Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang Rabina, orang terkasih George Birnie

Bagaimana rasanya menjadi Rabina, perempuan dari Maesan yang hanya lancar berbahasa Melayu, lalu berakhir di Eropa. Ia dipandang sebelah mata dan dianggap menjijikkan hanya karena berkulit tropis. Tentu perempuan kelahiran 18 Agustus 1844 yang tak memiliki nama keluarga ini begitu merindukan suasana di Gambangan serta keramahan penduduk desa Penanggungan di Maesan, Bondowoso.

Orang berpikir dan menyampaikan gagasan dalam bahasa. Saya bayangkan saat di Eropa, pastilah Rabina menderita. Merangkak dengan terpaksa untuk mempelajari bahasa mereka hanya agar mengerti bagaimana orang-orang di sekitarnya berpikir tentang dirinya. Di Maesan, tepian Bondowoso yang berbatasan langsung dengan Jember, sudah pasti ia terbiasa bertutur dalam bahasa Madura serta Jawa ngoko. Bahasa penghubung dengan dunia luar hanyalah bahasa Melayu.

Miskin, kotor, penduduk asli yang kurus, orang dengan kulit berbeda yang rentan penyakit, perempuan dengan rambut acak-acakan, liar, begitulah yang tertanam di dalam pikiran warga Eropa ketika mendengar nama Rabina. Seringkali mereka tak butuh mengalami perjumpaan dengan Rabina jika hanya untuk menilainya. Mereka hanya cukup mendengar informasi bila tak lama lagi George Birnie yang mulai beranjak sukses berbisnis tembakau di Jawa, tak lama lagi ia akan pulang ke Belanda dengan membawa istrinya.

Suatu hari saat Rabina berjalan-jalan di De Brink di Deventer, seorang bocah jalanan memanggilnya. Ia berujar pada Rabina, “Oh, betapa kotornya kamu!”

“Saya memiliki kulit coklat,” Rabina menjawab, “tapi aku pun mencucinya. Saya tidak kotor. Anda tidak mencuci diri Anda, maka Anda akan menjadi kotor.”

Sesederhana itu jawaban Rabina pada bocah jalanan yang ungkapan rasisnya mewakili wajah Eropa saat itu. Saya mendapati dialog tersebut pada catatan Alfred Birney.

Semua bermula pada suatu hari di tahun 1873 ketika suami Rabina, George Birnie, ia berencana untuk ‘pulang’ ke tanah leluhur. Dalam gagasannya itu, George Birnie akan membawa pula istrinya yang 13 tahun lebih muda darinya. George Birnie bukan tak paham risiko di depan mata. Tapi seperti itulah seorang George Birnie yang telah terasah dalam menentukan keputusan-keputusan sulit dalam hidupnya.

Baca juga:  Kiai Kus dan Kitab Fushus al-Hikam

Sebelum pulang ke Belanda, George Birnie menjual rumahnya di Batavia yang terletak di sisi barat Koningsplein—kini di daerah Medan Merdeka. Manajemen perusahaan di Djember ia pindahkan ke sepupunya, Gerhard David. Tak lama kemudian, George Birnie dan Rabina berangkat ke negeri Belanda.

Di masa itu, posisi perempuan teramat lemah seolah-olah tak punya pilihan lain selain mengikuti keputusan-keputusan suami, bahkan meskipun hidupnya bakal tertindas keadaan. Tak perlulah bicara tentang emansipasi perempuan karena kata itu masih belum dikenal oleh perempuan-perempuan di tanah Hindia. Manakala Rabina turut suaminya ke Eropa, Kartini belum lagi lahir.

Untuk membiasakan Rabina dengan dunia lain yang sama sekali asing baginya, mereka pertama kali pergi ke Naples. Kita mengenalnya sebagai Napoli, Italia. Mereka tinggal di sana selama sekitar sembilan bulan di Hotel de Russie di Corso Vittorio Emanuele nomor 8. Anak-anak mereka, menurut perkiraan Alfred, menyusul dan tinggal bersama bibi mereka di Deventer.

Dari percakapan-percakapan pendek antara George Birnie dan Rabina yang direka ulang oleh Alfred, terlihat jelas penderitaan batin Rabina. George Birnie mengerti itu. Kadang ia berpikir, setelah melewati hari-hari di Italia, ingin rasanya membawa Rabina kembali pulang ke Jember. Tapi Birnie juga mengerti, kepulangannya ke Eropa di antaranya adalah agar bisa memimpin bisnis keluarga dari Belanda. Birnie mengerti, di hari-hari ke depan dia akan memiliki setumpuk masalah dengan istrinya. Rasisme masih terasa begitu kental di antara masyarakat kulit putih dan orang-orang Hindia yang terjajah.

Pada musim panas 1876, Rabina yang hampir berusia 32 tahun akhirnya dapat melihat tanah air suaminya. Awalnya mereka tinggal di Velp. Pada tahun 1880 mereka pindah ke rumah keluarga yang dibeli oleh George di Brink in Deventer.

Kejadian rasisme di Brink di Deventer antara Rabina dengan seorang bocah jalanan hanyalah contoh kecil.

Baca juga:  Djemilah

Kulit coklat di antara kulit putih, tentu sangat mencolok. Ia serupa dengan George Birnie ketika ada di Jember. Berkulit putih, berjanggut, begitu mencolok mata. Bedanya, ketika di Jember, George Birnie ada di barisan ‘pemenang.’ Dia tak mendapat perlakuan buruk yang bisa dengan seenaknya disampaikan di depan mata.

“Dan itulah mengapa kisah nenek buyut saya Rabina sangat luar biasa. Bagaimanapun, dia adalah orang Jawa. Namun dia menikah dengan pria kulit putih dan bahkan pergi ke Belanda bersamanya. Tidak pernah seorang ahli sastra Hindia mampu menunjukkan kepada saya sebuah buku yang menceritakan kisah tersebut.” Tulis Alfred.

Saya bayangkan selama merasa terasing di Deventer, provinsi Overijssel, Rabina banyak melakukan perenungan-perenungan. Kerinduannya pada kampung halaman ia salurkan pada lamunan akan kepulangan. Di satu titik, mungkin ia merindukan masa kecil dan kehangatan orangtuanya, pasangan suami istri Pa Grimin dan Sayeh. Mungkin Rabina akan terkenang pula perjumpaan dengan suaminya di suatu hari yang biasa. Di sebuah kesempatan, ketika George Birnie membutuhkan kerumunan wanita dan para gadis untuk bekerja di gudang tembakau, dia melihat perempuan-perempuan itu menjauh darinya dengan mimik wajah ketakutan. Apa yang sedang terjadi? Ketika itu ada seorang perempuan Jawa yang telah tua, dengan sopan dia memberitahukan pada George Birnie bahwa mereka merasa takut bila harus melihat janggutnya yang lebat.

Perempuan dan gadis-gadis muda yang bersembunyi itu, satu di antaranya adalah Rabina.

“Rabina pasti masih sangat muda, sekitar enambelas tahun, ketika perbudakan dihapuskan dan dia menjadi pembantu rumah tangga bagi ‘hantu berbulu’ yang telah mencukur janggutnya dan berubah menjadi seorang pria kulit putih berpenampilan menarik.”

Itulah kenangan seorang Rabina sebelum menjadi istri seorang lelaki Eropa yang kelak dikenal dermawan, suka bikin terobosan-terobosan, yang Namanya lekat dengan sejarah Jember masa perkebunan.

Sekali waktu, George Birnie melakukan perjalanan kembali ke Hindia untuk urusan-urusan tertentu. Tak ada catatan apakah Rabina turut serta atau tidak. Semisal tak turut, Rabina tentu telah terbiasa dengan itu. Semasa di Jember, suaminya sering melakukan perjalanan bisnis ke Surabaya, Malang, Jakarta, dan kota-kota lain. Bedanya, kali ini Rabina ada di negeri asing. Tak ada tempat untuk berkeluh kesah kecuali kepada kedelapan anak-anaknya sendiri. Itu pun bila memungkinkan. Di periode tersebut, ada banyak anak-anak Indo yang tercerabut dari akar, dijauhkan dari Ibu kandungnya hanya karena sang Ibu berkulit coklat.

Baca juga:  Gender dan Nasionalisme

Pelan tapi pasti, Rabina tentu mulai mengerti berbicara secara Belanda. Ia tentu tahu bagaimana masa lalu suaminya, serta perempuan yang pernah singgah di kehidupan seorang George Birnie. Mungkin pula Rabina mengerti, ketika handai tolan mendengar kabar rencana kepulangan George Birnie, beberapa dari mereka telah menyiapkan perempuan kulit putih bagi Birnie. Perempuan yang dianggap pantas, yang tidak memalukan bila harus mendampingi suaminya di sebuah perjamuan, mengerti table manner, dan secara intelektual dapat mengimbangi apa yang sedang dipikirkan seorang George Birnie.

Sejarah kemudian mencatat, George Birnie tetap memilihnya. Menegaskan bahwa Rabina bukan gundik dan tak sekadar Nyai. Birnie seolah tak peduli dengan stigma kolonial.

Usia Rabina telah menjelang 60 tahun ketika suaminya meninggal dunia, suatu hari di tanggal 20 Mei 1904. Hari-hari Rabina tentu menjadi sepi tanpa George Birnie, laki-laki yang tak malu memperkenalkannya pada kolega bisnis. Keramaian hanya ada di ucapan belasungkawa di berbagai suratkabar.

Kelak delapan tahun kemudian, di usianya yang ke-68, Rabina menyusul suaminya. Ia memejamkan mata untuk selamanya, suatu hari di Minggu yang penuh rindu, 29 September 1912. Sama seperti ketika George Birnie meninggal dunia, kematian Rabina juga tertulis di suratkabar, di kolom advetorial. Di sana tertulis nama anak-anak, cucu dan cicitnya. Ia adalah bukti kecil dimana seorang Rabina tak dijauhkan dari para buah hatinya.

Seperti itulah kisah Rabina. Bukan sesuatu yang mudah hidup di tengah masyarakat hipokrit, jauh sebelum kisah tentang Nyai Ontosoroh dituliskan.[]

coverrabina - Rabina

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi