Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Sejarawan yang baik, bukanlah sekadar penulis yang hanya produktif menerbitkan buku dari himpunan esai belaka.

BUKU himpunan esai  ini ditulis oleh sejarawan Simon Michael Schama. Dia mengibaratkan  Scribble, Scribble, Scribble: Writings on Ice Cream, Obama, Churchill and My Mother (2011) seperti sesuatu dari pelbagai selera dan tekstur. Judul bukunya ini, dipinjam dari komentar Duke of Gloucester untuk buku Edward Gibbon, “Another damned, thick, square book! Always scribble, scribble, scribble! Eh! Mr. Gibbon?” Subjudul, Writing on Politics, Ice Cream, Churchill, and My Mother, dimaksudkan sebagai nada dari “segala sesuatu di bawah terik matahari”. Karya ini maujud dari sedikit kebebasan, karena ia tidaklah sepenuhnya sebuah buku, namun kumpulan potongan tulisan–esai kuliah dan resensi buku, artikel untuk pelbagai surat kabar dan majalah–diatur menjadi beberapa bagian ihwal wisata, politik, seni, makanan, dan lain-lain.

Dalam kata pengantarnya, Schama mengakui, di samping keterpanggilan jiwanya sebagai sejarawan akademik, selama ini dia telah bekerja paruh waktu sebagai seorang kuli tinta, sejak hari pertama menginjakkan kaki di Universitas Cambridge, ketika dia menunjukkan “kecermelangan bakat ‘dewasa sebelum waktunya’ untuk media Hackery.” Pelbagai hal  luar biasa dari penampilannya dan gayanya yang khas untuk tugas apa pun, namun tidak lebih dari itu. Laporannya pada pelayaran Queen Mary, misalnya, dapat dibaca seperti catatan perjalanan; potret-potretnya dari Amsterdam, Brazil dan Washington DC yang anggun; ringkasan Schama yang menghentak tentang pelbagai lanskap;  atau sindirannya (namun adil) atas pemerintahan George W. Bush; ampuh memuaskan dahaga pembacanya. Jurnalisme Schama memang tidak pernah membosankan. Mengalir tanpa henti dengan ceria dan cerkas.

Baca juga:  Perempuan dalam Data Etnografi Ekonomi

Dia tampaknya bertekad untuk menampilkan diri, tidak hanya sebagai pemikir yang tajam, namun sebagai down-to-earth, orang biasa yang membuat es krim sendiri, menghormati ibunda tercinta, dan sebagainya. Alih-alih, potret diri sang profesor, nyaris sekadar menelikung pada kepuasan diri semata. Ini tentunya bukanlah nilai yang paling berfaedah dalam esai yang bersifat personal.

Lebih dari separuh buku ini terdiri dari potongan ihwal historiografi dan sejarah seni, serta ketika pikiran profesional Schama yang terlibat sepenuhnya. Sungguh, Schama adalah pendekar pena kelas wahid untuk topik itu. Apresiasi analitisnya yang kaya atas Thomas Carlyle, Thomas Macaulay, JH Plumb, dan Isaiah Berlin memberikan rasa yang jelas, atas apa yang dia pikirkan tentang penulisan sejarah yang (seharusnya) baik. Dalam “Gothic Language: Carlyle, Ruskin and the Morality of Exuberance,” Schama mengungkapkan rasa takzimnya pada karya cemerlang Carlyle The French Revolution: “Apa yang menjadi tujuan Carlyle, dia menjelaskan kepada Mill–lewat tulisan prosa nan puitik; karena problematika kesejarahan itu terlalu mendalam, terlalu kosmik …”

Dalam sebuah artikel perihal Macaulay dan penulis biografinya John Clive, dia setuju mengutip keyakinan Clive bahwa “kebijaksanaan sejarah hanya laik dipertahankan, jika kecerdasan yang tepat itu berasal dari kepintaran, kekuatan, dan kekuasaan sastra.” Schama menganggap misi pedagogik itu untuk “menyampaikan kekuatan dan kebijaksanaan yang abadi, melalui bentuk dan substansi dari ajaran para maha guru.” Dia mengajak kita untuk kembali menengok Thucydides dan Herodotus. Hatta, Schama juga mengapresiasi Plumb, “Apa yang dia katakan memang kurang penting, tinimbang dengan cara dia mengatakan hal ihwal itu.”

Baca juga:  Revolusi Prancis, Laksana Air Terjun

Beberapa bagian terkuat dari koleksi ini, dipanggungkan oleh pesona retorika khas Schama. Dia menilai kefasihan bertutur tidak hanya dari segi estetika saja, namun juga sebagai kebutuhan yang mutlak dari kehidupan warga dalam alam demokrasi, dan perjuangan melawan kekerasan: “Momentum penting tentang diskursus publik pada abad ke-19 adalah ketika para orator percaya–dan membuat pendengar mereka terkesima–bahwa selama wacana mereka, menadahi semua pemikiran dari Sokrates, Demosthenes, Cicero, dan Quintilian yang telah memberikan mereka inspirasi–mereka bisa menyusun kembali kerumunan massa, pertemuan individu, menjadi sebuah komunitas.”  Mengutip salah satu mentornya, dia mengatakan, “Faktanya, pada puncak  sejarah sosial dalam gaya historiografi Annales, Plumb dengan tegas meyakini kekuatan dari sebuah orasi–tindakan untuk mengguncang dan membentuk nasib masyarakat dan bangsa.”

Plumb, katanya, juga mendesak agar sejarawan harus keluar dari menara gading mereka–bahwa “ilmu sejarah  merupakan keahlian publik …” Jelas, Schama, dalam serial televisinya tentang sejarah Inggris dan Amerika, telah mencoba hal tersebut, dan dengan demikian, telah menjadikannya begitu populer (A History of Britain: A Response). Narasi historis untuk produk visual, ujarnya, haruslah bertitimangsa pada kombinasi yang cantik antara karangan ilmiah dan tulisan populis. Namun di atas segalanya, dia menegaskan bahwa dalam menyajikan sejarah di televisi, “cerita harus datang terlebih dahulu.”

Baca juga:  Gandum ‘Si Pendatang’ yang Menguasai Meja Makan Kita

Schama berpendapat dalam bagian lain, seandainya, katanya, dalam film paling bersejarah memiliki kesalahan, maka, “Akademisi harus mengambil setidaknya beberapa kesalahan itu, karena pasca sebagian besarnya ditinggalkan, sampai saat ini, pentingnya fungsi mendongeng sebagai fondasi mendasar dalam penyampaikan infomasi historis ialah tak terhindari.”

Dalam esainya tentang sejarah seni, Schama membuktikan dirinya sebagai seorang kritikus dan pendongeng yang luar biasa. Dia menulis, sebagai salah satu ekspektasi dari penulis Rembrandt’s Eyes ini, tak hanya dengan sensitivitas yang tinggi pada dunia kesenian Belanda, tetapi, dia juga dengan indah melukiskan karya-karya seni dari Rubens, Turner, atau Anselm Kiefer.

Arkian, Schama telah memilih untuk menjadi begitu inklusif. Sidang pembaca yang selera beragam, dapat menemukan tulisan tentang makanan lezat dan esai catatan penziarahan, sementara yang lain, akan melahap komentar politik dan menyaring tulisan-tulisannya ihwal sejarah dan seni. Saripati buku ini adalah ia kuat, murah hati, memiliki cukup banyak sesuatu bagi pelbagai hamparan cita rasa. Namun, dari Schama kita pun juga belajar, bahwa sejarawan yang baik, bukanlah sekadar penulis yang hanya produktif menerbitkan buku dari himpunan esai belaka. Bukan begitu?[]

Scribble, Scribble, Scribble

Tidak ada artikel lagi