Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sebuah refleksi

Praktik kekerasan yang saat ini kembali marak terjadi di Indonesia, tentunya membuat kita prihatin dan masygul. Kita sepakat bahwa tindakan kekerasan dengan alasan apapun dilarang secara hukum apalagi oleh agama. Tapi, mengapa praktik kekerasan ini masih terus terjadi di tanah air?

Ide budaya praktik kekerasan muncul hampir secara alamiah dari pengamatan, bahwa sejumlah bentuk kekerasan telah menjadi bagian dari repertoire perilaku sosial. Ide ini penting artinya paling tidak karena dua alasan. Pertama, ide itu menjelaskan mengapa kekerasan secara sosial dapat diterima dalam situasi-situasi tertentu. Kedua, ide bahwa kekerasan dapat dilihat sebagai praktik budaya membuat kita menyadari bahwa kekerasan adalah perilaku yang dipelajari. Belajar adalah mengaitkan peristiwa dengan praktik budaya. Saya akan membahas alur kedua argumen saya, kekerasan sebagai perilaku yang dipelajari.

Belajar praktik kekerasan

Albert Bandura mengemukakan bahwa kekerasan, atau agresi dalam istilah psikologi, sebagian besar adalah hasil dari belajar dari kelompok. Agresi adalah perilaku yang dipelajari sebagai hasil dari eksperimen-eksperimen yang berhasil. Seseorang mengamati kekerasan yang dilakukan oleh orang lain, melakukan penilaian ihwal untung rugi perilaku ini dan mungkin memutuskan untuk juga mencobanya.

Jika orang itu melakukan eksperimen dengan perilaku agresif dan menemukan bahwa ini setidak-tidaknya menguntungkan (dalam bentuk keuntungan terwujud, haus darah yang dapat dipuaskan, penyingkiran pesaing, decak kagum dari orang-orang sebaya, atau apa pun), perilaku itu mencapai tingkat kegunaan yang tinggi. Harapan bahwa perilaku itu akan kembali menghasilkan imbalan pada masa datang kemungkinan besar akan menyebabkan perilaku itu diulangi. Dengan kata lain, perilaku itu diperkokoh. Namun, jika eksperimen dengan perilaku agresif itu tidak memperoleh imbalan, jika perilaku itu dihukum oleh pihak berwenang, perilaku itu dipupuk dan kemungkinan besar tidak akan diulangi.

Baca juga:  Pak M Berpuasa di Penjara

Kekerasan juga dapat dipelajari melalui model (observasi dan meniru) tanpa imbalan langsung. Dalam satu eksperimen, misalnya, anak-anak mengamati sejumlah orang dewasa menghancurkan sebuah boneka, mereka kemudian meniru kekerasan itu tanpa mendapat imbalan langsung. Rangkaian terpola dari bentuk-bentuk perilaku mewujudkan sebuah ‘jalan cerita’, yang kemudian direkam dalam ingatan. Bila seseorang menjumpai situasi yang serupa, jalan cerita agresi itu mengarahkan harapan dan menyarankan strategi perilaku (Bandura, 1965: 44). Charles Tilly (1981: 21) mengatakan bahwa perubahan repertoire dapat terjadi melalui perubahan sikap negara ihwal kekerasan. Dalam istilah Bandura, sikap negara yang telah berubah, untuk kebaikan atau sebaliknya, menyiratkan perbedaan dalam stimulus, positif atau negatif, bagi perilaku kekerasan.

Baca juga:  Islam dan Negara

Meninggalkan praktik kekerasan

Teori Belajar oleh Albert Bandura menyarankan pada kita cara-cara untuk mengurangi timbulnya kekerasan. Jika seseorang bereksperimen dengan perilaku agresi dan tidak mendapat imbalan atau bahkan dihukum, kemungkinan besar peristiwa kekerasan akan menurun. Adalah tanda-tanda positif bahwa tindakan aparat penegak hukum dalam mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan baru-baru ini dan menangkap serta mengadili para pelakunya melalui proses hukum yang berlaku.

Jika tanggapan tanpa kekerasan pada situasi-situasi tertentu diberi imbalan, reaksi damai akan semakin dipupuk. Teori belajar dari kelompok menawarkan sebuah model abstrak perihal bagaimana peristiwa kekerasan dapat dikurangi. Orang Indonesia harus meninggalkan pemakaian tindak kekerasan. Meninggalkan tidak sama dengan melupakan. Meninggalkan berarti bahwa pilihan menggunakan kekerasan tetap ada dalam repertoire perilaku yang mungkin dipilih, sementara pengetahuan baru ditambahkan. Pengetahuan tambahan ini memperhalus pilihan antara pelbagai perilaku, sehingga orang dapat lebih sering memilih perilaku tanpa kekerasan. Sayangnya, menanggalkan kekerasan tampaknya lebih sulit daripada belajar kekerasan. Orang dapat terus menganut perilaku tertentu untuk waktu yang lama bila ada stimulus secara tidak teratur (kadang-kadang ia mendapat imbalan, kadang-kadang tidak) (Breeman 1995: 41).

Salahsatu pemecahan yang disarankan untuk menghentikan virus kekerasan adalah pendidikan. Ini tentu saja, lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Jawaban lainnya yang diberikan atas pertanyaan mengenai bagaimana memberantas kekerasan masyarakat adalah melarang anak-anak dan remaja menonton tayangan kekerasan. Ide ini sangat relevan dengan riuhnya pemberitaan dalam media saat ini ihwal aksi anakisme berunsur SARA di tanah air.

Baca juga:  Friedman Menjawab Pertanyaan Seorang Kawan

Sebagai penutup, saya menyarankan cara mengajar orang menyerap pola-pola baru perilaku tanpa kekerasan. Pertama, negara mempunyai banyak pengalaman dalam menyelenggarakan mesin propaganda untuk menjaga kekuasaannya (upacara, buku pelajaran standar di sekolah, TV, rapat RW dan kelurahan, dsb); ini bisa digunakan untuk menyebarkan ide bahwa kita semua manusia yang patut dihargai, baik orang luar maupun orang dalam. Lebih spesifik, menyebarkan pesan bahwa kelompok-kelompok lemah (Tionghoa, dan minoritas suku atau agama, homoseksual, dll) juga manusia seperti kelompok-kelompok yang lain. Kedua, melarang pers memberikan rincian ihwal tindakan kekerasan terhadap korban; mengizinkan pemberitaan secara umum, tetapi tidak diizinkan membuat rincian cara membunuh. Terakhir, gunakan media canggih (internet, TV, konser pop) untuk menyebarkan kampanye bahwa ‘keren’ berprilaku tanpa kekerasan, dan hanya pecundang yang tidak memiliki hal lain untuk diperagakan selain dari otot, pisau, dan senjata.[]

kekerasan - Psikologi Kekerasan

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi