Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Internet merupakan satu dari segelintir hal ihwal yang dibangun manusia, tetapi tidak benar-benar kita pahami. Yang awalnya alat transmisi informasi elektronik–deretan komputer seukuran ruangan–menjelma jadi saluran energi dan ekspresi manusia tiada batas yang ada di mana-mana dan menyentuh banyak sisi. Tak berwujud dan sekaligus terus-menerus bermutasi. Internet berkembang semakin besar dan kompleks tiap detik. Inilah sumber kebaikan yang luar biasa sekaligus benih kejahatan mengerikan, dan kita baru menyaksikan dampak mula-mulanya di panggung dunia.  Hiperrealitas Virtual

Teknologi komunikasi ini berkembang biak dengan kecepatan yang mengagumkan. Dalam satu dasawarsa pertama abad 21, jumlah orang yang terhubung ke internet di seantero jagat, melesat dari tigaratus limapuluh juta ke dua miliar lebih. Pada tempo yang sama, jumlah pelanggan telepon seluler melambung dari tujuhratus limapuluh juta hingga lima miliar (kini enam miliar lebih). Pemanfaatan pelbagai teknologi ini merata sampai ke jangkauan terjauh planet ini dan, di sejumlah belahan dunia, laju pemerataannya makin cepat.

Jelas, derap langkap globalisasi akan terus melaju dan bahkan dipercepat kala konektivitas meluas. Namun jika anda mungkin terkejut bila tahu sekecil apa pun kemajuan teknologi itu, ketika dipadu dengan koneksi dan hubungan saling tergantung antarnegara yang meningkat, dapat berimbas pada dunia anda.

Terjemahan instan, interaksi realitas-virtual, dan penyuntingan bersama pada waktu nyata, contoh paling mudah adalah Wikipedia–akan membentuk ulang cara perusahaan dan lembaga (termasuk perguruan tinggi) berinteraksi dengan rekan, klien dan karyawan di tempat lain. Perbedaan tertentu seperti nuansa budaya dan zona waktu mungkin tak akan teratasi seluruhnya. Namun, mampu berkomunikasi dengan orang di lokasi berbeda, dengan pemahaman hampir utuh dan platform bersama, akan membuat interaksi itu terasa hangat dan dekat.

Baca juga:  Seluler
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Arwah Chico Mendes di Kanvas Umar Sidik
Selamat datang di Historead Indonesiabr
Badingsanak
Bangun dari Tidur Panjang
Bertarung dalam Jagat Kesenian Indonesia
[/su_box] Sokoguru terpenting di balik inovasi dan peluang, yakni pendidikan, akan menyaksikan perubahan positif yang luar biasa dalam puluhan tahun mendatang. Konektivitas yang terus meluas akan membentuk ulang rutinitas lama dan menawarkan jalur pembelajaran yang baru. Kebanyakan pelajar akan sangat melek teknologi, ketika sekolah-sekolah terus mengintegrasikan teknologi ke dalam rencana ajar dan, dalam beberapa kasus, menggantikan pelajaran gaya lama dengan lokakarya yang lebih interaktif.

Pendidikan akan menjadi pengalaman yang lebih luwes, menyesuaikan diri dengan gaya dan kecepatan belajar setiap anak ketimbang sebaliknya. Anak-anak masih pergi ke sekolah secara fisik untuk bergaul dan diajar guru, namun akan makin banyak pembelajaran yang berlangsung dengan alat-alat edukasi yang dirancang saksama seperti ribuan video pendek (mayoritas sains dan matematika), dan membagikannya di dunia maya secara cuma-cuma.

Bahkan ada yang mengubah ruang kelas mereka, menggantikan kuliah tatap muka dengan video yang ditonton di rumah (sebagai pekerjaan rumah), dan menggunakan waktu sekolah untuk pekerjaan rumah gaya lama, misalnya mengerjakan soal matematika. Kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan masalah menjadi fokus dalam banyak sistem pendidikan di sekolah, karena alat-alat pengetahuan digital yang ada di mana-mana, seperti Wikipedia yang praktis, mengurangi pentingnya menghafal materi pelajaran.

Bagi anak-anak di negara miskin, konektivitas masa depan menjanjikan akses yang baru pada alat-alat edukasi, meski jelas bukan pada level yang dijelaskan di atas. Fisik ruang kelas akan tetap bobrok; guru-guru dan dosen-dosen akan tetap makan gaji buta dan tidak muncul untuk mengajar; serta buku dan alat peraga masih tetap barang langka. Namun hal yang baru–konektivitas–menjanjikan bahwa pelajar yang mengakses perangkat seluler dan internet akan mampu mengecap sekolah fisik dan virtual, meskipun tidak formal dan waktunya bebas mereka tentukan.

Baca juga:  Dari Kartun Anak-Anak

Di tempat-tempat yang kebutuhan dasarnya kurang terpenuhi dengan baik oleh pemerintah (seperti Indonesia, misalnya), atau di wilayah-wilayah yang tidak aman, teknologi digital standar seperti ponsel adalah pilihan aman dan murah bagi keluarga yang ingin mendidik anak. Seorang anak yang tak bisa ke sekolah karena terkendala jarak, keamanan, atau biaya, tetap bisa belajar selama dia dapat mengakses ponsel. Bahkan bagi anak-anak yang tidak punya akses ke paket internet atau jejaring seluler, layanan seluler dasar seperti SMS dan tanggapan suara interaktif (sejenis teknologi pengenal suara) dapat menjadi saluran edukasi. Mengisi tablet dan ponsel dengan aplikasi edukasi dan konten hiburan bermutu, sebelum dijual akan memastikan kaum “miskin bandwidth” yang konektivitasnya kurang lancar tetap diuntungkan. Dan bagi anak-anak yang ruang kelasnya terlalu ramai atau kekurangan pengajar–atau kurikulum nasionalnya terlalu sempit–konektivitas via perangkat seluler akan menambah asupan edukasi dan menolong mereka memaksimalkan potensi diri, dari mana pun mereka berasal.

Kemajuan konektivitas akan berdampak jauh melebihi level pribadi. Bagaimana dunia fisik dan maya hidup berdampingan, berbenturan dan saling mengimbangi akan sangat mempengaruhi sikap pemerintah dn rakyatnya dalam puluhan tahun mendatang. Dan tidak semuanya membawa berita baik. Kita semua akan menangani realitas baru yang hadir di dua dunia itu, serta memanfaatkan tawaran terbaik dan terburuk di dalamnya pada era baru digital. Setiap individu, negara dan organisasi harus menemukan rumusannya sendiri, dan yang paling jago mengarungi dunia multidimensional ini, akan menjadi yang terdepan pada masa depan.

Baca juga:  Hidup Hanya Menunda Ngopi di Surga
[su_box title=”Baca juga :” style=”default” box_color=”#F73F43″ title_color=”#FFFFFF” radius=”0″] Abu al Zahrawi
Timurlenk
Halal dan Haram
Sang Pemula
Catatan Kaki dari Amuntai
[/su_box]

Jadi, apa yang seyogyanya kita nalarkan ihwal dunia masa depan?

Menurut Eric Schmidt & Jared Cohen dalam The New Digital Age:  Reshaping the Future of People, Nations and Business (2013), sedikitnya ada tiga hal yang perlu kita mafhumi bersama tentang tantangan di depan mata ini. Pertama, jelaslah bahwa teknologi saja bukan obat mujarab bagi penyakit-penyakit dunia, tapi menggunakan teknologi dengan cerdas dapat mengubah dunia. Pada masa depan, komputer dan manusia akan makin sering berbagi tugas menurut kelebihan masing-masing.

Kedua, dunia maya tak akan mendahului atau menjungkirbalikkan tatanan dunia yang ada, namun akan memperumit hampir semua perilaku. Ketiga, negara perlu menerapkan dua kebijakan luar negeri dan dua kebijakan dalam negeri–satu untuk dunia maya dan satu untuk dunia nyata–dan kebijakan-kebijakan itu mungkin nampak bertentangan.

Akhirnya, peradaban virtual dan fisik akan saling memengaruhi dan membentuk; keseimbangan di antara keduanya akan menentukan dunia kita. Hasil multidimensinya, walau tidak sempurna, akan lebih egaliter, transparan dan menarik daripada yang kita bayangkan. []

Tidak ada artikel lagi