Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Catatan tentang perempuan pejuang gerakan

Dua tahun sebelum Raden Ajeng Kartini dilahirkan, di sudut Jenewa sana lahirlah seorang perempuan bernama Isabelle Eberhardt. Bapaknya seorang Rusia Muslim (menurut catatan lain adalah Atheis) sedangkan Ibunya penganut agama Kristen yang taat. Kelak, Isabelle Eberhardt dikenal sebagai penulis muslim yang senang berkelana.

Isabelle dibesarkan di bawah asuhan Pamannya, seseorang yang berpengetahuan luas. Di masa kecil, Isabelle cenderung menyukai belajar bahasa-bahasa. Di usia 15 tahun ia sudah lancar berbahasa Rusia, Perancis, Jerman, dan Arab.

Oleh sang Paman, Isabelle kecil juga diajari menunggang kuda. Keahliannya dalam menunggang kuda sungguh bermanfaat bagi Isabelle manakala ia melakukan perjalanannya yang pertama dari Swiss menuju Aljazair. Tak lama tinggal di Annaba, salah satu kota besar di Aljazair—tahun 1892 populasi penduduknya 102.800 jiwa—, ia kemudian kembali lagi ke Swiss, untuk kemudian kembali lagi pindah dan menetap di Afrika Utara.

Adapun kabar Kartini, pada 12 November 1903 ia menikah dengan lelaki pilihan orangtuanya, seorang Bupati Rembang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Satu tahun sebelum Kartini menikah, Isabelle melakukan perjalanan berbahaya ke arah Aljazair, menembus padang pasir yang membentang luas. Dari sana ia melanjutkan ke sebelah timur ke Tunisia dan ke sebelah barat ke Maroko. Ketika itu Isabelle melakukan empat tahun perjalanan yang hebat lagi berat. Isabelle Eberhardt menyukai sahara sebab di sana tak ada kota, tak ada rumah, tak ada manusia. Ia memang suka menyendiri, seperti yang pernah dituliskannya di sebuah buku harian;

“Waktu yang paling bahagia bagiku adalah bila aku tinggal seorang diri jauh dari semua manusia, sekalipun manusia terdekat. Setiap aku menjauhkan diri dari mereka, aku merasa lebih bahagia. Dan bila aku sudah mendekati mereka, aku merasa lebih sedih lagi.”

Baca juga:  Al Razi

Barangkali dari sifatnya yang demikian itulah maka Isabelle Eberhardt lebih memilih hidup berpetualang.

Isabelle mengambil keputusan akan tinggal di Aljazair seperti cara orang Aljazair, dalam pakaian, makanan, dan bahasa. Ia ingin tidak ada beda antara dirinya dengan perempuan-perempuan Aljazair pada umumnya.

“Aku ingin mengetahui apa-apa yang belum kuketahui. Dan aku ingin hidup bebas merdeka dari segala ikatan, dalam alam lepas. Aku sudah melintasi Tunisia seluruhnya, seorang diri, tanpa kawan, hanya dengan kudaku. Begitu pula yang kulakukan di sebelah timur Aljazair dan di Constantine. Aku memakai pakaian Arab, dan menggunakan bahasa Arab menurut dialek daerah yang dapat kukuasai. Orang-orang menyangka aku seorang gadis Arab seperti mereka sendiri. Bahkan banyak di antara mereka menyangka aku seorang pemuda, bukan pemudi.”

Ia mencintai kota itu sejak mula menginjakkan kakinya di Aljazair. Ia juga sudah mempelajari apa yang sedang diderita bangsa itu dan apa yang menjadi keinginannya. Betapa penulis-penulis asing menggambarkan tentang bangsa itu tidak menurut keadaan yang sebenarnya. Mereka mengecam kaum Muslimin sekadar hendak memburuk-burukkan nama baik Muslimin serta untuk mempertahankan pendudukan mereka.

Isabelle Eberhardt yang sudah mempelajari kehidupan bangsa-bangsa itu di kota-kota, di desa, sawah dan sahara, tidak mudah lagi dipengaruhi. Ia menulis semua itu dengan cara yang belum pernah ditempuh oleh pengarang-pengarang lain. Rasa kasih sayangnya yang besar terhadap orang-orang miskin Aljazair telah menimbulkan curiga di kalangan orang-orang yang berkuasa. Pada akhirnya Isabelle Eberhardt selalu diawasi gerak-geriknya, dibatasi, dan kemudian ia diusir dari Aljazair.

Kisah Isabelle Eberhardt adalah kisah yang panjang. Pihak Perancis yang saat itu berjaya, mereka selalu memandang curiga kepadanya. Siapakah Isabelle Eberhardt? Perancis tentu tidak percaya, ada seorang perempuan Rusia yang masih muda, Muslimah, menempuh petualangan berbahaya. Tidakkah ia seorang mata-mata? Ataukah dirinya hanya seorang Nasrani yang pura-pura memeluk Islam di tengah-tengah penduduk negeri? Adapun Isabelle, dirinya tidak peduli dengan segala kecurigaan yang pada akhirnya memang tak terbukti itu. Isabelle Eberhardt datang ke tempat itu semata hanya karena dorongan batin.

Baca juga:  Potret Kerja Perempuan Pesisir

Tak lama setelah tragedi pengusiran, Isabelle Eberhardt menikah dengan seorang tentara Aljazair, Sulaiman namanya. Atas pernikahan itu, Isabelle Eberhardt otomatis sudah menjadi rakyat pemerintah Perancis di Afrika Utara.

Segala pengalaman yang dilihat dan didengarnya, pikiran dan perasaan yang selalu menghunjam, segala dentum batin yang berdebur-debur di dalam dadanya semua itu ia tuliskan dalam catatan-catatannya yang tentu saja berharga. Demikianlah, perempuan Muslimah yang masih muda itu menuliskan semua pengalamannya dalam empat bahasa yang dikuasainya; Arab, Perancis, Rusia, dan Jerman. Dalam salah satu risalahnya ia berkata.

“Mereka menanyai aku, mengapa aku mencintai bahasa Arab dan mementingkan kaum Muslimi? Aku hanya menjawab dengan pertanyaan pula kepada mereka; mengapa kalian membenci bangsa Arab dan kaum Muslimin?”

Sementara itu, terdengar kabar duka dari tanah Hindia, tentang Raden Ajeng Kartini. Ia meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah Kartini melahirkan anaknya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Satu bulan kemudian, pada Oktober 1904, hujan turun sangat lebat di Aljazair. Ia mengakibatkan banjir, airnya memenuhi wadi-wadi, hingga meluap sampai ke Wadi Saira. Jalan-jalan menjadi rusak, pepohonan terseret arus air, rumah-rumah pun hancur. Tatkala itu, kekhawatiran Isabelle terhadap suaminya melebihi kekhawatirannya pada diri sendiri. Pasalnya, Sulaiman tak bisa berenang, bahkan meskipun ia seorang tentara. Meskipun bisa berenang, Isabelle tentu tak hendak meninggalkan suaminya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba membuat rakit dari kayu-kayu di sekitar rumahnya. Sebelum selesai Isabelle membuat rakit, rumah mereka keburu roboh. Tiang-tiang rumah menjatuhi mereka.

Baca juga:  Diskriminasi Sistemik dan Feminisme

Isabelle Eberhardt menghembuskan napas terakhirnya di bawah reruntuhan, di sebuah negeri asing yang dicintainya.

Gadis pengelana itu tak pernah meninggalkan suaminya, bahkan meskipun pada suatu hari ia pernah berterus-terang kepada Sulaiman, bahwa ia kawin tidak lebih tidak kurang supaya dipandang sebagai seorang perempuan yang bersuami di depan Undang-undang. Ia juga hanya tak ingin selalu menyendiri, meskipun ia sering gemetar dan menangis manakala berada di tengah-tengah orang banyak. Seorang Isabelle Eberhardt yang hanya ingin mengenal Aljazair, Maroko, dan Tunisia melebihi bangsa itu sendiri, ia tak pernah meninggalkan suaminya sampai maut menjemput.

Kisah Isabelle Eberhardt saya jumpai di artikel Pandji Masjarakat edisi 28 Maret 1960, untuk kemudian saya kembangkan menjadi sebentuk catatan di atas.

Isabelle Eberhardt dan Kartini, kematian mereka hanya terpaut hari saja.

Tentu saja, antara Raden Ajeng Kartini dan Isabelle Eberhardt memiliki latar kisah yang berbeda. Mereka juga tak saling kenal. Namun misalnya Isabelle Eberhardt membaca ‘Holandsche Lelie’ ketika Kartini mulai mencari sahabat pena, kiranya akan menarik sekali persahabatan mereka. Ketika itu Kartini menulis, “Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang gadis modern, yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap… Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama manusia..”

Saya mencintai Isabelle Eberhardt, Kartini, dan perempuan-perempuan seperti itu, yang tak pernah berhenti menyuarakan cita-citanya hingga ajal tiba. Saya pun tidak peduli dimana mereka dilahirkan. Terlebih, mereka meninggalkan pemikirannya dalam bentuk catatan.[]

coverisabelle - Isabelle Eberhardt

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi