Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Kosa Historead

Hegemoni merupakan  konsep yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Antonio Gramsci pada tahun 1930an dan kemudian dipopulerkan oleh Cultural Studies hingga saat ini. Konsep ini merujuk pada kemampuan kelas dominan pada periode sejarah tertentu, lewat praktik-praktik sosial dan kebudayaan , tidak lewat praktik koersi kelas bawah secara langsung, untuk melanggengkan keberlangsungan dominasi sosial dan budaya mereka atas suatu bangsa atau masyarakat. Titik tekan praktik hegemoni ini tidak melalui sebuah kekuatan pemaksa atau pemaksaan masyarakat untuk menentang kesadaran mereka atau ketertundukan atas kekuasaan yang ada, namun hegemoni itu berlangsung melaui cara-cara yang halus, dimana kita melihat hal tersebut alamiah, sesuai dengan cara pandang atau kepentingan kelas dominan atau kelompok dominan. Jadi disini, ada pertispasi aktif kelas bawah dalam memahami diri mereka sendiri, relasi sosial yang ada dan dunia ini, keadaan tersubordinasi demikian adanya.

Baca juga:  Ibnu Hadjar dalam Sejarah Indonesia

Hegemoni dijalankan dalam berbagai bentuk budaya seperti iklan atau propaganda untuk mendukung  partai atau produk tertentu. Namun manipulasi atas citra dan makna semacam itu tidak bisa dianggap sebagai hegemoni yang berhasil, kenapa, karena secara gamblang disana terdapat beberapa hal yang perlu dijelaskan apa yang harus dikerjakan atau dilakukan oleh rakyat, jadi di sini, kekuasaan yang dimaksudkan belum bisa begitu saja beroperasi atau ada pada kalangan sasaran propaganda. [Seri Kosa Feminisme Historead Data Center]

[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Dalam Cultural Studies, konsep hegemoni dipahami sebagai kajian yang melihat bagaimana makna sehari-hari, representasi dan aktivitas kita sehari-hari itu dipahami dan diorganisir begitu adanya, sesuai kepentingan kelompok atau kelas dominan; hingga nampak alamiah, tidak dapat diganngu gugat, abadi dan tidak bisa didebat oleh siapapun. Disini Cultural Studies  lebih fokus untuk melihat institusi atau bentuk-bentuk yang selalu dainggap netral, tidak tebang pilih, mewakili semua golongan baik agama, ras, suku, jender dan sebagainya. Institusi yang dimaksud adalah semacam negara, hukum, sistem pendidikan, media, keluarga dan sebagainya. Institusi ini adalah produsen makna-makna, pengetahuan, mereka adalah agensi budaya penting atau tidak pentingnya perang yang dimainkannya itu sejauh peran mereka dalam mengorganisir, memproduksi kesadaran individu atau masyarakat.  Dalam terminologi Roland Barthes, hegemoni, seperti halnya ideologi, mengalamiahkan segala sesuatu hingga begitu gamblang dan seolah tidak bisa diperdebatkan lagi.
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Rayap dan Para Pencuri Buku
Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

antoniogramsci - Hegemoni

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi