Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

KAAS (Keju) adalah roman klasik pendek dari penulis Belgia, Willem Elsschot. Walau kisahnya sederhana, namun buku ini termasuk salah satu roman yang mendunia. Sejak diterbitkan pada 1933, roman ini telah berpuluh-puluh kali dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Pada 2008, Kaas kembali mencuri perhatian pecinta buku setelah Dick Matena, seorang ilustrator Belanda, membuat 119 ilustrasi berdasarkan buku ini dan membuatnya menjadi sebuah roman bergambar, atau kini dikenal dengan istilah novel grafis.

Lantas, apa sih istimewanya novel ini? Kaas menceritakan penggalan kehidupan Frans Laarmans, seorang kerani (pegawai administrasi) General Marine and Shipbuliding Company di Antwerpen. Frans adalah seorang pegawai berusia 50 tahun yang setia terhadap pekerjaannya. Selama 30 tahun, dia menjalani rutinitasnya sebagai pegawai rendahan yang cakap dan tekun terutama di bidang korespondensi dan pembukuan. Kehidupannya bersama istri dan kedua anaknya pun biasa-biasa saja dan ia pun sepertinya menikmati kehidupan rutinitasnya itu.

Keinginannya untuk merubah nasib baru muncul pasca dia mengenal Mijnheer Van Schoonbeke, orang kaya dan terpandang di Antwerp. Awalnya Schoonbeke mengajaknya secara rutin untuk menghadiri pertemuan rutin dengan teman-temannya dari kalangan elite.
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Revolusi Secangkir Kopi
Biola Berdawai
Bencana Alam Perdana
Budak, Perempuan, Non-Muslim
Buku, Manuskrip, Unta
Al Razi
[/su_box] Awalnya ia merasa minder dengan lingkungan barunya itu. Dia berusaha menutupi statusnya sebagai pegawai rendahan. Untunglah tak lama kemudian datang tawaran dari kawan Schoonbeke dari perusahaan Honstra asal Amsterdam untuk menjadi pedagang keju.

Tawaran tersebut disambutnya dengan antusias. Namun Frans cukup berhati-hati untuk memulainya. Ia tak mau cepat-cepat melepaskan pekerjaannya, sehingga saat hendak memulai usahanya ini dia mengajukan cuti dari pekerjaannya. Dengan alasan sakit syaraf, Frans memperoleh izin cuti selama tiga bulan dari tempatnya bekerja.

Awalnya ia bersemangat sekali dengan profesinya yang baru ini. Ia yakin bahwa dirinya akan menjadi pengusaha keju yang sukses. Apalagi keju adalah salahsatu bahan makanan yang disuka semua orang, tua muda, besar kecil di kalangan orang Belanda.

Namun ternyata berjualan keju tak semudah yang ia bayangkan. Apalagi dia sama sekali tak memiliki pengalaman untuk menjadi seorang wirausaha. 10.000 ton keju yang dipercayakan padanya tak juga laku-laku. Ia mulai khawatir dan gelisah.

Kegelisahannya semakin memuncak ketika dia mendapat kabar bahwa bos kejunya Mijnheer Hornsta akan datang untuk mengetahui perkembangan penjualannya. Frans menjadi panik, ia ketakutan setengah mati dan mencoba untuk bersembunyi ketika bos kejunya datang untuk menemuinya.

Baca juga:  Friksi Urang Banjar

Walau kisahnya sederhana dan tak ada konflik yang berbelit-belit ini, namun di tangan Willem Elschoot, konflik yang diangkat dari peristiwa nan sederhana menjadi menarik, di mana drama kehidupan akan tersaji secara lucu, sinis, sekaligus getir. Di sini, Elschhot mengeksplorasi karakter Frans Leehman dengan apik sehingga pembaca bisa ikut merasakan pergolakan emosi yang dialami oleh sang penjual keju.

Elschoot tampak pandai membangun karakter Frans secara sabar, mendetail namun tidak terkesan bertele-tele. Semua disajikan secara wajar dan tidak berlebihan. Pembaca diajak merasakan naik turunnya emosi Frans seiring dengan perkembangan usahanya.

Ada kalanya pembaca dibuat optimis dengan sikap hidup Frans, namun pembaca juga dibuat gemas ketika bagaimana Frans terlalu memusingkan hal-hal kecil, seperti mencari nama perusahaan, mempermasalahkan kop surat, mebel untuk kantor barunya, dan lain-lain.

Tak hanya pergulatan batin Frans yang diketengahkan Elschoot dalam karyanya ini, namun situasi sosial masyarakat Eropa di tahun 30-an lengkap dengan intrik-intrik di dunia perdagangan juga akan terungkap di novel pendek ini.

Melalui kisah Frans Leehman, kita diajak mendalami perjuangan seorang tokoh sederhana untuk merubah nasibnya. Novel ini memang berakhir dengan getir, namun bukan berarti membuat pembacanya pesimis. Inilah realitas yang mungkin saja bisa terjadi pada siapapun.[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″]

Baca juga:  Sufi di Warung Kopi
Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box]

Dalam mencoba sesuatu yang baru guna meraih kehidupan yang lebih baik, kesuksesan maupun kegagalan memiliki peluang yang sama. Elschoot memilih memaparkan sisi kegagalan dari kisah yang dibangunnya ini, sehingga pembaca bisa belajar dari kegagalan si penjual keju ini.

Willem Elsschot merupakan nama samaran Alfons Jozef de Ridder (1882-1960). Pria kelahiran Antwerpen, Belgia ini sempat melakukan pelbagai pekerjaan sebelum akhirnya mendirikan biro iklan sambil menulis.

Pengalaman hidupnya yang berganti-ganti pekerjaan dan menjalani bisnis biro iklannya ini, rupanya menjadi inspirasi karya-karyanya yang banyak mengambil tema bisnis dan kehidupan keluarga. Gaya menulisnya memiliki ciri deskripsi yang mendetail dan sedikit sinisme.

Karya-karyanya yang paling terkenal adalah Lijmen (1924), Kaas (1933), Tjisp (1934), dan Het Been (1938). Willem Elscschot meninggal di Antwerpen, Belgia pada 1960. Pasca kematiannya, ia dianugerahi penghargaan sastra nasional Belgia.[]

hikayatkeju - Hikayat Keju

Hikayat Keju

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi