Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Tentang olah raga dan nasionalisme

Sebagai olah raga modern sepak bola datang ke Nusantara di akhir abad ke-19. Klub-klub sepak bola pertama di Indonesia (yang waktu itu masih Hindia Belanda) bermunculan secara spontan dan independen. Baru pada 1919 terbentuk Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB), yang mengatur dan menaungi klub-klub itu. Dalam waktu singkat sepak bola sudah tersebar menjadi olahraga rakyat. Kaum bumiputera dan Tionghoa juga ikut meramaikan tumbuhnya sepak bola. Sayangnya keberadaan klub-klub bumiputera dan Tionghoa ini dianaktirikan oleh NIVB, atau bahkan dipandang sebelah mata. Hal ihwal itu tentu mengecewakan persepakbolaan bumiputera dan Tionghoa. Kedua kalangan bola ini lalu berusaha untuk mendirikan lembaga bola yang mandiri dan independen terhadap NIVB.

Upaya untuk berdiri sendiri itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 1927 pemimpin-pemimpin bond kesebelasan Tionghoa berkumpul dan mendirikan Commite Kampionwedstrijden Tiong Hoa (CKTH). Tiga tahun kemudian, 1930, CKTH diubah menjadi Hwa Nan Voetbal Bond. Saat itulah orang-orang Tionghoa merasa mempunyai badan yang mampu mengatur dan melancarkan pertandingan antarklub mereka. Hwa Nan Voetbal Bond juga merupakan cermin bagi identitas persepakbolaan mereka.

Seperti kalangan Tionghoa, kalangan bumiputera pun bertekad mempunyai wadah organisasi sendiri. Keinginan itu terwujud: pada 19 April 1930, lahirlah PSSI. Organisasi-organisasi sepak bola nasional semuanya dibubarkan, dan semuanya melebur dalam PSSI. Tujuan didirikannya PSSI adalah untuk mengimbangi monopoli NIVB, yang de facto tak bisa mengakomodasikan kepentingan dan eksistensi sepak bola bumiputera. Perlu diketahui, keanggotaan PSSI lain dengan NIVB maupun Hwa Nan Voetbal Bond. NIVB dan Hwa Nan beranggotakan bond-bond sepak bola di kota besar, sedangkan anggota PSSI adalah perserikatan di setiap kotamadya, yang sekurang-kurangnya mempunyai lima perkumpulan sepak bola.

Baca juga:  Friedman Menjawab Pertanyaan Seorang Kawan

Betapa pergulatan sepak bola pribumi di masa awal sangat terkait erat dengan semangat nasionalisme. Dunia sepak bola ternyata dipengaruhi oleh semangat Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Pemain-pemain sepak bola yang tergabung dalam Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, dan sebagainya benar-benar tertular oleh tekad untuk mengangkat harkat bangsa, seperti yang dicanangkan Sumpah Pemuda. Perlawanan sepak bola bumiputera terhadap monopoli sepak bola kolonial lewat NIVB-nya, kiranya juga merupakan wujud nyata dari tekad itu. Pemimpin-pemimpin pergerakan nasional ternyata terlibat dalam perjuangan nasionalisme lewat bola. Pada kejuaraan PSSI ke-II di lapangan Laan Trivelli, Bung Karno yang baru keluar dari penjara Sukamiskin, mendapat kehormatan untuk melakukan tendangan pertama pada pertandingan final antara VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacatra) melawan PSIM.

Pada kejuaraan itu juga diadakan kongres yang menghasilkan keputusan penting bagi PSSI, yakni menggunakan bahasa Indonesia dalam pertemuan maupun pelaksanaan pertandingan. Sementara itu organisasi sepak bola bumiputera pun mulai berganti nama Indonesia. Karena tekad kebangsaan itu, PSSI mampu menggalang harga diri, dan mewujudkannya dalam prestasi pertandingan dan permainannya. NIVB yang pada 1936 berubah nama menjadi NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie) tak dapat lagi memandang PSSI dengan sebelah mata.

***

Sebuah titik sejarah yang membanggakan dan tercatat bagi PSSI adalah sebuah hasil pertandingan PSSI pada 7 Agustus 1937. Saat itu, tim terbentuk secara mendadak dan tak terduga. Pemain dikumpulkan dari Solo, Yogyakarta, dan Cirebon, antara lain: Maladi, Jazid, Djawad, Moestaram, Sardjan, dan kawan-kawannya. Di luar dugaan, mereka berhasil menahan seri kesebelasan Nan Hwa dari Tiongkok di Gelanggang Union, Semarang. Padahal dalam kesebelasan lawan itu, bermain Lee Wai Tong, raja bola dari Asia. Hasil seri itu sungguh luar biasa! Karena sebelumnya, Nan Hwa berhasil membekuk kesebelasan Belanda, 4-0. Lee Wai Tong sendiri memuji dengan tulus kehebatan PSSI. Mungkin itulah sebuah titik sejarah, yang kemudiaan sulit terulang dalam hidup PSSI.

Baca juga:  Metamorfosa Nasionalisme

Patut dicatat hal menarik lainnya, yakni ihwal kehidupan klub sepak bola Tionghoa. Tahun 1912 misalnya, sudah berdiri klub Tionghoa yang kuat dan besar, yakni Tjie Ying Hwee (Donar), Asiatik, Eeeviol (Peng Ho Sia), dan Tiong Un Tong. Di Semarang ada klub Ik You Sia dan Union. Lalu di Tulung Agung, ada Tjoe Tie Hwa, di Solo, Solosche Voetbal Club, dan di Surabaya ada klub Tionghoa.

Tak mengherankan, bila suburnya klub-klub Tionghoa ini, juga melahirkan pemain-pemain bola Tionghoa yang hebat dan disegani, seperti Lie Teng Goan, Matjoen Ho, Tjan A. Tian, Soe Hok, Djoe Hin, Nio A. Bun, Tjoe Po Seng, Liaw Tek Fuk, Lauw Ban Lip, Liauw Kie Fung, Liaw Soci Seng, Lim Djun Ho, Lim Djoe Soey, dan lain-lainnya. Suburnya klub-klub Tionghoa melahirkan tidak hanya pemain “nonpri” yang handal, seperti Kwee Tjoen Liat, Lie Koo Tjong, Lo Liep Poen, dan lain-lainnya. Mereka inilah yang berjuang untuk menyaingi NIVB, dan melahirkan Hwa Nan Voetbal Bond (Sindhunata, 2003). Dengan data di atas, kita boleh bertanya, mengapa sekarang hampir tidak ada orang-orang Tionghoa yang ikut serta dalam persepakbolaan nasional, khususnya sebagai pemain? Jangan-jangan politik telah memojokkan warga Tionghoa di Indonesia melulu sebagai “pelaku ekonomis” belaka.

Baca juga:  Soccer War

***

Ada lagi peristiwa kecil nan unik dalam sejarah sepak bola bangsa kita, yakni perasaan segan dan malu yang masuk dalam dunia bola. Menurut Sejarawati Srie Agustina Palupi, menjebol gawang lawan lewat penalti atau gol dua belas pas adalah sesuatu yang tidak patut dilakukan dan sangat memalukan. Karena perasaan itu, beberapa algojo penalti sengaja membuang tembakannya atau sengaja pelan-pelan menembak ke arah penjaga gawang (Palupi, 2004). Fakta kecil ihwal keengganan memanfaatkan penalti di atas kiranya bisa bercerita, betapa dahulu sepak bola kita penuh dengan fairness dan sportivitas. Coba bandingkan saja hal ihwal itu dengan keadaan sepak bola Indonesia sekarang?

Sudah lama kita menanti, suatu saat sepak bola Indonesia akan berprestasi luar biasa. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa, sejak kelahirannya di akhir abad ke-19, sepak bola kita sudah berumur lebih dari seratus tahun. Aneh bila dalam usia setua ini, kita belum berprestasi apa-apa. Sungguh ironis![]

sepakbola - Hikayat Sepak Bola Indonesia yang Terabai

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi