Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Seri Cerita Pendek Historead

Gegara Adam dan Hawa salah mengunyah makanan, kita terbujur di muka bumi ini. Apa tak lebih baik keduanya memetik buah nanas saja, buah rambutan, mengkudu, tin atau zaitun yang pasti banyak bertumbuhan di kebun-kebun surga? Mestinya pula Tuhan yang bijaksana memaklumi mereka untuk mengikutsertakan kursus kepatuhan dan mengajarinya cara menangkis rayuan gombal makhluk lain seperti setan, menganjurkan membaca kitab-kitab yang sering dibaca malaikat lewat wirid-wirid suci, atau kitab-kitab malakut yang ditulis oleh titahan takdir di Sidratul Muntaha supaya kebal terhadap muslihat picik dan tipu daya tetangganya yang dengki dan kurang kerjaan itu: Iblis.

Pikiran Barmawi mulai berkicau seumpama sedang memperbarui status baru di media sosial: Untuk apa Adam dan Hawa makan buah khuldi jika buah yang kata Iblis lezat itu hanya akan membuat Tuhan murka? Sehingga keduanya menerima ganjaran diasingkan ke bumi, lalu anak-anak cucu keduanya harus menjalani hidup yang tak lebih dari menjalani hukuman yang berlangsung lama tak termaafkan selama ribuan abad. Aduhai kapankah semua ini akan berakhir?

Pikiran laki-laki tambun setengah baya itu berdenyut-denyut, “Apakah hukuman bagi Adam dan Hawa tidak keterlaluan bagi pelanggaran yang hanya makan buah khuldi, Gus? Kita berada dalam tekanan hidup yang rumit.”

Sambil sesekali menyeruput kopi, sambil mengocok kartu domino, Barmawi ngomel sendirian, harapannya omangannya ditanggapi oleh Gus Pul.

Baca juga:  Masjid Bambang Di Pertigaan Jalan

Gus Pul, laki-laki seumuran Barmawi yang paling disegani di antara keempat lelaki yang sama-sama sedang bermain domino di gardu dusun karena dia putra Kiai Zainul, seorang kiai sepuh di desa mereka. Bunyi jangkrik mengerik dari persawahan samping gardu. Gus Pul, hanya tersenyum melihat Barmawi yang kacau.

Malah seorang yang tidak terlalu penting bagi Barmawi yang menyahutinya, Ismed, anak muda gagap bicara yang baru saja menikahi adik sepupunya, ia menanggapi Barmawi, “Sudahlah, Barmawi. Hidup ini sudah skenario Tuhan. Sudah takdir.” Katanya tergagap-gagap.

“Iya, kayak kamu ya, Ismed, kawin dengan anak pamannya sendiri, sudah takdir itu namanya. Wakakak…” Gus Pul malah menanggapi Ismed, tergelak. Semua terbahak-bahak.

“Ah, tidak mutu kau ini!” gerutu Barmawi pada Ismed.

Hening sejenak. Dan Ismed hanya garuk-garuk kepala yang rambutnya tak pernah disisir, andai yang bicara bukan Gus Pul, mungkin dia langsung membalas dengan ocehan yang tidak teratur.

Barmawi masih berargumen, “Apakah Tuhan tidak memberikan keringanan? Misalnya, Adam dan Hawa diangkat kembali ke surga lagi dan Tuhan meminta maaf atas hukumannya yang terlalu.”

“Mereka diasingkan ke bumi itu merupakan hukuman yang setimpal bagi Adam dan Hawa yang jelas melakukan pelanggaran.” Ismed masih membalas.

Gus Pul masih mesem saja dan seakan tidak mau ikut campur, barangkali laki-laki yang sudah beranak dua itu menganggap perdebatan yang dilakoni Barmawi hanya bumbu hangat saat bermain kartu domino di gardu malam ini.

Baca juga:  Kisah Tiga Kampung di Lembah Code

“Pelanggaran? Wong, pengedar dan pengonsumsi narkoba saja diberi keringanan untuk menghirup udara bebas lagi setelah dipenjara beberapa tahun.” Barmawi menanggapi.

Subarkah, orang yang dari tadi hanya diam saja, lebih suka mendengar dan menyedot kretek menyan, pun angkat bicara. “Jaga mulutmu! Ini permasalahan teologi, Barmawi.”

“Haha. Bahasamu itu kayak intelektual, teologi. Sehari-hari jadi penarik becak, tahu dari mana bahasa teologi?” Gus Pul rupanya hanya tukang nyeletuk. Semua terbahak.

“Gus, memangnya Tuhan itu dari Indonesia seperti kita yang suka memberi keringanan pada pelanggaran berat? Tidak kan, Gus? Kayak tahanan korupsi kolusi nepotime yang masih bebas berkeliaran piknik ke sana kemari.” Barmawi menolehi Gus Pul. Tapi Gus Pul malah asyik memandangi jejeran domino kartu di tangannya.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesia
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

“Tuhan itu maha pemaaf, masa kita tidak boleh kembali ke surga tanpa hambatan. Kita kan ingin juga jalan-jalan di taman Firdaus, menikmati kolam susu yang bernama Kausar, tanpa harus banyak berapa-apa di muka bumi yang penuh jangkrik ini. Ya, kita ini sialnya bukan main,  Gus. Hidup di desa, pekerjaan ya cuma nunggu panen setahun tiga kali. Nyoblos wakil kita lima tahun sekali dan yang paling tidak saya mengerti mengapa harga pasar, harga toko, harga bensin, tiap waktu naik? Penghasilan kita sejak dulu sampai sekarang tetap saja pas-pasan.” Barmawi masih panjang lebar, mungkin lebih kritis dari sebelumnya.

Baca juga:  Pernik Konflik Jagat Wayang

Subarkah membalas. “Sudahlah, kita ini cuma orang bawah, banyak tidak mengerti persoalan harga-harga pasar, kita cuma orang desa, Barmawi, ya sudah jalani saja aktifitas kita, terima saja aturan pemerintah, itu urusan orang penting di kota. Tapi cerita tentang Adam dan Hawa, itu murni skenario Tuhan sebagai alasan mengapa Gusti Pangeran menciptakan bumi dan isinya.”

“Be..benar itu, mu… murni skenario Tuhan, Ba… Barmawi!” Ismed menambahkan. Kali ini sangat gagap sekali.

“Lho, lho, lho…! Mengapa kalau harga pasar, beras, bensin, tidak tergolong murni skenario Tuhan juga? Mengapa hanya cerita Adam dan Hawa yang takdir dan skenario Tuhan?!” Kali ini mata Barmawi mendelik semuanya. Seketika hening.

Lantas, bersamaan dengan permainan domino yang baru berakhir, Gus Pul terkekeh-kekeh lama sekali, dia berujar, “Kalian ini dari tadi pada ngomong apa? Hidup di dunia ini hanya menunda ngopi di surga…” [] 2015
ngopi di surga - Hidup Hanya Menunda Ngopi di Surga

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi