dengan simbol keagamaan dimunculkan oleh para militan Islam untuk meraih dukungan secara masif, tapi di sisi Barat simbol ini sengaja digunakan untuk menciptakan musuh baru setelah komunis ambruk. Di dunia ini begitu banyak pemerintah sah yang semula oleh lawan politiknya, yaitu imperialis Barat, dianggap teroris. Jadi, menyebut dunia Islam sebagai satu entitas politik, ekonomi, dan kebudayaan perlu dipertanyakan kesahihannya.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Selain kolonialisme, imperialisme Amerika Serikat ditunjuk sebagai penyebab utama di balik berkembangnya terorisme dewasa ini. Untuk itu, Fuller menyarankan beberapa solusi untuk mengurangi terorisme dan membawa perdamaian ke bagian dari dunia ini, yaitu ke seluruh dunia. Dia mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan oleh Amerika Serikat dan karena negara ini harus terus bergerak ke arah yang benar. Bahkan, jika aksi teror terus berlanjut karena, katanya, akan memakan waktu sebelum terciptanya perdamaian dunia. Dia berpendapat bahwa Amerika Serikat harus bertindak seolah-olah Islam tidak ada dalam merumuskan kebijakannya di Timur Tengah. Fuller memberikan beberapa solusi, antara lain:

  1. Intervensi militer dan politik Barat di dunia Muslim harus segera dihentikan.
  2. Amerika Serikat harus menarik dukungan khusus dari diktator pro-Amerika yang mendiskreditkan citra Amerika Serikat dari sudut pandang umat Islam.
  3. Demokratisasi harus diizinkan untuk berlanjut di dunia Islam, tetapi Amerika Serikat tidak harus menjadi kendaraan untuk pelaksanaannya.
  4. Amerika Serikat harus menerima bahwa di bawah proses demokrasi, partai Islam akan terpilih secara sah dalam pemilihan awal di sebagian besar negara-negara Muslim. Ia percaya partai-partai ini akan cepat didiskreditkan karena mereka tidak akan mampu memperbaiki masalah-masalah negara mereka.
  5. Solusi awal untuk masalah Palestina harus ditemukan.
  6. Hanya Muslim (yaitu penduduk setempat) yang pada akhirnya akan dapat menemukan solusi untuk menangani radikalisme Islam.
Baca juga:  Lelaku Manusia Jawa

Sebenarnya, tak ada yang baru dengan semua data yang disajikan Fuller. Sejarah agama-agama dan relasinya satu sama lain telah banyak dibahas oleh para sejarawan seperti Marshall G. S. Hodgson (1974), Karen Armstrong (1993), atau Ira Lapidus (1988). Peta terkini dalam hubungan Barat dan Islam telah secara mengesankan dibahas oleh Bernard Lewis (2002). Kontribusi utama Fuller dalam diskusi ini adalah perspektifnya. Tekanan utama yang dibuat oleh Fuller adalah bahwa faktor geopolitik lebih banyak menentukan pola relasi Barat dan Islam, ketimbang isu agama. Tentu saja para pengkaji Timur Tengah dan Islam telah sangat lama mengingatkan pentingnya untuk memahami setting sejarah dan geopolitik dalam konflik Barat dan Islam. Bernard Lewis, misalnya, banyak membahas ini dalam sejumlah karyanya (1990, 1993, 2002).

Untuk memafhumi bagaimana faktor geopolitik jauh lebih menentukan ketimbang faktor keagamaan, Fuller mengajak pembaca untuk melihat banyaknya kesamaan isu antara konflik Ortodoks vs Katolik, dan konflik Islam vs Kristen. Dua-duanya terpola menurut peta Barat dan Timur. Masalahnya, tegas Fuller, orang Barat seringkali rabun dalam urusan yang berkaitan dengan isu-isu nasionalisme dan identitas (terlebih dalam kasus Timur Tengah), dan ingin serba mudah dengan melempar semua permasalahan ke keranjang bernama “Islam” belaka. Akhirnya, aku kira buku ini adalah suntikan yang positif dalam diskursus di dunia Barat, dan terutama di Amerika Serikat, karena menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan pemikiran mainstream.[]

Tidak ada artikel lagi