Gagasan Pokok Pesantren dan Kebudayaan

Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Pengantar buku "Pesantren dan Kebudayaan"

Pesantren adalah lokus dari Islam yang sesuai dengan kebutuhan bumi Indonesia atau Nusantara. Dalam bahasa lain, pesantren adalah perwujudan Islam dalam jangkar kebutuhan bumi Nusantara. Maka ketika corak keberislaman di pesantren tidak rukun dengan bentuk keislaman di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi (walaupun belakangan Wahabisme di Arab Saudi mulai kendor pesonanya), bukanlah hal aneh dan menjadi soal. Bagaimanapun, Islam telah menjadi sesuatu yang beragam  karena para penerjemahnya berada, menetapi, dan tinggal di wilayah yang beragam pula. Islam adalah sebuah arus utama dari sungai yang bersua dengan berbagai anak sungai yang tidak saling meniadakan satu sama lainnya. Air sungainya tetap Islam, tetapi rasa dan baunya tidak harus rasa dan bau Arab. Nah, di kalangan pesantren sendiri, pergulatan berislam di bumi Nusantara merupakan fakta dan proses panjang yang disebut sebagai kebudayaan itu sendiri. Hal itu jika tidak mau perlu bertele-tele dengan segala sofistikasi wacana kebudayaan. Persoalannya adalah masalah translasi Islam yang merujuk kepada kebutuhan dan pengalaman orang Indonesia.

Sejak kongres kebudayaan pertama di Indonesia, posisi pesantren menjadi perdebatan utama yang alot. Sebenarnya, dua kubu, yang pro dan kontra pesantren, menunjukkan gema dari perdebatan lama tentang pesantren dalam wacana kolonial Belanda. Dan pada masa setelahnya, ada suatu eksperimentasi intelektual maupun kultural untuk menyusun suatu model Islam yang lebih modern dan sesuai dengan bayangan para Indonesianis mengenai Islam, persis seperti hasrat kolonial Belanda yang mengandaikan Islam Nusantara yang tertib dan tidak merepotkan kepentingan mereka. Eksperimentasi kultural tersebut memiliki kepentingan jelas, yakni menemukan Islam dan menaklukkannya sehingga Islam di sini kehilangan elan resistensinya. Selain itu, kemampuan Islam Nusantara melakukan percakapan dengan berbagai tradisi menjadi pudar dan lemah.

Baca juga:  Hikayat Es Krim

Sampai kemudian ritme baru dalam kajian mengenai pesantren, di antaranya adalah studi panjang Nancy K. Florida tentang sastra pesantren pada abad ke-19 Masehi. Florida tampaknya menolak anggapan bahwa Islam tidak bersifat hegomonik—istilah Ben Anderson soal Islam yang tidak memiliki pengaruh—di Indonesia, terutama pesantren. Florida secara implisit, dalam pemahaman saya, menegaskan tentang pentingnya posisi pesantren dalam perdebatan kebudayaan Indonesia. Apa yang ditegaskan oleh Florida ini tentu penting, dan bisa kita anggap sebagai sebuah dinamika positif dalam kajian tentang Jawa dan Indonesia. Beberapa sarjana memang memiliki kesamaan pendapat, tetapi Florida menegaskannya dengan lebih gamblang, dan terpenting membongkar konstruksi tentang Islam dan pesantren di Indonesia.

Buku Pesantren dan Kebudayaan ini adalah ikhtiar para santri dalam menginventarisasi jejak-teladan para pendahulu yang belakangan semakin diredupkan berbagai sebab. Kedua, menginventarisasi segala bentuk jejak dari para petualang yang melemahkan bentuk resistensi umat Islam. Ketiga, buku ini adalah ikhtiar permulaan untuk mengurai kembali baik perdebatan ataupun wacana pesantren dan kebudayaan yang pada dekade lalu pernah tumbuh dengan menentukan kebutuhan dan relevansi kebudayaan hari ini.

Baca juga:  Peta Kebudayaan

Buku ini bukanlah juklak atau pedoman dalam menjalankan misi kebudayaan dalam dunia pesantren. Andaian sederhananya demikian: pesantren adalah sebuah tradisi panjang dalam sejarah umat Islam di Nusantara yang tidak memiliki keharusan mengikuti jalan dan persecabangan jalan yang dilalui oleh orang lain. Pesantren menegaskan masalah pentingnya arti harga diri dan kedaulatan (sesuatu yang sudah luntur di dunia pesantren hari ini) untuk menapaki tanjakan kebudayaan itu sendiri.

Buku ini adalah ikhtiyar permulaan untuk mengurai kembali perdebatan atau wacana pesantren dan kebudayaan yang pernah tumbuh pada dekade lalu dengan menentukan kebutuhan dan relevansi kebudayaan hari ini. Buku ini bukanlah juklak atau pedoman dalam menjalankan misi kebudayaan dalam dunia pesantren. Andain sederhananya demikian: pesantren adalah tradisi panjang dalam sejarah umat Islam di Nusantara yang tidak harus mengikuti jalan atau persecabangan jalan yang dilalaui orang lain. Pesantren menegaskan pentignya arti harga diri dan kedaulatan (sesuatu yang sudah luntur didunia pesantren hari ini) untuk menapaki tanjakan kebudayaan itu sendiri.

Buku ini menunjukkan pergulatan orang pesantren terhadap berbagai isu dan persoalan yang mendera lokasi hidup mereka, yakni pesantren. Selain itu, buku ini juga menunjukkan bagaimana orang pesantren memberikan jawaban kepada lawan-cakapnya secara manusiawi. Intinya, buku ini adalah inventarisasi awal atau pendahuluan dari persoalan-persoalan penting terkait pesantren dan kebudayaan.

Baca juga:  Hikayat Sepak Bola Indonesia yang Terabai

Salah satu fakta penting yang ingin ditampilkan buku ini adalah pertumbuhan bahasa dan metafor intelektual pesantren yang lebih kaya dan beragam dalam membincang kebudayaan, dan tidak tersentral pada otoritas tertentu. Artinya, telah terjadi perubahan di tengah pesantren yang tidak menyebabkan kerja kultural pesantren bersifat reaktif, balas dendam, gila pengakuan, dan hal artifisial lainnya. Metafor baru dalam wacana kepesantrenan sesuatu yang niscaya seperti dialami kelompok lain. Dinamika perlu diinventarisasi guna memperkaya lagi kosakata dan metafor intelektual pesantren sehingga percakapan kalangan pesantren dengan berbagai kelompok semakin fasih, dan di masa mendatang memungkinkan mereka memfasilitasi suatu kolokium pengetahuan yang demokratik.

Buku ini mengundang beberapa intelektual pesantren, seperti K.H. Agus Sunyoto, Kiai Jadul Maula, Angregurutta Ahmad Baso, Hairus Salim, Nur Kholik Ridwan, Muhammad al-Fayyadl, Irfan Afifi, Faisal Kamandobat Aguk Irawan, A. Anzieb, MH. Nurul Huda, dan beberapa pengurus LesbumiPWNU DIY.

Tema-tema tulisan meliputi kritik terhadap teori Islamisasi Indonesia, asal-muasal pesantren, wayang, kolonisasi (sekaligus dekolonisasi) pengetahuan pesantren, seni rupa, arsitektur, sastra, dan beberapa persoalan mutakhir lainnya.  Wallahul haadi ila sawa’is sabil. []

10 - Gagasan Pokok Pesantren dan Kebudayaan

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi