Hikayat urang Banjar di Surakarta

Di sisi kanan, adalah Ma Zainab, seorang Banjar Asli yang dibawa merantau ketika kecil. Sedangkan disebelahnya, seorang Banjar Keturunan yang sudah lahir di tanah Jawa, namanya Ma Saroni.Seorang warga membawa Bubur Samin untuk di bawa pulang ke rumah. Setiap hari, 40-50 Kg beras dimasak dan menghasilakan sekitar 900 porsi Bubur Samin setiap harinya. 700 porsi dibagikan kepada warga untuk dibawa pulang, dan sisanya dihidangkan sebagai menu berbuka di Masjid Darussalam.Ma Tiyah (Banjar Keturunan) berdiri di rumah bubuhan. Rumah ini berukuran besar dan memiliki Banyak kamar. Usia bangunan sudah seratus tahun lebih. Di rumah ini urang Banjar generasi pertama tinggal.Salah satu sudut Gang Kampung Jayengan Kidul. Di tempat ini banyak rumah urang Banjar yang dijual dan kemudian berubah bentuk.Ma Qomariyah adalah salah seorang Banjar Keturunan yang masih menetap di Kampung Jayengan.bah Tholib bersama keluarga di luar Kampung Jayengan. Para jamaah Masjid Darussalam bersantai selepas sholat Taraweh. Masjid merupakan salah satu ruang yang mempertemuakan antara urang Banjar dan orang Jawa.Wedangan merupakan tempat lain urang Banjar berkumpul. Sambil bersantai mereka bisanya bercerita tentang aktivitas keseharian.Ma Sarah bersama Ibunya ,Suwiyah, sedang pulang dari pasar. Dalam Keluarga Ma Sarah, Ayahnya adalah seorang Banjar Keturunan yang menikah dengan seorang perempuan Jawa. Sedangkan dirinya sendiri bersuamikan pula seorang Jawa, begitu pula dengan anak perempuannya yang menikah dengan seorang lelaki Jawa. Warga mengantri Bubur Samin untuk dibawa pulang. Bubur ini tidak hanya di masak oleh urang Banjar Keturunan, tetapi juga orang Jawa. Salah satu juru masak Bubur Samin adalah Subadi, suami Ma Sarah. Tidak hanya urang Banjar yang mempelajari Jawa, tetapi orang Jawa juga mempelajari tentang Banjar.Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh Jawa terhadap urang Banjar tidak hanya muncul pada bahasa Jawa sebagai media berkomunikasi. Mereka juga memadukan unsur Banjar dan Jawa dalam sebuah ruang pertemuan baru, semisal sepiring Bubur Samin dengan kuah sambal goreng krecek. Disinilah Banjar dan Jawa bertemu dalam menu berbuka puasa.Para remaja menyajikan kopi susu untuk para Jamaah Masjid Darussalam. Mereka tidak hanya berasal dari anak Banjar keturunan, tetapi juga anak-anak Jawa. Awalnya saya bertemu mereka untuk bertanya rumah-rumah urang Banjar di Jayengan Tengah. Selepas melihat-lihat perumahan dari gang Jayengan Tengah, saya kembali menemui mereka, dan bertanya apakah diantara mereka ada urang Banjar. Tanpa saya sangka, ternyata semuanya adalah urang Banjar Keturunan.Perempuan-perempuan ini adalah urang Banjar keturunan. Mereka berdandan karena jalan-jalan ke pusat perbelanjaan menjelang lebaran. Semenjak harga berlian hancur, sebagian urang Banjar bertahan dengan menjadi pedagang kamasan maupun beralih profesi ke pekerjaan lain. Berlayar adalah perjuangan dan kehidupan harus terus terus berjalan.Makam Pajang adalah salah satu lokasi tempat urang Banjar berkubur. Ketika ada yang meninggal dunia, jasad tidak di kembalikan ke Banua Banjar tetapi dimakamkan di Surakarta. Jasad mereka telah menyatu dengan tanah Jawa.Jayengan Kampung Permata, Hikayat urang Banjar di Surakarta.
Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan etnografi

Semenjak kedatangan urang Banjar ke Surakarta,  maka kampung Jayengan yang berada di pusat kota kemudian terkenal sebagai kampungnya urang Banjar. Di pemukiman ini mereka mendirikan sebuah langgar pada tahun 1910 sebagai tempat berkumpul. Kelak, langgar itu direnovasi  menjadi Masjid Darussalam pada tahun 1965. Setiap Ramadhan tiba, masjid Darussalam menyajikan ratusan porsi hidangan Bubur Samin sebagai menu berbuka puasa. Penduduk setempat, warga dari kampung tetangga, maupun orang-orang dari luar kota berdatangan untuk mencicipi masakan khas Banua Banjar (Kalimantan Selatan). Sudah puluhan tahun tradisi ini berlangsung, dan selama itu pula aroma Banjar selalu tercium di Surakarta.

0 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Di sisi kanan, adalah Ma Zainab, seorang Banjar Asli yang dibawa merantau ketika kecil. Sedangkan disebelahnya, seorang Banjar Keturunan yang sudah lahir di tanah Jawa, namanya Ma Saroni.

Pada satu hari penuh menjelang akhir Ramadhan, saya berkunjung ke kampung Jayengan untuk  merasakan nosatalgia kampung halaman dari sepiring bubur samin, sekaligus berkenalan dengan urang Banjar yang sudah menetap di Surakarta.  Dalam beberapa obrolan, dikisahkan tentang perjalanan para pedagang permata yang berlayar dari Martapura menuju Surakarta sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 untuk mendapatkan harga pasar yang baik. Bersama keluarga, mereka meninggalkan Banua Banjar lalu menetap di Kampung Jayengan. Di rumah-rumah bubuhan urang Banjar tinggal dan hidup bertetangga dengan orang lokal (Jawa).

1 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Seorang warga membawa Bubur Samin untuk di bawa pulang ke rumah. Setiap hari, 40-50 Kg beras dimasak dan menghasilakan sekitar 900 porsi Bubur Samin setiap harinya. 700 porsi dibagikan kepada warga untuk dibawa pulang, dan sisanya dihidangkan sebagai menu berbuka di Masjid Darussalam.

Hari berganti hari, anggota keluarga batih bertambah dengan lahirnya anak-anak Banjar di tanah Jawa. Dengan adanya generasi ini, lantas timbul istilah Banjar Asli sebagai isyarat urang Banjar yang lahir di Banua Banjar, dan Banjar Keturunan untuk generasi yang sudah lahir di Jawa.

2 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Ma Tiyah (Banjar Keturunan) berdiri di rumah bubuhan. Rumah ini berukuran besar dan memiliki Banyak kamar. Usia bangunan sudah seratus tahun lebih. Di rumah ini urang Banjar generasi pertama tinggal.

3 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Salah satu sudut Gang Kampung Jayengan Kidul. Di tempat ini banyak rumah urang Banjar yang dijual dan kemudian berubah bentuk.

Semakin bertambahnya anggota keluarga, rumah bubuhan tidak muat lagi menampung. Akhirnya banyak urang Banjar yang berpisah dari rumah keluarga inti dan berpindah ke berbagai kampung di Surakarta bersama keluarga baru mereka. Lambat laun, ketika generasi pertama meninggal dunia dan pembagian warisan dilakukan, lantas banyak rumah-rumah bubuhan kemudian dijual kepada orang selain Banjar. Namun generasi yang menetap di Jayengan masih ada yang bertahan.

4 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Ma Qomariyah adalah salah seorang Banjar Keturunan yang masih menetap di Kampung Jayengan.

5 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Abah Tholib bersama keluarga di luar Kampung Jayengan.

Sejak pertama kali datang ke Surakarta, urang Banjar yang menetap sudah melakukan interaksi dengan orang Jawa. Pertemuan demi pertemuan berlangsung, relasi yang terbangun tidak hanya faktor ekonomi tetapi juga kebutuhan hidup bermasyarakat dan beragama. Kebiasaan urang Banjar bersantai dengan ngobrol-ngobrol di masjid maupun warung adalah salah satu strategesi adaptasi mereka. Kontak sosial yang mereka lakukan menghasilakan pertukaran-pertukaran nilai. Urang Banjar kemudian mempelajari kebudayaan Jawa, dan akhirnya katut serta mengalami proses njawani.

6 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Para jamaah Masjid Darussalam bersantai selepas sholat Taraweh. Masjid merupakan salah satu ruang yang mempertemuakan antara urang Banjar dan orang Jawa.

Puncak-puncak pertemuan lantas berujung pula dengan berlangsungnya pernikahan eksogami antara pasangan Banjar dan Jawa. Dengan hadirnya orang Jawa dalam komunitas urang Banjar, menandakan bahwa anggota keluarga juga ikut berubah. Keluarga Banjar tidak lagi murni, melainkan sudah bercampur dengan Jawa. Begitu juga dengan anak-anak yang kemudian lahir tentu saja memiliki darah orang Jawa.

Baca juga:  Besok Kita Harus Pindah

Kadangkala anak Banjar percampuran Jawa ini mereka sebut dengan istilah Jarwo, atau anak pasangan Banjar-Jowo. Namun tidak jarang, Banjar Keturunan yang sudah dewasa di Jawa juga mereka sebut dengan istilah yang sama karena sehari-hari sudah berlaku seperti orang Jawa. Sedangkan urang Banjar Asli, kentalnya Banjar masih nampak namun proses njawani juga dialami oleh mereka.

8 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

3. Ma Sarah bersama Ibunya ,Suwiyah, sedang pulang dari pasar. Dalam Keluarga Ma Sarah, Ayahnya adalah seorang Banjar Keturunan yang menikah dengan seorang perempuan Jawa. Sedangkan dirinya sendiri bersuamikan pula seorang Jawa, begitu pula dengan anak perempuannya yang menikah dengan seorang lelaki Jawa.

9 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Warga mengantri Bubur Samin untuk dibawa pulang. Bubur ini tidak hanya di masak oleh urang Banjar Keturunan, tetapi juga orang Jawa. Salah satu juru masak Bubur Samin adalah Subadi, suami Ma Sarah. Tidak hanya urang Banjar yang mempelajari Jawa, tetapi orang Jawa juga mempelajari tentang Banjar.

10 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh Jawa terhadap urang Banjar tidak hanya muncul pada bahasa Jawa sebagai media berkomunikasi. Mereka juga memadukan unsur Banjar dan Jawa dalam sebuah ruang pertemuan baru, semisal sepiring Bubur Samin dengan kuah sambal goreng krecek. Disinilah Banjar dan Jawa bertemu dalam menu berbuka puasa.

Walaupun hidup dalam lingkungan Jawa, perihal kebanjaran masih dikenalkan pada generasi berikutnya. Masjid Darussalam adalah salah satu ruang dimana anak-anak keturunan Banjar banyak belajar tentang kebanjaran. Melalui kisah-kisah pengetahuan tentang Banjar diberikan. Sering kali penuturnya adalah urang Banjar Keturunan yang pernah pulang ke Banua Banjar sekali atau dua kali, bahkan tidak pernah sama sekali. Ketika sipenutur bercerita, terkadang muncul ungkapan “ujar urang bahari” sebagai isyarat bahwa yang ia sampaikan tidak lebih dari sebuah pengetahuan, bukan lagi pengalaman. Oleh karenanya, tidak bisa dipungkiri, setiap urang Banjar di Surakarta memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang kebanjaran itu sendiri.

11 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Para remaja menyajikan kopi susu untuk para Jamaah Masjid Darussalam. Mereka tidak hanya berasal dari anak Banjar keturunan, tetapi juga anak-anak Jawa.

Selama berada di Jayengan, ada yang mengatakan kepada saya bahwa urang Banjar sudah mirip dengan orang Jawa. Jika diamati secara fisik, memang tidak ada ciri mencolok yang membedakan keduanya, begitu pula kehidupan sehari-hari mereka yang sudah njawani. Jika identitas suatu kelompok diidentifikasi melalui bahasa, sering kali saya memperhatikan sesama urang Banjar berbicara menggunakan bahasa Jawa. Adapun ketika berkenalan, ada pula orang yang senang mengenalkan diri sebagai “Jarwo”, isyarat bahwa diri mereka tidak murni lagi Banjar melainkan sudah mengalami pencampuran antra Banjar dan Jawa.

Baca juga:  Bangun dari Tidur Panjang

Namun disisi lain, saya justru merasakan bahwa rasa kepemilikan terhadap Banjar itu tidak pernah hilang dalam diri mereka. Semisal ketika bertemu, mereka yang memiliki pengalaman dan pengetahuan banyak tentang banjar akan berbicara menggunakan bahasa Banjar kepada saya. Ada pula yang bertanya daerah asal saya, ataupun menceritakan asal usul leluhur mereka dari Banua Banjar. Hadirnya Bubur Samin setiap Ramadhan adalah bentuk lain cara mereka mengekspresiakn kebanjaran itu sendiri. Dari sini lah nampak bahwa identitas itu sendiri bersifat dinamis. Kadang kebanjaran muncul, kadang menghilang dan berganti Jawa.

12 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Awalnya saya bertemu mereka untuk bertanya rumah-rumah urang Banjar di Jayengan Tengah. Selepas melihat-lihat perumahan dari gang Jayengan Tengah, saya kembali menemui mereka, dan bertanya apakah diantara mereka ada urang Banjar. Tanpa saya sangka, ternyata semuanya adalah urang Banjar Keturunan.

13 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Perempuan-perempuan ini adalah urang Banjar keturunan. Mereka berdandan karena jalan-jalan ke pusat perbelanjaan menjelang lebaran.

Itulah sedikit kisah tentang urang Banjar di Surakarta. Mereka berlayar dengan apresiasi ingin menetap, dan tidak untuk kembali. Kehidupan mereka membaur dan menyatu dengan orang Jawa. Di Kampung Jayengan, aroma Banjar masih tercium, dan Masjid Darussalam menjadi titik pusat pertemuan mereka di Surakarta. Namun bagaimanapun juga, urang Banjar di Surakarta telah hidup dalam ruang percampuran antara Banjar dan Jawa.

14 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Semenjak harga berlian hancur, sebagian urang Banjar bertahan dengan menjadi pedagang kamasan maupun beralih profesi ke pekerjaan lain. Berlayar adalah perjuangan dan kehidupan harus terus terus berjalan.

15 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Makam Pajang adalah salah satu lokasi tempat urang Banjar berkubur. Ketika ada yang meninggal dunia, jasad tidak di kembalikan ke Banua Banjar tetapi dimakamkan di Surakarta. Jasad mereka telah menyatu dengan tanah Jawa.

16 - Hikayat urang Banjar di Surakarta

Jayengan Kampung Permata, Hikayat urang Banjar di Surakarta.

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi