Generasi Pasca – Televisi

generasi pasca televisiBanksyBanksyBanksy
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Refleksi Etnografis

Orang-orang yang hidup di era awal munculnya televisi adalah mereka yang terpesona dengan kotak ajaib yang menyuguhkan gambar-gambar bergerak. Menonton televisi bagi mereka berarti menerima apa saja yg disiarkan oleh satu channel yakni siaran pemerintah. Generasi ini hanya mampu berkonsentrasi pada satu lapis realitas dalam satu waktu.  Maka tidak heran pada masa itu di hadapan televisi orang tidak melakukan aktivitas lain selain menonton itu sendiri. Kalaupun mereka mengobrol, maka obrolan itu juga tentang acara yang sedang mereka tonton.

Selanjutnya, ketika muncul banyak siaran televisi swasta yang bersamaan dengan hadirnya remot control, maka aktivitas menonton televisi menjadi sedikit berbeda. Orang mulai merasa memiliki banyak pilihan dengan alat control digenggaman. Mereka ini lebih rileks dalam menonton TV dan sesekali mengganti channel. Seiring perkembangan jaman sebagian dari mereka juga sudah beradaptasi untuk bekerja sambil chatting atau facebook-an dan twitter-an.  Dibanding generasi sebelumnya, mereka sudah mampu mencerna dua lapis-realitas sekaligus.

Saat ini sudah muncul generasi yang dalam hal teknologi informasi sudah berevolusi ke tarap berikutnya. Kaum muda ini bisa mengerjakan PR sekolah sambil whatshapp-an serta menonton You-tube. Mereka yang disebut terakhir ini adalah para pendukung budaya digital yang juga disebut digital native. 

tv1antitank - Generasi Pasca - Televisi

Andrew Anti-Tank Project

Digital Culture

Selama ini istilah kebudayaan hampir selalu dikaitkan pada batas-batas fisik yang jelas, seperti budaya Bali yang secara langsung membawa pikiran kita ke Pulau Dewata. Demikian pula dengan budaya Jawa, Aceh, Bugis, dan sebagainya. Batas-batas fisik telah menjadi dasar dalam pendefinisian keberadaan suatu kebudayaan, khususnya pada saat sesuatu yang bersifat fisik masih dianggap penting dan menentukan. Akan tetapi, perubahan masyarakat menunjukkan kecenderungan lain dalam pendefinisian suatu praktik yang menunjukkan proses mencairnya batas-batas ruang (fisik). Mobilitas fisik, misalnya, telah dilengkapi dengan mobilitas sosial dan intelektual yang jauh lebih padat dan intensif. Media komunikasi yang semaikin canggih telah menyebabkan masyarakat terintegrasi ke dalam tatatan yang lebih luas, dari yang bersifat lokal menjadi global (Featherstone, 1991; Miller, 1995; Strathern, 1995, dalam Abdullah, 2006)

Kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat telah membuat suatu kebudayaan baru yang disebut Digital Culture atau kebudayaan di dunia digital. Hadirnya ragam media sosial telah menciptakan suatu wadah baru masyarakat untuk mencari atau memberi informasi dan saling berkomunikasi dengan jarak yang terbatas antar-kota, pulau, negara, hingga seluruh dunia.    Media Sosial merupakan sebuah media on-line di mana para penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi yang meliputi blog, jejaring sosial, forum, maupun dunia virtual. Jejaring sosial merupakan salah satu media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.

Sebelum era tahun 90-an, sebagian besar orang tak pernah membayangkan kalau ternyata kita dapat berkomunikasi dan terhubung dengan orang yang terpisah jarak sangat jauh dengan kita, hanya dengan jejaring sosial bernama Facebook dan Twitter. Orang-pun tak menyangka kalau dengan merekam video pribadi di Youtube, maka hasilnya akan bisa disaksikan oleh jutaan orang yang tidak dikenalnya. Pun kita  tak pernah menyangka bisa menatap wajah kerabat atau keluarga yang jaraknya ribuan kilomenter, dengan menggunakan aplikasi teknologi bernama Skype.

Seluruh dunia seperti di ujung jari. Tinggal sentuh dan semua tersedia.  Kita bisa mengakses hampir semua konten yang kita mau, mulai dari edukasi, bisnis, musik, filem, bahkan kebutuhan kerohanian, dan tentu saja, pornografi.  Revolusi gaya hidup terjadi dari sesuatu yang tidak terduga, hanya dari screen ponsel pintar dan mini tablet. Saat ini semakin banyak orang tak lagi mencari koran atau majalah untuk menemani mereka menyantap sarapan pagi. Mereka justru biasanya akan terlihat sedang membuka gadget untuk mengakses portal berita yang mereka inginkan, atau sekedar meng-up-date status di Facebook.

Narsisisme: Bercermin di Monitor

Istilah narsis atau narsisisme  awalnya digunakan di bidang Psikologi. Maknanya adalah perasaan cinta yang berlebihan terhadap diri sendiri.  Tokoh psikoanalisa ternama Sigmund Freud mengambil sosok Narciscus dalam mitologi Yunani untuk menggambarkan teorinya. Mitologi itu menyebutkan bahwa Narcissus adalah seorang pemburu dari wilayah Thespiae di Boeotia  yang sangat tampan. Dia adalah putra dewa sungai bernama Cefisus dari perkawinannya dengan dewi cantik bernama Liriope.  Kebanggaan yang berlebihan akan ketampanannya membuat Narcisscus tidak memperdulikan orang lain, dia hanya mencintai dirinya sendiri. Dikisahkan bahwa Narsiscus sangat suka melihat bayangannya sendiri yang terpantul di permukaan kolam. Dia jatuh cinta pada bayangannya sendiri, namun semakin keras dia berusaha untuk menjangkau dirinya, untuk mencium bibir yang seakan-akan bergerak hendak mencium bibirnya, semakin frustasi dan semakin sakit dirinya. Dia terus-menerus meratapi nasib, lalu akhirnya tenggelam di kolam tersebut. (Holmes, Jerrmy, 2001)

Istilah Narsisisme, atau narsis, seiring perkembangan teknologi konsep ini mengalami popularisasi. Kini istilah tersebut dikenal luas untuk mendefinisikan suatu prilaku orang yang  suka menampilkan diri di publik  yang ditunjukkan dengan suka memfoto dan memposting foto diri sendiri di media jejaring sosial.

Pasa bulan Desember 20013, beredar luas foto-foto Presiden AS Barrack Obama yang sedang bercanda serta mengambil foto diri (selfie) bersama Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmid. Aktifitas itu dilakukan di sela acara upacara penghormatan terakhir untuk Nelson Mandela(10/12/2013). Banyak orang berkomentar soal foto yang diambil oleh fotografer AFP, Roberto Schmidt tersebut. Ada yang pro banyak pula yang kontra. Schmidt sendiri mengaku merekam peristiwa tersebut secara spontan.

obama - Generasi Pasca - Televisi

Karya Roberto Schmidt/ AFP

Apakah Obama seorang yang narsis? Saya tidak tahu, akan tetapi kalau narsis  itu digambakan sebagai orang yang mencintai dan hanya mencintai diri sendiri, sehingga tidak memperdulikan orang lain, tentu Obama bukan orang yang seperti itu. Beliau sangat suka dan mahir berkomunikasi dengan siapa saja, popularitas adalah hal yang penting bagi orang seprti Obama, dan itu tidak dibutuhkan oleh sosok Narsiscus dalam mitologi Yunani

Selfie atau memotret diri sendiri untuk kemudian mengunggahnya ke jejaring sosial saat ini menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan, istilah selfie kini sudah masuk dalam kamus dan ditempatkan sebagai Oxford English Dictionary’s 2013 Word of The Year. Perilaku “narsisme” di media sosial ini pun sudah berlaku universal. Survei dari Pew Internet & American Life Project menyatakan, 54 persen pengguna internet punya kebiasaan mengunggah potret dirinya ke dalam Facebook, Twitter, atau jejaring sosial lainnya. (Harian Republika,  13 Desember 2013)

Baca juga:  Sartre dan Pertanyaan Terhadap Ekonom Liberal Negeri Ini

Menurut info BBC, aktifitas selfie sudah mulai dilakukan orang pada sekitar  tahun 1800-an, dengan menggunakan cermin atau menggunakan self-timer.  Selfie kala itu tidak melibatkan obyek tunggal seperti saat ini, tetapi dalam kelompok besar seperti berfoto dengan teman atau keluarga. Beberapa melakukan ide kreatif, misalnya dengan menggunakan cermin, untuk mendapatkan gambar terbaik dirinya. Dengan teknologi yang kian berkembang, selfie semakin  kreatif dan populer. Gaya yang digunakan semakin beragam baik menggunakan cermin seperti tahun 1800-an, atau dengan membalikkan kamera. Beberapa kamera dan smartphone saat ini sudah dirancang agar memudahkan orang melakukan pemotretan pada diri sendiri. Di awal era media sosial, foto-foto pribadi  dikirim orang pada teman-temannya untuk memberi kabar atau sekedar demi kesenangan semata (Harian Republika,  13 Desember 2013).

Teknologi Digital telah mengubah cara dan orientasi orang dalam berfoto atau berpose. Dengan kamera digital atau handphone orang bisa memotret apa saja dan di mana saja, dan yang lebih penting, bisa memotret diri sendiri dan aktiftias apa yang sedang dilakukan. Sudah biasa misalnya, kita melihat orang memposting gambar makanan yang akan dia santap, atau menampilkan gambar keadaan meja kerjanya, dan lain-lain. Yang menarik adalah, dan ini salah satu dampak digitalisasi, sebelum melakukan pemotretan, orang sudah merencanakan atau sudah punya bayangan di mana foto itu nanti akan diposting, siapa saja yang melihat, bahkan sudah membayangkan komentar apa yang diharapkan muncul dari orang yang melihat.

Dengan ber-selfie-ria orang bebas mengatur posisi diri yang ingin ditampilkan, bebas pula menghapus gambar-gambar yang tidak dikehedaki, lalau mengganti dengan gambar yang baru. Kecanggihan kamera dan perangkat digital lainnya juga telah memungkinkan orang menampilkan diri dengan melebih-lebihkan. Program Photoshop misalnya dapat mengedit foto jauh melampaui aslinya. Smartphone sudah memiliki fasilitas editing sendiri dan foto-foto tersebut bisa langsung di-upload seketika itu juga. Dasar dari tindakan seperti ini adalah untuk tampil sebaik mungkin karena mereka berpose untuk dilihat seluruh dunia.

Generasi pengguna teknologi yang ada saat ini menunjukkan kecenderungan sebagai golongan yang  lebih berani dalam mengungkapkan isi hati mereka. Mereka lebih blak-blakan dan tidak keberatan membuka wilayah privasi mereka kepada orang banyak. Mereka justru senang saat orang lain tahu apa yang mereka rasakan. Hal ini diperkuat dengan meningkatnya pengguna twitter dan facebook. Mereka berlomba-lomba membuat status pribadi yang seringkali terlihat tidak penting sebagai bagin dari usaha untuk tampil. Kadang kadang ada juga orang yang ingin tampil sekomunikatif mungkin, dengan berpose dengan penampilan  yang tak biasa, misalnya menampilkan keanehan atau kelucuan yang” absurd”.

Akan tetapi di internet memang tidak ada satu-pun yang dapat ditutup-tutupi atau disembunyikan, semua serba terbuka. Kecenderungan orang untuk mengetahui segala hal dalam dunia internet memunculkan istilah stalker yakni sebutan untuk orang yang berusaha mengetahui segala sesuatu dengan cara membongkar habis isi akun media jejaring sosial, semisal facebook dan twitter milik orang lain. Isitilah lain yang digunakan di Indonesia adalah kepo. Selain itu aktivits para hacker juga semakin memungkinkan segala sesuatu yang bahkan dirahasiakan akan bias terbongkar. Jelaslah bahwa dalam dunai virtual, orang boleh saja menampilkan sesuatu yang dilebih-lebihkan atau menyembunyikan sesuatu, tapi kemungkinan akan terungkap atau  terbongkar juga sangat besar.

Dengan foto narsis, orang seolah ingin membuktikan diri kepada dunia kalau mereka itu ada atau “eksis”. Istilah narsis pun menjadi berubah makna. Kebutuhan akan diakui dan adanya media yang menjembatani hal itu jelas saja memuaskan hasrat mereka untuk bisa eksis.  Keinginan memotret, mem-posting, dan mendapatkan “likes” dari situs jejaring sosial menjadi hal yang “wajar” pada banyak orang. Keinginan ini dipengaruhi “perasaan” pada hubungan sosial, semacam perasaan yang sama  dengan saat ada orang yang memuji kita dengan mengatakan  betapa bagus baju atau sepatu  yang kita kenakan.

Memotret diri untuk berkomunikasi dengan komunitas di internet tersebut sering kali juga dibicarakan (diteruskan)  dalam dunia nyata, mengingat komunitas di internet (seperti facebook) umumnya adalah juga komunitas yang berisi orang orang yang sudah saling kenal di dunia nyata, misalnya rekan sekantor atau sekampus, atau kolega seprofesi. Seringkali kita mendengar ada anak-anak muda yang sedang asik membicarakan postingan temannya, misalnya karena foro itu lucu atau mengandung sensasi tertentu. Artinya ada keterjalinan antara komunikasi di dunai maya dengan dunia nyata, bahkan beberapa kalangan menganggap hal tersebut buknlah sesuatu yang terpisah, melainkan saling melengkapi atau saling mengisi.

Generasi jaman sekarang  yang hidup di era digital biasanya haus akan kebebasan. Mereka tidak suka dikekang. Mereka juga sangat senang mencoba sesuatu yang baru. Rasa penasaran mereka besar dan bisa berubah dengan sangat cepat.  Sebagian orang menyebut mereka mudah untuk ikut arus yang sedang in atau trend saat itu. Misalnya saja, jika ada sesuatu yang sedang menjadi trend dibicarakan di waktu tertentu maka dengan cepat sekali isu tersebut menjelma menjadi sebuah gaya hidup mereka. Perubahan gaya hidup atau perkembangan dalam mengikuti trend itu hampir pasti selalu akan ditampilkan dalam foto-foto selfie mereka.

Dengan demikian narsis dalam pengertian popular sekarang ini jauh berbeda dengan konsep psikologi yang menggolongkannya sebagai gangguan kepribadian yang becirikan cinta diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Narsis dalam pengertian sekarang bisa ditafsirkan sebagai suatu cara individu berbagi di dalam dan pada komunitasnya, baik komunitas maya maupun komunitas nyata. Dia tidak anti komunikasi seperti Narcissus dalam mitologi Yunani, melainkan selalu gelisah dengan kesendirian dan berharap dapat berbagi pada seluruh dunia. Kalau Narcissus bercermin di air dan hanya melihat dirinya sendiri, maka narsis sekarang ini bercermin di monitor dan bisa dilihat (dan melihat) seluruh dunia.  Oleh karena itu bila  ada seorang remaja asyik dengan smartphone-nya, tidaklah selalu benar bila  dikatakan sedang “asyik sendiri” (bahkan ada yang secara kejam menyebutnya autis). Tidak seperti orang yang membaca koran di sebuah ruang tunggu, orang yang asik dengan gadget-nya sebenarnya tidaklah asik sendiri, dia sesungguhnya sedang berkomunikasi dengan seseorang atau sesuatu nun jauh di ujung alam maya sana.

Baca juga:  Pak Guru Suhadi, Musala, dan Pohon Beringin

Digital Native, generasi pasca-televisi

Untuk masuk ke bahasan tentang generasi digital native, ada baiknya  kita mulai dari menengok kebelakang, di mana terjadinya beberapa tahap penting yang dialami masyarakat kita terkait perkembangan teknologi informasi, khususnya sejak muculnya televisi di tengah-tengah masyarakat.

Generasi orang tua atau kakek-kakek kita umumnya adalah generasi satu layer (istilah layer, seperti ‘layer’ dalam program edit photo). Kaum tua ini akan nonton TV tanpa memegang remote. Mereka akan menerima apa saja yg disiarkan oleh satu channel tertentu. Jika si kakek nonton TV bersama cucu-nya (yang suka memindah-mindahkan channel) si kakek bahkan bisa marah-marah, “Kalau nonton TV pilih salah satu saja,” kaka si kakek.  Generasi satu layer seperti si kakek ini hanya mampu berkonsentrasi pada satu layer realitas dalam satu waktu.

Sang kakak mengenal televisi pada masa mudanya (sekitar tahun 60-an atau 70-an) sebagai benda ajaib yang bisa menyuguhkan gambar-gambar bergerak. Tentu saja televisi waktu itu masih hitam-putih, dengan waktu siaran yang terbatas hanya pada waktu malam hari, plus minggu siang. Hanya ada satu channel yakni TVRI yang merupakan televisi pemerintah. Acara televise hanya “itu-itu” saja, sehingga sampai kini masih bisa diingat dengan jelas: Dunia dalam Berita, Aneka Ria Safari, Filem Cerita Akhir Pekan, atau Dari Desa ke Desa, dan tentu saja Mana Suka Siaran Niaga.  Dan yang pasti, era itu belum ada Remote Control, sehingga menonton televisi persis hanya pasrah menerima apa saja yang disuguhkan oleh pemerintah waktu itu.

Di masa muda sang kakek, sangat sedikit orang yang memiliki televisi. Bila ada satu keluarga yang memiliki benda ajaib tersebut maka  hampir bisa dipastikan mereka adalah keluarga terkaya di kampung itu.  Para tetangga akan berdatangan tiap malam untuk bersama-sama menikmati tayangan televisi. Kehidupan sosial berjalan semarak, di mana televisi menjadi pusat yang menyedot orang-orang untuk berkumpul.

Era TVRI yang “monopili” berakhir seiring dengan munculnya remote control. Kekuasaan pemerintah pada layar kaca diganti dengan dominasi swasta dan pemilik modal. Televisi sudah berwarna, dan setiap rumah memiliki televisi sebagai prabotan paling utama. Hampir bersamaan dengan itu, di era ini orang-orang mulai mengenal dan memasuki dunia internet. Dari sinilah lahir sebuah generasi baru, generasi dua-layer, yakni kaum imigran-internet (sekarang rata-rata berusia 30-40 tahun). Mereka ini mampu mencerna dua layer-realitas sekaligus. Mereka bisa berkerja sambil menonton TV dan sesekali mengganti channel. Juga sudah beradaptasi untuk bekerja sambil chatting facebook. Namun realitas mereka terbatas, lebih dari dua-layer akan membuat mereka kehilangan konsentrasi. Generasi inilah yang sekarang mendominasi kehidupan perkotaan, yang mulai menggantikan orang tua atau kakek mereka yang sudah berhenti di level satu-layer.

Pada era inilah, yang oleh Irwan Abdullah (2006) disebutkan sebagai  proses transformasi masyarakat dari penekanan kelas ke status sosial seseorang menjadi bagian yang sangat penting dari proses konsumsi. Pemilihan tempat belanja, seperti juga pemilihan tempat makan cenderung diasiosiasikan dengan “posisi” seseorang dalam masyarakat. TV telah menegaskan batas-batas simbolik kehadiran seseorang dalam suatu ruang sosial. Substansi makanan jadi kurang penting karena telah digantikan dengan symbol-simbol lokasi atau tempat yang sarat dengan nilai gaya hidup.

Selajutnya Abdullah (2006) menyebutkan bahwa telah terjadi semacam proses pencarian nilai tambah untuk menunjukkan perbedaan seseorang dengan orang lain atau suatu kelompok dengan kelompok lain.  Ideologi perbedaan di sini menjadi prinsip yang kuat yang menyebabkan proses sosial bukan lagi proses “homogenisasi”, tetapi menjadi proses “heterogenisasi” (Appadurai, 1991) dalam menegaskan identitas pribadi, bukan komunal. Konsep “PeDe, percaya diri” (karena rexona, Shampo anti ketombe, atau penyegar mulut) menunjukkan penekanan aspek the-self dari kehadiran seseorang, yang menegaskan suatu gaya hidup yang diterima dan di-idealkan.

Nilai-nilai simbolik yang dibangun dalam wacana TV, masih menurut Abdullah (2006) juga cenderung mengarah pada proses pencarian nilai autentik dalam rangka menunjukkan “keabadian”, “keasilain”, atau “kebenaran” dengan pemilihan batang-barang pilihan (bukan produksi massa). Hal ini tampak dari kecenderungan orang membeli lukisan, mendengarkan jazz, menonton konser,atau menggunakan barang-barang bermerek. Kesadaran tentang merek dibangun melalui wacana televise sehingga setiap segmen dalam masyarakat mengetahui dengan pasti produk, peruntukan, dan asosiasi kelas dari produk tersebut.

Suatu corak kehidupan yang dihadirkan dan diproyeksikan oleh TV menjadi model dari realitas sosial yang cenderung diikuti akibat general hysteria (demam umum) yang melanda masyarakat modern. Kehidupan sebagai proses etis tampaknya mengalami pergeseran secara mendasar sejalan dengan dominannya nilai simboli dalam proses kehidupan sosial yang menunjukkan adanya kecenderungan penekanan pasa aspek material. Proses produksi pun mengalami estetisasi di mana barang yang dipresentasikan dalam berbagai acara dan pelengkap dalam berbagai bentuk wacana yang dibangun dalam pertukaran sosial di TV. Kecenderungan estetisasi ini dapat dilihat pada tiga kecenderungan.

Pertama, pada sentuhan gaya (style) yang diberikan pada berbagai praktik dan produk. Naik mobil sama artinya dengan mengkonsumsi gaya, seperti halnya berpakaian, atau tinggal di suatu kompleks perumahan elite (mewah) yang menujukkan suatu gaya. Kedua, proses privatisasi yang terjadi secara meluas, di mana “gaya” sesungguhnya berorientasi pada seni yang autentik sehingga dia bersifat personal. Kecenderungan ini menimbulkan bergantinya  etika sosial menjadi etika individual. Ada kecenderungan kehilangan sensitifitas pada hal-hal yang berhubungan dengan orang lain. Proses eksklusi sosial terjadi dengan cara membedakan seseorang dengan public secara umum. Ketiga, kecenderungan privatisasi tersebut telah menyebabkan seseorang sangat sensisitf terhadap hal-hal yang menyinggung keberadaan dirinya, yang tampak dari kecenderungan mudahnya tersinggung di mana fungsi control menjadi menghilang . Pada saat itu seseorang memegang remote control sesungguhnya bukan berarti ia mengendalikan suatu acara, tetapi dia sedang membuka kode suatu intervensi luar ke dalam dirinya (Abdullah, 2006)

Baca juga:  Manusia Pancasila

Inilah generasi televisi, tidak seperti kakek atau orang tua mereka yang mengenal televisi setelah remaja atau dewasa, maka generasi ini mengenal televisi sejak lahir, bahkan sejak dalam kadungan, karena si ibu hamil banyak menghabiskan waktu di depan televisi. Mereka adalah sebuah angkatan yang  telah kabur batas-batas fisik dan budayanya, pun batas-batas usia dan gender menjadi kurang begitu jelas. Kalau kakek atau orang tua mereka menonton televisi bersama keluaga atau bahkan bersama orang sekampung, generasi televise baru ini menonton di dalam kamar tidurnya sendiri. Kalau dulu kakek dan orang tua mereka nonton Dunia Dalam Berita dan  Aneka Ria Safari, maka mereka ini menonton CNN dan MTV

Demikianlah, masyarakat telah dibawa oleh teknologi informasi sedemikian jauhnya. Tapi ini berlum berakhir, di era tahun 2000-an, muncul Generasi tiga-layer yang  sudah “be-revolusi” ke tarap lanjut. Kaum muda ini bisa menonton televisi sambil mengerjakan PR sekolah, sambil chatting whatshapp serta mendengarkan playlist mp-3. Generasi yang lahir dalam perkembangan massal teknologi internet ini sering disebut sebagai generasi digital native. Disebut demikian karena tidak seperti orang tua mereka yang mengenal komputer pada usia remaja atau dewasa, generasi ini sudah akrab dengan komputer dan internet sejak lahir, bahkan ketika dalam kandungan mereka sudah di USG dengan teknologi komputer. Lalu mereka tumbuh sejalan dengan perkembangan internet yang bergerak sangat cepat. Mereka tidak lagi tertarik hanya bermain sepeda, lompat tali, petak umpet, atau mainan-mainan lain yang dulu membuat anak-anak lupa waktu. Kini, generasi yang muncul adalah mereka yang betah duduk memandangi layar monitor atau sibuk dengan mini tablet di tangannya. Mereka juga adalah generasi multi-tasking, di mana mereka dapat secara silmultan melakukan banyak hal, kalau diibaratkan dalam berbahasa, mereka adalah generasi multi-bahasa.

Ada fenomena yang cukup menarik, di mana mulai banyak anak-anak muda dari generasi  digital native ini mengaku jarang menonton televisi, akan tetapi mereka menonton YouTube. Di YouTube mereka bisa menonton apa saja, baik yang pernah ditayangkan televisi maupun yang tidak pernah ditayangkan di manapun. Mereka mengaku senang karena bisa memilih apa yang ingin mereka tonton, bisa memberi komentar apa saja atau sekedar member tanda like atau dis-like pada video tersebut. Dan yang juga penting adalah di YouTube mereka juga bisa mengunggah video bikinan sendiri. Kalau di televis kita hanya bisa menonton orang lain, maka di YouTube kita bisa menonton (dan mempertontonkan) diri-sendiri.

Hampir tidak ada kreteria apapun untuk dimuatnya sebuah video dalam Youtube. Di sana serba bebas, demokratris, dan jauh lebih interaktiv daripada televisi. Banyak orang bahkan mencoba peruntungan di Youtube dengan harapan banyak yang menyukai (dengan memberi tanda jempol) dan tertarik sehingga mereka bisa menjadi artis. Kenyataanya memang tidak sedikit orang menjadi popular melalui situs ini. Singkatnya, Youtube telah memberikan banyak hal yang tidak bisa didapat dari sekotak televisi.

Generasi digital-native ini memang generasi dengan kebudayaan yang berbeda dengan para pendahulunya yang merupakan “generasi televisi”. Oleh karena beda kebudayaan, maka generasi yang lebih tua cenderung menilai generasi digital ini dengan pandangan yang sepihak, ada semacam gejala etnosentris, mereka memandang kebudayaan generasi digital dengan kacamata mereka sendiri, kacamata “generasi televisi”, maka muncullah banyak penghakiman pada budaya baru ini, misalnya anak-anak muda tersebut dinilai tidak bisa berkonsentrasi, tidak peduli pada lingkungan, hanya bermain-main dengan handphone sepanjang hari. Padahal, mereka adalah generasi yan bisa melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, ini yang dikenal sebagai multi-tasking.

Generasi televisi, mungkin karena mereka terbiasa diatur, ditentukan dan dikontrol oleh media, seperti yang dijelaskan oleh Irwan Abdullah di atas, maka pada gilirannya mereka ingin melakukan hal yang sama pada generasi di bawah mereka. Mereka ketakutan akan bahaya internet yang biasa mengancam si anak setiap saat, mengkuatirkan jejaring sosial, walaupun sebagian dari mereka juga aktif di dalamnya. Kekuatiran mereka adalah “takut ke-asyik-an” sehingga melupakan pekerjaan. Atau mereka mengkuatirkan dampak buruk lainnya, dengan alasan-alasan yang khas orang tua. Alasan ini memang berlaku bagi mereka yang merupakan “imigran” internet, artinya bagi diri mereka sendiri yang mengenal internat di usia yang sudah dewasa. Hal ini tentu akan berbeda bagi anak-anak digital native, karena dunia digital dan internet adalah tanah kelahiran anak-anak tersebut, dan oleh karena itu mereka memiliki kecerdasan berbeda dalam menyikapi dunia mereka tersebut.  Anak-anak itu lahir di era yang jauh lebih kompleks dari orang tua mereka, jelaslah internalisasinya juga berbeda.

***

Kita sekarang berada di dalam kondisi di mana kebudayaan tidak biasa lagi didefinisikan berdasarkan batas-batas secara fisik. Ayah dan anak yang yang sama-sama orang Jawa, dan hidup dalam satu rumah, tapi bisa saja berbeda “kebudayaannya”, karena perbedaan dalam interaksinya dengan teknologi informasi. Si Ayah adalah generasi televisi, sementara si anak adalah generasi digital native.

Setiap kebudayaan memiliki pendukungnya sendiri dan memiliki cara kerja tersendiri pula. Demikian pula dengan budaya digital. Dengan tulisan di atas saya tidak bermaksud mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para digital native semuanya “benar” dan tidak boleh dikritik. Tentu saja tetap diperlukan dialog antar generasi, bahkan dalam hal ini bisa dikatakan dialog antar-budaya. Hanya saja yang perlu dicermati adalah perlunya menghidarkan diri dari pemahaman sepihak dan pemaksaan kehendak hanya berdasarkan latar belakang yang kita miliki. Dunia akan jauh lebih baik kalau generasi tua serus untuk belajar menahan diri untuk tidak cepat-cepat menghakimi generasi yang lebih muda.[]

televisi - Generasi Pasca - Televisi

Ilustrasi Historead

Daftar Bacaan

Abdullah, Irwan (2006): “Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Benet, Tony (1982): “Popular Cultural: Defining our Term”, dalam Popular Culture: Themes and Issued I, Milton Keynes: Open University press.

Fiske, Jhon (1989): Understanding Popular Cultural, London: Unwin Hymen.

Hall, Stuat (ed): Budaya, Media, Bahasa, teks utama perancang cultural studies 1972-1979. Jala sutra, Yogyakarta, 2011

Hammel, William M, (comp.): The popular arts in America,  Harcourt Brace Jovanovich,  New York , 1972

Holmes, Jeremy: Narsisisme, Pohon Sukma, Yogykarta, 2001

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi