Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Little Women karya Louisa May Alcott

Kisah ini bermula dari empat orang gadis Keluarga March yang hidup di Massachusetts, Amerika Serikat. Mereka adalah Margaret alias Meg, Jospehine alias Jo, Elizabeth alias Beth dan Amy. Mereka adalah gadis-gadis yang riang dan memiliki ambisi sesuai dengan karakter masing-masing.
.
Saat itu menjelang Natal, dan keempatnya sedang duduk di ruang keluarga, yang sangat nyaman. Bergelung sambil berkeluh kesah, keluhan remaja menjelang hari bahagia namun memiliki uang yang terbatas.
.
Keluarga March memang bukan keluarga berkecukupan. Mereka jatuh miskin setelah ayah mereka gagal dalam berwirausaha. Mereka terpaksa tinggal di rumah usang namun nyaman dan hangat. Masih beruntung memiliki seorang pelayan, Hanna. Dan saat ini sang ayah sedang menjadi sukarelawan perang. Mereka hanya tinggal bersama sang marmee, ibu tercinta.
.
Natal itu mereka ingin membeli hadiah untuk marmee, dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Kisah ini mirip dengan kisah Keluarga Cemara di Indonesia. Ketika Abah jatuh miskin dan seluruh keluarga diboyong ke desa hidup mulai dari nol. Mencoba tetap bahagia walaupun hidup susah. Bedanya di Keluarga Cemara, ada keluarga kaya yang iri dengan mereka. Namun di Little Women, keluarga kaya di samping rumah mereka justru menjadi sahabat. Keluarga itu bernama Laurence.
.
Persahabatan gadis-gadis March dengan keluarga Laurence bermula ketika Jo dan Meg menghadiri undangan pesta dansa untuk para gadis dan pemuda. Jo yang tomboy tidak terlalu tertarik dengan pesta dan dansa. Berbeda dengan Meg yang sangat cantik dan anggun dan saat itu sedang mekar-mekarnya. Walaupun menggunakan sandal yang kesempitan, tidak membuat Meg berhenti berdansa. Jo yang bosan menyelinap dan pergi sendiri ke lorong rumah.
.
Tak disangka di sana dia bertemu dengan cucu Pak Tua Laurence, Laurie. Segera keduanya menjadi akrab karena persamaan sikap, konyol, heboh, suka dengan petualangan dan hal-hal baru. Persabahatan itu akhirnya merambah menjadi persahabatan antar kedua keluarga. Laurie yang yatim piatu merasakan kehangatan di rumah keluarga March. Sedikit banyak sikapnya yang cuek, masa bodoh, pemberontak, berubah karena bergaul dengan gadis-gadis itu.
.
Kisah tak berhenti sampai di situ. Louisa May Alcot memang penulis jempolan. Plot yang santai tapi tidak membosankan. Penuh dengan kejutan-kejutan dan pelajaran tentang moral dan kehidupan. Bagaimana gadis-gadis March memperoleh pelajaran dari setiap masalah sesuai dan konsisten dengan pengembangan karakter mereka.
.
Meg yang berambisi menjadi gadis kaya dan anggun, akhirnya harus menelan pil pahit setelah menjadi bulan-bulanan di sebuah pesta keluarga kaya. Jo yang sangat suka membaca dan menulis tapi pemberang harus merasakan cengkraman rasa takut dan putus asa karena mengobarkan amarah tanpa ampun. Amy si bungsu harus menekan egonya sampai ke titik nol dan berubah menjadi si kecil yang rela berkorban untuk kakaknya. Hanya Beth yang dalam kisah ini tetap menjadi kesayangan keluarga.
.
Entahlah saya tidak tahu mengapa Alcot memilih menuliskan tokoh ini. Dia sama sekali tidak banyak diceritakan. Hanya seorang gadis kecil yang suka bermain piano, pemalu, mencintai boneka-bonekanya, dan selalu menjadi penunggu rumah. Dia tidak memiliki ambisi apapun. Dia selalu menjadi pendengar. Beth mengingatkan saya pada Dewi Hestia sang penjaga perapian, di serial Percy Jackson. Hestia bukan dewi utama. Tapi tanpa kehadirannya rumah akan dingin, sedingin es. Pun Beth. Tanpa kehadirannya rumah seolah kosong dan hampa.
.
Namun meski tampak seperti bayangan di antara dominasi kakak-kakak dan adiknya, Beth justru memiliki karakter yang kuat. Dia memang terbiasa menjadi pendengar, juru damai ketika ada pertengkaran, tapi dia justru memiliki kemauan kuat dan kesetiaan. Hanya Beth yang setia menjalankan amanah ibu mereka ketika sang ibu harus pergi ke kamp karena sang ayah dikabarkan sakit.
.
Dengan ajeg seperti jam yang terus berputar, Beth setia mengunjungi satu keluarga miskin yang kerap dibantu marmee. Saat keluarga itu diserang penyakit menular dan mematikan, Beth yang merawatnya. Kakak dan adiknya melupakan dan menganggap remeh. Sehingga Beth berjuang sendiri sampai dia kelelahan dan akhirnya sakit. Di saat itu saudari-saudarinya baru menyadari kesalahan dan kelalaian mereka.
.
Beruntung Beth bisa diselamatkan. Beruntung pula ayah yang mereka cintai juga dapat diselamatkan. Keberuntungan semakin lengkap ketika seorang pemuda bernama John Brooke melamar Meg. Sungguh sesuatu menjadi lebih indah ketika hidup nyaris meluncur turun tiba-tiba keajaiban datang. Selama ada doa dan keyakinan serta dukungan keluarga, yang tak mungkin bisa mungkin.[]keluarga march

Baca juga:  Membongkar Mitos Peristiwa G30S
Tidak ada artikel lagi