Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang perubahan tidak selalu dari kota

Suara perubahan bisa hadir dari mana saja, termasuk dari sebuah rumah di pelosok Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Di sebuah rumah dengan pelataran luas layaknya rumah khas desa, anak-anak bermain dan belajar. Revolusi harapan disemai di sana.

Mulanya adalah Farha Ciciek dan suaminya, Suporahardjo. Sekitar tahun 2009, ia bertemu tiga bocah yang menjadi teman bermain dua anaknya. Iseng-iseng, Ciciek bertanya kepada mereka. “Ibu kalian di mana?”

Salah satu bocah itu bercerita, ibu dan ayah mereka bekerja di luar negeri. Selama ini, mereka dititipkan kepada sang nenek yang juga sibuk berjualan sayur-mayur. Ledokombo memang salah satu daerah pengirim buruh migran di Jember. Anak-anak buruh migran itu dititipkan untuk ‘dibesarkan oleh alam’. “Mereka dititipkan ke tetangga, kakek, nenek,” kata Ciciek.

Ciciek tercengang dengan fakta itu. “Oh, my God,” pikirnya.

Semula, ia pulang kampung dari Jakarta ke desa kelahiran sang suami di Jember, karena ingin merawat sang ibu mertua yang telah renta. Namun gejala sosial di Ledokombo membuatnya tergerak. Selama di Jakarta, Ciciek bersama Suporahardjo adalah aktivis sosial organisasi non pemerintah. Ciciek pernah bekerja sebagai dosen Universitas Nasional Jakarta, dan aktif di beberapa lembaga seperti Rahima dan Kalyanamitra.

Perempuan kelahiran Ambon 26 Juni 1963 ini lantas memutuskan bersama Suporaharjo: saatnya untuk bertindak untuk melakukan perubahan, setidaknya untuk anak-anak itu. Mereka merasa itu adalah panggilan alam. Ciciek melihat anak-anak buruh migran adalah yatim piatu secara sosial. Anak-anak para tenaga kerja Indonesia mengalami persoalan sosial yang lebih besar daripada anak-anak biasa.

Ciciek pernah bertemu dengan seorang anak yang malah susah hati, saat sang ibu hendak pulang ke tanah air. Pertanyaan si anak sederhana: akankah si ibu masih mengenalnya, setelah pergi bertahun-tahun? Apakah sang ibu masih sayang? Apakah sang ibu tak akan pergi lagi. Sederhana, tapi sulit dijawab untuk meyakinkan si anak.

“Banyak yang memperhatikan persoalan buruh migran, tapi sedikit yang memperhatikan anak-anak mereka. Kita bisa mengalami bunuh diri generasi kalau mereka dibiarkan begitu saja,” kata alumnus IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dan lulusan pascasarjana Sosiologi Universitas Gajah Mada ini.

“Bagaimana bersama-sama membangun ruang bermain bagi anak-anak. Pelan-pelan, bagaimana orang tua susah, tapi anak-anak harus bahagia,” tambah Supo. Dengan kebahagiaan dan memori menyenangkan di masa kecil, anak-anak para buruh migran itu bisa tumbuh dewasa menjadi orang yang lebih baik.

Maka, Ciciek dan Supo mengawalinya dengan membentuk sebuah kelompok belajar dan bermain bernama Tanoker. Dalam bahasa Madura Pendalungan, tanoker berarti kepompong. Tanoker, kepompong, sebuah bagian dari transformasi kehidupan kupu-kupu.

Baca juga:  Kapitalisme yang Dibangun di Bawah Bidikan Senjata

Supo menggunakan permainan egrang sebagai alat perekat sosial dalam kelompok itu. Semula Supo tak meniatkan itu. Ia hanya memperkenalkan egrang kepada dua anaknya, Mokhsa Imanahatu Atolu yang waktu itu masih berusia 12 tahun, dan Zen Zerozona yang waktu itu masih berusia 7 tahun.

Dua anak itu dibesarkan di Jakarta. Selama bertahun-tahun, mereka lebih mengenal modernitas, dan di Ledokombo, modernitas tidak hadir dengan riuh dan gemerlap. Suasana desa yang lengang membuat mereka ditelan bosan. Maka, Supo menarik kenangan masa kecilnya. “Kebetulan di kebun belakang banyak pohon bambu,” katanya.

Supo mengajari dua anaknya cara membuat dan menggunakan egrang. Egrang adalah permainan anak tradisional, yakni semacam kaki panjang buatan dari bambu yang membuat para pemakainya lebih jangkung. Di perkotaan, permainan ini nyaris tak tampak. Di desa seperti Ledokombo, egrang sebenarnya bagian dari tradisi dan kehidupan sosial. Saat Ledokombo diterpa banjir pada masa lalu, warga menggunakan egrang sebagai alat transportasi. Namun, di desa pun, permainan ini nyaris hilang dengan semakin populernya tempat-tempat penyewaan play station.

Supo dan Ciciek membersihkan pelataran belakang rumah mereka, untuk dijadikan tempat bermain dan belajar. Mulanya tidak ada yang serius. “Saya bikin dua, tiga egrang. Lalu anak-anak sini ikut-ikutan main. Kita bikinin saja. Anak-anak bemain dengan semangat. Kita kasih hadiah. Juara I kita kasih Rp 5.000. Kalau Minggu, kita bikin lomba sama-sama anak-anak. Minimal cuma Rp 5000 keluar, anak-anak sudah ramai di sini,” kata Supo.

Melalui permainan tradisional, Ciciek dan Supo mengajarkan makna sportivitas, keberanian menaklukkan tantangan, dan kemauan untuk berbagi. “Permainan anak tradisional memiliki filosofi luar biasa, ramah lingkungan, dan mengajarkan team work,” kata Ciciek.

Ciciek tersenyum melihat halaman belakang rumahnya mulai dipenuhi anak-anak kecil. Ia meyakini, anak-anak akan membawa perubahan sosial. Hasilnya? “Waktu anak-anak bermain playstation berkurang banyak. Mereka malah senang bermain egrang, bakiak,” katanya.

Belakangan, Tanoker membuat festival yang digelar setiap tahun, dan mengelola egrang sebagai sarana hiburan modern. Moksha banyak menyembangkan gerakan-gerakan baru dalam seni bermain egrang. Ia membuat koreografi menari dengan egrang.

Dari hari ke hari, anak-anak itu datang ke rumah Ciciek dan Supo bukan hanya untuk bermain. Mereka ke sana untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. “Mereka disuruh oleh guru di sekolah. Akhirnya, saya beri PR menulis karangan esai tentang pengalaman mereka saat lebaran, dan mereka menulis dengan bagus sekali,” kata Ciciek.

Ciciek membangun kedekatan dengan anak-anak melalui hubungan emosional seorang ibu. Saya pernah melihat dia memarahi beberapa orang anak sembari menangis. Anak-anak yang dimarahi itu juga ikut menangis.

Baca juga:  Bencana Alam Perdana

Ciciek dan Supo melatih anak-anak itu untuk berani berpendapat dan mengeluarkan argumentasi kritis di depan siapa saja. Ini terlihat saat Bupati Jember Muhmmad Zainal Abidin Djalal berkunjung ke Tanoker, dan berdialog dengan anak-anak di sana. Mokhsa dengan enteng bertanya, “Pak, kenapa Ketua RT, RW, sampai bupati, kalau datang kenapa suka telat dan hobinya kok korupsi?”

Mokhsa menyinggung Djalal yang datang terlambat ke Tanoker. Sejumlah pejabat yang hadir dalam acara itu tersenyum. Mungkin mereka cemas, bupati akan tersinggung mendengar pertanyaan tanpa tedeng aling-aling seperti itu.

Namun, Djalal tersenyum. Tak ada tanda-tanda kemarahan di wajahnya. “Wah kalau pertanyaan itu, tanyakan kepada yang korupsi. Kalau saya korupsi, datang ke saya dan tegur saya. Bilang agar saya jangan korupsi,” katanya.

Djalal meminta maaf, karena datang terlambat. “Saya tidak akan beralasan. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mudah-mudahan saya dimaafkan ya?”

Ciciek sempat diprotes salah satu birokrat, kenapa tidak mempersiapkan dan melatih pertanyaan yang bakal ditanyakan anak-anak. Istilah kerennya, merekayasa. Ia tidak suka melakukan pengondisian model kelompencapir Orde Baru. “Saya jawab, biar sajalah,” katanya, enteng.

Ada kalanya, Ciciek dan Supo diuji oleh kritisisme anak-anak yang mereka tanamkan sendiri. Suatu kali, anak-anak pernah menyatakan keinginan untuk mengikuti acara ‘Indonesia Mencari Bakat’ di Trans TV. Mereka ingin memperkenalkan egrang dan Tanoker ke publik yang lebih luas.

Tujuan anak-anak itu baik. Namun, biaya jadi kendala. Tak semua orang tua anak-anak yang bergabung dan belajar di Tanoker berasal dari kelompok kelas ekonomi yang beruntung. Ciciek dan Supo bisa saja membiayai, namun bagaimana dengan yang lain? Mereka mencoba meredam keinginan anak-anak itu.

Bukannya menurut, anak-anak itu malah menolak untuk membatalkan niat tersebut. Perlawanan justru dipimpin oleh Mokhsa. Mokhsa mengeluarkan uang dari tabungan pribadi untuk membiayai keberangkatan mereka ke Jakarta. Sementara, anak-anak lainnya merengek pada orang tua masing-masing, meminta jatah duit jajan diberikan kepada mereka. Ada juga yang meminta jatah biaya khitanan diberikan saat itu juga.

Kegigihan anak-anak itu akhirnya meluluhkan Ciciek dan para orang tua. Mereka sepakat memberangkatkan anak-anak ke Jakarta dengan biaya hemat. Ini bukan perjalanan yang mewah. Anak-anak itu berhasil menahan diri untuk tidak jajan selama perjalanan dan saat berada di Jakarta. Semua perbekalan makanan sudah disiapkan dari rumah.

Di Jakarta, anak-anak belajar bagaimana industri tontonan memperlakukan mereka. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin. Namun apa yang dalam benak mereka tak seindah apa yang terjadi. Anak-anak itu harus bersabar menanti berjam-jam untuk proses pengambilan gambar. Mereka kelelahan, dan gagal menembus babak final. Mereka kapok.

Baca juga:  Orang Lain

Namun, harapan mereka untuk tampil di televisi tak bertepuk sebelah tangan. Rumah Produksi Set Film Workshop milik Garin Nugroho, seorang sutradara tenar Indonesia, menjadikan Tanoker sebagai salah satu tema film pendek berdurasi 48 menit untuk program televisi Pustaka Anak Nusantara Seri II. Dosy Umar, sang sutradara, mengatakan, tayangan itu semacam ensiklopedimedia televisi tentang tradisi permainan anak-anak di beberapa daerah di Indonesia.

Egrang memang tak hanya ada di Ledokombo. Namun di mata Dosy, egrang yang dimainkan anak-anak Tanoker memiliki nilai lebih, karena lebih mengarah ke penampilan atraksi yang memiliki pesan. “Kerja tim lebih didahulukan daripada individualitas. Ego dilebur,” katanya,

Dosy dan kawan-kawan mengambil gambar pada Juli 2011. Mereka menggelar casting atau pemilihan pemain yang membuat para orang tua di Ledokombo bersemangat mendaftarkan anak mereka. Tak semua puas dengan hasil casting itu. Ada yang menggerutu, lalu bermuara pada gosip.

Ciciek bisa memahami itu semua. “Di Ledokombo ada label negatif, bahwa orang sini tak bisa maju, orangnya keras kepala, egois. Mohon maaf, aparat pemerintah daerah kalau under qualified, di bawah rata-rata atau orang hukuman, kalau jelek, dibuang ke sini,” katanya.

Perubahan harus dimulai perlahan. Jika ada perlombaan yang digelar Tanoker, Ciciek memilih juri dari luar daerah untuk menjaga netralitas. “Orang tua bisa rebutan. Kalau anaknya tidak dipilih, mereka bisa saja melarang anaknya belajar. Kita harus sabar,” katanya.

Tak sekali dua kali Ciciek mengalami perlakuan tak mengenakkan hati dari warga sekitar, karena persoalan sepele. Kadang ia lelah. Namun Supo mengatakan, “It’s your people. I love them.”

Anak-anak membuat Ciciek dan Supo tetap yakin. Anak-anak menunjukkan bahwa stigma bukan takdir. “Anak-anak bisa memaksa guru dan orang tua mereka berubah,” kata Ciciek.

“Anak-anak lebih genuine, jujur, terbuka terhadap perubahan. Handicap di orang tua. Kalau orang tua tak berubah, ini jadi batu yang menghadang perubahan anak-anak. Tapi ini gerakan bersama, kerja kebudayaan,” kata Ciciek.

Gusti Kanjeng Ratu Hemas, istri Sri Sultan Hamengkubuwono X, Raja Jogjakarta, memuji Tanoker saat menyaksikan acara Festival Egrang Tanoker III, Juli 2012 silam. “Mulai dari Jember sini, akan mengalir perhatian pada pertumbuhan, perkembangan, sampai pada posisi anak Indonesia ke depan. Kalau pemerintah tak melakukan kegiatan, kitalah masyarakat memulai dari yang terkecil,” katanya.

Ciciek optimistis perubahan sosial berasal dari desa, dengan anak-anak sebagai agen sosial. “Kita harus mempertanyakan lagi kepercayaan, bahwa perubahan berasal dari kota besar, elite, dan orang dewasa,” katanya.

Sebuah perubahan, sebuah revolusi harapan. []

fcsupo - Egrang dan Sebuah Revolusi Harapan di Ledokombo

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi