Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Antropologi Pendidikan

Gagasan mengenai pendidikan anak usia dini pertama kali dikenalkan oleh Frobel. Frobel berpadangan bahwa anak usia dini diibaratkan seperti tunas tumbuh-tumbuhan, masih memerlukan pemeliharaan dan perhatian sepenuhnya dari si “juru tanam”. Juru tanam di sini adalah orang-orang dewasa. Friedrich Wilhelm August Frobel mendirikan Kindergarten di kota Blankerburg, Jerman pada tahun 1840 Kinder, ini merupakan pelopor pendidikan anak usia dini di dunia. TK PAUD muncul di Indonesia pada masa pergerakan nasional pada penjajahan Belanda (1908-1941) dan masa penjajahan Jepang (1942-1945). Namun demikian, keberadaannya belum dapat dirasakan oleh semua orang waktu itu.

Orang-orang kelahiran sekitar tahun 1970-1975 tidak banyak yang melewati masa pendidikan di TK karena orang tua mereka tidak menyekolahkan anaknya ke TK. Hal ini terjadi bukan karena adanya penolakan oleh orang-orang tua di masa itu tetapi Orang tua di masa itu bersikap tidak memaksa pada anak-anaknya. Orang tua hanya memberikan tawaran pada anak-anaknya, “Mau sekolah atau tidak nak?” orang tua sepenuhnya menyerahkan keputusan di tangan anak-anaknya.

Seiring perkembangan kota yang semakin meluas merambah daerah piggiran kota ditambah lagi adanya pertumbuhan penduduk memberikan konsekuensi semakin sempitnya lahan-lahan ang dulunya adalah area pertanian. Pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia selama 33 tahun (periode 1977-2010) lebih 100.000.000 jiwa (BPS Pusat, 2010). Hal ini jelas menyebabkan semakin lama kepemilikan lahan semakin berkurang (sempit), disamping kemerosotan kualitas lahan serta tuntutan lapangan kerja baru.

Orang-orang mulai mencari kerja di kota untuk menambah penghasilan untuk menutupi kebutuhan hidup yang tidak lagi dapat mereka cukupi hanya dengan menggarap lahan. Namun lapangan kerja di kota tidak begitu saja dengan mudah mereka akses, aspek tingkat pendidikan sering menjadi kendala. Maka dari itu, orang tua sudah sejak dini meyiapkan anak-anaknya melalui sekolah.

Menurut data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat pada rentang 2005-2011 terjadi peningkatan jumlah PAUD dari semula 21.2 persen (2007) menjadi 34.54 persen (2011). Khususnya yang terjadi di DIY, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 356.917 ternyata persentase (%) anak usia dini yang mengikuti PAUD lebih besar yaitu 81,78%.

“Di jaman sekarang, orang bersekolah banyak beban pikiran, dulu, saya bersekolah SD tidak harus melalui TK. Saya mampu membaca setelah kelas 2 SD,” ungkap pak Eki. “Kejadian di masa lalu kok dijadikan pedoman,” pak Yanto menimpali.

Para orang tua kesulitan untuk merespon kondisi yang sedang terjadi karena pengalaman pribadi mereka di masa lalu tidak dapat lagi digunakan sebagai refrensi pengetahuan. Jamannya berbeda sekolahnya juga berbeda padahal hanya terpaut satu generasi. Lalu dari manakah para orang tua memperoleh jawaban atas persoalan tersebut?

Bu lala dan suaminya mulai mencari informasi sekolah TK saat si Nadia anaknya menginjak usia 3 tahunan. Bu Lala berteman baik dengan Bu Siti yang juga mempunyai anak seusia Nadia. Bu Lala berkesibukan sebagai ibu rumah tangga sedangkan Bu Siti sehari-harinya mengelola warung makan. Warung makan Bu Siti buka dari jam 8 pagi hari hingga jam 10 malam. Di sela-sela kesibukan masing-masing Keduanya sering terlibat mengobrol di warung.

Sore itu Bu Lala merasa perlu untuk membeli tambahan lauk untuk makan malam. Dia mengajak Nadia ke warung bu Siti. Sesampainya di sana dia membiarkan Nadia bermain di halaman belakang warung bersama Dara anak perempuan bu Siti diawasi Kelik suami bu Siti. Selagi anak-anak mereka bermain, keduanya ngobrol masalah iuran dasawisma, kenaikan harga daging sapi dan ngrasani bu Giat tetangga mereka yang sedang sakit keras. Obrolan mereka akhirnya meyangkut tentang sekolah TK di lingkungan mereka dan keinginan untuk menyekolahkan anaknya ke TK. Pembicaraan mengenai nyekolahne anak yang dibuka oleh bu Siti mendapat respon antusias dari bu Lala. Bu Lala sendiri, sudah beberapa hari ini bersama Didit suaminya kepikiran dengan saran dari ibunya untuk segera memasukkan Nadia ke TK. Ibunya khawatir jika tidak sekolah nanti cucunya akan kurang sosialisasi, konco ketemune kuwi kuwi wae.

…Bu Siti bertanya pada bu Lala,” Eh Kak, Kalo PAUD-TK SKB itu bagus tidak menurutmu?”
“Bagaimana Tante? Apa anda akan menyekolahkan Dara di SKB?” Tanya bu Lala.

Bu Lala balik bertanya ketika ditanya oleh bu Siti. Ada keheranan, seolah tidak percaya bu Siti mempertanyakan perihal itu. Beberapa hari sebelumnya bu Lala sempat membicarakan tentang topik yang sama dengan bu Ninik di rumahnya. Bu Lala memperoleh gambaran mengenai PAUD dan TK SKB dari pengalaman bu Ninik memPAUDkan dan menitipkan anaknya di SKB. Penitipan anak di SKB dijalankan oleh guru-guru pengasuh PAUD dan TK mulai jam 10:00 WIB sampai jam 15:00 WIB. SKB berawal dari penitipan anak dan berkembang menjadi melaksanakan program PAUD dan TK di bawah pemerintah Desa.Dia menganggap bu Siti sudah tahu perihal PAUD dan TK SKB, hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa di SKB guru-gurunya kurang serius dan terancam tutup karena sedikitnya murid. Orang sering menyebut SKB dengan sebutan Sekolah Kurang Biaya.

Bu Lala memperoleh gambaran PAUD dan TK SKB dari keluh kesah bu Ninik. Bu Ninik mengaku kepepet ketika menitipkan anaknya ke SKB dan mengikutkan anakya program PAUD. Selain kurang informasi, saat itu bu Ninik hanya tahu bahwa SKB merupakan satu-satunya penitipan anak yang terdekat dengan rumahnya.

Bu Ninik mengeluhkan perlakuan guru ke anaknya dan pintu gerbang sekolah yang terbuka lebar dan langsung mengarah ke jalan raya. Pada awal pendaftaran, pihak sekolah akan bertanggung jawab penuh mengawasi murid-muridnya namun pada prakteknya anak bu Ninik dibiarkan sendiri baik di kelas maupun di luar sekolah. Bu Ninik juga mengeluhkan kondisi tubuh anaknya yang semakin kurus setelah 3 bulan dititipkan di SKB. Ternyata, pengasuhnya tidak memperhatikan apakah anak asuhannya menghabiskan makan siangnya atau tidak.

Bu Siti menjawab pertanyaan bu Lala yang bernada keheranan.  …” Ya belum tahu kak bagaimana kepastiannya,” Ha sebenarnya bagaimana guru-gurunya? Guru-gurunya baik kalau menurut kabar yang pernah saya dengar. Saya lihat, Fajar anaknya bu Yus itu ada peningkatannya, saya pernah mampir ke rumahnya bu Yus melihat Fajar sudah bisa menuliskan huruf a b c d, “ lanjut bu Siti.

Baca juga:  Psikologi Kekerasan

Orang tua melihat dan mengukur perkembangan anak-anaknya menggunakan nilai-nilai atau standar dari sekolah. Orang tua tidak lagi melihat dari perspektif keluarga dan kehidupan keluarga seperti bagaimana sikap anak kepada orang tuanya, sikap anak terhadap keluarganya yang lain, sikap anak terhadap teman sebaya, sikap anak pada yang lebih tua atau yang lebih muda unggah-ungguh sopan santun (pantes), ketrampilan bersikap dan bertindak (gandes), ketrampilan menyesuaikan diri (luwes). Sebaliknya, orang tua lebih mengutamakan perkembangan anak menurut sekolah di permukaannya. Jika kita lihat lebih dalam maka kita dapat melihat bahwa orang tua sudah tunduk pada pasar, sehingga orang tua mengarahkan perkembangan anaknya menjadi sesuai apa yang dibutuhkan pasar. Orang tua tidak lagi atau sudah tidak kuasa untuk membimbing anaknya menjadi apa yang dibutuhkan keluarga apalagi dirinya (anak) sendiri.

Orang tua membayangkan bahwa sekolah akan memberikan segalanya yang dibutuhkan si anak dan mereka secara sadar meletakkan keyakinannya pada guru, sekolah, dan sistem pendidikan hari ini. Ini merupakan kesadaran palsu, selanjutnya, kepeduliannya pun palsu, kasih sayangnya pun palsu dan nanti jika si anak menjadi “uwong” uwongnya pun pasti palsu. Mengapa demikian? Hal ini karena sistem pendidikan kita sama sekali tidak mendidik tapi mengajar. Kita berasumsi bahwa kemampuan berhitung, membaca dan menulis, dan ilmu pengetahuan itu merupakan hasil pendidikan padahal itu semua adalah hasil pengajaran.
KI Hajar Dewantara jauh-jauh hari telah menggagas permasalahan tersebut. Beliau membedaan antara pengajaran dan pendidikan. Ki Hajar berpendapat pengajaran itu berkaitan dengan keilmuan sedangkan pendidikan itu berkaitan dengan watak dan karakter yang bersendikan pada akal.

Bu Lala melanjukan percakapan. “Berapa umur Fajar?” Tanya bu Lala. Bu Siti Menjawab,” ibunya berkata besok Agustus Fajar sudah 4,6 tahun. Sekolah itu yang terpenting gurunya kan mbak, kalau tidak perhatian…bagaimana nasib si anak, “Lanjut bu Siti.

Guru di sekolah dianggap sebagai penganti orang tua di rumah oleh bu Siti. Guru harus gatekan (perhatian), menjaga keselamatan fisik dan perasaan muridnya. Orang tua terlihat berat untuk melepaskan anaknya ke tangan orang lain yang tidak dia kenal secara dekat. Orang tua mengkhawatirkan nasib anaknya. Orang tua berusaha mencari pengganti dirinya bagi anaknya di sekolah yang dapat dia percaya.

“ Tapi menyekolahkan anak ke SKB harus ditunggui tante. Orang tuanya ikut bersekolah,” bu Lala menjelaskan. Bu Siti menimpali,” Duh ya kalau begitu Dara tidak bisa disekolahkan ke SKB. Bapaknya bisa saja mengantarkannya ke sekolah, tapi warungnya bagaimana?” Saya harus menunggui warung.

Namun orang tua harus membayar mahal atas kepercayaan yang sudah mereka berikan pada guru di sekolah. Guru dan sekolah menganggap orang tua murid sebagai murid. Orang tua harus sekolah bersama anaknya. Hal seperti ini semakin menguatkan keadaan di mana keluarga telah kehilangan otoritas atas anak-anak mereka. Orang tua hanya melahirkan memberi makan tapi jiwa dan pikirannya menjadi milik orang lain. Sekolah telah menjajah keluarga dan komunitas beranggotakan keluarga dan orang-orang terjajah. Anak-anak sejak awal berkembang dan tumbuh di dalam suasana penjajahan, mereka tidak pernah memiliki jiwa dan pikiran mereka sendiri.

Pendidikan sekolah telah kehilangan tujuannya. Jika kita mengacu pada konstitusi negarakita yang menyatakan bahwa negara bertanggung jawab untuk mencerdaskan kehidupan berkebangsaan maka yang kita lihat justru sebaliknya. Negara melalui birokrasinya dari pusat hingga lokal telah melakukan perikehidupan kebangsaan yang terjajah. Karena bangsa yang cerdas adaah bangsa yan mampu mengambil sikap atas situasi dunia tanpa harus kehilangan kebebasan dan jati dirinya.

Pak Lilik sehabis mengantar es batu ke warungnya dalam perjalanan pulang ke perumahan GDA ia kebetulan bertemu dengan pak dan bu Yanto di depan rumahnya. Dia mampir sejenak di sana, sambil menyalakan rokok pak Lilik mengajak ngobrol pak dan bu Yanto mengenai sekolah TK di SD Kaisius Kalasan. Pak Lilik membuka pecakapan dengan melontarkan gagasannya untuk menyekolahkan Dara ke TK Kanisius Kalasan. Pak Yanto menganggap baik gagasan itu.

…” Wah bagus kalau Dara jadi bersekolah di Kanisius. Aku dan kamu bisa bergantian antar jemput anak. Kalau aku tidak bisa gantian kamu yag menjemput begitu juga sebaliknya. Dini anaknya pak Eko juga disekolahkan di sana, kitakan jadi enak, ayem, anak-anak jelas nasibnya.”
Pak Lilik menjawab,” ya seperti itu pak yang saya inginkan, kita kan sudah lama akrab heheheheh.”

Ketika orang tua menyekolahkan anaknya, mereka menghadapi permasalahan yang pelik. Satu sisi kebutuhan untuk mengantar jemput anak ke sekolah dan di sisi lainnya ketiadaan waktu karena mereka harus bekerja mencari nafkah. Jika mereka memilih untuk melakukan antar jemput anak sekolah maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh uang untuk membayar biaya sekolah anaknya. Orang tua dihadapkan pada pilihan buah simalakama,
Pak Yanto bekerja di percetakan yang jam kerjanya di mulai pukul 01:00 siang setiap harinya, sedangkan pak Lilik yang bekerja di pabrik assembling sepeda motor harus masuk kerja pukul 08:00 pagi dan baru pulang 16:30 setiap harinya. Perbedaan pekerjaan telah menjadi berkah bagi mereka. Keberadaan komunitas tetangga dapat memberikan jalan keluar pada permasalahan yang dihadapi pak Lilik. Pak Yanto membantu antar jemput anak pak Lilik.

… “ Eeeeeh nanti dulu, sergah bu Yanto, “Apa orang tuamu sependapat denganmu, Kalau Siti jelas sependapat denganmu, kalau bapakmu, kalau ibumu?”…

Bu Yanto seolah tahu persis kondisi dan pandangan kedua orang tua pak Lilik yang beragama Islam. Meskipun pak lilik juga beragama Islam dia tidak terlalu menyoalkan perihal agama yang penting anaknya mendapatkan pendidikan yang layak menurut versi dia. Pak Rudi menempuh pendidikan sejak SD hingga SMP di sekolah-sekolah yang di kelola oleh yayasan agama katholik dan kristen meskipun dia beragama Islam. Pak Rudi dulu bersekolah di SD Kanisius, SMP kristen dan di SMA negeri 8. Bagi dia sekolah adalah tempat untuk belajar ilmu akademis yang tidak dapat dia peroleh dari keluarga, untuk urusan agama pak Rudi mendapatkan pendidikan dari lingkungan keluarganya. Pak Rudi berpandangan sama dengan pak Lilik bahwa pendidikan yang layak itu tidak berhubungan langsung dengan agama tertentu.

Baca juga:  Angka dalam Kebudayaan

Hari ini orang tua dihadapkan pada banyak pilihan seolah TK dan PAUD. Baik itu yang negeri ataupun sasta yang dikelola oleh suatu yayasan. Di Samping TK dan PAUD Negeri yang dianggap netral atau tidak diwarnai ideologi agama tertentu, TK dan PAUD yang dikelola oleh yayasan dapat dikatakan pasti mengusung ideologi agama tertentu dalam hal ini Islam, Kristen, dan Katholik.

Saya memperoleh cerita dari adik saya yang merasa kesulitan untuk memilih sekolah TK. Menurut Dia, sekolah Islam ataupun kristen sama saja, sama fanatiknya. Anak-anak TK yang Islam sudah diajari gurunya mengenai muslim dan non muslim dengan slogan “Islam YES kafir NO!” Adik saya khawatir nanti anaknya jadi fanatik. Saya berpendapat mungkin hal ini disebabkan oleh gencarnya wacana di media mengenai terorisme dan radikalisme yang menjadi dasar kekhawatirannya. Namun jika kita tilik lebih jauh, di negara kita, keragaman sudah menjadi keniscayaan bahkan jauh sebelum negara ini berdiri. Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa, selain itu juga keragaman kepercayaan, keragaman kebudayaan, keragaman pandangan dan pemikiran. Jika kita pahami hal tersebut maka sikap fanatisme dalam dunia pendidikan akan menjauhkan anak-anak kita dari sikap hidup berkebangsaan yang cerdas.

Saya pernah berkeliling melihat-lihat spanduk atupun poster yang mengiklankan TK atau PAUD di sekitar ring road timur hingga jalan solo km 10. PAUD dan TK yang “netral” (tidak berideologi agama) semua mahal untuk PAUD Rp 800.000,- per bulan sampai Rp 1.500.00,- perbulan dan tidak mencantumkan biaya SPP TK perbulanan. Sedangkan PAUD dan TK yang dikelola oleh yayasan Agama, biaya PAUD hanya Rp 400.000,- perbulan dan juga tidak mencantumkan biaya SPP TK. Selain itu PAUD dan TK yang dikelola yayasan Agama memberikan materi tambahan berupa materi menulis dan membaca tulisan Arab serta beribadah yang baik disamping kemampuan dasar Matematika dan Bahasa.

Di dalam percakapan itu, setelah mendengar sergahan pandangan bu Yanto berupa pertanyaan, pak Lilik Sambil menepok jidatnya sendiri seperti menyadari sesuatu. Dia mengangguk seolah mengiyakan dan sedikit membelokkan arah pembicaraan. Nylemurke.
…”Aduhh iya ya, jawab pak Lilik. Lhaa sebenarna menurutmu TK kanisius itu bagaimana pak?” Lanjut pak Lilik.
Pak Yanto mejawab,” yaaa semua sekolah itu sama saja.”
Pak Yanto tampak menyadari area sensitif itu dan menjawabya dengan diplomatis. Kemudian percakapan dilanjutkan oleh bu Yanto.
“ho oh,” sahut bu Yanto hampir berbarengan dengan pak Yanto. Semua tergantung anaknya dan kita sebagai orang tua kok om Lilik. Kalau Lisa memang pemalas selalu bangun siang, aku jadi sebel sendiri sama lisa.”

Bagian terakhir kalimat bu Yanto itu seolah menjawab dan memberi keterangan keadaan Lisa bahwa prestasi anaknya di sekolah tidak menonjol atau biasa-biasa saja bukan karena mutu sekolah tapi faktor anak dan orang tuaya. Bu Yanto punya anggapan bahwa semua orang di Perumahan di mana dia tinggal sudah tahu keadaan anaknya yang hanya biasa-biasa saja. Hal ini yang kadang membuatnya merasa ngganjel saat bertemu dengan ibu-ibu seperumahan dan membicarakan perkembangan anak mereka masing-masing.

Orang tua tidak berani menyalahkan pihak sekolah atas kekurangan-kekurangan anaknya, namun orang ta juga tidak mau disalahkan juga, akhirnya anaklah yang menjadi timpaan kesalahan dan kelemahan. Apapun atau bagaimanapun keadaannya, anaklah yang dianggap salah, orang tua, guru, dan sekolah tidak dapat disalahkan. Hal ini merupakan salah satu bentuk kekerasan dan pengungkungan terhadap anak-anak dengan demikian si anak berkembang dan belajar untuk melakukan kekerasan-kekerasan dan pengungkungan. Anak-anak belajar sewenang-wenang menggunakan otoritasnya (bahasa kekuasaan), otoritas adalah segalanya, dengan demikian iklim demokratis tidak akan pernah tercipta di dalam keluarga dan sekolah dan justru sebaliknya keluarga dan sekolah merupakan ladang subur tumbuhnya para diktator.

Malam itu saat ronda pak Eki, pak Edi, pak Yanto, dan pak Rudi bermain domino di cakruk pertigaan jebresan. Sambil membanting kartu pak Eki melempar pertanyaan.

…”Bagusnya anak mulai sekolah TK umur berapa ya pak?”
“tergantung anaknya, kalau di TK umur bukan masalah” Pak Yanto menyahut, tapi kalau terlalu muda, di TK bisa 3 tahun lamanya, apakah si anak mau?” Kalau aku kok ngak tega, anaknya tetap di TK sedangkan teman-temannya sudah pindah ke SD. Kira-kira anaknya sudah bisa ditinggal di sekolahan apa tidak?” Yoo tidak langsung, butuh proses.”
“ Ya harus saya tinggal kan,” kata pak Eki.
“Lha iya kan, kamu dan istrimu bekerja, haa… aku empatikan ke keadaanmu …Eki ki bagaimana?” Kata pak Yanto.
“Yang jemput, siapa?” Sahut pak Eki.
“Ya sudah begini, aku yang menjemput kalojadi sekolah?” Nani sekalian menunggu kamu dan istrimu pulang, biar Dina dititipkan di tempatku saja,” pak Yanto menawarkan bantuan.
Pak Eki menjawab,” ya terima kasih pak, aku punya rencana akan mempekerjakan pembantu, saya sudah minta ke bu Andang untuk mencarikan pembantu.”
“Dina berapa usianya?” ”Pak Eki,” pak Edi melanjutkan percakapan.
“Tanggung pak, Dina kelahiran bulan November, Kalau tahun ini masuk TK masih terlalu muda, nanti kesulitan masuk SD. Kalau tahun depan baru masuk TK, Dina terlalu tua, kasihan anaknya. Soalnya rata-rata SD sekarang di bawah tujuh tahun ya 6,5 – 7 tahun Pak. Kalau menurut aturannya 7 tahun kelas 1 SD.
“aaah yang penting mau bayar kok pak Ekii,” pak Rudi nimbrung.” Temanku seperti itu, bisa menyekolahkan anaknya di SD negeri meski umurnya di bawah 6,5 tahun, tapi beda biayanya di SD negeri, kalau di SD swasta seperti Kanisius, sepengetahuanku diperbolehkan asal lulus tes membaca ditambah membayar lebih, tapi jumlahnya berapa saya tidak tahu pasti karena setiap tahun selalu ada perubahan. Ini tidak bisa dijadikan pathokan.

Sekolah sudah menetapkan aturan dan syarat bagi calon murid-muridnya, namun dalam penerapan aturan tersebut, aturan hanya tinggal aturan saja. Sekolah selalu membuka peluang penerimaan murid baru bagi calon-calon murid yang syarat ketentuan umurnya belum mencukupi di setiap tahun ajaran baru.

Baca juga:  Sejarah Kebersihan

Jika kita lihat lebih jauh, umur anak merupakan hal yang alami sifatnya sedangkan sekolah bersifat administratif. Bagimana mungkin kita mengendalikan moment ovulasi sperma dengan ovum agar nanti anak akan lahir bertepatan dengan bulan-bulan dibukanya tahun ajaran baru sekolahan? Namun pertentangan yang terjadi antara alamiah dan administratif telah dimenangkan oleh pihak rezim administratif. Saya menyebutnya rezim otoritatif karena sekolah pada moment itu hampir-hampir menjelma menjadi kuasa mutlak. Sekolah yang menentukan, sekolah yang melanggarnya sendiri, dan sekolah pula yang diuntungkan secara finansial. Selain itu sekolah memandang calon anak didik sebatas angka umur saja alias kelengkapan admistratif saja. Saya melihat ini menjadi tertarik untuk mendalaminya. Saya coba menanyakan hal tersebut pada seorang guru yang kenal dekat dengan saya.

…” Pak aturan usia 7 tahun untuk masuk SD itu resmi?” Tanya saya.
“ Iya itu resmi dari sekolahan mas, negara juga mengharuskan demikian.” Jawabnya.
“Kalau saya lihat kejadian seperti ini berarti aturan itu dilanggar dong pak?” Tanyaku lagi.
“Kami dari pihak sekolah sebenarnya ingin membantu anak-anak agar dapat sekolah sesuai haknya tanpa diganggu faktor umur.” Jawab pak guru.
“Tapi kok harus membayar Pak?” saya terus mengejar dengan pertanyaan.
“Soalnya banyak yang membutuhkan mas jadi yaa begitu caranya kami menseleksi,” Jawab pak guru menjelaskan.

Rangkaian penalaran dari peristiwa ini adalah adanya kebutuhan yang melebihi kapasitas sekolah yang ada. Sekolah pada saat tahun ajaran baru sekonyong-konyong telah bertransformasi menjadi bursa bangku sekolah.

Bu Ninik baru satu tahun menempati rumahnya di Teguhan, sebelumnya dia tinggal di perumahan GDA menjadi tetangga satu RW dengan bu Lala dan bu Siti. Waktu itu, hampir setiap sore mereka bertemu ngobrol sambil memberi makan anak-anaknya. Meski sudah tidak sering bertemu seperti saat masih sama-sama tinggal di perumahan, bu Ninik kerapkali mengunjungi warung bu Siti di pinggiran perumahan GDA untuk membeli gorengan dan sekedar mengantar anaknya bermain. Sedangkan bu Ninik dan bu Lala biasa berjumpa di jalan. Jika kebetulan mereka berpapasan di jalan biasanya keduanya menyempatkan diri untuk bercakap-cakap.

Setelah kelahiran anak keduanya, bu Ninik menggaji pembantu pocokan untuk menunggui bayinya sedangkan anak pertamanya yang bernama Ratri dia titipkan ke mertuanya dari siang sampai sore. Hal ini karena bu Ninik dan suaminya bekerja. Pembantu bu Ninik bernama Kris dan sering dipanggil dengan sebutan mbak Kris oleh semua anggota keluarga bu Ninik. Kebetulan sekali mbak Kris mempunyai anak yang masih sekolah di nol besar TK ABA sehingga Ratri mendapatkan teman baru. Anak mbak Kris bernama Ceri dan Ratri biasa memanggilnya mbak Ceri.

Suatu sore, Bu Nanik bertanya kepada Mbak Kris.

…”Mbak sekolah yang cocok untu Ratri it yang mana menurutmu?” TK Kanisius Kalasan, Kanisius Pondok atau Panti Dewi mbak?” Kalau TK Panti Dewi itu bagamana mbak?”
“Ya tidak baik, kalau menurut kata orang sini, guru-gurunya pilih kasih, jawab mbak Kris.
“pilih kasih bagaimana mbak?” Tanya bu Ninik.
“Gurunya lebih meperhatikan anak-anak yang orang tuanya kaya saja,” tambah mbak Kris.
“kalau kegiatannya?” Tanya bu Ninik lagi.
Mbak Kris melanjutkan ceritanya, “Panti Dewi banyak kegiatannya, drumband, menari, senam, jalan-jalan dan katanya TK Panti Dewi menjuarainya bu. Tapi kebanyakan orang luar desa yang menyekolahkan anaknya ke Panti Dewi, tambah mbak Kris.
“banyak kegiatan berarti ya banyak biayanya ya mbak?” Bu Ninik komentar.
“Bisa jadi bu,”timpal mbak Kris.

Sekolah dipandang sebagai perangkat aturan-aturan yang dapat ditransaksikan. Hal ini terlihat jelas dalam percakapan mengenai kelayakan umur masuk SD padahal yang sedang dia cari untuk anaknya adalah sekolah TK. Hal ini terjadi karena sistem pendidikan kita yang berjenjang membentuk sistem saling bertautan khususnya permasalahan umur.

Pada bulan Juni awal tahun ajaran baru setiap sekolah TK memasang pengumuman berupa spanduk atau backdrop yang dipampang di pagar sekolah. Pada spanduk atau backdrop tersebut tertera tanggal pembukaan pendaftaran dan tanggal penutupan pedaftaran serta yang dianggap paling penting bagi sekolah adalah deretan program-program unggulan sekolah. Namun begitu sebagian besar orangtua yang sedang mencarikan sekolah bagi anaknya lebih mengingat tanggal pembukaan dan penutupan pendaftaran daripada program apa yang ditawarkan sekolah yang memasang pegumuman. Beberapa diantara mereka ada yang sampai masuk ke kantor sekolah menemui pihak sekolah untuk menanyakan besaran biaya bukannya menanyakan program unggulan apa yang ada di sekolah ini kemudian mengambil formulir pendaftaran dan brosur lalu pergi.

Mereka lebih mengandalkan informasi cerita atau pengalaman dari orang tua yang pernah menyekolahkan anaknya di sekolah yang dia maksud. Satu orang mempunyai pengalaman tertentu dia menceritakannya pada satu atau beberapa orang lainnya kemudian masing-masing orang tersebut menceritakannya ke orang lainnya lagi, terus berjalan seperti itu. Satu pengalaman dari seseorang tidak berhenti pada dirinya sendiri tapi terus diwacanakan dan direproduksi oleh orang-orang yang pernah mendengarnya. Informasi berupa cerita tersebut akan dikoreksi direvisi ketika muncul informasi dan cerita yang baru atau bahkan tetap berjalan beriringan menjadi beragam versi. Persebaran informasi, cerita pengalaman sangat didorong adanya kepercayaan dan kedekatan secara personal bahkan mampu menembus kelas sosial. []

kihajar - Gegeran Mencari Sekolah yang Tetap Menyisakan Ruang Resistensi

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi