Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah adaptasi dari kisah cinta di balik konflik kekerasan Sunni-Syiah, Sampang Madura yang terjadi pada Agustus 2012

Karang Gayam, Sampang, 2005

Kenapa selalu ada getar yang menyiksa sepanjang nafas ini melenguh? Ketika kuhirup selaksa udara pagi, aku merasa ia ada dan mengitari kabut embun yang berkelebat dan merasuk ke dalam degab jantungku.

Batin ini berbisik ia sungguh ada melekat berkelebat di antaraku, selalu, dalam degub nadi – dalam denyut deras darah di aorta. Dan dari muara debaran inilah getar-getar berlantun mengazabku sepanjang waktu. Kadang aku merasa telah menjadi gila, kadang aku merasa nafas ini tersengal di dalam puncak kemabukan: Mabuk karenanya, terhantu auranya, tercengkeram rentetan garis wajahnya dalam lamun-lamunan yang buta.

Oh…

Adakah aku telah dirasuki indang pengasih ajian jaran gujang sehingga wajahnya senantiasa menyilumiku berlayang bayang-bayang? Ataukah telah dirapalkannya baris-baris kalimat mahabbah mughrabi yang konon amat menohok hati dan menjadikan aku tergila-gila dalam maut kerinduan? Atau inikah nyanyian rasa terdalamku sesungguhnya yang tak kuasa kutepis dan senantiasa menguntaikan alunan tembang panjang dari waktu ke waktu sejak awal mula menemuinya secara tak terduga di Pantai Nipa, di batas laut utara kabupaten Sampang.

Pria berkumis tipis itu! Ya, pria yang pertama kali menanyakan di pesantren mana aku menghabiskan masa-masa remaja, ia sembari mengajakku duduk di lincak bambu seraya menikmati deburan ombak di Pantai Nipa saat berlibur lebaran.

Pria berkumis tipis itu! Adalah seorang lelaki yang memiliki sorot tatapan hangat yang memberikan perangai ramah dan setidaknya ia telah menyirami kucuran  kesan mendalam di bejana sanubariku—tentu saja bagi gadis santriwati semacam diriku yang tak biasa bersua secara empat mata bersama pria yang bukan mahram di tempat umum.

Halimah, aku berharap semoga kita bisa bersua lagi di lain waktu…” merupakan kalimat terakhirnya saat pertemuan yang amat sempurna terekam dalam ingatku. Memori Pantai Nipa 2005 adalah nyanyian panjangku mengenali seorang Adam bertangkai nuansa jingga yang tak terperi. Tapi sayang, rasa maluku yang polos—sebagaimana tabiat gadis pondokan—tak sanggup untuk sekedar menanyakan namanya. Aih, aku sungguh menyesalinya!

Dan memang, setelah itu tak ada lagi pertemuan antara aku dan dirinya, namun tepatnya enam bulan kemudian, ketika aku telah berada di pesantren, Kiai Rois—sang pengasuh pesantren—memanggilku ke dhalem[1], lalu menanyaiku dengan kata-kata yang mulanya tak sanggup kumengerti: “Halimah, apakah kau sudi jika dipersunting oleh laki-laki murtad?”

Pertanyaan cekam Kiai Rois membuatku terkejut, sepasang bola mata tanpa sadar membelak seketika.

“Ingat, Halimah! Orang murtad hukumannya di hadapan Allah lebih jahanam daripada orang kafir. Kau wajib ingat hal ini! Harga kesahihan sebuah mazhab taruhannya lebih penting dari sekedar darah dan nyawa!”

Kiai Rois makin menaik pitam, seolah sedang menyulut api emosi.

Aku gemetar dan tak mengerti sama sekali atas landasan perkataan yang menyentak itu. Bahkan tiada kepahaman atas apa yang menjadi kaitan amarahnya atas diriku, aku hanya bisa merunduk lemah.

“Halimah…” ia menyebut namaku lagi, Kiai Rois memang memanggil nama langsung kepadaku, tidak sebagaimana ia biasa memberikan panggilan khusus kepada para santriwatinya dengan sebutan “bindari” di awal nama, paling tidak aku lebih bahagia dan terhormat bila dipanggil “bindari Halimah”. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Kiai Rois pernah berkata padaku jika ia ingin memanggil langsung namaku itu yang menurutnya berarti ia menghormatiku sebagai pemilik nama.

Baca juga:  Masjid Bambang Di Pertigaan Jalan

“Kemarin ada seseorang datang menemuiku ke mari, katanya dia sudah pamitan kepada orang tuamu untuk mempersuntingmu, Halimah. Kemudian kedua orang tuamu telah menggantungkan jawaban suntingannya kepadaku untuk melakukan istikharah. Tapi aku tidak melakukan istikharah, sebab aku sangat tidak merestui hal ini!”

“Kenapa, Kiai?” Aku heran.

“Karena pria itu adalah seorang pengikut ajaran sesat, ia termasuk pengikut Tajul Muluk! Apakah kau sudi dan mau menjadi murtad?”

Aku menggelengkan kepala seraya menutup sepasang mata takutku. Aku tahu, suasana pesantren yang kudiami sedang membara dengan urusan keyakinan berakidah. Pesantren asuhan Kiai Rois yang awal mulanya bermazhab Syiah tiba-tiba berubah Sunni.

Tak lebih dari dua bulan yang telah tenggelam, Kiai Rois tanpa dinyana mengajak semua santrinya dan beberapa penduduk Karang Gayam untuk bertaubat dari kesesatan Syiah. Padahal sejarah mengatakan, semenjak dahulu pesantren yang ia pimpin sangat berpendirian teguh memegang faham Syiah.

Entah gerangan apakah alasannya, Kiai Rois tiba-tiba merubah haluan faham Syiah yang sebetulnya telah mendarah daging, telah mengakar puluhan tahun di pesantren keluarga besarnya. Sedangkan orang tua Kiai Rois sendiri serta saudara-saudaranya sendiri yang sudah mengasuh pesantren masing-masing masih setia dengan ajaran Syiah—yang sebetulnya hatiku juga masih setia pada pengamalan akidahnya, akidah yang konon disampaikan oleh para Ayatullah di negeri Iran—lantas kenapa menjadi gampang bagi Kiai Rois menggujirati saudara-saudara kandungnya bahkan ibunya sendiri atau ayahandanya yang telah almarhum. dengan mengata-ngatai berada di jalan yang sesat!?

Tetapi betapa bila disadari secara teliti—lebih-lebih bila dipandang lebih jauh pada hari ini—, ia lebih mengalamatkan kutukan “murtad” itu kepada seorang adik kandungnya sendiri, Kiai Tajul Muluk, yang mengasuh pesantren daerah sebelah. Ya, blok-blok pesantren di Karang Gayam ini diasuh oleh kiai-kiai muda yang masih satu rahim satu wali, sepuluh kiai-nyai bersaudara.

Beberapa hari sebelumnya Kiai Rois pernah mengajak seluruh santrinya untuk membakar kitab-kitab ajaran syi’ie (faham Syiah) yang telah kami pelajari bertahun-tahun, terakhir Kiai Rois menggelar pembacaan dua kalimat syahadat bersama-sama yang menurutnya dalam rangka bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus yang ia sebut sebagai ajaran Sunni atau Ahlussunnah.

“Aku tak rela jika ada seorang santriku yang kini telah lurus di jalan Ahlussunnah akan kembali murtad oleh sebab menjalin pernikahan dengan Syiah-syiah keparat itu! Apapun alasannya, aku ingin menghentikan dakwah si Tajul Muluk laknat itu!” Kutuk Kiai Rois, kemudian memandangku yang tergugup-gugup di hadapannya.

“Kami akan selalu takzim pada fatwa-fatwa ajunan[2] Kiai Rois…” Jawabku kemudian dalam takut.

Kiai Rois tiba-tiba mendekatiku yang masih duduk bersimpuh. Lelaki paruh baya bersorban yang sudah beranak-pinak itu lantas menanyakan sesuatu dengan suara yang lirih: “Adakah lebih baik jika kau menjadi istri keduaku, Halimah?”

Sungguh pertanyaan ini yang membuatku tercengang sekaligus meremang-remang…!

Waktu demi waktu menyulam perasaanku menjadi galau tak tentu. Aku tak kuasa dengan keadaan semacam itu, aku sering menyendiri menjauh dari pergaulan bersama teman-teman santri, kadang di kotakan pondok atau di mushala pesantren, kadang pula aku menyepi di kelas-kelas kosong. Kuhabiskan waktu dengan membaca Qur’an, termenung dalam sepi, dan bagai saja air mataku tiada usai mengalirkan tangis sendu.

Baca juga:  Kala Mas Joko Rajin Ke Masjid

Tak kutahu apa yang telah membuatku menangis resah; keadaan kisruhkah tentang perpindahan mazhab? Atau tentang seorang pria Syiah yang kata Kiai Rois mempersuntingku? Atau tentang pertanyaan terakhir kiai Rois yang membuat lubuk terdalamku sungguh berguncang? Ataukah tentang bayangan seorang pria berkumis tipis yang selalu merenggut nafas hatiku berlabuh? Oh, cobaan apakah ini? Ujian Tuhan yang membuat perasaanku tergerogoti kepiluan.

Astaghfirullahal Azdhim…! Semuanya menjadi tumpuan kecamuk dalam jiwa. Sungguh aku tak berdaya. Dalam getar aku berdoa, Rabbi, aku hanyalah seorang wanita yang lebih lembut daripada kapas bahkan lebih lejar ketimbang kayu lapuk yang ditubruk menjadi abu. Maka hamba mohon jangan biarkan aku terserunduk dalam luka yang tak kupahami muasalnya…

***

Karang Gayam, Sampang, 2010

Kutatap langit di atas pesantrenku selalu bergetar-getar, mendung menebal dan sesekali halilintar menembaknya dengan lentik-lentik cahaya kilat. Gerimis kecil sehari semalam tak usai menusuk-nusukkan suasana giris, keadaan desa Karang Gayam segerak mata kucing mulai mendekati kehancuran…

Kudengar selentingan kabar, Kiai Rois siap mengomando para santri laki-laki dan warga desa pengikutnya untuk memusnahkan kediaman Kiai Tajul Muluk serta rumah-rumah para pengikut Syiah. Bahkan fatwa terakhir kuterima dari lidah seorang santriwati bahwasanya Kiai Rois telah menghukumi halal untuk menghabisi darah orang-orang Syiah sekaligus wajib melakukan jihad fisabilillah untuk memerangi ajaran Kiai Tajul Muluk.

Seringkali kulihat banyak warga dan santri laki-laki berjaga-jaga sambil menenteng celurit dan aneka senjata, berpatroli secara keliling di pesantren yang kumukimi.

Bisik-bisik dari telinga ke telinga santriwati melewati waktu demi waktu selanjutnya, kudengar kabar Kiai Rois mulai menyalakan lampu siaga kedua untuk menggempur Syiah di Karang Gayam terutama pesantren milik saudaranya Kiai Tajul Muluk yang hanya berjarak puluhan meter dari pesantrennya sendiri yang kedua benteng itu bergejolak, saling menegang; Sepasang kakak-adik akan melakukan sebuah drama nyata, langit di atas Karang Gayam akan menjadi saksi dari menit ke menit kemudian. Antara Kiai Rois dan Kiai Tajul Muluk.

Ah, pada saat itu, aku belum tahu wajah Kiai Tajul Muluk walau aku telah bertahun-tahun nyantri di keluarga besarnya ini.

Namun tepatnya pada sepertiga malam, ketika aku berwudlu dan hendak melakukan saharul layali[3], tiba-tiba muncul sesosok pria berpakaian serba gelap yang menyelinap ke asrama santriwati dan menarikku ke belakang tempat wudlu dengan sigap. Aku terkejut saat sosok itu menyeret lenganku kuat-kuat. Suaraku bagai tersengal, tersentak ketika tahu sosok berpakaian gelap tersebut adalah si pria berkumis tipis!

“Mungkin tak ada cara lain selain untuk membuatmu menjadi istriku, selain menemuimu malam ini, Halimah.” Dengusnya pelan-pelan. Wajahnya seolah menaruh lelah.

“Apa maksudmu?” Tanyaku.

“Entah telah berapa puluh kali aku mendatangi rumahmu serta kiaimu agar merestui persuntinganku untukmu…” Dengusnya lagi.

Aku terkejut. “Jadi kaulah si pengikut Kiai Tajul Muluk itu?”

Dia menarik nafas—dan aku sangat peka, pria itu sedang berdebar-debar sama seperti debar-debar yang sedang menimpa dadaku saat itu—kemudian mengulum senyum, “Halimah, akulah Tajul Muluk itu. Akulah Tajul Muluk…”

Baca juga:  Darah

Aku tercengang sekaligus tersipu. Malu, karena meski bertahun-tahun aku nyantri di desa Karang Gayam belum mengenal betul akan wajah Kiai Tajul Muluk! Itu karena kondisi pesantren yang kumukimi sangat menjaga ketat peraturan syariat dalam berhijab. Yang aku kenal hanyalah wajah pesasuh pesantrenku saja, Kiai Rois saja. Apalagi pertemuanku dengannya terjadi di sebuah pantai, sehingga aku tak menyangka jika pria berkumis tipis yang mengenakan rompi dan jeans saat berlibur lebaran di pantai Nipa adalah adik kandung Kiai Rois dan sekaligus pemimpin kelompok Syiah di Sampang: Kiai Tajul Muluk.

Aku bersimpuh di hadapannya. “Aa…apa yang akan ajunan lakukan kepadaku?” tergugup.

“Aku ingin kau mengikutiku dan besok mari kita lakukan akad nikah.” Permintaannya terlalu lugas. Membuat perasaanku semakin kacau.

Dan belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba ada yang melabrak!

Beberapa penjaga yang memang memanggul senjata memeranjatkan kami, Kiai Tajul Muluk pun bergegas melompati tembok pembatas asrama. Suasana sepertiga malam pun kemudian menjadi gaduh.

“Ada penyelinap! Ada penyusup di asrama santriwati!” teriakan dan tabuhan kentongan saling bersahutan.

Bakda subuhnya aku langsung digiring ke hadapan Kiai Rois dan diperksa. Aku dipaksa menceritakan semua yang terjadi secara jujur sehingga tanpa kusadari bahwa pada detik itulah ketokan perang besar akan dimulai…

 

***

Karang Gayam, Sampang, September 2012

Carok massal; dua orang tewas, puluhan lainnya luka berat, ratusan warga kehilangan tempat tinggal, rumah-rumah penduduk desa Karang Gayam nyaris semua rata dengan tanah, begitu halnya pesantren-pesantren yang kini hancur tinggal puing-puing. Para pengikut Syiah diungsikan ke GOR kota Sampang. Kiai Rois dan si adiknya Tajul Muluk ditangkap aparat.

Kusimak pemberitaan di televisi, koran dan radio serta kabar mulut orang-orang yang saling sambung-menyambung, membuatku semakin teriris dengan apa yang terjadi di balik semua, rahasia besar telah terkuak… Inilah kisah prahara tentang seorang wanita—yang bagi diri sang wanita sendiri sebenarnya bukanlah siapa-siapa—dalam pertumpahan darah yang mengatasnamakan pembelaan keyakinan.
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Ya aku bukanlah siapa-siapa! Aku hanya Halimah, seorang wanita desa yang tak seistimewa gaharu zakfaran ataupun aroma sedap malam. Aku kini tak lebih hanyalah serpihan abu arang yang pernah terpanggang benturan sepasang kobaran api dan takkan kembali menjadi kayu.

Biarlah pada detik selanjutnya kaki ini melangkah bersama debar yang masih seperti dulu, seperti getar-getar yang dulu, seperti degab jantung atau denyut darah yang tak pernah berubah menyiksaku dalam rindu!

Kuayunkan langkah kecil menuju ke Pantai Nipa. Akan kuputar kembali sebagaimana dari awal mula tiada pernah terjadi apa-apa, dan biarkan aku tak bertemu siapapun di sana. Biarkan aku berada di pantai itu selamanya! Menyatu dengan laut dan derak gelombang: Bunga-bunga ombaklah yang akan menciumku dengan tulus dan damai, bunga-bunga ombaklah yang akan menikahkan hatiku dengan merah sang cinta… [] Bilapora, 07:13

[1] Rumah Kiai (bahasa Madura);

[2] Anda yang mulia (bahasa Madura)

[3] Istilah Ritual malam yang biasa digiatkan di pesantren.perempuan - Halimah dan Bunga Ombak di Pantai Nipah

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi