Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Anak di Pusat atau Pinggiran (?) Melihat Pertentangan Gagasan tentang Anak dalam Program PAUD di Ende

Catatan etnografi ini akan bercerita tentang bagaimana gagasan global tentang anak-anak yang direfleksikan dalam Program Anak Usia Dini (PAUD) bertemu dengan gagasan tentang anak-anak yang telah dipercayai oleh masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat Tanjung di pesisir Selatan Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

PAUD sendiri merupakan program bagi anak-anak yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia sejak awal tahun 2000an setelah berakhirnya Orde Baru. Seiring dengan meningkatnya peran LSM dalam masa yang disebut sebagai masa demokratisasi ini, hak anak dan perempuan adalah salah satu persoalan yang sering diangkat. Beberapa kebijakan yang menyangkut isu anak kemudian dibuat (Newberry, 2012). Pendidikan anak adalah salah satunya. Program PAUD menjadi semakin besar ketika dihubungkan dengan Millenium Development Goals (MDGs) yang dirancang oleh Bank Dunia. Program ini merupakan program peningkatan kesejahteraan bagi negara-negara dunia ketiga, yang berpendapat bahwa memberikan akses pendidikan seluas-luasnya akan berdampak signifikan terhadap turunnya angka kemiskinan.

Di sisi lain,  PAUD adalah contoh bagaimana gagasan Barat diintegrasikan dalam pendidikan di Indonesia. Seperti yang akan ditunjukkan dalam paper ini, beberapa gagasan baru PAUD tentang anak-anak bertentangan dengan  gagasan yang dipercayai masyarakat Tanjung. Pertentangan gagasan ini menimbulkan dinamika yang menarik, yang menunjukkan bagaimana masyarakat Tanjung memilah-milah gagasan tersebut untuk mereka pakai sesuai dengan apa yang mereka anggap penting atau tidak. Di sisi yang lain, situasi ini juga menimbulkan akibat yang  serius bagi pendidikan anak-anak di Tanjung, yakni ketika PAUD tidak mampu membantu mereka memahami realitas mereka sehari-hari.

Gagasan tentang Anak di dalam Program PAUD

Gagasan tentang anak-anak dan pendidikan untuk anak-anak dalam program PAUD banyak dipengaruhi oleh gagasan yang dikembangkan oleh Bank Dunia dan lembaga-lembaga internasional lain yang bergerak di bidang anak-anak seperti UNICEF dan Plan Internasional. Tentu saja, ini bukan kebetulan karena Bank Dunia, bersama dengan Pemerintah Kerajaan Belanda, meminjamkan dana dalam jumlah besar untuk program PAUD. Indonesia bukanlah satu-satunya negara yang mengadopsi konsep pendidikan untuk anak-anak berusia di bawah 6 tahun. Bank Dunia juga menawarkan konsep tersebut kepada negara-negara lain yang mereka anggap memiliki tingkat kemiskinan tinggi.

Konsep Bank Dunia tentang anak-anak usia di bawah 6 tahun dipengaruhi teori perkembangan psikologi pertumbuhan serta studi-studi genetika dan biologi. Anak-anak pada masa ini dianggap berada pada masa keemasan sehingga jika mereka diberi nutrisi dan pendidikan yang baik, mereka tidak akan kesulitan dalam tahap pendidikan selanjutnya. Mereka menganggap bahwa anak-anak di manapun di belahan dunia ini memiliki tahap pertumbuhan yang sama (Penn, 2002:123-125). Mari kita perhatikan petikan artikel dari sebuah surat kabar online terkemuka di Indonesia. Artikel ini menuliskan pendapat seorang psikolog tentang masa keemasan anak:

 Pada periode emas itu, kemampuan daya serap anak bahkan mencapai 50 persen yang terus menurun pada tahun-tahun berikutnya. Bila periode emas itu dimanfaatkan, Reni mengatakan, perkembangan otak anak akan semakin baik. “Simpul-simpul sarafnya akan semakin banyak,”katanya. Stimulasi ini tidak rumit. Panca inderanya hanya dirangsang membedakan bau, bunyi, dan lain. Makin besar, dikenalkan dengan angka, huruf dan sebagainya.

Bila gelas potensi itu diisi maksimal sejak dini, Reni mengatakan akan terbentuk anak-anak yang cerdas sekaligus pintar di kemudian hari. “Anak-anak beginilah yang bisa melejit menjadi bintang,”katanya[1].

Imaji anak sebagai gelas kosong yang perlu diisi dengan tepat menunjukkan betapa anak-anak perlu dibentuk dan dilatih sedemikian rupa agar menjadi cerdas dan pintar di masa depan. Kecerdasan dan kepintaran sering sekali diasosiasikan dengan jumlah sel yang semakin banyak di dalam otak atau IQ yang tinggi.

Konsep tentang anak a la Bank Dunia juga menekankan pada pentingnya individualisme dan kedirian (selfhood). Anak-anak dalam program PAUD adalah anak-anak yang aktif dan pendidikan yang dijalankan berpusat pada anak-anak (Newberry, 2012:4). Konsep ini juga bertumpu pada anggapan bahwa keluarga adalah keluarga inti dengan situasi stabil dengan anak sebagai satu-satunya tumpuan perhatian orang tua serta ketersediaan sumber daya yang berlimpah. Anak-anak dianggap sebagai individu yang unik dan dihargai sebagai dirinya sendiri. Helen Penn mengatakan bahwa gagasan ini adalah gagasan khas tentang anak-anak pada masyarakat Amerika dan gagasan inilah yang diterapkan di beberapa negara lain di dunia termasuk Indonesia (Penn, ibid). Jan Newberry juga menekankan bahwa model anak-anak semacam ini dianggap cocok bagi berkembangnya demokrasi saat ini (Newberry, 2012:9).

Dalam “Pahlawan-pahlawan Belia”, Saya Shiraishi menulis, dengan mengutip Phillipe Aries, bahwa gagasan tentang masa kanak-kanak di sekolah (di mana dunia anak-anak terpisah dari orang dewasa dan anak-anak harus dipersiapkan untuk menghadapi masa depan) adalah gagasan kolonial yang kemudian ditiru di Indonesia. PAUD, dengan demikian, adalah hal yang nyaris sama. “Masa depan” yang dibayangkan pada masa awal munculnya sekolah di Indonesia mungkin tidaklah tampak nyata seperti yang dibayangkan Bank Dunia dengan program PAUD, yakni menjadi human capital, modal manusia bagi negara. Gagasan seperti ini adalah gagasan khas masyarakat kapitalis. Anak-anak, yang sekarang nampak tidak memiliki nilai kegunaan yang penting bagi orang tua, sebenarnya memiliki peran penting bagi negara; mereka adalah tenaga kerja di masa depan. Dengan demikian, sekolah bukan semata-mata alat pendewasaan, melainkan investasi bagi masa depan.[2]

Gagasan tentang Anak yang berkembang di Ende

           

Jika anak-anak dalam PAUD adalah anak-anak yang dihargai dan dilindungi sebagai individu, anak-anak di Tanjung yang saya kenal adalah anak-anak yang dianggap bukan sebagai pusat perhatian, tidak perlu ditanggapi dengan serius dan selalu di bawah posisi orang dewasa. Pendapatnya terkadang tidak diperhitungkan dan tidak perlu didengar.

Sebuah pesta mengantar belis secara tidak sengaja membantu saya untuk memahami di mana posisi anak-anak di dalam masyarakat di Tanjung serta di Ende pada umumnya. Pesta yang berhubungan dengan siklus hidup manusia di Ende akan melibatkan seluruh keluarga besar orang yang bersangkutan dan juga sebagian besar warga desa. Di situ pulalah hirarki berdasarkan usia seseorang terlihat dengan jelas. Para perempuan yang lebih tua duduk di ruang tersendiri. Mereka tidak memasak atau mencuci gelas dan piring yang telah dipakai. Mereka biasanya akan duduk berbincang-bincang dan makan sirih pinang. Perempuan yang lebih muda lah yang biasanya melakukan pekerjaan-pekerjaan tersebut, sementara anak-anak akan tidak melakukan pekerjaan apapun. Mereka berlarian kesana-kemari, sesekali dihardik jika dianggap mengganggu. Ketika hirarki berdasarkan usia berlaku, maka anak-anak berada pada tingkat yang paling bawah. Berikut catatan pengalaman saya  tentang pesta tersebut:

Suatu kali saya diundang pesta mengantar belis (mas kawin). Keponakan istri tuan rumah saya hendak menikah dan kami semua diundang. Keponakan dan orang tuanya tinggal jauh dari kota Ende di daerah utara. Kami harus menempuh perjalanan sekitar 6 jam untuk sampai. Karena kami berangkat sore hari, maka kami baru tiba malam hari. Tuan rumah mempersilahkan kami masuk ke dapur. Di dekat tungku yang masih menyala, dua lembar tikar daun lontar dihamparkan di lantai. Di atasnya terdapat tumpukan piring bersih, dua bakul nasi dan beberapa piring lauk. Ketika kami makan, saya melihat seorang anak kecil berusia 6 atau 7 tahun duduk di atas bangku kayu di dekat tungku. Ia memangku piring berisi nasi dan satu potong cakar ayam. Di piring lauk yang disediakan untuk kami, saya melihat potongan-potongan daging ayam yang lebih besar. Saya bertanya-tanya siapa anak itu, yang mungkin saja anak salah seorang tetangga yang tidak memiliki hubungan keluarga yang dekat dengan keluarga penyelenggara pesta. Mungkin itulah penjelasan mengapa ia hanya mendapat cakar ayam di piringnya. Keesokan harinya, ketika seluruh anggota keluarga telah datang dan pesta antar belis dimulai, saya mendapati bahwa ternyata para keponakan yang masih anak-anak pun mendapatkan lauk yang lebih sedikit daripada orang dewasa di piring mereka.

Catatan saya di atas menunjukkan bagaimana anak-anak diperlakukan di tengah pesta yang penting tersebut. Anak-anak mendapatkan cakar ayam atau lauk yang lebih sedikit karena dalam hirarki berdasarkan usia mereka adalah bagian yang paling tidak penting dalam sebuah pesta. Di beberapa keluarga di Ende yang saya kenal, ayam hanya akan dipotong dan dimasak dalam waktu-waktu perayaan tertentu seperti pesta pernikahan atau ketika memberi “makan” kepada nenek moyang di beberapa keluarga Lio. Bagian ayam yang dimakan anggota keluarga menentukan seberapa pentingnya anggota keluarga tersebut. Jika ayam dipotong dan dimasak untuk memberi makan kepada nenek moyang, maka bagian hati dan ampela lah yang akan disajikan sebagai persembahan karena dianggap merupakan bagian yang paling enak. Salah seorang warga bahkan berkata kepada saya bahwa jika mereka memotong ayam, istrinya akan memberikan kaki, leher dan sayap kepada anak-anak. “Isi ayam”, yaitu bagian ayam lain yang lebih berdaging akan diberikan kepadanya sebagai kepala keluarga. Inilah mengapa anak-anak diberi cakar ayam atau lauk yang lebih sedikit di dalam pesta tersebut. Jika bagian-bagian ayam merupakan simbol tempat seseorang di dalam hirarki berdasarkan usia, maka anak-anak adalah cakar, sayap dan leher yang tidak berdaging. Jika makanan adalah cara seseorang menghargai tamu di dalam pesta, maka penyelenggara pesta merasa tidak perlu menghargai dan menghormati anak-anak seperti halnya terhadap orang dewasa.

Baca juga:  Kilatan Blitz di Tengah Musik

Anak-anak juga seringkali dianggap tidak serius oleh orang dewasa di sekitarnya. Sepanjang pengamatan saya, orang dewasa jarang sekali berbicara kepada anak-anak kecuali ketika mereka menyuruh dan melarang untuk melakukan suatu hal. Di dalam rumah tempat saya tinggal, saya terkadang berbicara dengan Raya, cucu induk semang saya yang berusia lima tahun. Saya bertanya apa pendapatnya tentang sesuatu. Pembicaraan kami biasanya akan berlangsung paling tidak lebih dari lima belas menit. Jika kakek Raya, melihat kami, ia akan berkomentar bahwa Raya sedang bicara “wora-wora” terhadap saya. “Wora-wora” dalam bahasa Ende berarti berbicara sembarangan, terkadang dikaitkan dengan kebohongan. Dengan demikian, apapun yang dikatakan Raya kepada saya waktu itu dianggap sebagai ucapan yang tidak perlu ditanggapi secara serius.

Di dalam hirarki berdasarkan usia, dengan sendirinya anak-anak juga diharapkan patuh dan hormat kepada orang yang lebih tua darinya. Di dalam keluarga, anak-anak mematuhi dan menghormati ayah, ibu, kakek, paman, bibi dan kakak mereka karena memang begitulah adanya. Terkadang, kepatuhan tersebut tetap berlaku kepada anggota keluarga lain yang tidak memberikan kontribusi apapun dalam kehidupan sehari-hari anak yang bersangkutan.

Selain menjadi anak yang patuh dan hormat, anak-anak di Tanjung juga diharapkan menjadi “pintar”. Sepanjang pengamatan saya, kata “pintar” mengacu pada beberapa hal. Pertama, ketika anak-anak memenuhi harapan orang dewasa untuk berlaku patuh dan hormat terhadap mereka. Mari kita perhatikan petikan cerita anak yang dimuat majalah Kunang-kunang pada tahun 2003. Majalah ini adalah majalah anak-anak yang populer di Flores.

Nona Ki’ik yang Pintar

 Jauh di Pulau Timor tepatnya di Huliluik, hiduplah sebuah keluarga sederhana dengan empat orang anak. Satu diantaranya bernama Nona Ki’ik yang terkenal pintar dan lucu. Suatu hari Ayah mereka sakit. Kedua kakaknya sibuk memperhatikan ayah menggosok kepala, kaki, tangan Ayah dengan balsem. Sementara nona Ki’ik penasaran karena ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia masih terlalu kecil, umurnya 5 tahun. Tapi tiba-tiba ia mendapat akal. Segera ia membuka selimut ayahnya lalu berbaring disamping sambil memeluk ayah penuh kasih. Nona Ki’ik merasa bangga dan senang karena ia bisa menghibur dan menyenangkan hati ayah yang sedang sakit. Ayah, Ibu dan kedua kakaknya tertawa senang, sementara Nona Ki’ik tidur terus dan merasa aman sambil berharap ayahnya cepat sembuh.

Cerita anak di atas, yang dikirimkan oleh seorang biarawati dari Pulau Timor, menunjukkan bagaimana gambaran anak yang dianggap “pintar dan lucu”. Si Nona Ki’ik yang berusia 5 tahun, usia yang dianggap terlalu kecil untuk memberikan bantuan dalam merawat ayahnya, disebut “pintar” ketika ia memeluk ayahnya. Tindakan Nona Ki’ik tentu bukanlah tindakan penyembuhan yang secara langsung akan menyembuhkan ayahnya, seperti yang dilakukan kedua kakaknya yang memijat dengan menggunakan balsem. Ia memikirkan cara lain untuk membantu. Nona Ki’ik disebut pintar karena ia melakukan apa yang diharapkan dari seorang anak: ia membantu orang tuanya.

Kedua, “pintar” mengacu pada kemampuan seorang anak menguasai sesuatu yang dipelajari di sekolah. Beberapa hal penting yang saya amati adalah kemampuan berbahasa Indonesia, mengaji serta melafalkan doa dalam bahasa Arab. Ketika anak-anak mampu melakukan hal ini, terkadang ia terhindar dari hukuman ketika ia berlaku tidak patuh atau tidak hormat terhadap orang dewasa.

Mari kita lihat Raya kembali sebagai contoh. Raya suka menonton acara sinetron di televisi bersama dengan Sri, bibinya. Baik Sri dan Raya seringkali menirukan ungkapan “Masalah buat lo?” yang sering dikatakan tokoh sinetron di televisi. Ungkapan itu sangat khas Jakarta dan terkadang diucapkan ketika sang tokoh merasa kesal dengan lawan bicaranya. Ungkapan itu menunjukkan keinginan pembicaranya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Suatu kali saya diajak Bapak RK dan Raya berkunjung ke salah satu saudaranya yang tinggal di pinggir pantai di Tanjung. Keluarga yang kami kunjungi ini memiliki sebuah warung di depan rumah mereka. Ketika kami masuk, Raya dengan segera merengek ingin jajan. Bapak RK mengabulkannya dan Raya memilih segelas minuman dingin. Si penjual, yakni istri saudara Bapak RK, berkata bahwa Raya selalu memilih minuman itu, padahal hari terlalu panas. Raya dengan sigap membalas, “Masalah buat lo?”. Si penjual nampak tercengang sesaat, namun akhirnya tertawa terbahak-bahak.

Belakangan saya mengetahui bahwa ungkapan itu sangat populer di Ende. Seorang guru TK bercerita kepada saya tentang betapa lucunya salah seorang adik muridnya. Ketika ia dan ibunya menjemput sang kakak di TK tempat ia mengajar, guru itu menyapanya. Si anak menjawab dengan ungkapan yang sama. Guru TK itu tertawa terbahak-bahak dan menganggap anak itu “lucu”.

Tentu ini adalah masalah bahasa. Makna “Masalah buat lo?” bagi orang Ende tentu tidak sama seperti bagi mereka yang berbicara bahasa Indonesia di Jakarta. Bagi orang Ende, ungkapan itu muncul di televisi dan ditirukan oleh seorang anak kecil. Hampir semua acara televisi berbahasa Indonesia, sedangkan bahasa Indonesia di Ende dipelajari di sekolah, tempat anak-anak belajar untuk menjadi “pintar”. Apa yang membuat “Masalah buat lo?” bukanlah sesuatu yang mencerminkan ketidakpatuhan dan ketidakhormatan adalah karena ungkapan itu berbahasa Indonesia. Seperti yang telah saya tunjukkan di atas, anak-anak yang bisa menguasai hal-hal di luar dirinya dianggap “pintar”. Dengan demikian “Masalah buat lo?” bukanlah ekspresi ketidakpatuhan atau tidak hormat, melainkan kepintaran karena diucapkan dalam bahasa Indonesia.

Persinggungan Gagasan tentang Anak di dalam PAUD

 

Apa yang terjadi ketika program PAUD diterapkan di Tanjung? Di satu sisi PAUD mengkampanyekan nilai-nilai penghargaan terhadap anak-anak sebagai individu. Anak-lah sebagai pusat dalam pendidikan, ia juga berhak dilindungi dan dipenuhi kebutuhannya agar dapat tumbuh dengan baik. Artinya, guru atau orang dewasa lain tidak diperbolehkan “memaksakan” kehendak kepada anak-anak. Kekerasan jelas tidak diperbolehkan. Di sisi yang lain, masyarakat Tanjung percaya gagasan tentang anak yang nyaris sebaliknya. Anak-anak, karena ia berada dalam tingkat rendah dalam hirarki usia, bukanlah pusat perhatian. Mereka diharuskan patuh dan hormat kepada orang dewasa. Jika mereka harus pintar, kepintaran tersebut dilakukan dalam rangka “patuh”, baik kepada orang dewasa maupun standar kepintaran sekolah. Marilah kita melongok ke dalam ruang kelas PAUD di Tanjung untuk melihat bagaimana dua macam gagasan tentang anak ini berinteraksi dan bersentuhan satu sama lain.

Mari kita mulai dengan gagasan anak sebagai pusat. Di sebuah PAUD di Tanjung, setiap pagi sebelum sekolah dimulai, anak-anak akan berbaris di halaman sekolah mereka dan memperagakan “Tepuk Hak Anak”. Tepuk Hak Anak menyebutkan ada empat hak yang dimiliki anak-anak, yakni hak hidup, tumbuh kembang serta partisipasi. Setelah setiap hak disebutkan, anak-anak bertepuk tangan tiga kali dalam irama cepat. Secara simbolik, Tepuk Hak Anak menunjukkan bahwa di dalam Kelompok Bermain ini, hak anak telah diperhitungkan. “Sekarang ini kan kita yang ikut anak, bukan anak yang ikut kita”, begitu Kepala Sekolah menerjemahkan semangat pengakuan atas hak anak. Dalam tingkat praktis, ia meminta para guru untuk tidak berteriak kepada anak-anak, tidak memanggil mereka dengan “oooiii”, tetapi dengan kata “sayang”, atau “teman-teman” ketika menunjuk kepada lebih dari satu anak. “Oooiii” baginya menunjukkan otoritas sedangkan “sayang” terkesan lebih lembut dan ramah.

Sepanjang pengamatan saya, apa yang terjadi di ruang kelas adalah sebaliknya. Berikut apa yang saya tulis tentang adegan berbaris sebelum sekolah mulai, yakni saat-saat Tepuk Hak Anak biasa diperagakan:

 Pukul setengah delapan pagi anak-anak sudah berbaris. Anak laki-laki di sebelah kanan, anak perempuan di sebelah kiri. Barisan bukanlah barisan tentara yang rapi seperti dalam upacara tujuh belas Agustus di televisi. Ibu Irma dan Ibu Amina harus mendorong beberapa anak untuk berdiri di belakang teman mereka. Anak-anak tidak berdiri dengan tegap, mereka terkadang bertumpu pada kaki yang satu. Beberapa menoleh ke belakang untuk berbicara dengan anak lain, beberapa berdiri terlalu rapat. Ibu Melan yang berdiri di depan telah meneriakkan “Siaaap grak!” Anak-anak melihatnya dan terdiam sesaat dengan pandangan menghadap ke depan. Lalu aba-aba untuk beristirahat diteriakkan karena Ibu Melan hendak mengatakan sesuatu. Anak-anak kembali berbicara satu sama lain dan suasana menjadi riuh. Ibu Irma yang berada di belakang barisan berteriak, “Ooiii, tangan di belakang!” Ia merujuk pada posisi beristirahat yang benar. Sambil berkata demikian, ia mencubit tangan anak-anak yang berbicara dengan anak lain. Anak-anak itu mengusap-usap lengannya sambil menoleh ke arah Ibu Melan yang mulai berkata, “Teman-teman…hari apa hari ini?” Dengan pandangan kesal ke arah anak-anak tadi, Ibu Irma berkata, “Tidak mau ikut tu naaa.”

Panggilan “teman-teman” muncul ketika Ibu Melan hendak bertanya kepada semua anak tentang hari apakah pagi berbaris itu. Pertanyaan itu menunjukkan bahwa sekolah telah dimulai, menunjukkan kebiasaan untuk mengenal hari dan tanggal. Namun, di tengah barisan, di tengah anak-anak, guru berteriak “ooii”. Jika kita menggunakan apa yang disebut Saya Shiraishi dalam “Pahlawan-pahlawan Belia” tentang dunia yang resmi dan tidak resmi di dalam ruang kelas, kita bisa mengatakan bahwa pada peristiwa baris-berbaris di atas dunia di mana “teman-teman” digunakan adalah dunia resmi sekolah. Dunia resmi sekolah adalah yang ditampilkan, sementara dunia di mana “ooiii” dipakai adalah dunia yang sesungguhnya bagi anak-anak.

Baca juga:  Masih Ada Diskriminasi di Sekolah Kita

“Oooiii” adalah otoritas yang tidak terbantahkan. Nampaknya tidak terbayangkan bagi orang-orang dewasa di Tanjung untuk membiarkan anak-anak berlaku menurut kehendak mereka sendiri. Cerita salah seorang guru PAUD yang saya catat berikut ini dengan jelas menunjukkannya. Guru tersebut mengikuti pelatihan tentang bagaimana cara mendidik anak-anak PAUD. Ia bercerita bahwa pelatihan itu melibatkan banyak guru di tingkat Kabupaten. Dengan bangga ia berkata bahwa pengajarnya adalah orang Ende, namun telah mengajar di tempat lain di Indonesia termasuk di Jakarta. Ia bercerita bahwa ada beberapa sikap yang tidak boleh dilakukan seorang guru PAUD kepada anak-anak, di antaranya tidak boleh memukul dan berteriak. Sambil tertawa ia juga bercerita bahwa jika ada anak-anak yang bertengkar, para guru diminta untuk membiarkan sebentar sebelum akhirnya melerai. Anak-anak, kata pengajar tersebut, perlu meluapkan emosinya sedikit. Guru itu lalu berkata kepada saya, “Tapi kalau mau menerapkan apa yang disyaratkan itu agak susah karena lingkungan dan keluarga sudah keras; bagaimana bisa di sekolah yang cuma dua jam. Itu mungkin cocok dilakukan untuk anak-anak di Jawa sana. Bagaimana tidak kasar; makanannya saja kasar anaknya juga kasar.” Saya bertanya padanya, “makanan kasar bagaimana Ibu?” Ia menjawab, “Iya, makanannya ubi kan kasar!”.

Ketika menceritakan pengalamannya di atas, guru ini seolah berada di dua posisi, yakni sebagai bagian dari insitusi PAUD di awal dan sebagai bagian dari orang Tanjung di akhir. Sebagai guru PAUD, ia tampak sangat antusias bercerita tentang apa yang dipelajarinya dari seorang pengajar yang memiliki reputasi nasional. Tentu pengetahuan tentang anak-anak yang ia peroleh pada pelatihan itu tidaklah ia dengar sebelumnya. Baginya mungkin kurang tepat membiarkan anak-anak berkelahi selama beberapa waktu. Sebagai orang tua dan orang Tanjung, ia dengan cepat menambahkan bahwa nampaknya akan sulit jika prinsip itu diterapkan. Guru ini berusia 29 tahun. Ia lahir dan besar di Ende, serta menikah dan memiliki dua orang anak, si sulung berusia 5 tahun, si bungsu 9 bulan. Ungkapannya yang belakangan menunjukkan bahwa ada celah antara apa yang diinginkan PAUD serta apa yang ia hadapi sehari-hari sebagai orang tua.

Baginya, cara-cara mendidik anak yang disarankan oleh PAUD tidak cocok bagi anak-anak Ende yang menurutnya “kasar dan keras”. Ketika ia merujuk apa yang dimakan anak Ende (yakni ubi), ia seakan menekankan bahwa anak-anak ini berbeda dari anak-anak lain yang tidak makan ubi. Anak-anak ini, dalam pikirannya, bukanlah anak-anak yang mudah dikendalikan seperti anak-anak lain yang tidak makan ubi. Mendidik mereka dengan menggunakan prinsip anak sebagai pusat (dengan “kita yang ikut anak, bukan anak yang ikut kita”, seperti yang dikatakan Kepala Sekolah di atas) nampak tidak masuk akal baginya.

Sekarang kita akan beranjak pada gagasan tentang masa keemasan. Imaji tentang masa keemasan adalah banyaknya (jumlahnya berjuta-juta) sel di dalam otak yang siap bekerja pada tahun-tahun pertama kehidupan anak-anak. Jika mendapat rangsangan yang baik, otak akan terus bekerja dengan baik di sepanjang kehidupan anak-anak selanjutnya. Anak-anak diharapkan menjadi cerdas dan kreatif. Dengan imaji masa keemasan, anak-anak pada usia di bawah enam tahun dianggap seperti  mesin biologis yang pertumbuhannya bisa diatur dengan intervensi tertentu. Pertumbuhan dan perkembangan juga dianggap sebagai sesuatu yang pasti dan terukur.

Di PAUD di Tanjung, gagasan tentang masa keemasan seringkali menjadi pembenaran bagi para guru untuk mengajarkan anak-anak ketrampilan-ketrampilan yang mereka anggap penting untuk dikuasai. Sepanjang pengamatan saya, hal penting yang harus dikuasai anak-anak adalah mengaji dan berbahasa Indonesia.

Pelajaran mengaji berlangsung sekali seminggu pada hari Rabu untuk anak-anak yang berusia 4-5 tahun. Anak-anak yang lebih kecil biasanya akan berada di sekeliling mereka, mengamati apa yang terjadi selama pelajaran mengaji. Selain itu, setiap hendak pulang sekolah, sebelum makan makanan kecil dan minum teh hangat yang disediakan sekolah, anak-anak duduk merapat di sepanjang dinding sekolah dan  membentuk lingkaran untuk mengucapkan doa. Doanya bukan hanya doa sebelum makan yang lazimnya diucapkan sebelum makan, namun doa untuk kedua orang tua, doa hendak naik kendaraan, doa hendak masuk wese, doa keluar wese, doa sebelum makan dan doa sesudah makan. Doa-doa ini diucapkan dalam bahasa Arab dan dilafalkan dengan suara keras tanpa tekanan tertentu pada bagian tertentu, seolah-olah bukan soal apakah setiap kata dimengerti atau tidak. Bahwa banyak sekali doa yang diucapkan sebelum makan, termasuk doa-doa yang tidak ada hubungannya dengan makan, menunjukkan bahwa doa-doa itu memang dimaksudkan bukan untuk menyertai aktifitas yang hendak dilakukan untuk anak-anak, tetapi untuk dihafalkan. Bahkan, pada waktu-waktu tertentu, anak-anak tidak saja menghafal doa-doa, tetapi juga ayat-ayat suci dalam Al-Quran yang cukup panjang seperti Ayat Kursi. Beberapa orang dewasa di Tanjung yang saya kenal bahkan menyebutkan bahwa terkadang mereka pun tidak dapat mengingat Ayat Kursi dengan baik.

Di Tanjung, mengaji dan berdoa dalam bahasa Arab dianggap sangat penting. Mengaji menyertai hampir semua kegiatan kelompok-kelompok masyarakat di Tanjung. Salah satunya adalah kelompok para ibu dan perempuan. Mereka mengadakan pengajian setiap seminggu sekali. Kelompok ini juga mengadakan arisan barang pecah belah dan alat masak ukuran besar yang diperlukan setiap orang di desa tersebut jika mereka mengadakan hajatan. Hajatan di Tanjung adalah arena di mana hubungan keluarga dan peran masing-masing anggota keluarga ditegaskan. Ketika seseorang mengadakan pesta pernikahan, si paman dari pihak pengantin perempuan akan bertanggungjawab memberikan pakaian kepada pengantin perempuan. Ia juga memberikan uang untuk pesta. Ketika pihak laki-laki memberikan belis (mahar perkawinan), pihak pamanlah yang akan menerima pembagian belis tersebut. Hajatan di Tanjung bisa berlangsung selama 5 hari serta melibatkan banyak orang. Karena itu, kelompok yasinan penting, karena selain menyediakan perlengkapannya, mereka juga lah yang akan memasak dan menyiapkan segala sesuatunya. Sepanjang pengetahuan saya, sebagian besar perempuan di Tanjung mengikuti kelompok Yasinan; para gadis remaja juga didorong untuk mengikutinya.

Selain itu, mulai muncul pikiran untuk belajar agama lebih banyak dari sekedar mengaji di antara para perempuan, baik yang sudah menikah dan belum menikah. Mereka belajar dari seorang ustad yang tinggal di Tanjung. Saya pernah bertanya kepada salah seorang guru PAUD tentang hal yang praktis menurut Islam. Ia menjawab bahwa ia tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup untuk itu. Ia juga membandingkan dirinya dengan salah seorang guru lain yang turut dalam pelajaran agama tersebut. Ia mengatakan, kalau guru tersebut sudah tahu di antaranya, cara memandikan jenazah. Ia juga menunjuk beberapa perempuan dewasa di Tanjung yang telah belajar agama. Ketika saya menunjukkan isyarat tidak yakin siapa yang mereka tunjuk, mereka mengatakan, “Mama Vida yang pakai jilbab besar hitam tuuuu..”. Saya menyadari bahwa semua orang yang mereka katakan telah belajar agama berjilbab besar dan panjang. Mereka sendiri, meski telah belajar mengaji dan hafal Quran dengan rendah hati selalu mengatakan belum belajar agama dengan lebih baik dan karenanya merasa tidak pantas jika berjilbab besar. Belajar agama dihargai oleh banyak orang dan merupakan keadaan ideal yang diinginkan para perempuan ini.

Dalam situasi inilah pelajaran membaca aksara Arab di PAUD di Tanjung  dilakukan. Anak-anak belajar mengaji pada usia yang lebih muda karena keyakinan akan banyaknya sel di dalam otak mereka yang bisa dimanfaatkan untuk mendidik mereka menjadi pemeluk Islam yang lebih baik.

PAUD di Tanjung juga mendorong anak-anak untuk belajar Bahasa Indonesia dalam usia yang lebih muda. Orang-orang di Tanjung yang berusia 20-an tahun yang saya kenal mengatakan bahwa ketika mereka masuk Taman Kanak-Kanak dahulu, para guru kebanyakan menggunakan bahasa Ende. Bahasa Indonesia hanya digunakan sesekali. Orang-orang yang berusia 40 tahunan bahkan mengatakan bahwa semasa mereka bersekolah di Sekolah Dasar, para guru lebih banyak menggunakan bahasa Ende.

Baca juga:  Dua Seni Rupa

Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi di sekolah, sedang sehari-hari anak-anak dan para guru berbicara dalam bahasa Ende. Menguasai Bahasa Indonesia dianggap sangat penting dan beberapa guru sangat kuatir anak-anak tidak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dengan baik. Salah seorang guru Taman Kanak-kanak di Tanjung yang sudah mengajar sejak tahun 1980an berkata kepada saya bahwa hal yang paling mengkuatirkan tentang anak-anak Tanjung yang ia ajar adalah mereka sering menggunakan Bahasa Ende. Guru ini tidak tinggal di Tanjung. Ia hanya datang setiap pagi untuk mengajar. Dengan muka mengeryit, seperti halnya cara khas orang Ende untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak berjalan baik menurut mereka, ia berkata kepada saya, “Daerah terpencil ini…Susah.” Sebelumnya ia bercerita kepada saya bahwa sebelum mengajar di TK di Tanjung, ia mengajar di TK Pertiwi, sebuah TK negeri yang termasuk TK paling tua di Ende. Ia berkomentar bahwa anak-anak di TK Pertiwi sudah bisa berbicara Bahasa Indonesia karena mereka anak pegawai.

Menguasai Bahasa Indonesia, dengan demikian, berhubungan dengan kelas sosial. Mereka yang tidak menguasai Bahasa Indonesia selalu dianggap udik, terbelakang, berasal dari daerah terpencil.

Setelah sekolah usai, beberapa anak masih tinggal di sekolah untuk menunggu orang tua mereka datang menjemput. Para guru membereskan buku serta mainan. Ara dan Tia duduk di teras, menunggu ibu mereka, yang juga guru di Kober, untuk bersama-sama pulang ke rumah. Ara dan Tia, menganggap sekolah telah selesai, berbincang dalam bahasa Ende. Beberapa guru berada di dekat mereka, termasuk Ibu As dan Ibu Ros, ibu Ara dan Tia. Mendengar mereka berbicara dalam bahasa Ende, Ibu As berkata, “Tia memang orang kampung, tidak bisa bicara bahasa Indonesia.” Nadanya datar, namun terdengar menyindir. Ibu Ros menimpali, “Ara juga, mau kah jadi orang kampung?” Ara dan Tia langsung terdiam dan tidak berkata apapun. Mereka menundukkan kepala memandangi sepatu mereka, nampak merasa bersalah.

Petikan di atas adalah catatan saya tentang bagaimana para guru dan sekaligus orang tua yang guru mendorong anak mereka untuk berbicara bahasa Indonesia. Bayangan tentang kampung di Ende adalah tempat-tempat di pegunungan yang jauh dari kota Ende. Tidak jarang kampung tidak dialiri listrik, dengan jalanan bergelombang dan gelap. Pengalaman saya pergi ke “kampung” para kenalan di Ende selalu berisi pengalaman semacam ini. “Kampung” juga berhubungan dengan perilaku yang tidak menyenangkan. Seseorang yang menginap di hotel atau penginapan dan membiarkan puntung dan abu rokok berceceran di mana-mana akan disebut sebagai “orang kampung”. Tia dan Ara yang berusia 5 tahun tidaklah marah ketika disebut sebagai orang kampung; mereka merasa malu.

Menguasai Bahasa Indonesia, bagi orang-orang Tanjung, berhubungan dengan usaha untuk tidak menjadi ketinggalam zaman. Selain itu, di PAUD, para guru selalu menekankan bahwa anak-anak bukan hanya orang Ende saja, tetapi juga orang Indonesia. Karena itu, mereka juga harus berbicara dalam bahasa Indonesia. Menguasai bahasa Indonesia dengan demikian juga merupakan usaha untuk tidak canggung ketika bertemu dengan orang Indonesia yang lain. PAUD, dengan keyakinan akan masa keemasan anak, menyediakan alat untuk tidak tertinggal.

Uraian di atas menunjukkan bahwa gagasan tentang anak sebagai individu yang patut dihargai dan karenanya menjadi pusat dalam pendidikan tidak sepenuhnya diterima oleh orang-orang Tanjung. Ini bertentangan dengan gagasan yang sebelumnya telah mereka percayai tentang anak-anak yang telah mereka alami selama bertahun-tahun kehidupan mereka. Anak-anak, karena berada dalam hirarki usia yang paling bawah, tetap bukanlah merupakan pusat. Sebaliknya, karena alasan-alasan kemajuan, orang-orang Tanjung menerima gagasan tentang masa keemasan. Anak-anak belajar mengaji karena menjadi Islam yang baik adalah hal yang dihargai; anak-anak belajar bahasa Indonesia karena menjadi tidak tertinggal dan sama seperti orang Indonesia yang lain dianggap penting.

PAUD: Pendidikan Hilang Makna

 PAUD di Tanjung adalah arena di mana orang-orang Tanjung memilah mana gagasan tentang anak-anak yang mereka anggap penting atau tidak sesuai dengan pandangan mereka. Situasi ini nampaknya tidak terhindarkan di dalam situasi di mana gagasan-gagasan baru bertemu dengan apa yang telah dipercayai masyarakat. Dalam studinya tentang PAUD di Yogyakarta, Jan Newberry, dengan mengutip Collier dan Ong, menggambarkan bahwa munculnya program-program yang berkaitan dengan anak-anak dalam masa demokratisasi adalah fenomena di mana “nilai dan makna individual dan kolektif dipertaruhkan” sebagai efek globalisasi. Artinya, fenomena ini menggambarkan bagaimana nilai-nilai global tentang anak-anak berusaha disesuaikan dengan apa yang sudah berlaku di dalam masyarakat tertentu (Newberry, 2012:4).

Di Tanjung, gagasan yang tidak penting tidak dibuang sepenuhnya. Gagasan tersebut secara resmi diakui oleh institusi PAUD, namun tidak sepenuhnya mendasari tindakan mereka sehari-hari. Dengan demikian, sebagian gagasan yang dibawa oleh PAUD telah hilang maknanya. Apa yang terjadi dalam situasi ini? Apa akibatnya?

Mari kita kembali ke ruang kelas PAUD di Tanjung. Catatan saya berikut ini menggambarkan bagaimana Bahasa Indonesia digunakan dan diajarkan di dalam kelas. Bahasa, yang pada tingkat praktis digunakan untuk menamai realitas, telah kehilangan fungsinya.

            Sebelum memulai pelajaran, guru bertanya kepada anak-anak, “Apa tema kita minggu ini?” Seorang anak di samping kiri saya menjawab, “Alam semesta”.  Guru memujinya sebagai anak pintar dan bertanya apa yang anak-anak lihat di bumi. Anak-anak terdiam. Guru kemudian berkata, “ada binatang, tumbuhan, apa lagi? Batu, air laut, ikan.” Guru lalu bertanya apa yang mereka lihat di langit. Ketika anak-anak tampak kebingungan, guru menjawab lagi, “Ada bintang, bulan, matahari.” Anak-anak mengulangi setiap kata yang disebut guru satu per satu.  Lalu guru bertanya, “Sebutkan gejala-gejala alam!” Anak-anak kembali terdiam. “Ayo apa. Jika kita tinggal di sungai dan hujan terus menerus..lalu air datang, apa itu?” Salah seorang anak perempuan menjawab, “gelombang”. Guru berkata, “Di sungai tidak ada gelombang…itu namanya banjir. Apa? Ayo ulang: banjir!” Anak-anak mengulangnya serentak, “Banjir!!”. Guru lalu menyebutkan “gejala-gejala alam lain” seperti gempa bumi, gunung meletus, hujan, kilat sambar, tanah longsor.  

Kata-kata yang diucapkan guru seperti “alam semesta”, “gejala alam” dan bahkan “tema” adalah kata-kata yang sama persis dengan apa yang tercantum di dalam buku kurikulum PAUD. Di sekolah guru mengulang kata-kata tersebut seolah ingin memindahkannya dari buku kurikulum yang resmi ke dalam otak anak-anak. Ia ingin anak-anak memiliki kata-kata yang sama persis dengan buku kurikulum tanpa kurang sedikitpun. Dalam hal ini, kata-kata itu sendiri lebih penting daripada realitas yang ingin dinamainya.

Kata-kata dalam Bahasa Indonesia itu muncul untuk dihafal. Dengan demikian, hubungan kata-kata dengan realitas menjadi tidak penting lagi. Ketika guru berkata tentang apa yang terjadi ketika air meluap setelah hujan, seorang anak menjawab bahwa fenomena itu bernama gelombang. Anak ini tinggal di daerah pantai dan ia telah melihat gelombang seumur hidupnya. Gelombang tinggi di pantai biasanya terjadi setelah hujan besar, persis seperti yang disebutkan dalam pertanyaan guru tersebut. Namun, guru tampaknya menginginkan anak-anak menyebut gejala tersebut sebagai “banjir”, seperti yang tercantum di kurikulum, karena ini terjadi di sungai dan bukan di laut. Realitas yang dialami anak itu tidak dinamai.[]

paudetnografi - Etnografi Program Anak Usia Dini

Daftar Pustaka

Newberry, Jan. 2012. Durable Assemblage: Early Childhood Education in Indonesia. Asia Research Institute Working Paper Series No.194

Penn, Helen. 2008. Understanding Early Childhood and Controversy. Berkshire. Open University Press.

Penn, Helen. 2002. The World Bank’s Review of Early Childhood. Childhood 9(1): 118–132.

Penn, Helen. 2011. Travelling Policies and Global Buzzwords: How International NGO Spread the Word about Early Childhood in the Global South. Childhood 18(1): 94 -113.

Pedoman Operasional Pelaksanaan PAUD. 2010. Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini. Diunduh dari www.kemendiknas.go.id tanggal 31 Mei 2011.

Pedoman Kader PAUD Jilid 3. 2010. Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini. Diunduh dari www.kemendiknas.go.id tanggal 31 Mei 2011.

Pedoman Kader PAUD Jilid 4. 2010. Direktorat Jenderal Pendidikan Usia Dini. Diunduh dari www.kemendiknas.go.id tanggal 31 Mei 2011.

Shiraishi, Saya. 2009. Pahlawan-Pahlawan Belia, Keluarga Indonesia dalam Politik (terj). Yogyakarta. Nalar.

[1] RepublikaOnline, 4 Agustus 2012, Ayo Kejar Masa Keemasan Anak, Kapan Itu? www.republikaonline.com, diunduh 23 September 2014.

[2] “investasi” adalah kata yang secara eksplisit disebutkan juga oleh Bank Dunia

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi