Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Membaca film "Black Gold"

“Studi film telah membangkitkan sebentangan teori dan metode. Film dipelajari dari segi potensinya sebagai ‘seni’, sejarahnya yang dituturkan sebagai momen-momen dalam ‘tradisi yang hebat’, film-film, bintang, dan sutradara yang paling berarti; film dianalisis berdasarkan perubahan teknologi produksi film; film dikutuk sebagai industri budaya; dan film didiskusikan sebagai situs penting bagi produksi subyektifitas individu dan identitas nasional.”

Kalimat di atas saya dapati dalam tulisan John Storey ketika menerangkan tentang teori dan metode kajian budaya dan budaya pop. Tulisan tersebut pertama terbit pada tahun 1996, sehingga boleh dikata perhatian seputar film melalui perspektif kebudayaan sudah bukan hal baru. Sejak film bukan semata-mata dianggap dan diproduksi sebagai hiburan, film punya peran yang jadi agak serius, bahkan ambisius.

Hal itu dapat dilihat misalnya dalam konteks Indonesia pada periode lampau lewat sosok Usmar Ismail. Salah satu tokoh perfilman pada dekade 50-60’an itu, sebagaimana dikisahkan Abdul Mun’im (Kompas/2/4/16), beranggapan bahwa holland denken (pikiran belanda) masih mewarnai sikap dan perilaku bangsa Indonesia. Maka demi meruntuhkan hal itu ia mencoba mengubah pola pikir kolonial dengan jalan perfilman. Revolusi film!

Apa yang dimaksud revolusi film bagi Usmar Ismail, pertama, jika sebelumnya film di tanah air banyak bercerita tentang dongeng, Usmar berkarya dengan mengangkat tema tentang realitas sosial dengan segala ironinya. Kedua, ia mencoba merevolusi orientasi film. Kalau sebelumnya film dianggap sebagai hiburan, ia menjadikannya sebagai medan perjuangan dan pembentukan karakter bangsa. Ketiga, revolusi penguasaan. Bila di zaman itu pasar film nasional dikuasai asing, terutama oleh film-film yang berasal dari Amerika lewat American Motion Picture Association of Indonesia (AMPAI), Usmar bersama kawan-kawannya hendak membalik situasi tersebut dengan menggeser pasar asing dan menempatkan fim nasional sebagai tuan di negeri sendiri (lihat, Abdul Mun’im, Kompas, hal.7). Demikianlah riwayat film yang mula-mula hiburan menjadi serius.

Seiring berjalannya waktu fungsi film sebagai tontonan memang bergeser semakin jauh. Hal itu tentunya tidak lepas dari dinamika yang berlangsung dalam industri perfilman itu sendiri. Dari proses produksi, distribusi, hingga film distandarisasi supaya dianggap layak dikonsumsi. Sebagai suatu kajian ilmiah, ada yang mencoba melihat film dari segi seni, dari aspek sosial, politik, sejarah, maupun dari apa yang oleh Alfred Gell (2005) disebut sebagai ‘teknologi pesona’. Teknologi pesona dalam film ini mencakup seperti misalnya tata musik, suara, sinematografi, seni peran, dan berbagai unsur lain yang memperkuat narasi dalam film sehingga dapat memikat khalayak penonton.

pemisah - Film, Kapitalisme, Strukturalisme

Pada tulisan ini saya akan berbagi cerita tentang petualangan saya ‘membaca film’ menggunakan teori-teori sosial populer. Namun sebelumnya, ijinkan saya menyampaikan terlebih dulu dua hal berkenaan dengan apa yang saya maksud sebagai “membaca film”. Pertama, di sini saya membedakan apa yang umumnya selama ini dipahami sebagai ‘menonton film’ dengan memperkenalkan istilah ‘membaca film’. Bila menonton film, penonton akan cenderung berposisi sebagai subyek pasif yang melihat scene demi scene sebagai suatu peristiwa visual yang terjadi dan diterima begitu saja, maka membaca film adalah mengambil posisi sebagai subyek aktif yang memperlakukan film layaknya teks. Kedua, sebuah pembacaan mesti mensyaratkan kehadiran teks. Oleh karenanya saya mengandaikan film layaknya hamparan teks (atau kumpulan scene) yang membentuk sebuah narasi. Ketiga, dengan menggunakan konsep Roland Barthes (2000) tentang Matinya Pengarang, dimana ketika teks telah diakhiri oleh pengarang (dalam konteks ini: sutradara bersama tim produksinya), maka kedudukan pengarang sendiri dalam film itu telah mati. Sebuah tulisan menjadi suatu dunia tersendiri yang dihadapi oleh penonton. Ia tidak lagi hadir memberi arahan kemana sebuah teks mesti dibaca, sebab film telah menjadi kuburan sutradara. Kematian pengarang/sutradara inilah yang sekaligus menjadi syarat memungkinkannya kelahiran pembaca dalam proses pembacaan. Pada posisi itulah tulisan ini menampilkan hasil pembacaan dari film tersebut.

pemisah - Film, Kapitalisme, Strukturalisme

Film yang akan saya ulas ini menarik perhatian saya karena kebetulan berada satu tema dengan penelitian yang pernah saya lakukan. Secara garis besar film tersebut bercerita tentang respon masyarakat terhadap penemuan potensi emas hitam alias minyak bumi yang melimpah di negeri seberang – yang merupakan refleksi tersendiri bagi saya ketika melihat ketersedian sumber daya alam negeri ini, di mana sejak didirikannya Indonesia sebagai negara baru, sumber daya alam telah menjadi berkah sekaligus kutukan karena kelimpahannya juga berarti benih munculnya proletarisasi bagi masyarakat tempat di mana sumber daya alam itu berada. Demikianlah latar belakang singkat ini ditujukan sebagai formalitas untuk mendekati struktur tulisan yang baik dan benar.

bg 722x1024 - Film, Kapitalisme, Strukturalisme

Black Gold

Alkisah, tersebutlah dua negeri gersang yang penduduknya miskin dan penyakitan. Hobeika dan Salmaah namanya. Dua negeri itu kerap berperang karena lantaran tanah di sebuah wilayah yang dijuluki “Jalur Kuning”. Jalur Kuning sendiri merupakan padang kering yang tidak menjanjikan nilai ekonomi apa-apa selain angin dingin yang bertiup dari timur selama setengah tahun dan badai gurun yang bisa datang kapan saja. Bagi mereka yang relijius, Jalur Kuning juga punya julukan lain, yaitu Rumah Tuhan.

Bila menonton film Black Gold, adakah yang sudah menonton? Jika tidak keliru film itu pernah tayang di bioskop sekitar 2011 lalu. Diangkat dari sebuah novel jadul yang disutradarai oleh orang berkebangsaan Perancis. Bila menonton film tersebut, mata kita akan dibawa melihat pemandangan laki-laki bersorban yang mengenakan jubah lengkap dengan pedang yang dililitkan di bagian pinggang seperti tradisi kuno Samurai Jepang, sementara para perempuan mengenakan cadar yang tidak hanya untuk menutupi aurat sesuai apa yang diperintahkan oleh agamanya, tetapi juga berguna untuk menghindari terpaan debu dan panasnya padang pasir. Hal itu tentulah kontekstual jika dibandingkan dengan jilboobs yang memanjakan mata kaum adam akhir-akhir ini.

Baca juga:  Gadis-gadis Keluarga March

Adegan-adegan seperti peperangan, hewan-hewan unta dan orang-orang hijrah yang hampir mati kehausan akan mengingatkan kembali pada film Aladin atau Doraemon versi petualangan padang pasir. Singkat cerita, film Black Gold yang sedang saya ulas ini diawali dengan perjanjian damai setelah perang yang dimenangkan oleh negeri Hobeika atas negeri Salmaah. Suatu hari dua petinggi dari kedua negeri itu bertemu di Jalur Kuning untuk melakukan perjanjian damai, namun dengan syarat dua anak sultan dari Salmaah yang masih kecil menjadi sandera untuk dibawa ke Hobeika.

Hari demi hari berlalu. Dua anak kecil itu tumbuh dewasa di bawah asuhan Sultan Hobeika bersama kedua anak kandungnya, seorang perempuan berparas jelita dan seorang pangeran gagah perkasa.

Pada suatu hari yang biasa, datanglah dua petualang mengendarai pesawat capung mendarat di pusat keramaian di Hobeika. Orang-orang langsung datang mengerumuni benda terbang itu. Melihat peristiwa tersebut, pemimpin negeri Hobeika yang miskin dan malang itu langsung mendatanginya. Keluarlah dua orang asing dari pesawat dan memperkenalkan diri sebagai orang dari perusahaan minyak kecil di Texas. Sambil memperlihatkan lempengan batu hitam berbau minyak, petualang itu menjanjikan kemakmuran untuk Hobeika. Saat itu, sultan belum ngeh bahwa di dekat wilayah kekuasaannya tersimpan minyak bumi dengan kualitas nomor wahid.

Hobeika yang miskin dan malang, belum mampu membaca peluang ekonomi yang sangat besar dari sumberdaya alam yang tersedia di tanahnya, sampai kemudian datang orang-orang pintar dari amerika memberitahu potensi itu. Sebuah gambaran yang mirip kisah penemuan gunung emas di Irian Jaya (yang sekarang terkenal dengan Freeport-nya) yang bermula dari ekspedisi orang Eropa yang sedang naik gunung.

Pertemuan orang Hobeika dengan para petualang minyak dapat dibilang merupakan gambaran dari perjumpaan antara dunia lama dengan dunia baru, dunia orang pintar dan dunia orang blo’on lantaran tak mengenyam pengetahuan ekonomi barat, dunia di mana ketika itu diam-diam “uang dan minyak telah menguasai dunia”.

Berkat pertemuan singkat yang menjanjikan perubahan tersebut, dalam waktu tidak begitu lama Hobeika telah benar-benar berubah total.

Setiap hari siang-malam eksploitasi minyak berlangsung diikuti pembangunan total di seluruh wilayah di Hobeika. Gedung-gedung sekolah dibangun dengan teramat megah, masjid-masjid besar didirikan, rumah sakit, jaringan listrik, perpustakaan dan tak lupa juga, impor senjata modern untuk memperkuat pertahanan dan keamanan.

Negeri Hobeika yang semula miskin dalam sekejap telah kaya raya. Bagaimana tidak, pada film yang menggambarkan situasi tahun 1930’an itu, satu ladang minyak yang baik dapat memproduksi seratus ribu barel perhari dengan harga 1dolar/barel. Itu masih hitungan kasar saat harga minyak masih belum seperti sekarang dimana subsidi BBM dibatasi karena harga minyak telah mencapai 90 dolar/barel. Sementara itu, sang sultan yang semula harus menerima kenyataan pahit dimana kemiskinan dan penyakit melanda negerinya, kini telah berubah drastis menjadi sultan tajir. Sebuah kekayaan yang seperti digambarkan dalam percakapan film itu, “dapat melebihi kekayaan Raja Inggris yang hanya punya rumput dan topi basah”.

Menarik memperhatikan bagian plot ini. Perubahan sosial-ekonomi yang berlangsung di Hobeika sejak diintroduksikannya tambang minyak oleh para petualang dari Texas mencerminkan perubahan mendasar yang terjadi dalam sistem ekonomi masyarakat padang pasir. Masyarakat sedang berubah. Hobeika membuka gerbang lebar-lebar kepada dunia luar yang menjanjikan kekayaan dan mengingatkan pada Orde Babe dengan Open Door Policy-nya dulu. Satu-persatu para pekerja yang berasal dari Texas yang berdandan ala koboi terus didatangkan untuk mengebor sumur minyak disana-sini. Mereka datang memperkenalkan potensi tambang lalu bekerja jadi buruh di negeri orang. Sementara itu kesultanan alias negeri Hobeika yang hanya menelan gaji buta, melakukan pembangunan tiada henti. Perpustakaan besar dan megah dibangun untuk memberdayakan sekaligus melokalisir orang pintar di negerinya, dan kekayaan semakin bertambah dari hari ke hari.

Sampai pada suatu hari, kekerasan terjadi di wilayah pengeboran minyak. Beberapa pekerja tambang dari Texas yang sedang beristirahat tiba-tiba ditemukan terbunuh, kedua kakinya diikat dengan alat berat kemudian ditenggelamkan ke dalam tangki minyak. Ketika pekerja lain menemukan, mayatnya telah menghitam berlumur minyak. Sejak saat itulah perseteruan dengan orang asing pun dimulai. Kecurigaan bermunculan. Petugas keamanan menduga hal tersebut dilakukan oleh suku Al Talabyns dan Anniza. Peristiwa pembunuhan itu lantas membuat Sultan berpikir dua kali tentang keberlanjutan eksploitasi tambang, karena pada dasarnya, sesuai perjanjian antara suku-suku selatan terdahulu, tempat dimana operasi tambang itu dilakukan ternyata adalah sebuah tempat yang telah disepakati sebagai wilayah steril, tanah tak bertuan.

Rupanya dari peristiwa pembunuhan itu, tanpa disadari oleh pemimpin Hobeika, diam-diam telah tercipta jurang kemakmuran dengan suku-suku di sekelilingnya, dan memicu munculnya tindakan kekerasan yang puncaknya adalah kematian dua koboi apes yang ditenggelamkan ke dalam tangki minyak kualitas terbaik.

Untuk menghindari berlanjutnya kekerasan dan demi menjamin keselamatan para buruh Amerika yang mendatangkan kemakmuran baginya, Sultan Hobeika yang cerdik, meskipun telah memiliki sistem pertahanan yang kuat karena dilengkapi persenjataan modern yang dibelinya dari hasil jualan minyak, ia tidak lantas terpancing untuk langsung membalas peristiwa itu dengan kekuatan militer yang dimilikinya. Dia berpikir untuk menyelesaikannya melalui jalan dialog. Seperti presiden negeri kita yang dikenal dengan politik meja makannya, Sultan Hobeika membuat pertemuan dengan mengundang para kepala suku yang bertujuan untuk mengambil hati melalui perjamuan istimewa yang telah ia susun dan rencanakan. Jalinan kekerabatan yang sebelumnya renggang akibat jurang ekonomi itu dibangun kembali melalui pertemuan dengan kepala-kepala suku. Di tengah perjamuan, sang sultan membagi-bagikan cinderamata berupa jam tangan emas kepada kepala suku yang miskin.

Baca juga:  Darah

Suku-suku yang menghuni padang pasir ketika itu diceritakan belum mengenal nilai mata uang sebagaimana masyarakat dunia luar mengenalnya. Kecerdikan Sultan Hobeika tergambar ketika dia membagi-bagikan benda berupa jam tangan emas kepada elit lokal sebagai alat tukar untuk “membeli kekerasan” suku-suku di sekeliling wilayahnya dengan harapan supaya tak terjadi lagi peristiwa pembunuhan yang membahayakan kelangsungan bisnisnya. Pada scene tersebut, tergambar bagaimana kontrak sosial dan ekonomi yang berlaku dalam masyarakat modern sebenarnya merupakan sisa-sisa peninggalan dari sistem tukar-menukar pemberian yang berlaku dalam masyarakat kuno (Mauss, 1992; Sumintarsih, 1997). Terbukti, peristiwa membagi-bagikan cinderamata berupa jam tangan emas itu menuai hasil. Kekerasan tidak lagi terjadi. Sultan Hobeika mendapat restu dari suku-suku selatan untuk meneruskan aktivitas penambangan. Kecuali satu negeri yang masih juga tidak dapat diajak berdialog dan melakukan pertukaran, yaitu Salmaah, semua negeri yang dua pangerannya menjadi sandera di Hobeika.

Dalam film tersebut, Salmaah diceritakan sebagai sebuah negeri yang masih memegang teguh nilai-nilai dari dunia lama dan memandang skeptis bahwa segala hal yang berasal dari luar adalah kafir. Mereka menolak segala bujuk rayu yang dilakukan Hobeika untuk melanjutkan operasi tambang dengan salah satu alasan misalnya, “Minyak itu durhaka karena kita perlu orang-orang kafir untuk mengeluarkannya”.

Menariknya, selain terbilang menutup diri terhadap kehadiran dunia baru yang menjanjikan kemakmuran, negeri Salmaah memiliki kearifan lokal sebagaimana biasa dijumpai oleh antropolog romantis ketika turun ke lapangan dan melakukan penelitian. Meski sebelumnya telah mengetahui bahwa di dekat wilayahnya terdapat sumber minyak, orang Salmaah mempergunakannya seperlunya saja, misalnya hanya untuk mengolesi luka atau membilas kaki unta yang kelelahan. Mereka menolak komodifikasi sumber minyak dengan alasan karena ada campur tangan orang asing dalam pengelolaaannya.

Salmaah memiliki sistem pengetahuan yang khas sebagaimana ide-ide Clifford Geertz tentang kebudayaan masyarakat yang ditopang oleh sistem gagasan. Menganut sistem ekonomi subsisten dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan cara saling bertukar barang. Cara mereka menilai keberadaan uang sama halnya dengan cara mereka memandang kehidupan dunia: bersifat fana. Uang bukanlah segala-galanya bagi Salmaah. Namun begitu, meski menjadi negeri yang dengan tegas menolak ekspansi kapitalisme industri yang disimbolkan melalui tingkah negeri Hobeika, sebagai sebuah negeri yang berpandangan romantis Salmaah rupanya juga menganut sistem perbudakan, sesuatu yang ketika itu bertentangan dengan nilai-nilai humanisme dari jaman baru. 

Dialog-dialog Black Gold

Di ceritakanlah di film itu, antara negeri Salmaah dan negeri Hobeika, masing-masing mempunyai ahli tafsirnya sendiri tentang kitab-kitab terutama al qur’an. Dapat dirunut, dari tradisi penafsiran itulah perbedaan jagad pandang dua negeri itu melakoni kehidupan. Sederhananya, keberlangsungan kehidupan tidak terletak pada sultan ataupun sistem sosial yang mengacu kepada hukum-hukum agama, melainkan pada subyektifitas para ahli tafsir yang diangkat sebagai penasehat kerajaan lantaran luasnya pengetahuan yang dimilikinya. Ahli tafsir memiliki kuasa penuh untuk mengkontekstualisasikan dinamika sosial dan mengartikulasikan berbagai masalah yang dihadapi oleh pemerintah sesuai dengan dalil-dalil Qur’an yang tidak dapat diganggu gugat.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika pada salah satu scene, di depan tetua suku selatan, Sultan Hobeika yang serakah dan terjangkiti kapitalisme industri itu, berbicara tentang konflik sembari menyitir al qur’an: “bahwa di dalam alqur’an, kata perdamaian disebutkan dua kali lebih banyak daripada kata perang”

Di scene lain, di suku Salmaah juga terjadi ‘perang ayat’ antara para golongan tua yang mendukung dilaksanakannya perang dan seorang pangeran Auda yang semasa hidupnya besar di Hobeika dan terkenal sebagai kutubuku. Perdebatan tentu saja dimenangkan oleh Pangeran Auda yang lebih banyak bergulat dengan pemikiran, hingga membuat salah seorang dari golongan tua berucap, “Minyak itu durhaka karena kita perlu orang-orang kafir untuk mengeluarkannya”. Mendengar penjelasan itu seluruh ruangan pun ribut. Tetapi pangeran menanggapinya dengan jernih.

“Bolehkah saya bertanya satu pertanyaan? Jika Allah tidak menginginkan minyak untuk para Arab, mengapa Dia meletakkannya di sini?”

“Allah meletakkannya di sana, tetapi jika ia ingin kita menggunakannya, ia pasti mengatakannya dalam Qur’an,” jawab salah satu di antara mereka.

“Tetapi Dia tidak melarangnya di dalam Qur’an. Aku pikir dia meletakkannya ke dalam tanah untuk memperbaiki kehidupan kita”

“Yang penting adalah kehidupan yang kekal”, “Kita tidak harus memperbaiki kehidupan, ini adalah kenikmatan sementara,” tambah seseorang lain yang berkacamata.

“Dan kacamatamu itu adalah dosa,” kata Pangeran Auda.

Maksud dari pangeran Auda, jika golongan tua menganggap minyak itu durhaka karena membutuhkan campur-tangan kafir untuk mengeluarkannya, maka kacamata yang sedang dikenakan oleh salah seorang yang sedang berbicara itu juga tak lebih suci dari minyak karena ia dibuat oleh orang-orang kafir.

Pada percakapan itulah, logika menjadi kekuatan tersendiri dalam perang argumentasi, meski harus berhadapan dengan suara mayoritas yang cacat dalam berlogika.

Hal lain yang menarik perhatian saya di sini adalah bagaimana wilayah Salmaah yang konservatif berdampingan dengan Hobeika yang liberal. Salmaah menutup diri dari dunia luar karena di dalam imajinasi kolektifnya, dunia luar adalah dunia kafir. Bahkan obat-obatan yang datangnya dari luar tidak diperbolehkan masuk, dan dengan ia berarti membatasi kemungkinan penyembuhan medis bagi warga yang hidup di wilayahnya.

Baca juga:  Tragedi

“Keberanian dan kebenaran adalah pembimbing kami. Namun sekarang uang dan minyak menguasai dunia,” kata pemimpin dari Salmaah yang berucap dengan haru menyaksikan perubahan drastis yang berlangsung di tempat tinggalnya.

Pada latar belakang itulah patut juga dilihat konteks pendewaan Hobeika terhadap minyak karena ia dihadapkan pada kondisi rakyatnya yang terkena wabah kolera butuh disembuhkan dengan biaya yang tidak sedikit. Sementara di negeri tetangganya, pasukan Salmaah mendewakan air karena di padang gurun mereka hampir mati dehidrasi. Dua masalah krusial tersebut nyatanya tak mampu dilihat oleh dua negeri itu satu sama lain, dan hanya memandang negativitas sikap satu sama lain, hingga melanggengkan negasi ekstrim yang berujung pada perang antar suku. 

Struktur Narasi

Saya ingin melanjutkan tulisan ini dengan mencoba menampilkan strukturalitas cerita dalam film Black Gold. Dalam narasi film tersebut, melalui pembacaan strukturalis, saya menemukan ada beberapa unsur yang menjadi perangkat dasar dari oposisi-oposisi yang saling berkaitan dan membentuk struktur konflik dalam cerita itu, yakni sebagai berikut;

 

Negeri Hobeika Negeri Salmaah
Sultan Nesib Sultan Ammar
Liberal Konservatif
Kaya Miskin
Dunia baru Dunia lama
Uang adalah segalanya Uang tidak ada artinya
Senjata modern (tank, pistol,dll) Senjata tradisional (pedang)

Walaupun demikian, selain gambaran oposisi-biner di atas, didapati juga unsur yang saling menyatukan kedua unsur yang saling berlawanan, yaitu kedua negeri tersebut sama-sama penganut islam yang taat, sama-sama cinta akan kedamaian dan sama-sama menjadikan Qur’an sebagai penuntun.

Islam

Cinta kedamaian

Qur’an sebagai pedoman

Kontradiksi menarik yang dioposisikan pada perbedaan-perbedaan antara Hobeika versus Salmaah itulah yang kemudian menggerakkan peperangan dimana suku-suku lain juga turut masuk ke dalam pusaran konflik dan menyebabkan banyaknya korban jiwa berjatuhan. Ada masa dimana perbedaan mencair dan konflik meredam, namun ada juga masa dimana perbedaan menegas dan perang muncul ke permukaan. Bukan semata perang fisik, melainkan perang yang menyimbolkan dua dimensi kultural dengan nilai berbeda yang juga dapat diartikan sebagai gambaran lain dari pertarungan antara rezim ekonomi subsisten melawan rezim ekonomi industri. Kapitalisasi sumber minyak di Hobeika sejak diperkenalkan oleh orang-orang Texas menyebabkan suku di sekitarnya memasuki zona krisis subsistensi. Lambat-laun mereka mulai melihat peluang ekonomi baru dari usaha minyak yang dilakukan oleh pemimpin Hobeika. Dan selanjutnya, pihak yang kekeuh dengan nilai-nilai lama mesti menerima kekalahan total atas datangnya nilai yang dibawa dari dunia zaman baru: rezim ekonomi industri.

Refleksi

Di bagian akhir dari struktur narasi singkat di atas, sengaja saya melakukan lompatan pembacaan dengan menggunakan perspektif strukturalisme untuk mendedah jalinan teks yang mengerangkai film Black Gold. Dalam menerapkan perspektif tersebut, metode sederhana untuk menemukan struktur cerita adalah dengan melacak unsur oposisi-biner. Namun anehnya, ketika oposisi-biner itu telah saya temukan dan saya susun ulang seperti yang tampak dari struktur narasi di atas, hasilnya ternyata tidak cukup memuaskan bagi saya. Sebab kesimpulan dari penggunaan metode struktural itu belum mampu lepas dari penegasian antara nilai lama dan nilai baru, di mana kehadiran nilai dari dunia lama mesti “dikalahkan” oleh datangnya nilai dari dunia baru, yaitu rezim ekonomi industri.

Paradigma yang digunakan ketika menganalisa konflik dalam narasi Black Gold di atas akan menjadi problematis jika hal itu ditarik secara paradigmatik ke wilayah empiris dan dipraktikkan untuk mengamati kasus ekspansi industri ekstraktif yang marak mendepak masyarakat di banyak tempat di Indonesia dewasa ini. Sebab bila perspektif itu konsisten diterapkan dalam melihat kapitalisme ekstratif misalnya, maka sintagmatik yang dapat ditemukan tak lain hanya akan mengarah pada logika berpikir yang memuluskan jalan bagi beroperasinya kapitalisme dalam mengalienasi kehidupan warga tempatan. Pendek kata, melalui bahasa njlimet itu, saya ingin mengatakan bahwa melalui “film sebagai representasi dari kenyataan sosial” dan “model berpikir” atau “metafora”, pengalaman dalam menggunakan pendekatan strukturalisme rupanya belum cukup untuk mengurai kompleksitas yang berkembang menuju seribu satu kemungkinan di hadapan kapitalisme.

Dengan demikian, setelah berbagi cerita mengenai pengalaman membaca film yang mungkin membuat pembaca jemu (sebab, kok panjang banget ya?) barangkali tak ada salahnya untuk menjajal perspektif lain yang memungkinkan kita dapat melampaui cara berpikir oposisi-biner dan negasi pecah belah dalam menilai kompleksitas sosial, seperti yang marak terjadi dan diterapkan dalam melihat banyak hal akhir-akhir ini. Mengenai perspektif apa yang tepat, menjadi tugas kita bersamalah untuk menjawabnya.[]

coverriofilm - Film, Kapitalisme, Strukturalisme

Rujukan

Roland Barthes. 2000. Matinya Sang Pengarang, dalam kumpulan esai Hidup Matinya Sang Pengarang: Esai-esai tentang Kepengarangan oleh Sastrawan dan Filsuf. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Simatupang, Lono. 2006. Memahami Jagad Seni sebagai Refleksi Kemanusiaan, dalam Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya, tahun 2013. Yogyakarta: Jalasutra.

Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.

1997. Merajut Kerjasama, Menjangkau Pasar: Siasat Resiprositas dalam Usaha Kerajinan Agel di Kulon Progo, Yogyakarta dalam Ekonomi Moral, Rasional dan Politik dalam Industri Kecil di Jawa. Yogyakarta: Kepel Press.

Abdul Mun’im DZ. Revolusi dalam Film Usmar Ismail, dalam koran Kompas tanggal 2 April 2016, hal.7.

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi