Pakai mode DARK - NIGHT biar ga silauwww :-p

Ulasan karya Robert Ross, "Clothing: A Global History"

MANUSIA telah menggunakan tekstil dan cat untuk menghiasi tubuh mereka selama ribuan tahun. Namun, entah mengapa sebagian besar dari fakta sejarah ini telah diabaikan dalam analisis para sejarawan, termasuk untuk pakaian yang mereka kenakan sendiri. Jika bukan karena upaya dari sejarawan kostum dan seni, seluruh hasil karya-cipta manusia ini mungkin telah diabaikan sama sekali. Alasan kurangnya minat terhadap topik itu tidak sulit kita temukan. Dengan bangkitnya industri fashion di Eropa pada akhir abad ke tujuh belas dan penolakan bangsa Eropa atas kain berwarna-warni, gaun menjadi identik dengan figur wanita.

Bagaimana mungkin sesuatu yang menekankan perubahan demi perubahan, motto industri fashion, memberikan wawasan kesejarahan yang serius? Dalam beberapa tahun terakhir, bagaimanapun juga, gender, ekonomi dan budaya telah menarik dan menghasilkan pekerjaan baru bagi para ahli sejarah untuk mengkontekstualisasikan pakaian. Dengan menganalisis produksi, konsumsi dan makna dari gaun, studi ini telah menantang banyak asumsi lama yang dipegang tentang tren ekonomi, sosial, politik, dan budaya di seluruh mayapada. Ia tidak lagi dipandang sebagai sebagai sesuatu yang tiada berfaedah. Pakaian memiliki banyak hal ihwal yang bisa diceritakan oleh peneliti.

Baca juga:  Kisah Tiga Kampung di Lembah Code

Buku karangan Robert Ross, Clothing: A Global History (Or, The Imperialists’ New Clothes) ini sangat cocok dan rapi sebagai terobosan historiografi baru. Tujuan karyanya adalah untuk membahas sejarah globalisasi busana dari sekitar abad ke enam belas sampai tahun-tahun awal duapuluh satu. Ross mengkaji berbagai karya sejarawan dari Afrika, Asia, Amerika, dan Eropa untuk mencoba dan memaknai makna dari “homogenisasi budaya”, di mana sebagian besar individu dari para pemimpin dunia hadir untuk mengenakan pakaian yang sangat mirip dengan petani. Efeknya, fokus Ross dalam penelitiannya adalah penyebaran pakaian Eropa di seluruh mayapada. Dia memulai narasi diskursifnya lewat pelbagai peraturan yang pongah, terkait pakaian dan status sosial, dengan alasan bahwa tantangan terhadap hukum-hukum inilah yang membuka jalan bagi kebangkitan fashion.

Lewat sejarah singkat ihwal fashion di Eropa, Ross kemudian mulai mendedahkan bagaimana cara bangsa Eropa membuat pakaiannya, sebagai  elemen kunci dalam usaha mereka untuk mendominasi seluruh mayapada. Dia menempatkan penekanan khusus pada peran yang dimainkan para misionaris dalam menyebarkan pakaian Eropa ke daerah-daerah besar di wilayah Amerika Latin, Asia dan Afrika. Tidak mengherankan, tindakan “pembaratan” ini akan memunculkan reaksi perlawanan, dan salah satu cara mudah untuk melawan kolonialisme adalah melalui pakaian.

Baca juga:  Penisik Sepi

Memang, bagian terbaik dari buku Ross adalah orang-orang yang menunjukkan bagaimana pakaian “tradisional” sering diciptakan melalui interaksi antara orang Eropa dan penduduk pribumi. Berfokus pada contoh-contoh dari India, Indonesia dan Afrika, Sejarawan Ross menganalisis bagaimana nasionalisme pakaian bekas dalam pelbagai cara, digunakan untuk menantang tuan kolonial mereka dan membangun kepercayaan politik mereka sendiri.

Ross yang notabene profesor Sejarah Afrika di Universitas Leiden, negeri kincir angin Belanda ini, telah memberikan uraian nan bijaksana dan sintesa kritis atas fenomena sejarah globalisasi busana. Namun demikian, tidak semua orang akan puas dengan karyanya. Proyek obsesif Ross ini cenderung untuk mengistimewakan sejarah busana Inggris atas Prancis. Apakah masuk akal untuk berbicara perihal peran Charles II dalam transformasi busana gaun lelaki, sebelum membahas kontribusi Louis XIV untuk kemuliaan busana dan kekuasaan di Pengadilan Prancis? Karya Jennifer Jones pada awal industri mode modern Prancis dan para buruh garmen yang bekerja untuk Clare Crowston, akan memungkinkan Ross untuk memberikan pandangan yang lebih bernuansa tren Eropa. Dalam Bab 8 misalnya, Ross membahas pengenalan perihal dandanan berkelas Eropa di Rusia, Jepang dan Turki.

Aku di sini tidak bersawala contoh kasus Jepang dan Turki, tetapi kasus Rusia yang bermasalah. Berdasarkan hanya beberapa sumber, Ross tidak dapat memberikan snapshot yang akurat tentang lanskap budaya berbusana di Rusia yang begitu kompleks. Dia bahkan mengklaim bahwa Alexander Pushkin, penyair besar Rusia abad kesembilan belas, telah mengenakan pakaian khas Eropa di Rusia, tetapi itu tidak benar. Walaupun mungkin tampak kasar untuk meminta seorang sejarawan ahli Afrika untuk memahami sejarah pakaian Rusia. Memang sulit rasanya, bagi Ross untuk menyoroti masalah penulisan sejarah yang komprehensif seperti ini. Bahkan, jikalau subjek yang dialokasikan hanya beberapa halaman, informasi harusnya akurat. Sejarawan gender mungkin akan kecewa dengan buku ini, karena tidak menemukan analisis yang lebih mendalam, perihal bagaimana pakaian telah membentuk sudut pandang beragam, dari masyarakat akan berbentuk tubuh dan jenis kelamin.

Baca juga:  Sawit adalah Tentara

Arkian, ada sedikit catatan, bahwa hanya ada enam belas ilustrasi dalam buku ini. Sebagian besar foto-foto tersebut berurusan dengan pakaian non-Eropa, tetapi mereka sama sekali tidak hadir dalam panggung sejarah yang Ross coba tamsilkan kepada sidang pembaca. Dia tidak seperti berwicara untuk sidang pembaca non-Barat dan sekadar menempatkan sejarah masyarakat kolonial, sebagai “pakaian” orientalis belaka.[]sejarahsingkatpakaian - Sejarah Singkat Pakaian

 

Komentar Anda
Kuy, disebarkan...
Tidak ada artikel lagi