Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Diterjemahkan oleh Harry Isra M

“Seperti yang dinyatakan oleh David Harvey, seorang ahli geografi Marxist, dalam kurun 40 tahun neoliberalisme telah membiarkan publik sepenuhnya tidak terlindungi dan tidak siap dalam menghadapi krisis kesehatan masyarakat di tengah pagebluk  Covid-19.”

Ketika berupaya menafsirkan, memahami, dan menganalisa arus berita harian, saya cenderung meletakkan apa yang kini tengah berlangsung dalam latar dua model kapitalisme yang berbeda namun saling bersinggungan. Pada tingkat pertama, tampak sebuah peta kontradiksi internal dari peredaran dan akumulasi kapital ketika nilai uang mengalir untuk mencari keuntungan lewat “momen-momen” (sebagaimana disebut oleh Marx); produksi, realisasi (konsumsi), distribusi, dan reinvestasi. Ini merupakan model ekonomi kapitalistik dengan uliran ekspansi dan pertumbuhan yang tidak terbatas. Pertumbuhan ini akan menjadi sangat rumit ketika dijelaskan lebih lanjut melalui, misalnya, lensa persaingan geopolitik, perkembangan geografis yang tidak merata, lembaga keuangan, kebijakan negara, konfigurasi ulang teknologi, serta jaringan pembagian kerja dan hubungan sosial yang terus-menerus berubah.

Saya membayangkan model ini melekat dalam konteks reproduksi sosial yang lebih luas (di rumah tangga dan masyarakat), dalam hubungan metabolis berkelanjutan dan terus berkembang dengan alam (termasuk watak khas urbanisasi dan lingkungan buatan), dan segala macam formasi sosial yang bersifat kultural, ilmiah (berbasis pengetahuan), religius, dan yang bersifat sementara, yang lazim diciptakan manusia di semua tempat dan era. “Momen-momen” yang saya sebut belakangan ini, menampakkan ekspresi aktif dari keinginan, kebutuhan, dan hasrat manusia, nafsu yang besar terhadap pengetahuan dan pencarian akan makna, pencarian akan kebahagiaan yang terus berevolusi; semuanya berlangsung dalam latar perubahan institusional, kontestasi politik, konfrontasi ideologis, kehilangan, kekalahan, frustrasi, dan keterasingan dan seluruhnya berlangsung dalam dunia dengan keragaman geografis, budaya, sosial, dan politik yang tampak jelas. Model kedua ini membentuk pemahaman teknis saya akan kapitalisme global sebagai formasi sosial yang khas; sementara model pertama menggambarkan kontradiksi internal mesin ekonomi yang menggerakkan formasi sosial tersebut (kapitalisme global) dari masa ke masa, dari evolusi historis hingga evolusi geografisnya.

Uliran Kapital

Tatkala membaca kabar tentang mewabahnya virus corona di Cina pada 26 Januari 2020, pikiran saya langsung tertuju pada dampak buruk yang mampu dihasilkannya terhadap dinamika global akumulasi kapital. Yang saya pahami dari kajian saya tentang model ekonomi ialah bahwa penyumbatan dan guncangan dalam aliran arus kapital akan menghasilkan devaluasi atau melemahnya nilai mata uang. Dan jika devaluasi tersebut meluas dan mendalam, itulah tanda bahwa krisis mulai bergulir. Saya juga mawas bahwa Cina adalah kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dan telah secara efektif menyelamatkan kapitalisme global setelah tahun 2007-8, sehingga setiap pukulan terhadap ekonomi Tiongkok pasti akan memiliki konsekuensi serius bagi ekonomi global, yang memang sudah sempoyongan. Menurut saya, model akumulasi kapital yang kini ada sudah banyak bermasalah. Gerakan-gerakan protes terjadi hampir di mana-mana (dari Santiago sampai Beirut), dan banyak di antaranya berfokus pada kenyataan bahwa model ekonomi dominan tidak berfungsi dengan baik untuk massa rakyat. Model ekonomi neoliberal tersebut kian bertumpu pada kapital fiktif dan ekspansi besar-besaran pasokan uang dan penciptaan utang. Ia tengah menghadapi masalah kurangnya permintaan efektif (effective demand) untuk merealisasikan nilai yang mampu dihasilkan oleh kapital. Jadi, bagaimana mungkin model ekonomi yang dominan, dengan legitimasi yang kendur dan rapuh, menyerap dan bertahan dari dampak yang tak terhindarkan dari apa yang mungkin menjadi pagebluk? Jawabannya sangat bergantung pada seberapa lama gangguan ini dapat berlangsung dan menyebar. Seperti yang dikatakan Marx, devaluasi tidak terjadi karena komoditas tidak dapat dijual, tetapi karena komoditas tidak dapat dijual “pada waktunya”.

Sudah sejak lama saya menolak gagasan bahwa “alam” berada di luar dan terpisah dari kebudayaan, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari. Saya berangkat dari cara pandang yang lebih dialektis dan relasional atas relasi metabolis terhadap alam. Di satu sisi, kapital memodifikasi kondisi lingkungan dengan mengubah model reproduksi alamiahnya, yang pada gilirannya menciptakan konsekuensi tak terduga (seperti perubahan iklim). Di sisi yang bertentangan, kelompok-kelompok revolusioner otonom dan independen terus menerus berupaya merehabilitasi kondisi lingkungan. Dari sudut pandang terakhir, apa yang disebut sebagai “bencana alam” sebetulnya tidak benar-benar ada. Adalah benar bahwa virus bermutasi setiap saat. Akan tetapi, keadaan yang memungkinkan sehingga mutasi tersebut bisa mengancam jiwa manusia bergantung pada tindakan manusia itu sendiri.

Ada dua aspek yang relevan untuk diperbincangkan di sini. Pertama, kondisi lingkungan yang mendukung meningkatnya kemungkinan mutasi yang kuat. Semisal, masuk akal untuk menduga bahwa sistem pasokan makanan yang intensif dan tak terkendali di daerah subtropis yang lembab dapat berkontribusi terhadap hal ini. Sistem semacam itu ada di banyak tempat, termasuk Yangtse di Tiongkok selatan dan Asia Tenggara. Kedua, kondisi yang mendukung kecepatan transmisi melalui tubuh inang (manusia) ini sangat bervariasi. Tempat-tempat dengan tingkat kepadatan populasi yang tinggi akan menjadi sasaran yang empuk. Epidemi campak, misalnya, hanya tumbuh subur di pusat-pusat populasi perkotaan yang lebih besar tetapi cepat mati di daerah-daerah berpenduduk sedikit. Bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain, bergerak, mendisiplinkan diri, atau lupa mencuci tangan memengaruhi penularan penyakit. Belakangan ini SARS, flu burung, dan flu babi tampaknya menyebar keluar dari Tiongkok atau Asia Tenggara. Tiongkok juga sangat menderita karena demam babi pada tahun lalu, yang mengakibatkan pembantaian massal babi dan naiknya harga daging babi. Saya tidak mengatakan semua ini untuk menghakimi Tiongkok. Ada banyak tempat lain di mana risiko mutasi dan penyebaran virus juga tinggi. Flu Spanyol pada 1918 mungkin menyebar dari Kansas, dan Afrika mungkin telah menginkubasi HIV/AIDS dan tentu menjadi tempat bermulanya West Nile dan Ebola, sementara demam berdarah tampaknya berkembang di Amerika Latin. Tetapi dampak ekonomi dan demografis dari penyebaran virus ini bergantung pada celah yang sudah ada sebelumnya dan kerentanan dalam model ekonomi yang hegemonik.

Baca juga:  Esser dan Injil di Sumberpakem

Saya tidak terlalu terkejut bahwa COVID-19 pada awalnya ditemukan di Wuhan (meskipun apakah itu betul berasal dari sana atau tidak masih belum diketahui). Efek lokalnya jelas akan sangat besar. Mengingat Tiongkok adalah pusat produksi yang vital, kemungkinan akan ada dampak ekonomi global (meskipun saya tidak tahu besarannya). Pertanyaan besarnya ialah bagaimana penularan dan difusi dapat terjadi dan berapa lama itu berlangsung (sampai vaksin dapat ditemukan). Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa salah satu kelemahan dari meningkatnya globalisasi ialah sangat mustahilnya menghentikan penyebaran penyakit-penyakit baru ke berbagai penjuru dunia. Kita hidup di dunia yang mudah terhubung di mana hampir semua orang bepergian. Jaringan manusia yang dapat digunakan oleh penyakit untuk menyebar sungguh luas dan terbuka. Bahaya ekonomi dan demografisnya ialah bahwa gangguan itu akan berlangsung setahun atau lebih.

Sesaat setelah berita pertama tentang Covid-19 muncul, terjadi penurunan mendadak dalam pasar saham global, yang secara mengejutkan diikuti oleh perkembangan pasar yang mencapai titik tertinggi baru, dan berlangsung dalam kurun waktu sebulan atau lebih. Berita-berita itu setidaknya menunjukkan bahwa di mana-mana aktivitas bisnis tetap berlangsung seperti biasa kecuali di Tiongkok. Banyak yang tampaknya percaya bahwa kita akan mengalami reka ulang SARS yang sebetulnya cukup terkendali dan berdampak insignifikan secara global. Meski tingkat kematiannya tinggi dan menciptakan kepanikan (dalam retrospeksi), namun SARS tidak berhasil mengguncang stabilitas pasar keuangan. Ketika Covid-19 mewabah, reaksi dominan yang bermunculan ialah bahwa wabah serupa SARS akan terulang kembali hingga menciptakan kepanikan yang berlebihan. Fakta bahwa wabah itu merebak di Tiongkok–yang bergerak dengan cepat dan tanpa ampun untuk menahan dampaknya–juga membuat seluruh dunia abai, memperlakukannya sebagai sesuatu yang hanya terjadi “di sana” dan karenanya luput dari perhatian, yang turut pula disertai dengan tanda-tanda xenophobia anti-Cina di beberapa bagian dunia. Duri yang ditusukkan virus ini ke dalam kisah pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang seharusnya gemilang bahkan disambut gembira di lingkaran tertentu pemerintahan Trump.

Namun, kisah tentang guncangan rantai produksi global yang melewati Wuhan mulai beredar. Sebagian besar cerita ini diabaikan, atau diperlakukan sebagai masalah bagi lini produksi atau korporasi tertentu (seperti Apple). Devaluasi dilihat sebagai bersifat lokal, khusus, dan tidak sistemik. Tanda-tanda penurunan permintaan konsumen juga dibuat tampak kecil, meskipun perusahaan-perusahaan tersebut, seperti McDonald dan Starbucks, yang memiliki operasi besar di pasar domestik Tiongkok, harus menutup gerai mereka di sana untuk sementara waktu. Tahun Baru Cina yang berlangsung bersamaan dengan merebaknya wabah Covid-19 menyembunyikan sebagian besar dampak ekonomi yang terjadi sepanjang bulan Januari. Tanggapan yang melenakan semacam ini sungguh salah tempat.

Berita-berita awal tentang penyebaran virus Covid-19 dalam skala global dirilis secara tidak berkala dan tidak beraturan, dengan wabah serius berlangsung di Korea Selatan dan beberapa titik lainnya seperti Iran. Baru ketika wabah merebak di Italia reaksi keras mulai bermunculan. Kejatuhan pasar saham yang dimulai pada pertengahan Februari, dan berlangsung fluktuatif, lalu disusul devaluasi bersih hampir 30 persen di pasar saham di seluruh dunia pada pertengahan Maret.

Eskalasi infeksi yang berlangsung secara eksponensial memunculkan serangkaian respons yang seringkali serampangan dan menimbulkan kepanikan. Presiden Trump meniru gaya Raja Canute dalam menghadapi gelombang penyakit dan kematian yang berpotensi untuk terus meningkat. Beberapa responnya bahkan terlihat aneh. Meminta Bank Federal untuk mengeluarkan suku bunga rendah dalam menghadapi virus tampak janggal, bahkan ketika diakui bahwa langkah itu dimaksudkan untuk mengurangi dampak pasar ketimbang membendung penyebaran virus.

Nyaris di semua tempat, otoritas publik dan sistem kesehatan kekurangan personil. Dalam kurun waktu 40 tahun, neoliberalisme yang berlangsung di seluruh Amerika Utara dan Selatan serta Eropa telah membuat publik sepenuhnya tidak terlindungi dan tidak siap menghadapi krisis kesehatan masyarakat semacam ini, meskipun ketakutan sebelumnya terhadap SARS dan Ebola memberikan banyak peringatan serta pelajaran meyakinkan tentang apa yang perlu dilakukan ke depan. Di banyak bagian dunia yang dianggap “beradab”, pemerintah daerah dan atau pemerintah negara bagian, yang selalu membentuk garis depan pertahanan dalam keadaan darurat kesehatan dan keselamatan publik semacam ini, telah kehabisan dana berkat kebijakan penghematan yang dirancang untuk mendanai pemotongan pajak dan subsidi untuk korporasi dan orang-orang kaya.

Industri-industri farmasi besar memiliki sedikit atau bahkan tidak menunjukkan minat sama sekali dalam penelitian non-remuneratif pada penyakit menular (seperti seluruh famili virus corona yang telah dikenal sejak 1960-an). Perusahaan farmasi besar jarang berinvestasi pada langkah pencegahan. Mereka nyaris tak punya minat untuk berinvestasi dalam langkah pencegahan krisis kesehatan masyarakat. Mereka lebih senang merancang obat. Semakin kita sakit, semakin banyak yang mereka hasilkan. Pencegahan tidak berkontribusi pada nilai pemegang saham. Model bisnis yang diterapkan pada penyedia layanan kesehatan masyarakat seperti ini menghilangkan kapasitas berlebih yang mereka miliki untuk mengatasi keadaan darurat. Pencegahan bahkan bukan bidang pekerjaan yang cukup menarik untuk menjamin kemitraan publik-swasta. Presiden Trump, misalnya, telah memotong anggaran Pusat Pengendalian Penyakit dan membubarkan kelompok kerja pandemi di Dewan Keamanan Nasional dengan semangat yang sama ketika ia memotong semua dana penelitian, termasuk tentang perubahan iklim. Jika saya hendak menjadi antropomorfik dan metaforis tentang hal ini, saya akan menyimpulkan bahwa COVID-19 adalah pembalasan dendam oleh alam atas penganiayaan yang dilakukan secara sembrono dan kasar oleh tangan ekstraktif neoliberal yang kejam dan tak terkendali selama lebih dari empat puluh tahun.

Negara-negara dengan kadar neoliberal paling rendah seperti Tiongkok dan Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura, agaknya menunjukkan gejala yang berbeda. Sejauh ini, mereka telah melewati pandemi secara lebih baik daripada Italia, meskipun Iran akan menggugurkan argumen ini sebagai sesuatu yang universal. Walaupun terdapat banyak bukti yang menyebutkan bahwa cara Tiongkok menangani SARS terbilang buruk, dengan banyak pertikaian dan penolakan di masa-masa awal penanganannya, namun kali ini Presiden Xi bergerak lebih cepat untuk mengamanatkan transparansi baik dalam pelaporan dan pengujian, seperti halnya Korea Selatan. Meski begitu, banyak waktu berharga yang hilang di Tiongkok (beberapa hari lebih cepat dan hasilnya akan jauh berbeda). Namun, yang ajaib dari Tiongkok ialah caranya mengurung epidemi di Provinsi Hubei dengan Wuhan sebagai pusatnya. Epidemi tersebut tidak menyebar hingga ke Beijing atau ke Barat atau bahkan lebih jauh ke Selatan. Langkah-langkah yang diambil untuk membatasi penyebaran geografis Covid-19 terbilang kejam. Bisa dibilang, hampir mustahil untuk meniru cara serupa di tempat-tempat lain karena alasan politik, ekonomi, dan budaya. Laporan yang keluar dari Tiongkok menunjukkan betapa seluruh pelayanan dan kebijakan dicurahkan untuk perawatan (caring) yang intensif. Lebih jauh lagi, Tiongkok dan Singapura mengerahkan kekuatan pengawasan personal mereka ke tingkat yang invasif dan otoriter. Secara agregat, mereka tampak sangat efektif. Meskipun seandainya mereka mulai bergerak beberapa hari saja lebih awal, banyak nyawa yang bisa terselamatkan, sebagaimana  ditunjukkan oleh banyak model. Ini informasi penting: dalam setiap perjalanan pertumbuhan eksponensial, terdapat garis batas yang jika dicapai akan membuat kenaikan jumlah penduduk terinfeksi sudah tidak dapat dikendalikan lagi (perhatikan di sini, sekali lagi, pentingnya jumlah penduduk dalam kaitannya dengan laju penyebaran virus). Fakta bahwa Trump berleha-leha selama berminggu-minggu mungkin belum terbukti mengancam jiwa manusia untuk saat ini.

Baca juga:  Losing a Job in the time of Corona

Kini, dampak ekonomi yang dihasilkan pagebluk Covid-19 mengulir di luar kendali baik di dalam maupun di luar Tiongkok. Guncangan yang terjadi pada rantai nilai korporasi dan di sektor-sektor tertentu ternyata berlangsung lebih sistemik dan substansial ketimbang yang semula diperkirakan. Efek jangka panjangnya ialah memperpendek atau mendiversifikasi rantai pasokan sembari bergerak ke arah bentuk-bentuk produksi yang kurang padat karya (dengan implikasi yang sangat besar pada lapangan pekerjaan itu sendiri) dan ketergantungan yang lebih besar pada sistem produksi kecerdasan buatan. Gangguan pada rantai produksi mencakup pemutusan hubungan kerja atau pengurangan jumlah pekerja, yang pada gilirannya mengurangi jumlah permintaan akhir (final demand), dan permintaan untuk bahan baku bakal mengurangi konsumsi produktif. Dampak yang muncul terhadap permintaan itu saja sudah menghasilkan kelesuan ekonomi berskala ringan.

Tetapi kerentanan terbesar justru berada di sektor lain. Mode konsumerisme yang meledak setelah 2007-8 telah runtuh, dengan konsekuensi dan daya hancur yang sangat besar. Mode-mode ini didasarkan pada pengurangan jangka pencapaian pemasukan (turnover) dari belanja konsumsi sedekat mungkin ke titik nol. Banjir investasi ke dalam bentuk konsumerisme seperti itu ada hubungannya dengan penyerapan maksimum volume kapital yang meningkat secara eksponensial dalam bentuk konsumerisme dengan jangka pemasukan begitu singkat. Pariwisata internasional mewakili bentuk konsumerisme semacam ini. Kunjungan internasional meningkat dari 800 juta menjadi 1,4 miliar antara 2010 dan 2018. Bentuk konsumerisme instan ini membutuhkan investasi infrastruktur besar-besaran untuk bandara dan maskapai penerbangan, hotel dan restoran, taman hiburan, acara-acara kebudayaan, dan sebagainya. Situs akumulasi kapital itu kini tidak lagi bisa berfungsi sebagaimana mestinya: maskapai penerbangan berada di ambang kebangkrutan, hotel-hotel menjadi kosong, dan pengangguran massal di industri perhotelan sedang mendekati waktunya. Berencana makan di luar rumah sudah menjadi ide yang tidak menggairahkan, restoran serta bar telah ditutup di banyak tempat. Bahkan antar-jemput makanan pun tampak berisiko. Kawanan pekerja yang sangat besar di bidang ekonomi pertunjukan atau dalam bentuk-bentuk pekerjaan tidak tetap lainnya sedang terancam di-PHK tanpa tunjangan yang memadai. Acara seperti festival budaya, turnamen sepak bola dan bola basket, konser, konvensi bisnis dan profesional, dan bahkan pertemuan politik menjelang pemilihan umum pun dibatalkan. Bentuk-bentuk “konsumerisme berbasis acara” itu kini tengah ditutup. Pendapatan pemerintah lokal kini tengah sekarat. Bahkan universitas dan sekolah pun ikut ditutup.

Sebagian besar bentuk mutakhir dari konsumerisme kapitalis kontemporer tidak dapat beroperasi dalam kondisi saat ini. Dorongan menuju apa yang digambarkan André Gorz sebagai “konsumerisme berbasis kompensasi” (di mana para pekerja yang terasing diandaikan akan memulihkan semangat kerja mereka melalui bonus paket liburan di pantai tropis) juga turut dihilangkan.

Akan tetapi, 70 atau bahkan 80 persen ekonomi kapitalis kontemporer digerakkan oleh konsumerisme. Kepercayaan dan sentimen konsumen selama empat puluh tahun terakhir menjadi kunci mobilisasi permintaan efektif dan kapital telah kian didorong oleh permintaan dan kebutuhan. Sejauh ini, sumber penggerak ekonomi semacam ini tidak tunduk pada fluktuasi yang liar (dengan beberapa pengecualian seperti letusan gunung berapi Islandia yang memblokir penerbangan trans-Atlantik selama beberapa minggu). Namun, Covid-19 bukannya menopang terjadinya fluktuasi ekonomi yang liar, melainkan kehancuran bentuk-bentuk konsumerisme yang mendominasi negara-negara paling makmur tepat di jantungnya. Bentuk uliran akumulasi kapital yang tak berujung ini ambruk dari dalam, dari satu belahan dunia ke belahan lainnya. Satu-satunya hal yang dapat menyelamatkannya adalah konsumerisme massal yang didanai dan diinisiasi oleh negara. Hal ini akan membutuhkan upaya untuk mensosialiskan model ekonomi seperti yang disebutkan sebelumnya, ke seluruh Amerika Serikat, tanpa harus menyebutnya sebagai model sosialisme.

Sang Garda Depan

Sebuah mitos yang telah dianggap mapan mengatakan bahwa penyakit menular tidak mengenal kelas atau batasan sosial dan batasan-batasan lainnya. Seperti yang sering dikatakan oleh orang banyak, ada hal-hal yang tampaknya benar dalam mitos tersebut. Ketika epidemi kolera merebak pada abad ke-19, penyebaranya yang melampaui sekat-sekat kelas terlihat cukup jelas, yang pada gilirannya mendorong lahirnya konsep sanitasi publik dan gerakan kesehatan yang menjadi profesional dan berlangsung hingga hari ini. Apakah gerakan ini dirancang untuk melindungi semua orang atau hanya kelas atas pun terbilang masih belum jelas. Namun, hari-hari ini, perbedaan sosial dan kelas, berikut dampak dan pengaruhnya mengisahkan cerita berbeda. Dampak sosial dan ekonomi disaring lewat diskriminasi “tradisional” yang terjadi di mana-mana. Sebut saja di sebagian besar belahan dunia, tenaga kerja yang diharapkan untuk menangani peningkatan jumlah orang sakit biasanya sangat terpaku pada gender, ras, dan etnis tertentu. Hal ini juga tampak pada tenaga kerja berbasis kelas yang dapat ditemukan, misalnya, di bandara dan sektor logistik lainnya.

Baca juga:  Siklus

“Kelas pekerja baru” ini berada di garis terdepan dan menanggung beban, baik sebagai tenaga kerja yang paling berisiko tertular virus melalui pekerjaan mereka, maupun sebagai yang dirumahkan tanpa sokongan logistik akibat penghematan ekonomi yang dipicu oleh Covid-19. Karena itulah muncul pertanyaan mengenai siapa yang bisa bekerja di rumah dan siapa yang tidak. Hal ini mempertajam kesenjangan sosial seperti halnya pertanyaan tentang siapa yang mampu mengisolasi atau mengkarantina diri (dengan atau tanpa bayaran) saat terjadi kontak atau infeksi. Sebagaimana cara saya memahami lalu menyebut gempa Nikaragua (1973) dan Mexico City (1995) sebagai “gempa kelas”, perkembangan COVID-19 juga menunjukkan seluruh karakteristik pandemi yang ter-kelas-kan, ter-gender-kan, dan ter-ras-kan. Dengan mudahnya upaya-upaya mitigasi diselewengkan dalam retorika “kita semua berdiri bersama-sama di tengah pandemi ini”, yang pada praktiknya justru menyiratkan motivasi yang lebih sinis, terutama pada pemerintah pusat. Kelas pekerja kontemporer di Amerika Serikat (sebagian besar terdiri dari orang Afrika-Amerika, Latin, dan buruh wanita) berhadapan dengan pilihan buruk untuk terkontaminasi atas nama merawat dan menjaga fitur-fitur vital seperti toko bahan makanan agar tetap terbuka atau menganggur tanpa tunjangan (seperti layanan kesehatan yang memadai). Pekerja upahan (seperti saya) bekerja dari rumah dan memperoleh bayaran seperti sebelumnya, sementara para CEO hilir mudik terbang dengan jet dan helikopter pribadi.

Sebagian besar pekerja di seluruh dunia telah lama dituntun untuk berperilaku sebagai aktor neoliberal yang baik (yang berarti menyalahkan diri sendiri atau Tuhan bila ada yang salah tetapi tidak pernah berani berpikir bahwa mungkin kapitalisme lah masalahnya). Bahkan pelaku neoliberal yang baik dapat melihat bahwa ada yang salah dengan cara menanggapi pandemi ini.

Pertanyaan besarnya adalah: seberapa lama pagebluk ini akan berlangsung? Bisa jadi lebih dari satu tahun. Semakin lama maka devaluasi akan semakin tinggi, termasuk pada tenaga kerja. Tingkat pengangguran hampir bisa dipastikan naik hingga ke tahap yang sebanding dengan tahun 1930-an karena ketiadaan intervensi besar-besaran dari negara, yang bila dilakukan harus bertentangan dengan prinsip neoliberal yang tidak menaruh kepercayaan pada intervensi negara. Konsekuensi langsung terhadap ekonomi serta kehidupan sosial sehari-hari bisa menjadi berlipat ganda. Tapi tidak semuanya buruk. Bila konsumerisme kontemporer jadi berlebihan, ia akan mendekati apa yang digambarkan Marx sebagai “konsumsi berlebihan dan konsumsi yang gila-gilaan, menandakan kejatuhan yang kejam dan ganjil,” dari seluruh sistem. Kecerobohan pada konsumsi berlebihan memainkan peran utama dalam degradasi lingkungan. Pembatalan penerbangan oleh maskapai-maskapai penerbangan, pembatasan transportasi dan pergerakan manusia secara mendasar memiliki konsekuensi positif yang berkaitan dengan pengurangan emisi gas rumah kaca. Kualitas udara di Wuhan meningkat pesat, seperti halnya di banyak kota di AS. Situs-situs ekowisata akan memiliki waktu untuk pulih dari injakan kaki manusia. Dan angsa-angsa pun kembali ke kanal-kanal di Venesia.

Sejauh konsumsi-berlebihan yang sembrono dan gila-gilaan itu dibatasi dan dikekang, maka ini akan menghasilkan manfaat dalam jangka panjang. Seperti berkurangnya kematian di Gunung Everest yang bisa jadi merupakan hal positif. Sementara belum ada yang mengatakannya dengan lantang, bias demografis dari virus tersebut dapat mempengaruhi piramida usia dengan efek jangka panjang dalam mengurangi beban jaminan sosial dan masa depan “industri kesehatan.” Kehidupan sehari-hari akan melambat, dan bagi sebagian orang, itu merupakan berkah. Anjuran penjarakan sosial (social distancing) dapat memicu perubahan budaya, jika keadaan darurat ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Satu-satunya bentuk konsumerisme yang hampir pasti akan menguntungkan ialah apa yang saya sebut sebagai ekonomi “Netflix”, yang melayani para “penikmat film”.

Dalam bidang ekonomi, respons-respons yang bermunculan telah disesuaikan dengan eksodus yang muncul dari krisis 2007-8. Tindakan ini mensyaratkan kebijakan moneter yang sangat longgar dengan melakukan bailout terhadap bank-bank, ditambah dengan upaya meningkatkan konsumsi produktif secara eksponensial lewat ekspansi investasi infrastruktur besar-besaran di Tiongkok. Yang terakhir tidak dapat diulang dengan skala yang dikehendaki. Paket bailout yang didirikan pada 2008 tidak hanya berfokus pada bank, tetapi juga melibatkan nasionalisasi General Motors secara de facto. Mungkin juga perlu disebutkan bahwa di tengah penentangan para pekerja dan jatuhnya permintaan pasar, tiga perusahaan mobil besar di Detroit ditutup, setidaknya untuk sementara.

Sebelumnya tayang dalam bahasa Inggris di https://jacobinmag.com/2020/03/david-harvey-coronavirus-political-economy-disruptions dan web pribadi Harry Isra

Jika Cina tidak dapat mengulangi peran 2007-8, maka beban untuk keluar dari krisis ekonomi saat ini bergeser ke Amerika Serikat, dan inilah ironi utamanya: satu-satunya kebijakan yang dapat berhasil, baik secara ekonomi maupun politik, akan jauh lebih sosialistik daripada apapun yang dapat diusulkan Bernie Sanders, dan program penyelamatan ini harus diprakarsai di bawah naungan Donald Trump, mungkin di balik topeng Making America Great Again.

Seluruh Republikan yang menentang keras bailout 2008 akan dipaksa menerima program Donald Trump atau menentangnya sama sekali. Pilihan terakhir ini, jika Donald Trump cukup cerdik, akan membatalkan pemilihan umum berdasarkan keadaan darurat dan mendeklarasikan kepresidenan rasa kekaisaran untuk menyelamatkan kapital dan dunia dari “kerusuhan dan revolusi.”[]

david - Guncangan Ekonomi Politik di Masa Covid-19

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi