Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah Renungan Politik

Selamat pagi.

Ada seorang kawan bertanya: apakah kita akan menang jika berperang melawan negara lain seperti Malaysia, Singapura, Australia, atau bahkan China? Pertanyaan basi yang terus-menerus diulang, seakan-akan perang melawan negara ini atau negara itu tak ubahnya jalannya pertandingan sepak bola Piala Dunia.

Saya yakin teman saya itu tidak hendak mengompori kita untuk berperang. Mungkin ia tengah membayangkan makna sivis pacem para belum. Jika ingin berdamai, bersiaplah untuk berperang. Tapi bagaimanapun, perang itu pilihan terakhir, ketika ‘kata tak lagi bermakna’. Ini saya menyitir Iwan Fals: ‘ketika kata tak lagi bermakna, langkah buta terjang saja’.

Perang itu jelas bikin susah. Dan, saya lebih memilih jadi umat Iwan Fals yang bernyanyi: ‘oh ya andaikata dunia tak punya tentara, tentu tak ada perang yang makan banyak biaya. Oh ya, andaikata dana perang buat diriku. Tentu kau mau singgah, bukan cuma tersenyum’.

Baca juga:  Merekam Jejak Kehancuran Ekologi di Tanah Sulawesi

Lagipula saya juga tak terlalu percaya, dua negara yang sama-sama memiliki gerai burger McDonald akan berperang. Kalau untuk urusan ini, saya percaya dengan teori Thomas L. Friedman, wartawan The New York Times itu. Ia memperhatikan, tak ada dua negara yang sama-sama punya McDonald saling berperang sejak keduanya memiliki McDonald.

Dari sini, Friedman menggagas Teori Pencegahan Konflik Golden Arches: saat sebuah negara mencapai tingkat perkembangan ekonomi dengan kelas menengah cukup besar untuk mendukung jaringan McDonald, negara ini akan menjadi negara McDonald. Di antara negara-negara ini, terjalin menjadi bagian struktur perdagangan global dan peningkatan standar hidup dengan McDonald sebagai simbolisasi.

Friedman yang punya kumis tebal dan tubuh agak gemuk seperti saya itu lantas melengkapi teorinya dengan Teori Dell. Menurut dia, tak ada dua negara yang sama-sama ambil bagian dalam rantai pemasok utama pasar global yang akan saling berperang, selama tetap menjadi bagian dari rantai pemasok global.

Baca juga:  Raja atas Diri Sendiri

Hari ini hampir semua negara (jika tak ingin mengatakan semuanya) punya gerai McDonald. Mereka juga sama-sama menjadi mata rantai pasar bebas, dan sebagaimana kata Richard Cobden, politisi Inggris abad 18, “Perdagangan bebas merupakan diplomasi Tuhan. Tak ada cara pasti lainnya untuk menyatukan orang dalam ikatan damai.”

Namun, tentu saja kita setuju, bahwa McDonald dan globalisasi bukan alasan pemaaf bagi pelanggaran teritori. Tuhan memang menciptakan satu bumi, tapi bukankah kita sendiri yang telah bersepakat untuk membagi-baginya bak kue dalam negara-negara.

Kita tentu sepakat, bahwa pemerintah ada dan mendapat amanat setiap lima tahun untuk melindungi negara, dan martabat rakyatnya. Kita pasti percaya dan meyakini, rakyat tak butuh pemimpin yang berperilaku seperti burung merak, yang hanya bisa mematut-matutkan diri, berindah-indah dengan dirinya sendiri, namun sebenarnya lemah dan rentan di bawah ancaman hewan pemangsa lainnya.

Baca juga:  Mengalami Jakarta

Rakyat sesekali butuh pemimpin yang berperilaku seperti rajawali, yang seperti dalam puisi WS Rendra yang dimusikalisasi oleh Kantata Takwa: “burung sakti di angkasa, lambang jiwa yang merdeka.” Tapi saya bisa memahami, kalau takdir diri hanyalah merak atau nuri, sulitlah kiranya bermetamorfosis menjadi rajawali.

Tidak, saya tidak ingin kita berperang, walau konon kekuatan militer Indonesia berada di peringkat 14 terbaik dunia. Diplomasi yang tegas adalah jalan terbaik untuk menunjukkan bahwa ‘ini tanah kami, ini hak kami’. Ketegasan menunjukkan bahwa pemerintah kita ada, dan rakyat tak akan merasa perlu mengambil langkah sendiri yang mungkin justru akan kontraproduktif. Ketegasan itu, saya kira, termasuk dalam urusan berdagang dengan negara lain. Tak ada orang yang mau digunting dalam lipatan.

Selamat pagi. Bagaimana menurutmu, Kawan? []

tlf - Friedman Menjawab Pertanyaan Seorang Kawan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi