Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang asal mula gelombang anti-Komunisme dan phobia atas ideologi kiri di Indonesia

Saat Pemerintah Orde Baru berkuasa, teror 1965 dikombinasikan dengan kebijakan “massa mengambang”, menyerang organisasi kekuatan revolusi sosial. Serangan fisik terhadap ideologi kiri merupakan suatu “pembasmian ideologi” sesungguhnya. Tentu saja kadar teror seperti itu menelikung gagasan-gagasan revolusi, dan kiri khususnya, dengan imbas suasana ketakutan yang mendalam. Siapa pun yang bisa dihubungkan dengan kiri atau menguntungkan gagasan-gagasan kiri bisa menjadi sasaran teror seperti itu.

Tuduhan menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) bisa menjadi tuduhan yang paling mengancam yang bisa dilontarkan. Setiap orang bisa dipaksa untuk mendapatkan surat “bersih diri” dari infeksi PKI, yang dikeluarkan oleh pejabat dan polisi setempat. Kehadiran lebih dari 12.000 aktivis sayap-kiri di kamp konsentrasi Pulau Buru hingga 1978, merupakan peringatan yang sangat berpengaruh bila seseorang mendukung atau disangka terkotori oleh gagasan-gagasan seperti itu.

Dalam dunia intelektual pun, pemerintah sadar bahwa teror dan penindasan awal tidaklah cukup. Lembaga-lembaga yang akan menyebarkan gagasan-gagasan kiri sudah dihancurkan. Mereka tak lagi dianggap sebagai bahaya yang akan segera mengancam. Ancaman tersisa lainnya datang dari revolusi nasional itu sendiri, yakni dari warisannya, yang datang dari ingatan tentang apa yang dahulu sudah diupayakan dicapai.

Ingatan akan revolusi nasional harus dihapus dari ingatan popular, karena keberadaan Indonesia, bahkan sebagai konsep sekalipun, benar-benar merupakan produk langsung proses revolusioner. Karena itu, tugas menghapus ingatan merupakan tugas yang mahabesar. Dalam hal ihwal tersebut, kita dapat melihat cara pandang kontra-revolusi, mengapa pembantaian dan teror yang begitu mendalam sangat dibutuhkan.

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box]

Dalam hal itu, di media, seni dan kebudayaan, serta universitas, tak ada masalah mendesak. Semua lembaga itu segera saja jatuh ke tangan kendali intelektual-intelektual yang mendukung atau simpatik terhadap kontra-revolusi. Universitas yang paling terkemuka di negeri ini, Universitas Indonesia (UI), menjadi lokasi bagi kerjasama seminar-seminar dengan angkatan bersenjata untuk memetakan masa depan negeri.

Baca juga:  Pertanyaan Seputar Kebudayaan

Dua organisasi kebudayaan kiri yang besar sudah dilarang, dan para penulis serta senimannya sudah dipenjara dan dibuang ke Pulau Buru. Koran-koran yang dahulunya menempel pada partai-partai politik dan memiliki perspektif ideologi tertentu, kini secara terang-terangan menggunakan cara pandang tentara dan kontra revolusi, atau diam-diam menyetujui dalam masalah-masalah sentral. Bahkan mereka sekaligus juga berupaya memapankan dirinya sebagai perusahaan-perusahaan bisnis yang sukses. Para intelektual Manifesto Kebudayaan (Manikebu) mendominasi di mana-mana, sangat berat rasanya bagi mereka untuk memberikan sekadar catatan kecil keprihatinan, sekalipun bagi nasib ratusan intelektual sejawatnya yang sedang dibui.

Dalam lembaga-lembaga itu hanya satu versi “Demokrasi Terpimpin” yang dapat disebarluaskan. Debat perihal periode itu tidaklah mungkin. Semua tulisan Soekarno, para pemimpin dan intelektual-intelektual PKI, serta organisasi-organisasi kiri lainnya dilarang dan dilenyapkan dari semua toko buku dan perpustakaan. Bagi para intelektual yang turut menikmati kemenangan Angkatan Darat (AD), periode sebelum 1965 adalah salah satu teror bagi mereka. Popularitas saingan-saingan mereka itu dalam ajang seni dan kebudayaan merupakan teror bagi mereka. Baik posisi-posisi mereka dalam lembaga-lembaga pendidikan dan kesenian maupun pasar terancam. Mereka bisa bertahan hanya bila bekerjasama dengan AD menentang Bung Karno sebelum 1965, dan apalagi setelah 1965.

Teror itu yang bagi penentang Soekarno, diartikulasikan sebagai dakwaan tirani, tetap mengizinkan keterwakilan mereka melalui media, kesenian, dan universitas-universitas dalam periode Demokrasi Terpimpin. Generasi intelektual Manikebu itu menjadi terkenal dengan sebutan Angkatan ’66, dan dalam lima tahun pertama karya-karya sastranya yang paling menunjukkan sentimen-sentimen mereka adalah kumpulan puisi Taufik Ismail yang berjudul “Tirani”, dicetak dengan kertas stensil pada 1966. Dalam perspektif seperti itulah semua lembaga ideologis diizinkan ada. Ironisnya, monopoli perspektif itu bukanlah hasil penerimaan popular terhadap salah satu pandangan atau yang lainnya, namun berbasiskan pada suatu tirani fisik yang sebenarnya.

Baca juga:  Mengalami Jakarta

Namun demikian, penghapusan ingatan terhadap sejarah pergerakan nasional 60 tahun yang lalu membutuhkan juga pendekatan yang sistematik. Orde Baru mulai secara total menulis kembali sejarah Indonesia yang akan disebarkan di sekolah, universitas dan melalui media massa. Tugas itu diemban oleh Pusat Sejarah Angkatan Bersenjata, yang dipimpin oleh seorang sejarawan yang dipakai oleh militer (AD) dan diberi gelar tituler Brigadir Jenderal: Nugroho Notosusanto. Sejarah resmi Indonesia diproduksi oleh negara. Buku teks ditulis bagi semua tingkatan sekolah dan dicoba dalam pelbagai bentuk sepanjang 32 tahun.

Seorang intelektual Angkatan ’66 terkemuka juga diinstruksikan untuk menghasilkan film layar lebar yang menggambarkan versi Orde Baru ihwal politik di masa Bung Karno, dan apa yang mereka akui sebagai “kup komunis yang gagal” pada 1965, lengkap dengan lukisan rinci tentang penyiksaan yang dilakukan oleh kaum komunis yang haus darah. Film itu wajib ditonton oleh anak-anak sekolah seluruh Indonesia selama hampir dua dekade. Ada juga film layar lebar tentang sejarah Indonesia yang diproduksi negara, yang khususnya menggambarkan perkiraan aktifitas heroik Suharto pasca dia ke luar dari KNIL, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger, dan bergabung dengan kekuatan Republik.

Bahkan periode pemberontakan bersenjata langsung antara 1945-1949, diubah namanya. Periode itu selalu secara khusus diacu sebagai periode “revolusi”. Dalam rangka penulisan kembali sejarah Indonesia, sebutannya kemudian disulap menjadi “Perang Kemerdekaan”, menghilangkan peran massa rakyat dalam menggulingkan kekuasaan kolonial di pelbagai kehidupan sosial.

Itulah gambaran sejarah yang dipaksakan melalui sistem pendidikan, yang diajarkan berulang-ulang tanpa debat atau versi tandingan yang diizinkan. Itulah yang diajarkan oleh generasi baru para guru yang dididik pada masa Orde Baru, setelah sebelumnya ribuan guru menjadi korban pembantaian pada 1965 dan disingkirkan dari pekerjaannya. Terdapat tenaga guru baru dan “segar”, laiknya Roma pasca pemberontakan Spartacus: hanya satu sejarah yang diperbolehkan!

Baca juga:  Pram
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Sekarang, 50 tahun kemudian, sangat sedikit dari manusia Indonesia yang berusia 40-an tahun pernah membaca pidato-pidato Bung Karno atau para pemimpin nasionalis awal lainnya. Dua dari pemimpin itu, Soekarno yang radikal dan Mohammad Hatta yang pro-Barat, yang memiliki peran dalam sejarah, dalam penjelasan Orde Baru diubah perannya menjadi sekadar Proklamator Kemerdekaan. Mereka adalah aktifis politik dan pemimpin, organisator, pembicara publik, dan penulis yang produktif dalam revolusi nasional, tapi Orde Baru menerjemahkannya kembali menjadi sekadar dua orang yang membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tidak ada seorang pun yang punya keinginan lebih dari itu; atau mengetahui kekayaan gagasan-gagasan dan pengalaman politik negeri mereka sendiri.

Kebohongan sejarah telah begitu seksama sehingga bahkan peristiwa politik penting pada masa Orde Baru sendiri, seperti demonstrasi besar mahasiswa yang hampir saja merubuhkan Suharto pada 1974, tak banyak diketahui secara mendalam oleh banyak orang. Bagi banyak orang, sejarah Indonesia itu hampir-hampir sepertinya dimulai pada suatu waktu di tahun 1980-an. Pada 1980an, kombinasi antara dominasi Angkatan ’66 terhadap media, kesenian, dan universitas, dengan kebohongan sejarah yang sistematik dan tidak tertandingi melalui sistem pendidikan, sungguh-sungguh menghapus ingatan apa pun dalam pikiran popular perihal proses revolusioner nasional yang terjadi sebelum 1965.

Jadi, kita tak perlu heran terhadap gelombang anti-Komunisme dan phobia atas ideologi kiri di Indonesia sekarang ini. []

dustasejarah - Dusta Sejarah

Dusta Sejarah 196565

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi