Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan magnum opus Herodotus: "The Histories"

BAPAK Sejarah atau Bapak Kebohongan? Pertanyaan ini laiknya sari pati dari banyak perdebatan tentang The Histories, karya magnum opus Herodotus yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Herodotus (484-424 SM) adalah sejarawan Yunani kuno yang ditahbiskan sebagai “Bapak Sejarah” oleh filsuf Romawi, Cicero. Dia disebut sebagai penulis sejarah naratif pertama, meski juga dituduh sebagai pendusta, inkonsisten, bias dengan kesalahan fakta dan penilaian, juga mudah percaya sumber informasi yang kurang akurat.

Meski begitu, di era kontemporer, para sarjana telah mulai sepenuhnya menghargai fusi luar biasa dari kronologi, etnologi, geografi dan puisi dari The Histories. Buku ini menjadi sebuah karya yang baik, mudah dibaca dan menjadi sumber informasi penting perihal dunia arkaik.

Ratusan tahun pasca Homer, Herodotus menyusun The Histories berdasarkan sumber lisan dan mitos. Sebagai pendongeng hebat, Herodotus tidak menganggap menulis seperti menyusun puisi epik. Bukunya yang membahas abad interaksi dramatis antara orang-orang Yunani kuno dan Kekaisaran Persia–yang berpuncak pada Perang Peloponnesia di awal abad kelima SM–adalah kompilasi besar sejarah, adat istiadat dan kepercayaan orang-orang Yunani serta kaum (yang dijulukinya sebagai) “barbar”. Keandalan The Histories Herodotus bergantung pada para pendahulunya, seperti penelitian The Histories adalah komposisi yang mencakup pengertian mereka mengenai sejarah, geografi, sejarah alam dan antropologi, dalam konteks politik dan sastra.

Pada zaman Yunani kuno, tradisi sejarah yang hidup adalah tradisi lisan, kisah atau cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut. Demi memasyarakatkan karyanya, Herodotus harus membacakan karyanya itu kepada para pendengarnya di Thurii dan Athena.

Selain sebagai “Bapak Sejarah”, sebenarnya Herodotus juga dapat disebut sebagai “Bapak Antropologi”. Dalam The Histories yang terdiri atas sembilan buku itu, dia mengemukakan hasil pengamatannya selama perjalanan ke Mesir, Asia, hampir seluruh wilayah di Yunani, Sicilia dan Italia. Herodotus tak hanya mengamati sejarah politik belaka, namun juga persoalan adat istiadat, hukum dan agama.

Perang Peloponnesia (431-404) hampir tak disebutkan dalam sejarah Persia. Tetapi di Yunani, perang ini menjadi pusat kehidupan setiap laki-laki dan membuat gelisah setiap perempuan pada masa itu.

Cerita-cerita yang kita peroleh berasal dari Yunani: waktu perang berakhir Herodotus baru berusia lima tahun, tapi dia mewawancarai para saksi mata kemudian menyusun kembali peristiwa itu; Thucydides lahir sekitar dua puluh tahun kemudian dan merujuk kisahnya dari Herodotus, namun dengan mengoreksi beberapa penafsirannya berdasarkan sumber-sumber lain; dan penulis sandiwara Yunani, Aechylus, yang lebih tua daripada kedua ahli sejarah itu serta turut dalam perang. Naskah sandiwara Aechylus, The Persians, adalah karya seorang saksi mata, meski berfokus pada keberanian orang Yunani, bukan pada kegiatan operasi militernya.

Dalam pandangan ketiga sumber sejarah di atas, Peperangan Peloponnesia adalah pusat dari perkembangan kemanusiaan. Namun dalam pandangan pihak Persia, peperangan ini hanyalah bentrokan-bentrokan kecil yang, kalau menjadi buruk, lebih baik dihiraukan.

Didalangi Aristagoras, orang-orang Ionia memulai pemberontakan itu dengan semangat tinggi. Mereka menggunakan tiga ratus kapal milik Darius yang Agung dan memenuhinya dengan orang Yunani.

Darius segera mengirimkan tentaranya yang cepat dan sangat terlatih untuk memadamkan pemberontakan itu. Namun sebelum tentara itu sampai, Aristagoras dan para sekutunya berhasil menginjakan kaki di Sardis dan mengagetkan warga setempat.

Kota Sardis kacau balau. Gubernur Kerajaan Artaphranes bersembunyi di dalam benteng pertahanan kota. Orang-orang Ionia menyebar ke seluruh Sardis, bermaksud merampok kota itu. Sayangnya, kota sudah mulai terbakar hampir serentak. Seorang tentara membakar sebuah rumah, dan karena gedung-gedung Sardis mayoritas terbuat dari buluh, api cepat menyebar ke seluruh kota.

Kebakaran Besar Sardis, demikian istilah Herodotus, membuat Persia berang. Ketika keduanya bentrok di Efesus, pihak Ionia terpukul. Mereka tercerai-berai dan orang Atenia, yang melihat tidak ada manfaatnya menghampiri bentrokan ini, memutuskan untuk pulang. Tapi pihak Ionia tak memiliki pilihan lain selain tetap bertempur. Dengan membakar Sardis, tak ada lagi kesempatan untuk kembali. Mereka tidak dapat mundur begitu saja tanpa konsekuensi mengerikan.

Meskipun begitu, mereka berhasil membawa pertempuran ke laut. Angkatan laut gabungan Ionia pergi melewati Hellespont dan mengusir garnisun Persia yang ditempatkan di Byzantium ke luar kota. Kapal-kapal itu kemudian berlayar kembali ke pantai, menjemput sekutunya di sepanjang jalan. Pemberontakan itu membesar sehingga menjadi jalan buntu bagi Persia dalam pertempuran begitu melelahkan selama bertahun-tahun.

Baca juga:  Lagu Cinta dan Kesyahidan

***

ARUS perang berbalik mengarah ke kota-kota Ionia pada 494 SM, ketika armada Persia yang terdiri dari enam ratus kapal bentrok dengan kapal-kapak Ionia di laut terbuka, persis di seberang pantai dekat Miletus. Persia sudah mempersiapkan diri untuk pertempuran besar. Mereka mengenal armada Ionia dengan baik; 300 dari 353 kapal armada Yunani pada awal perang adalah hasil penculikan dari angkatan laut Darius.

Banyak kapal yang diawaki oleh orang Ionia ditenggelamkan. Ketika perang berbalik melawan Yunani, banyak lagi yang pergi meninggalkannya begitu saja. Laksamana armada Ionia berlayar ke Sisilia dan menjadi bajak laut (meskipun dia hanya membajak kapal-kapal Kartagena dan Etruski, dan “tidak mengganggu kapal-kapal Yunani”). Aristagoras sendiri langsung meninggalkan Asia Kecil dan pergi ke Thracia, di mana dia dibunuh ketika mencoba merebut sebuah kota Thracia sendirian.

Pihak Persia yang menang berlabuh di pantai Miletus, kota dari si pembuat onar Aristagoras. Mereka menutup kota itu dari segala bantuan luar, menggali di bawah tembok-temboknya dan meruntuhkannya. Peristiwa lebih buruk masih akan terjadi. Darius belum melupakan partisipasi orang Athena dan orang Eretria dalam pemberontakan itu.

Pada 492, dia menempatkan jenderal dan menantunya, Mardonius, untuk memimpin dua cabang angkatan perang untuk menginvasi: sebuah angkatan darat yang akan bergerak melalui Asia Kecil, menyeberangi Bosphorus di atas jembatan ponton, dan turun ke Thracia dan Makedonia, dan sebuah angkatan laut yang akan berlayar melalui laut Aegea dan bertemu dengan angkatan darat untuk menyerang kota-kota Yunani di daerah Utara.

Akan tetapi, usaha ini berakhir dengan kegagalan. Dibutuhkan waktu dua tahun untuk membangun kembali angkatan laut. Namun, pada 490, armada baru sudah siap berangkat, dan Mardonius (yang sudah dipanggil kembali ke Susa untuk dicela) kembali bertugas.

Herodotus mengatakan bahwa angkatan invasi kedua terdiri dari enam ratus kapal; bahkan jika ini hanya cerita yang berlebihan, invasi melalui laut ini begitu besar sehingga pihak Persia tidak usah repot-repot lewat darat untuk memperkuatnya. Para tentara Persia mulai menyapu daratan dengan menghancurkan Naxos (Aristagoras pernah menjadi jenderal yang tidak kompeten di situ; Angkatan perang Persia melindas Naxos hanya dalam hitungan hari) dan kemudian merebut Eretria. Tujuan kedua adalah Athena: ratu dari Attica, kunci dominasi Yunani.

Pertahanan Eretria lenyap. Pihak Athena yang terpaksa berhadapan dengan malapetaka Persia, mengirimkan seorang utusan ke Selatan ke Sparta memohon bantuan. Urusan ini adalah Pheidippides, seorang “pelari yang terlatih” yang profesional dan katanya sudah menempuh 224 km antara Sparta dan Athena hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, sebuah prestasi kekuatan yang mengagumkan. (Barangkali Herodotus mengamati waktu yang dicapai dari perjalanan itu dengan teleskop, tetapi tidak ada alasan untuk meragukan jarak yang ditempuh). Namun pihak Sparta menolak untuk menjawab permohonan itu. Mereka sedang merayakan suatu liburan religius, dan tidak dapat pergi sampai bulan purnama.

Bangsa Sparta adalah orang yang religius (mungkin malah percaya takhayul), tetapi sangat mungkin mereka mencoba untuk menghindari perang langsung dengan Persia. Pihak Persia berdatangan menghukum Athena; kemarahan mereka diarahkan pada kota-kota Yunani yang bergabung dengan pemberontakan Ionia, dan pihak Sparta menolak. Sementara, orang Athena tidak punya pilihan lain kecuali menghadapi pihak Persia tanpa bantuan.

Singkat cerita, Yunani mengalami banyak kemenangan di Platea dan Mycale yang mengakhiri Peperangan Peloponnesia. Kekalahan tidak membuat kehancuran yang besar bagi kejiwaan orang-orang Persia (mereka dibesarkan bertipologi darat, dan bukanlah perenang yang handal), meskipun mereka lebih suka membiarkan angkatan lautnya tenggelam daripada membangunnya kembali.

Tetapi kota-kota Yunani dan Sparta sampai melewati pantai Ionia, sudah bergabung bersama dalam persekutuan sukarela untuk mengalahkan musuh bersama. Itu merupakan tindakan gabungan pertama yang dilakukan oleh seluruh dunia Yunani, sebuah jagat yang dipersatukan tidak oleh perbatasan-perbatasan politik, tetapi oleh kebiasaan dan bahasa yang sama.

***

 

THE HISTORIES terdiri dari dua bagian. Bagian kedua menguraikan peperangan antara Peloponnesia, dari Pemberontakan Ionian dari 499 SM, sampai kekalahan invasi Xerxes di 479 SM. Hal ihwal ini diawali dengan penjelasan tentang Perang Persia-Yunani itu dan pertumbuhan Kekaisaran Persia, serta negara-negara seperti Yunani, Athena dan Sparta. Dalam kata pengantar, Herodotus menulis tentang proyeknya ini:

Baca juga:  Presiden dan Buku

Herodotus dari Halicarnassus, penelitiannya di sini ditetapkan untuk melestarikan ingatan masa lalu dengan menempatkan pada catatan prestasi yang mencengangkan bagi kita sendiri dan orang lain; dan lebih khusus, untuk menunjukkan bagaimana mereka masuk ke dalam arus konflik.

Lewat kalimat ini, Herodotus memulai secara ‘demonstratif’ penelitiannya untuk menyusun fakta-fakta penting dan pelbagai penyebab peristiwa (yang tak tertandingi) di dunia kuno. Herodotus memulai pendahuluannya dengan gaya prosais, namun dia sebenarnya telah menulis sejarah dari kelompok-kelompok tertentu atau kota atau laporan perjalanan dari seluruh dunia, yang dikenalnya secara mendetail. Dia telah mengumpulkan banyak peristiwa bervariasi dari Asia dan Eropa dan mendeskripsikan bangsa dan tanah mereka dalam sebuah karya utuh.

Dalam prolog, yang menyatakan tujuan dari proyek ini, mengarah langsung ke catatan mengenai sejarah Lydia dan penaklukan oleh bangsa Persia. Dalam hal ihwal ini, Raja Croesus dari Lydia ditakdirkan untuk membayar pembunuhan Raja Candaules oleh leluhurnya, Gyges. Ini diikuti dengan kisah dari kehidupan penguasa Persia, Cyrus (559-529): Kekalahannya dari Media, penaklukan kedua Ionia pasca Pemberontakan Pactyas, penaklukan Babel dan perang dengan Massagetae, yang merenggut nyawa Cyrus.

Buku ke dua The Histories menguraikan tentang peraturan yang dibuat oleh putra Cyrus, Cambyses (529-521), dan rencananya untuk menyerang Mesir. Buku ke tiga The Histories melukiskan penaklukan Cambyses atas Mesir, kegagalan invasinya ke selatan (Ethiopia) dan barat. Herodotus mengklaim, jelas terlihat dalam ejekannya tentang praktik keagamaan Persia,

jika ada orang yang mengusulkan bagi setiap orang, untuk memilih kebiasaan yang terbaik dari semuanya, ia akan melihat mereka acuh tak acuh dan memilih sendiri.

Kematian Cambyses yang menjadi episode penutup dari perebutan suksesi di Persia, berakhir dengan menobatan Darius sebagai kaisar (521-486). Sisa laporan dalam buku ke tiga ini, diambil sebagian besar dari narasi bernas tentang bagaimana Darius menggerakkan roda pemerintahannya di Kekaisaran Persia dan bagaimana dia ditekan oleh berbagai pemberontakan internal.

Buku ini juga berisi deskripsi dari tiga kejadian dalam sejarah Samians, karena orang-orang inilah, Herodotus mengklaim, yang bertanggung jawab atas tiga bangunan dan prestasi terbesar di dunia Yunani: terowongan mil panjang melalui gunung; pelabuhan yang diciptakan oleh pemecah ombak; dan kuil terbesar di jagat Yunani.

Buku ke empat The Histories menawarkan gambaran dari kebiasaan dan sejarah Scythians dari Rusia selatan dan cerita mengenai upaya Darius untuk menaklukkan mereka. Buku ke empat ini juga merinci serangan Persia dari Mesir ke Libya, dan sejarah dan geografi negara-negara itu. Herodotus menyimpulkan latar belakang sejarah konflik antara Yunani dan Persia.

Dalam peristiwa Pemberontakan Ionia, perasaan sakit hati antara Persia dan Yunani meletus menjadi kekerasan. Tindakan penindasan dari Pemberontakan Ionia didedahkan pada paruh pertama buku ke enam, seperti sifat hubungan antara Athena dan Sparta pada masa pemerintahan Cleomenes dan Leotychides. Kampanye dari Marathon (490), di mana Persia dikalahkan oleh orang Athena, memakan sisa buku ke enam ini.

Darius mangkat tidak lama setelah pertempuran ini dan penggantinya, Xerxes (485-465), berjanji untuk membalikkan hasilnya. Tiga buku terakhir meneropong ke Persia dan persiapan Yunani, perkelahian di tanah Thermopylae, Plataea dan Mycale dan pertempuran laut di Artemisium dan Salamis. Persia dapat dikalahkan dan dipukul mundur.

***

MELALUI The Histories, Herodotus berteori. Dia menunjukkan pola pertumbuhan dan kemunduran dari sebuah dinasti politik. Fase pertumbuhan dan kemunduran, dia percaya, dapat dijelaskan dalam dua cara. Pertama, nasib baik terus-menerus akan melahirkan arogansi.

Penguasa yang sombong, ujar Herodotus mengatakan, sering kali mengabaikan saran dan kritik. Setelah mereka melampaui batas fana mereka, hukum alam akan menyambangi mereka dalam bentuk palu godam keadilan. Hal ihwal ini dapat dilihat di sejarah naik-turunnya kekuasaan Cyrus dalam bagian pertama The Histories.

Ke dua, naik turunnya kekaisaran dapat dijelaskan sebagai fenomena budaya ‘keras’ dan ‘lunak’. Menurut Herodotus, budaya keras kurang bisa berkembang, pemerintahannya terpusat dan sangat kurang independen. Budaya lunak yang kaya, sering diperintah oleh raja yang absolut namun terbuka oleh potensi penaklukan oleh pihak luar.

Baca juga:  Ingus Berlendir, Montaigne, dan Arogansi Intelektual

Dalam budaya keras, Herodotus menyarankan, kecenderungan untuk menaklukkan budaya lunak. Ketika mereka melakukannya, mereka cenderung menjadi lunak dan dengan demikian berakibat pada invasi. Persia menunjukkan siklus ini. Pada awal periode rincian Herodotus, Persia miskin dan terbelakang.

Namun dalam buku ke tujuh, semua orang Persia berdaulat ke Xerxes untuk menjaga keselamatan dan gaya hidup mewah mereka. Herodotus membuat kita tidak ragu bahwa Xerxes adalah penguasa yang keras dan megalomaniak. Kelembutan atau kelemahan dari Persia inilah yang menjadi kelemahan Xerxes dalam menghadapi orang-orang Yunani.

Orang-orang Yunani, dilukiskan oleh Herodotus, sebagai orang-orang berwatak keras yang bekerja sama untuk menaklukkan dan menkolonisasi di daerah teluk. Perbedaan antara ‘kekerasan’ dan ‘kelembutan’ inilah yang dapat menjelaskan keberhasilan orang-orang Yunani.

Dalam The Histories, Herodotus hanya menyebutkan seorang pendahulunya, Hecataeus dari Miletus, yang menulis sebuah karya mengenai geografi sejarah, Periodos. Hecataeus (Herodotus memberitahu kita), hidup di masa Pemberontakan Ionia dari 499 SM dan dia dua kali memberi saran kepada para pemberontak, namun masukannya itu ditolak. Herodotus mengakui telah membaca apa yang Hecataeus tulis tentang Mesir, tapi terlalu sedikit dari informasi dari Periodos yang dapat dinukil darinya.

Tampaknya kedua sejarawan tersebut memiliki ide-ide yang sangat mirip tentang Pemberontakan Ionian, tetapi Herodotus memiliki ide-ide yang lebih maju mengenai kartografi. Dia meremehkan, misalnya, peta yang menunjukkan dunia sebagai cakram yang dikelilingi oleh sungai yang disebut sebagai samudera. Pengaruh intelektual lain di diri seorang Herodotus lebih sulit dilacak. Dia mungkin telah melihat Charon asal Campsaus di Persia, Xanthus (dari Lydia) di Lydia dan bahkan mungkin bekerja dengan Dionysius dari Miletus, Hellanicus dari Cesbo dan Pherekydes asal Athena.

Walaupun dia gagal untuk menyebutkan para penulis prosa, terkecuali Hecataeus, Herodotus sering mengutip penyair seperti Homer dan Hesiod. Meskipun dia mencela penyair untuk lebih memilih data yang sesuai dan akurat, kita dapat melihat pengaruh puisi pada kedua struktur tulisannya dan pilihannya frase tertentu. Misalnya, pekerjaan Herodotus ditandai dengan ‘komposisi cincin’, dalam buku ke enamnya. Ini juga terlihat jelas dalam buku-buku ke dua dan ke tiga, yang berisi tentang pengumuman niat Cambyses untuk menginvasi Mesir.

The Histories, karya Herodotus yang mengagumkan ini, telah membuncah untuk mencari asal-usul dari masa lalu (dan masih begitu nampak) di hadapan kita. Keinginan historisitasnya tetap tak tertahankan. Mengetahui apa yang ada di sekitar dan di belakangnya, bisa membuat lebih jelas apa yang unik tentangnya; itu bisa, dengan asumsi definisi yang disepakati oleh para sarjana, untuk memberitahu kita, apakah dia benar-benar laik sebagai “Bapak Sejarah”.

Hal ihwal ini terjadi jika kita memiliki sejumlah informasi–yang sangat fragmentaris, memungkinkan hanya jumlah terkecil hipotesis diverifikasi–tentang pendahulunya dan sezamannya. Tapi sebenarnya, jika seseorang ingin tahu apa ada hubungan antara Herodotus dan rekan-rekannya, yang terbaik adalah dengan cara melihat Herodotus  dari teks itu sendiri.

Herodotus sering kali argumentatif dan menghakimi. Dari bagian pertama bukunya, dia sangat menolak pendapat bodoh, bukti yang bertentangan dan berat sebelah, membuat pernyataan tegas tentang metode (kalau bukan karena pesonanya yang akhirnya berpihak pada sang pemenang).

Meskipun Herodotus menggunakan tradisi sastra, namun dia tidak semata-mata terikat kepada tradisi itu. Dia menuliskan karyanya sebagai suatu karya yang indah dan imajinatif, tetapi disampaikan sebagai suatu karya yang lebih pantas daripada sekadar sebuah epik. Herodotus menghormati Dewi Calliope sebagai “Dewi Sastra” Yunani Kuno, tetapi sekaligus tetap mempertahankan Dewi Clio sebagai “Dewi Sejarah”.

Herodotus berusaha memahami apa yang telah terjadi, mengapa hal itu terjadi dan secara eksplisit dia mengenali bahwa untuk memafhumi peristiwa, orang tak perlu melihat kepada mitos-mitos Yunani atau karya-karya Homer.

Lewat kombinasi ketegasan seorang peneliti arkaik yang sunggung-sungguh, skeptisisme dalam proses pengumpulan dan pengujian atas pelbagai bukti yang diperoleh, dan apresiasi puitis, Herodotus membuat suatu terobosan dalam tradisi sejarah yang ada pada era itu. Herodotus membuat semacam “pemberontakan senyap”, namun disadari, atas pemikiran dan puisi mitos dari Homerus yang hegemonis. Saya kira, pantaslah, gelar “Sang Globalis Pertama”, meminjam julukan dari jurnalis cum sejarawan Ryszard Kapuscinski, disematkan padanya.[]

herodotus

Tidak ada artikel lagi